Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Implementation Of Corporate Social Responsibility (CSR) Policy in Bogor City Novida Waskitaningsih; Lilis Sri Mulyawati; Janthy Trilusianthy Hidayat
Jurnal Impresi Indonesia Vol. 4 No. 9 (2025): Jurnal Impresi Indonesia
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jii.v4i9.7054

Abstract

Corporate Social Responsibility (CSR) is a source of non-conventional financing that can be used as an alternative for local governments in providing infrastructure and development due to not maximizing regional income. The Bogor City Government realizes the importance of using CSR as a source of non-conventional financing by enacting Regional Regulation no. 6 of 2016 and Bogor Mayor Regulation No. 69 of 2017. This regulation is expected to become the legal basis for the Bogor City Government to establish a mechanism for implementing corporate CSR in an integrated and sustainable manner. Thus, the Bogor City Government can direct the company's CSR programs so that they are aligned with the Bogor City development priority programs. This study aims to determine the implementation of CSR policies in Bogor City. Data collection was carried out through document review and in-depth interviews to then be analyzed using descriptive qualitative analysis techniques. The results of the study show that CSR regulations in Bogor City have not been fully implemented, especially those related to CSR financing, implementation mechanisms, monitoring and control, as well as awarding and administrative sanctions. The regulation, which should have been implemented gradually since 2016, has not yet been socialized optimally to all companies in Bogor City, one of which is due to the COVID-19 pandemic. When associated with the theory of policy implementation, Bogor City already has an organization according to CSR policies, with the establishment of a facilitation team and secretariat, as well as a CSR forum. However, there is not yet a common interpretation of CSR policies, especially among companies, so that the impact on the not yet optimal application of Bogor City's CSR policies. The incompatibility of the implementation of this CSR policy ultimately has an effect on the not maximal contribution of CSR to the development of Bogor City.
Arahan Pengembangan Wisata di Kawasan Banten Lama Zahratul Isnaniyah; Lilis Sri Mulyawati; Mujio Mujio
Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota Vol. 1 No. 2 (2024): August 2024
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jekota.v1i2.53

Abstract

ABSTRAK Pariwisata merupakan salah satu sektor yang saat ini sedang dikembangkan di Indonesia, sektor pariwisata memberikan dampak yang sangat besar bagi pemerintahan dan juga bagi masyarakat karena dapat menjadi mata pencaharian masyarakat terutama yang berada di lokasi atau kawasan yang menjadi tujuan wisata. Provinsi Banten memiliki potensi pariwisata yang banyak mulai dari wisata religi, wisata budaya, wisata bahari/pesisir, wisata alam, dan wisata lainnnya. Saat ini pariwisata yang berkembang di Provinsi Banten hanya wisata religi saja, padahal potensi wisata non religi cukup besar, termasuk di dalamnya wisata yang berbasis wisata pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui arahan pengembangannya. Metode analisis yang digunakan meliputi analisis deksriptif kualitatif. Berdasarkan hasil dari penelitian ini terkait arahan pengembangan ditemukan arahan pengembangan wisata pesisir salah satunya yaitu paket – paket wisata untuk menunjang wisata religi Kawasan Banten Lama Provinsi Banten. Kata kunci: arahan pengembangan, pariwisata, wisata religi ABSTRACT Tourism is one of the sectors that is currently being developed in Indonesia. The tourism sector has a huge impact on the government and also on the community because it can become a livelihood for the community, especially those in locations or areas that are tourist destinations. Banten Province has a lot of tourism potential, ranging from religious tourism, cultural tourism, marine/coastal tourism, natural tourism and other tourism. Currently, the tourism that is developing in Banten Province is only religious tourism, even though the potential for non-religious tourism is quite large, including tourism based on coastal tourism. This research aims to determine the direction of its development. The analytical method used includes qualitative descriptive analysis. Based on the results of this research regarding development directions, one of the directions for developing coastal tourism was found, namely tourism packages to support religious tourism in the Old Banten Area, Banten Province. Keywords: development directions, religious tourism, tourist
Potensi Kendala Objek Daya Tarik Wisata Alam Di Kecamatan Pamijahan Kabupaten Bogor Taufiq Ilham; Lilis Sri Mulyawati; M. Yogie Syahbandar
Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota Vol. 1 No. 2 (2024): August 2024
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jekota.v1i2.62

