Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Konsep Makanan Halalan Thayyibah Dalam Perspektif Tafsir Al-Misbah: QS. Al-Baqarah 168 Siregar, Fauziah Hanum; Harahap, Indra; Ashani, Sholahuddin
Nizamiyah: Jurnal Sains, Sosial dan Multidisiplin Vol. 1 No. 3 (2025): Nizamiyah: Jurnal Sains, Sosial dan Multidisiplin
Publisher : Yayasan Albahriah Jamiah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64691/nizamiyah.v1i3.93

Abstract

The study of the concept of halal thayyibah has become increasingly urgent in the modern era, when consumer lifestyles and food globalization pose challenges to the integrity of the ethical values ​​of Muslim consumption. The phenomenon of shifting meanings of halal, which are often reduced only to the legal aspects of fiqhiyah, encourages the need to re-examine the moral and spiritual dimensions of the teachings of the Quran. This study aims to analyze M. Quraish Shihab’s interpretation of QS. Al-Baqarah: 168 as stated in the Tafsir Al-Mishbah, to reveal the conceptual construction of halal thayyibah food that is complete between legal, ethical, and spiritual aspects. This study uses a qualitative approach with a thematic interpretation method (mauḍūʻī) based on textual analysis, which traces the network of lexical meanings, the context of the revelation of the verses, and the interpretive reasoning used by Quraish Shihab. The results show that linguistically, the terms halal and thayyib contain complementary dimensions between legal validity and substantial goodness that include aspects of health, hygiene, and social welfare. Contextually, Quraish Shihab interprets the verse as a universal call for humans to maintain the sanctity of consumption sources and consumer behavior that aligns with the values ​​of piety. The ethical and spiritual dimensions in this interpretation emphasize the balance between fulfilling physical needs and moral responsibility towards the environment and social justice. The implication is that the concept of halalan thayyibah functions not only as a legal norm but also as a principle of contemporary consumption ethics that guides Muslims to internalize ecological, social, and spiritual awareness in consumption activities. Thus, this research contributes to strengthening the paradigm of modern thematic interpretation that places the value of halalan thayyibah as an integral foundation for a comprehensive Islamic consumption ethic.
Makam-Makam Kuno Barus, Eksplorasi Peradaban Titik Nol Islam di Kota Tua yang Terlupakan Siregar, Muklis; Harahap, Indra; Winaldi, Ahmad; Indah, Fasrah; Syawal, Rakhmat
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i1.13070

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendalami kota tua Barus sebagai Titik Nol Persebaran Islam di Nusantara, sebuah kota yang kini terlupakan. Fokus penelitian adalah pada revitalisasi makam-makam kuno di Barus sebagai eksplorasi mendalam terhadap peradaban Islam di Sumatera Utara. Penelitian dimulai dengan memaparkan kekayaan sejarah dan budaya yang melekat pada kota tua Barus. Masalah utama yang diangkat adalah bagaimana memahami dan mempertahankan warisan peradaban Islam di Barus yang telah tenggelam dalam keterlupakan modernitas, dengan mengidentifikasi potensi dan kekayaan sejarah dalam makam-makam kuno, penelitian ini berkontribusi pada pelestarian dan apresiasi terhadap warisan budaya dan agama. Metode penelitian menggunakan pendekatan historis dalam penelitian kepustakaan. Analisis konten digunakan untuk merinci temuan data sejarah, terutama terkait makam-makam kuno yang menjadi saksi bisu masa lalu. Temuan penelitian mengungkap bahwa warisan peradaban Islam di Barus, terutama melalui makam-makam kuno seperti Makam Mahligai dan Papan Tinggi, memiliki nilai signifikan. Selain sebagai tempat peristirahatan para ulama terkemuka, situs-situs ini membawa pesan sejarah dan nilai-nilai keIslaman di masa lalu. Dalam konteks modern, pemahaman dan pelestarian peradaban ini menjadi lebih jelas. Warisan sejarah di Barus bukan hanya milik warganya, tetapi juga bagian tak terpisahkan dari warisan sejarah Islam di Nusantara. Penelitian ini memberikan dasar untuk pelestarian, pengembangan pariwisata, dan membangun kesadaran masyarakat terhadap nilai-nilai budaya dan agama dalam peradaban kota tua Barus.
Eskatologis Menurut Pandangan Islam dan Kristen Adinda, Chairani Biru; Harahap, Indra; Siregar, Husna Sari
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dilaksanakannya penelitian ini karena permalasahan yang sering terjadi dalam kehidupan yaitu manusia percaya akan adanya akhir zaman atau hari akhir namun pada realitanya, lupa dan lalai akan kewajibannya dan melupakan Tuhannya. Terlena dengan kehidupan yang sementara, bahwa kehidupan didunia hanya sebatas titipan yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Maka penulis menarik tema ini untuk di teliti dengan maksud agar memberikan dorongan untuk mempersiapkan diri terlebih dahulu dan melakukan perbuatan baik agar bisa mendapatkan cukup banyak pahala untuk bisa dipertanggungjawabkan kelak di akhir zaman. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan (Library Research) yang bertujuan untuk mengkaji dan menelaah berbagai dokumen baik berupa buku atau tulisan yang berkaitan tentang bahasan tentang Eskatologis menurut Pandangan Islam dan Kristen. Penelitian ini menggunakan metode komparatit, yang bertujuan memberikan gambaran mengenai fenomena yang diteliti dengan membandingkan fakta-fakta dari dua objek maupun sampel yang berbeda. Hasil penelitian ini adalah bahwa setiap umat beragama yang ada di dunia mempercayai kedatangan akhir zaman. Keyakinan pada akhir zaman atau hari akhir memberikan ketentraman dan ketenangan hati. Saat menghadapi kesulitan, cobaan atau penderitaan dalam hidup, dan memberikan harapan bahwa keadilan akhir akan datang dan setiap penderitaan akan mendapatkan balasan yang adil di akhirat.
PERSEPSI MASYARAKAT ISLAM TERHADAP ALIRAN SEMPALAN DI LINGKUNGAN VII KELURAHAN BANTAN KECAMATAN MEDAN TEMBUNG -, Andhara; Harahap, Indra
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v9i2.2153

