Claim Missing Document
Check
Articles

SANGSI ADAT JIKA MELAKSANAKAN PERKAWINAN SEBELUM MELAKUKAN UPACARA POTONG GIGI DI DESA PAKRAMAN PUJUNGAN KECAMATAN PUPUAN KABUPATEN TABANAN I Nyoman Suadnyana
Pariksa: Jurnal Hukum Agama Hindu Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/pariksa.v6i2.2770

Abstract

Upacara potong gigi/mepandes/metatah/mesangih adalah salah satu dari pada upacara manusia yadnya, ini adalah kewajiban bagi orang tua terhadap anaknya. Dalam pelaksanaannya, potong gigi ini dilakukan saat anak mulai menginjak dewasa (menek daha-teruna) dengan memotong/mengasah empat gigi atas dan dua buah taring atas, sehingga berjumlah enam buah gigi, yaitu simbol dari melenyapkan Sad Ripu. Dalam hidup keseharian, manusia diliputi Tri Guna Sakti (Guna Satwam – Guna Rajas – Guna Tamas). Dari Tri Guna Sakti menimbulkan Sad Ripu (Kama – Krodha – Lobha – Moha – Mada – Matsyarya). Perihal “Ngekeb” dapat dilaksanakan bersamaan dengan saat potong gigi. Sebagai tugas terakhir orangtua wajib mengupacarai anaknya yaitu upacara perkawinan/pawiwahan. Ikatan suami istri melalui suatu upacara pernikahan adalah syarat sahnya suatu ikatan dan hubungan pribadi dari mempelai dengan segala akibat perbuatan tersebut dan segala dampaknya berupa tanggung jawab ditanggung bersama. Disamping itu perkawinan juga diartikan sebagai ikatan sekala niskala (lahir batin) antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal.Kata Kunci : Perkawinan dan Potong Gigi
Ajaran Agama Hindu dalam Kisah Atma Prasangsa Ida Bagus Putu Eka Suadnyana
Sphatika: Jurnal Teologi Vol. 11 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.851 KB)

Abstract

Hinduism in conveying the teachings of his religion is not only always conveyed through dharma discourse, but also done through literary works, one of which is the story of Atma Prasangsa. This story tells the spiritual journey of Bhagawan Penyarikan. During his journey, the bhagawan saw how the atma was treated in such a way, there were those who were given gifts but also were repeatedly tortured. Therefore the author is interested in examining the story of this Atma Prasangsa to find out how the Atma Prasangsa story is, and what Hindu theological concepts are contained in the Atma Prasangsa story. This study uses a qualitative design, in conducting research on the story of Atma Prasangsa using research methods that are designed first determine the object of research, determine the source and type of data, determine research instruments, determine data collection techniques, conduct data analysis and test data validity. From the results of the study it was found that the contents of the story of Atma Prasangsa tell the story of the spiritual journey of Bhagawan in the extraction and recounting the karma pahala of Atma obtained at the time of the Atman world. In general, the story of Atma Prasangsa contains the concept of Hindu theology in the form of tattwa, susila and acara.
Nilai Pendidikan Agama Hindu Pada Tradisi Mayah Ikut Dalam Upacara Perkawinan Di Desa Pakraman Satra, Kintamani, Bangli Ida Bagus Putu Eka Suadnyana
Pasupati Vol 9, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37428/pasupati.v9i1.272

Abstract

The Mayah Ikut tradition contains educational values. The strictness of tradition can defeat all global civilizations that want to disturb existing traditions, so symbolic thoughts and ethical actions are characteristic of human dignity that underlies all progress of local culture and society. Cultural acculturation is a custom and its concrete form is the norm. The actions of the local community become customs and traditions, because actions that are successful and profitable tend to be repeated in the same way, over and over again to form. Mayah Ikut has a very deep meaning if it is studied and absorbed, even though it only looks like an offering, but behind it there is something that needs to be revealed to be known together. The values contained in the Mayah Ikut tradition are the value of discipline, the value of togetherness and cultural values
Kajian Filosofis Tradisi Nawur Pelebuh Bagi Krama Tri Datu Di Desa Adat Buleleng Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng Ketut Sudiartha; Ida Bagus Putu Eka Suadnyana; Ayu Veronika Somawati
Vidya Darsan: Jurnal Mahasiswa Filsafat Hindu Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/vidyadarsan.v4i2.3243