Abstract

Pariwisata dalam suatu wilayah apabila dimanfaatkan dengan baik dapat mempengaruhi tumbuh berkembangnya suatu daerah. Branding Kabupaten Bogor (Bogor the City of Sport and Tourism). Kecamatan Pamijahan memiliki potensi yang besar sebagai alternatif wisata alam. Penelitian ini bertujuan (1) untuk mengetahui kondisi eksisting objek daya tarik wisata alam (ODTWA) berdasarkan 5A di Kecamatan Pamijahan. (2) untuk mengidentifikasi potensi dan kendala objek daya tarik wisata alam (ODTWA) untuk mengelola wisata alam di Kecamatan Pamijahan Kabupaten Bogor. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif dengan data primer dan data sekunder, metode pengambilan sample serta analisis berdasarkan 5A seperti (attraction, activities, amenities, accommodation, & accessibility). Hasil penelitian ini yaitu kondisi (attraction) di Kecamatan Pamijahan memiliki 13 (ODTWA), kondisi (amenities) di Kecamatan Pamijahan di dalam dan di luar ODTWA terdapat fasilitas jasa kuliner, dan lain-lain serta terdapat jaringan air bersih,telekomunikasi dan jaringan lainnya. (activity) terbagi menjadi 2 yaitu wisata hutan & wisata gunung, (accommodation) jenis akomodasi di kecamatan pamijahan beragam seperti hotel, b&b, dan lain sebagainya dengan harga yang relative murah, (accessibilities) di kecamatan pamijahan setiap objek wisata dari satu ke yang lain di tempuh dengan waktu ± 10–30 menit. Potensi atraksi ODTWA di Kecamatan Pamijahan sangat potensial untuk di kembangkan sebagai alternatif wisata alam di Kabupaten Bogor, potensi kondisi amenitas dalam kondisi baik, kondisi aktifitas di ODTWA potensial sebagai edukasi & penelitian, kondisi akomodasi dan harga akomodasi dapat di jangkau, serta aksesibilitas di Kecamatan pamijahan tidak terlalu jauh dari Ibukota Kabupaten Bogor sedangkan kendala ODTWA di Kecamatan Pamijahan untuk atraksi yaitu kurang publikasi untuk potensi Atraksi wisata dan yang mesti di pertimbangkan dari 5A yaitu amenitas seperti peningkatan sarana & prasarana untuk menunjang ODTWA Kata Kunci: kondisi 5A pariwisata, objek daya tarik wisata alam, potensi & kendala wisata alam    ABSTRACT Pamijahan District has beautiful, natural scenery, and has ODTWA competitiveness that has the potential to attract local tourists  & international. According to the Tourism Master Plan, Pamijahan District is included in the Regency Tourism Area, namely an ecotourism destination, so it has great potential as an alternative to nature tourism. This study aims to (1) determine the existing condition of natural tourist attractions (ODTWA) based on 5A in Pamijahan District and (2) identify the potential and constraints of natural tourist attractions (ODTWA) in Pamijahan District, Bogor Regency. This research method is qualitative descriptive analysis with the collection of primary data and secondary data related to 5A attractions, activities, amenities, accommodation, and accessibility. The results of the study show that the condition of attractions in Pamijahan District has 13 (ODTWA), the condition of amenities in Pamijahan District inside and outside ODTWA there are culinary service facilities, etc. and there is a clean water network, and other networks. activities are divided into 2, namely forest tourism & mountain tourism, types of accommodation in Pamijahan District are diverse such as hotels, B&Bs, and so on with relatively cheap prices, accessibility in Pamijahan District, each tourist attraction from one to another is reached in ± 10-30 minutes. The potential for ODTWA attractions in Pamijahan District is in good condition and has great potential to be developed as an alternative to natural tourism in Bogor Regency so it must be maintained as a potential ODTWA, while the obstacles to ODTWA in Pamijahan District that must be considered in 5A are the lack of publication and the lack of supporting facilities & infrastructure for ODTWA Keywords: conditions of tourism, natural tourism attractions, potential & constraints of natural tourism
Kapasitas Masyarakat Dalam Menghadapi Bencana Banjir Di Desa Bojong Kulur, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor Wahyu Ramadhan; Indarti Komala Dewi; Lilis Sri Mulyawati
Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota Vol. 1 No. 2 (2024): August 2024
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jekota.v1i2.64