Abstract

Keragaman pemahaman Islam di Indonesia telah melahirkan berbagai gerakan keagamaan yang dipandang berbeda dari ajaran Islam umumnya, sehingga menimbulkan tantangan sosial di level masyarakat. Fenomena ini penting untuk diteliti mengingat dampaknya terhadap keharmonisan dan persatuan umat Islam. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan sikap masyarakat Muslim di Lingkungan VII Kelurahan Bantan, Medan Tembung mengenai kehadiran aliran sempalan, menelaah aspek-aspek yang membentuk cara pandang mereka, dan mengetahui bentuk-bentuk tanggapan sosial yang berkembang. Riset ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik wawancara mendalam, observasi partisipan, dan studi dokumentasi terhadap informan yang dipilih secara sengaja. Hasil riset memperlihatkan bahwa masyarakat memiliki cara pandang yang bervariasi walaupun sebagian besar menyatakan tidak ada aliran sempalan di wilayah mereka. Pembentukan cara pandang dipengaruhi pendidikan agama, peran ulama, cerita dari masyarakat, media massa, dan faktor ekonomi-sosial. Tanggapan masyarakat menunjukkan sikap hati-hati tetapi tetap terbuka dalam menghadapi perbedaan kepercayaan. Penelitian ini menyajikan gambaran tentang kehidupan beragama masyarakat dan urgensi pendekatan yang bijak dalam menyikapi keberagaman paham keagamaan. 
Konsep Budi Luhur dalam Sapta Darma Ditinjau dari Agama Islam Wahyudi, Shella Myta; Harahap, Indra
YASIN Vol 3 No 3 (2023): JUNI
Publisher : Lembaga Yasin AlSys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/yasin.v3i3.1087

Abstract

The Javanese people who live in remote areas are very attached to the term "mystical science" the union between humans living in the world reach Budi Luhur for their perfection in Sapta Darma Budi Luhur as ethics or is a branch of philosophy. Budi Luhur's position is related to respect for the natural world which means relations with fellow human beings and in the hereafter a good relationship with his God. Islam teaches the relevant nobility Al-Akhlaq Al-Karimah. This study aims to analyze the concept of Budi Luhur in Sapta Darma from an Islamic perspective. This study uses a qualitative method, namely by researching a study that is used to collect information and data with the help of various materials in the library such as books, historical stories, and so on with a phenomenological approach using descriptive theory. Based on the author's research that has been carried out and found that nobility in Sapta Darma has an active role in Sapta Darma's belief, namely teaching nobility for the good of all nature and especially humans. Noble vlues that inherit cultural diversity and diverse customs, culture is an adhesive for diversity and noble speech to guide noble attitudes. And the result of the research that can be concluded that Budi Luhur in Sapta Darma and in Islamic teachings is called akhlaq karimah is aimed at making human beings towards glory and has the same definition in a good human behavior in doing good and avoiding evil.
Asimilasi Budaya Jawa dan Batak di Desa Batu Tiga Belas Kecamatan Dolok Masihul Kabupaten Serdang Bedagai Sitorus, Mawaddah; Harahap, Indra; Sari, Ismet
YASIN Vol 3 No 3 (2023): JUNI
Publisher : Lembaga Yasin AlSys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/yasin.v3i3.1199

Abstract

This research is entitled "Assimilation of Javanese and Batak Culture in Batu Tiga Belas Village, Dolok Masihul District, Tengah Bedagai Regency". Assimilation occurs when there are groups of people with different cultural backgrounds interacting directly intensively for a long time. The result of the assimilation process is the thinning of the boundaries between individuals to identify themselves with common interests. That is, adjusting his will with the group. The same goes for one group to another. The formulation of the problem in this study are: 1. What is meant by cultural assimilation? 2. How do people view the assimilation of Javanese and Batak cultural marriages? This study aims to determine the assimilation of Javanese and Batak culture in Batu Tiga Belas Village, Dolok Masihul District, to determine the influence of Javanese and Batak cultural assimilation in Batu Tiga Belas Village, Dolok Masihul District, to increase knowledge for students of the Study of Religions in assimilation between two different tribes. different. The research method used by researchers is an anthropological approach. The findings of this study are: first, there is a change in language, second, there is transmigration of Javanese people to the majority Batak environment because of work in Batu Tiga Belas Village, katiga, there is education outside the village then meets other cultures and adapts, causing marriage.