Abstract

Abstrak Tradisi Nawur Pelebuh dilaksanakan khusus bagi Krama Tri Datu sehingga masih banyak masyarakat yang belum memahami terkait pelaksanaan serta makna filosofis dari tradisi Nawur Pelebuh. Berdasarkan latar belakang tersebut, terdapat tiga permasalahan yang akan dibahas antara lain: (1) Apa landasan tradisi Nawur Pelebuh bagi Krama Tri Datu di Desa Adat Buleleng Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng, (2) Bagaimana bentuk pelaksanaan tradisi Nawur Pelebuh bagi Krama Tri Datu di Desa Adat Buleleng Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng, (3) Apa makna filosofis tradisi Nawur Pelebuh bagi Krama Tri Datu di Desa Adat Buleleng Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng? Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah: metode observasi, metode wawancara, dan metode kepustakaan. Data yang telah terkumpul dianalisis dengan metode analisis deskriptif kualitatif dengan langkah-langkah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penyimpulan data. Hasil penelitian dan analisis data menunjukan: (1) Dasar pelaksanaan tradisi Nawur Pelebuh dapat dilihat dari segi landasan historis, landasan religius, dan landasan sosial kemasyarakatan. (2) Bentuk tradisi Nawur Pelebuh terdiri dari waktu dan tempat pelaksanaan tradisi, sarana tradisi, tahapan awal, tahapan inti, serta tahapan akhir. (3) Makna filosofis yang terkandung dalam tradisi Nawur Pelebuh ini yaitu makna keharmonisan, makna kebersamaan, makna etika, dan makna pelestarian budaya. Kata Kunci: Tradisi Nawur Pelebuh, Filosofis
Analisis Struktur Naratif Geguritan Bhiksuni Ni Wayan Yuni Astuti; Ida Bagus Putu Eka Suadnyana
Pramana: Jurnal Hasil Penelitian Vol 2, No 2 (2022)
Publisher : Pramana: Jurnal Hasil Penelitian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/jp.v2i2.2692

Abstract

One of the literary works that have very high educational values and is considered as something that can provide guidance or guidance in life is Geguritan. Geguritan Bhiksuni is one of the evidences for the Balinese people and as a mirror of traditional Balinese culture and the educational values contained in it. The values contained in it can be used as guidelines to be understood and internalized properly. The purpose of this study was to determinethe values of Hindu religious education contained in geguritan bhiksuni. This research is in the form of a descriptive qualitative design by examining the text. Data were collected using library techniques and critical reading techniques. After the data is collected then the data is analyzed through three stages, namely data reduction, and data presentation. based on the results of the study it was found that the value of Hindu religious education in the geguritan bhiksuni was ethical values and tawwa values.
EKSISTENSI TRADISI NAMPAH PENYU DALAM PIODALAN AGUNG DI PURA MAS PANYETI DESA ADAT BANJAR TEGAL KECAMATAN BULELENG KABUPATEN BULELENG Kadek Rudi Sanjaya; I Made Gami Sandi Untara; ida Bagus Putu Eka Suadnyana
Vidya Darsan: Jurnal Mahasiswa Filsafat Hindu Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/darsan.v5i1.3725