Abstract

Desa Bojong Kulur merupakan salah satu Desa yang ada di Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor merupakan salah satu daerah rawan bencana banjir. Banjir di Desa Bojong Kulur disebabkan karena Desa Bojong Kulur sendiri diapit oleh dua sungai dan hujan dari hulu yang mengalir ke hilir. Untuk mengurangi risiko bencana banjir, kapasitas masyarakat perlu ditingkatkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kapasitas fisik, kapasitas ekonomi, kapasitas sosial, dan kapasitas masyarakat dalam penanggulangan bencana banjir di Desa Bojong Kulur. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi lapangan, penyebaran kuesioner, wawancara ahli, studi literatur, dan survei. Metode analisis yang digunakan adalah Sistem Informasi Geografis (SIG), metode analisis pembobotan (kuantitatif), dan metode analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas fisik kapasitas fisik sedang dengan nilai diantaranya dusun 1 (2,01), dusun 2 (1,86), dusun 3 (1,94), dusun 4 (1,94), dusun 5 (1,88), dusun 6 (2,04), kapasitas ekonomi klasifikasi sedang dengan nilai diantaranya dusun 1 (1,99), dusun 2 (2,12), dusun 3 (1,74), dusun 4 (2,15), dusun 5 (1,74), dusun 6 (2,01). kapasitas sosial tinggi dan sedang nilai diantaranya dusun 1 (2,71), dusun 2 (2,40), dusun 3 (2,08), dusun 4 (2,87), dusun 5 (2,26), dusun 6 (2,23) dan kapasitas masyarakat tinggi dengan nilai diantaranya dusun 1 (2,24) dan dusun 4 (2,32), klasifikasi sedang terdapat pada dusun 2 (2,13) dan dusun 5 (2,09), klasifikasi rendah ada di dusun 3 (1,92) dan dusun 5 (1,96).
Identifikasi Potensi dan Kendala Kawasan Wisata Ketapang Urban Aquaculture Kecamatan Mauk Kabupaten Tangerang Muhammad Hamdan Jiddan; Lilis Sri Mulyawati; Novida Waskitaningsih
Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota Vol. 2 No. 1 (2025): February 2025
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jekota.v2i1.100

Abstract

Kawasan Ketapang Urban Aquaculture (KUA) merupakan destinasi wisata berbasis ekowisata yang dikembangkan oleh Pemerintah Kabupaten Tangerang melalui Program Gerbang Mapan. KUA difungsikan sebagai pemberdayaan masyarakat setempat, ekowisata, budidaya, kuliner, UMKM, jasa, perumahan dan permukiman nelayan serta riset dan penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi eksisting, potensi, dan kendala kawasan wisata KUA. Metode yang digunakan adalah kualitatif melalui observasi, wawancara dengan pengelola, dan kuesioner kepada wisatawan dan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KUA memiliki 10 jenis atraksi wisata, 14 amenitas, aksesibilitas yang baik, serta ancillary services seperti media promosi dan pengelolaan oleh PT. Mitra Kerta Raharja. Potensi wisata KUA antara lain: (1) memiliki pemandangan yang indah dan beberapa kegiatan wisata edukatif dan rekreatif; (2) memiliki amenitas yang sangat memadai dan cukup memadai; (3) memiliki akses perjalanan yang mudah dijangkau dengan kondisi jalan yang baik; (4) memiliki akses yang mudah terhadap informasi wisata. Kendala wisata KUA antara lain: (1) kurangnya pemeliharaan fasilitas terkait atraksi; (2) kurang memadainya amenitas; (3) belum tersedianya transportasi khusus pariwisata; (4) mahalnya harga tiket masuk
Arahan Pengembangan Objek Wisata di Kecamatan Jonggol Kabupaten Bogor Firdan Fardani; Lilis Sri Mulyawati; Novida Waskitaningsih
Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota Vol. 3 No. 1 (2026): February 2026
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jekota.v3i1.113

Abstract

ABSTRAK Pariwisata merupakan salah satu sektor yang memicu pembangunan suatu daerah baik dari segi ekonomi, infrastruktur, sosial budaya, dan lingkungan. Pariwisata di Kecamatan Jonggol memiliki beragam objek wisata sehingga menjadi peluang untuk dikembangkan. Saat ini Kecamatan Jonggol masuk ke dalam Kawasan Pengembangan Pariwisata Daerah (KSPD) Cileungsi-Jonggol. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi eksisting 10 objek wisata di Kecamatan Jonggol berdasarkan 4 variabel yaitu atraksi, wisata, aksesibilitas, amenitas, dan ancillary service, potensi dan kendala pariwisata pada tiap variabel di Kecamatan Jonggol, serta menyusun arahan pengembangan pariwisata di Kecamatan Jonggol. Metode pengumpulan data meliputi observasi lapangan, dokumentasi, penyebaran kuesioner, wawancara, survei instansi, dan studi literatur. Metode analisis menggunakan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 10 objek wisata memiliki kondisi atraksi, wisata, aksesibilitas, amenitas, dan ancillary service yang beragam, tetapi kesepuluh objek wisata tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam 4 klaster berdasarkan persamaan potensi dan kendalanya. Klaster 1 merupakan objek wisata yang memiliki potensi sangat baik, dan kendala minimal; klaster merupakan objek wisata yang memiliki potensi baik dan kendala sedang; klaster 3 merupakan objek wisata dengan pootensi cukup baik dan kendala cukup besar, sementara klaster 4 merupakan objek wisata dengan potensi rendah dan kendala tinggi. Dari empat klaster tersebut dibuat arahan pengembangan pariwisata, dimana klaster 1 difokuskan pada inovasi atraksi, peningkatan branding, dan fasilitas disabilitas; klaster 2 difokuskan pada perbaikan jalan, peningkatan amenitas, dan penguatan promosi; klaster 3 difokuskan pada perbaikan akses, penyediaan amenitas dasar, dan penguatan event wisata, sedangkan klaster 4 difokuskan pada revitalisasi total, perbaikan akses, penyediaan amenitas dasar, dan promosi intensif. Kata Kunci: Arahan Pengembangan, Kendala, Pariwisata, Potensi ABSTRACT Tourism is one of the sectors that drives regional development in terms of the economy, infrastructure, socio-culture, and the environment. Tourism in Jonggol Subdistrict features a variety of tourist attractions, presenting opportunities for development. Currently, Jonggol Subdistrict is part of the Cileungsi-Jonggol Regional Tourism Development Zone (KSPD). This study aims to identify the current conditions of 10 tourist attractions in Jonggol Subdistrict based on four variables—attractions, tourism, accessibility, amenities, and ancillary services—as well as the tourism potential and constraints associated with each variable in Jonggol Subdistrict, and to formulate guidelines for tourism development in Jonggol Subdistrict. Data collection methods included field observations, documentation, questionnaire distribution, interviews, institutional surveys, and literature reviews. The analysis method employed qualitative descriptive analysis. The research findings indicate that the 10 tourist attractions exhibit diverse conditions regarding attractions, tourism, accessibility, amenities, and ancillary services; however, these 10 attractions can be classified into 4 clusters based on similarities in their potential and constraints. Cluster 1 consists of tourist attractions with very good potential and minimal constraints; Cluster 2 consists of tourist attractions with good potential and moderate constraints; Cluster 3 consists of tourist attractions with fairly good potential and significant constraints, while Cluster 4 consists of tourist attractions with low potential and high constraints. Based on these four clusters, tourism development guidelines were established: Cluster 1 focuses on attraction innovation, branding enhancement, and accessibility for people with disabilities; Cluster 2 focuses on road improvements, enhanced amenities, and strengthened promotion; Cluster 3 focuses on improving access, providing basic amenities, and strengthening tourism events, while Cluster 4 focuses on total revitalization, improving access, providing basic amenities, and intensive promotion. Keywords: Constraints, Directions of Development, Potential, Tourism
Optimalisasi Pemetaan Spasial dan Penanda Visual dalam Mendukung Pariwisata Kuliner di Koridor Jalan Lilis Sri Mulyawati; Ardiatno Yanuadi; M. Yogie Syahbandar; Reza Maulana Idris; Salwa Nikmattul Ramadhani
JPM: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 1 (2026): July 2026
Publisher : Forum Kerjasama Pendidikan Tinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47065/jpm.v7i1.3144

Abstract

The Suryakencana area in Bogor City is a multicultural culinary destination that offers a diversity of food businesses within a single urban space; however, information regarding the characteristics and distribution of these businesses is still not systematically managed, limiting visitors’ access to information. This community service activity aims to optimize spatial mapping and visual signage in supporting the development of culinary tourism along the Suryakencana Corridor. The partners involved are 50 culinary business owners who are members of the Suryakencana Traders Association. The implementation method uses a mixed approach, including Geographic Information System (GIS)-based spatial mapping, hotspot analysis to identify clusters of business activity, participatory stakeholder engagement, and the application of color-coded visual signage to facilitate the identification of business characteristics. Data were collected through field observations, documentation, and Pre-test and Post-test questionnaires using a Likert scale. The results show that culinary businesses are concentrated in high-activity points that serve as strategic locations for intervention. After implementation, the average perception score increased from 3.03 to 4.31, indicating improved understanding, better business practices, and increased awareness of the importance of information transparency for visitors. The intervention also encouraged a shift toward more proactive communication through the availability of visual information in the field. This activity demonstrates that the integration of spatial mapping and simple visual signage can enhance information delivery effectiveness and make it easier for visitors to determine culinary choices according to their preferences.