Abstract

ABSTRAK Tradisi Nampah Penyu yang dilakukan oleh masyarakat Desa Adat Banjar Tegal pada umumnya adalah wujud rasa bhakti dan syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan tradisi Nampah yaitu membangun kekuatan diri untuk mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk sehingga dengan demikian secara tegas dapat menghindar dari kesalahan yang dapat membawa kita pada kehidupan adharma. Berdasarkan latar belakang tersebut, terdapat tiga permasalahan yang akan dibahas antara lain: (1) Apa landasan tradisi Nampah Penyu dalam Upacara Piodalan Agung di Pura Mas Panyeti di Desa Adat Banjar Tegal Kecamatan Buleleng, (2) Bagaimana bentuk pelaksanaan dalam tradisi Nampah Penyu dalam Upacara Piodalan Agung di Pura Mas Panyeti di Desa Adat Banjar Tegal Kecamatan Buleleng, (3) Apa Implikasi yang terkandung dalam tradisi Nampah Penyu dalam Upacara Piodalan Agung di Pura Mas Panyeti di Desa Adat Banjar Tegal Kecamatan Buleleng. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah: metode observasi, metode wawancara, dan metode kepustakaan. Data yang telah terkumpul dianalisis dengan metode analisis deskriptif kualitatif dengan langkah-langkah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penyimpulan data. Hasil penelitian dan analisis data menunjukan: (1) Dasar pelaksanaan tradisi Nampah Penyu dapat dilihat dari segi landasan historis dan landasan religius, (2) Bentuk tradisi Nampah Penyu terdiri dari waktu dan tempat pelaksanaan tradisi, sarana tradisi, tahap awal, tahap pelaksanaan, serta tahap akhir. (3) Implikasi yang terkandung dalam tradisi Nampah Penyu ini yaitu Implikasi Sradha dan Bhakti, Implikasi Sikap Solidaritas dan Implikasi Pelestarian Budaya. Kata Kunci: Tradisi Nampah Penyu, Eksistensi.
KEBERADAAN BATU PULAKI BALI DALAM KONTEKS SOSIO RELIGIUS MASYARAKAT DESA BANYU POH KECAMATAN GEROKGAK KABUPATEN BULELENG I Nyoman Miarta Putra; Ida Bagus Putu Eka Suadnyana
Cultoure: Jurnal Ilmiah Pariwisata Budaya Hindu Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/cultoure.v4i2.3716

Abstract

Batu Pulaki sebagai salah satu bentuk kekayaan alam Bali sekaligus sebagai warisan di dalam kehidupan budaya masyarakat di Bali. Pengetahuan terhadap jenis, kandungan, fungsi serta hubungannya dengan kehidupan sosio religius masyarakat di Bali. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan secara lebih detail mengenai batu Pulaki dalam konteks sosio religius masyarakat Desa Bayupoh. Untuk menjelaskan masalah di atas penulis menggunakan jenis penelitian kualitatif. Dalam hal ini, penulis terlibat secara langsung dalam pemerolehan data dengan cara observasi, dokumentasi, dan wawancara dengan informan di kawasan Pulaki Bali. Selain itu penelitian ini menggunakan jenis data pustaka seperti, buku, skripsi, jurnal, media internet, dan sebagainya yang menunjang penelitian. Untuk menjawab permasalahan, peneliti menggunakan Teori Fungsional Struktural. Dari penelitian yang dilakukan, didapat temuan yaitu keberadaan batu pulaki pada kawasan suci yang di dalamnya terdapat pura Agung Pulaki dan beberapa pura pasanakan yang ada di sekeliling pura Pulaki. Hal ini menunjukkan bahwa dereta wilayah Pulaki dengan beberapa pura yang ada disana sebagai peninggalan peradaban Hindu merupakan pusat aktivitas sosial dan spiritual. Pulaki sebagai kawasan suci dan batu Pulaki sebagai salah satu simbol sarana ritual keagamaan masyarakat secara historis dan teologis memberikan satu bantuan pemahaman keagamaan kepada masyarakat. Batu pulaki oleh masyarakat Desa Banyupoh digunakan untuk pedagingan dan panca datu, selain itu keberadaan batu pulaki juga digunakan sebagai palinggih, sebagai media pemujaan oleh masyarakat Hindu di Desa Banyupoh. Dalam inovasi dan perkembangannya batu pulaki telah bertransformasi menjadi beberapa produk kesenian sebagai aksesoris, tempat tirta dan berbagai jenis kesenian patung.
Seni Permainan Tradisional Dengkleng (Engklek) Sebagai Pembentuk Karakter Pada Siswa Sekolah Dasar Ida Bagus Putu Eka Suadnyana
Widya Sundaram : Jurnal Pendidikan Seni Dan Budaya Vol 1 No 1 (2023): Maret 2023
Publisher : Institut Agama Hindu Negeri Gde Pudja Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53977/jws.v1i1.1018

Abstract

Globalization does not only set aside forms of local wisdom but can fade the values of a nation's culture, such as the value of honesty. Therefore, it is necessary to revive a local culture that is full of honest values that can be instilled in elementary school-age children. One of the local wisdom cultures that helps create the nation's character is by cultivating traditional Balinese games. This research was conducted to analyze why the Dengkleng (Engklek) Traditional Game is still being carried out by students of SD 6 Sukawati, analyze the educational value contained in the Dengkleng (Engklek) Traditional Game and analyze the implications of the Dengkleng (Engklek) Traditional Game for students in Elementary School 6 Sukawati. The theory used to solve this research problem is role theory, humanistic theory and behavioristic theory. This research is in the form of a qualitative design with a socio-cultural approach.
PENANAMAN NILAI AGAMA HINDU PADA ANAK USIA DINI DI TK PELANGI DHARMA NUSANTARA Suadnyana, Ida Bagus Eka
Kumarottama: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol 1 No 1 (2021)
Publisher : Institut Agama Hindu Negeri Gde Pudja Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (730.067 KB) | DOI: 10.53977/kumarottama.v1i1.268

Abstract

Early age is the right time to develop children's potential and intelligence. To avoid developing the potential of children at random, it is necessary to instill Hindu religious values ​​from an early age. Seeing the learning pattern that is contrary to the provisions of the minister of education which prohibits calistung in early childhood, the researchers are interested in researching this at Pelangi Dharma Nusantara Kindergarten. The theory used to solve the research problem is the humanistic theory and the behavioristic theory. This research is in the form of qualitative research. Data were collected by three techniques, namely observation, interview and document study. After the data is collected, the data is analyzed by data reduction, data presentation, and drawing conclusions. Based on the analysis, the following conclusions were obtained: (1) The methods used in the activities of inculcating Hindu religious values ​​in early childhood at Pelangi Dharma Nusantara Kindergarten are methods of playing, habituation, field trips and exemplary, (2) Efforts made by teachers in overcoming problems instilling Hindu religious values ​​in early childhood at Pelangi Dharma Nusantara Kindergarten is by providing supervision, understanding, introducing noble behavior and counseling to parents of students
NILAI-NILAI PENDIDIKAN AGAMA HINDU DALAM DONGENG I BELOG Suadnyana, Ida Bagus Putu Eka
Kumarottama: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol 2 No 1 (2022)
Publisher : Institut Agama Hindu Negeri Gde Pudja Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53977/kumarottama.v2i1.627

Abstract

Balinese fairy tales contain many educational values related to Hindu religious education materials. This research was conducted to answer the question of whether the educational values of Hinduism contained in Balinese fairy tales are used as a medium for Hindu religious education at SD Negeri 11 Kesiman and how effective the use of Balinese fairy tales as a medium for Hindu religious education is in shaping children's attitudes and character. Based on this analysis, the research results obtained, The educational values in the Bali I Belog fairy tale are the educational values of virtue, courage, spirituality (spiritual intelligence), wisdom and happiness. The media used has a high effectiveness (right on target) in shaping the attitudes and character of children who have been taught to practice in everyday life.