Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Peningkatan Hasil Belajar Mata Pelajaran Fikih Materi Thaharah Dengan Metode Al Tathbiq Di MTsN 6 Tabalong Muhammad Yusran; Hardiansyah Hardiansyah; Hasan, Hasan
An-Nafis: Jurnal Ilmiah Keislaman dan Kemasyarakatan Vol. 4 No. 1 (2025): Published in April of 2025
Publisher : STIT Syekh Muhammad Nafis Tabalong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62196/nfs.v4i1.74

Abstract

Problems with the learning outcomes of class VII motivate this research. The research focuses on a student who is performing at a standard level, highlighting their lack of mastery of the material. This research aims to determine whether there is an improvement in the learning outcomes of class VII. In the 2024/2025 academic year, a student at MTsN 6 Tabalong studied the Thaharah material using the al-tathbiq method. This research is a Classroom Action Research (CAR) conducted in 2 learning cycles. The research subjects were class VII. The study involved 30 students from class VII at MTsN 6 Tabalong. We collected data for this research through observation, tests, and documentation. The results of the observations and tests will be analyzed to determine the effectiveness of the al-tathbiq method in enhancing students' understanding of thaharah. By comparing pre- and post-test scores, the study aims to provide insights into the method's impact on student engagement and knowledge retention. The research results showed an increase from the pre-cycle to cycle I and cycle II. The pre-cycle results showed that 12 students completed the fiqh learning on the thaharah material, with a percentage of 38%. In cycle I, 16 students completed it, representing a 51% completion rate. Meanwhile, in cycle II, all 30 students completed it, with a percentage of 100%.
Manajemen Tatalaksana Neuritis Optik Demielinasi Okta Della Susmitha; Muhammad Yusran
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 8 No 2 (2020): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Volume 8.2 Edisi Maret - Agus
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v8i2.121

Abstract

Introductions: Optic Neuritis (ON) is defined as inflammation of the optic nerve, which is mostly idiopathic. But it can be linked to other causes such as demyelinating lesions, autoimmune disorders, infections and inflammation. Of all these, multiple sclerosis (MS) is the most common cause of demyelinating ON. Objectives: To determine the diagnosis and management of demyelinating optic neuritis. Methods: This article was produced using the literature review method, involving 29 references, both books and national or international journals. Results: ON occurs due to an inflammatory process that leads to T-cell activation that can cross the blood brain barrier and cause hypersensitivity reactions to nerve structures. The exact mechanism is unknown. The clinical diagnosis of ON consists of three classic symptoms namely vision loss, periocular pain and dyschromatopsia. This requires careful ophthalmic, neurological and systemic examination to distinguish between specific and non-specific ON. A differential diagnosis is needed to make an appropriate management plan. Discussions: According to the Optic Neuritis Treatment Trial (ONTT), the first treatment is intravenous methylprednisolone with faster recovery and fewer possible cases of relapse and conversion to MS. However, oral prednisolone alone is contraindicated because of an increased risk of relapse. Controlled High-Risk Subjects Avonex® Multiple Sclerosis Prevention Study (CHAMPS) and Early Treatment of MS Study (ETOMS) and have reported that treatment with interferon ?-1a, with the result of reducing the risk of MS characteristic characteristics from MRI. Contrast sensitivity, color vision and visual fields are parameters that remain largely disturbed even after recovery of good visual acuity. Conclusions: Management of dominant demyelinating optic neuritis is given steroids and ?-1a interferon. Keywords: demyelination, multiple sclerosis, optic neuritis, management
Trauma Kimia Asam Okuli Dextra Serafina Subagio; Muhammad Yusran; Rani Himayani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 1 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Trauma kimia pada mata merupakan salah satu kasus kegawatdaruratan mata. Trauma kimia mata dapat disebabkan karena adanya kontak dengan bahan kimia yang bersifat asam atau basa. Trauma kimia pada mata dapat mengakibatkan kerusakan kornea dan segmen anterior yang cukup parah serta kerusakan visus permanen tergantung lamanya kontak bahan kimia dengan mata dan kedalaman penetrasi bahan kimia. Wanita usia 40 tahun datang dengan mata merah dan penurunan penglihatan mata kanan sejak setelah terkena semprotan cairan pembersih lantai sejak empat jam sebelum masuk rumah sakit. Seketika itu mata terasa perih, terasa panas seperti terbakar, menjadi merah, dan pandangan kabur. Pasien juga merasa ada yang mengganjal pada mata kanannya dan mata menjadi berair terus menerus. Pasien merasakannyeri kepala sebelah kanan berdenyut. Status oftalmologis okuli dekstra visus 1/60 (bed site). Bulbus oculi didapatkan epiphora (+), palpebra superior dan inferior didapatkan edema, konjungtiva kemosis (+), kornea didapatkan erosi dan iskemik pada sepertiga limbus temporal lateral. Diagnosis pasien trauma kimia asam ocului dextra grade II.Penatalaksanaan dengan irigasi mata dengan NaCl 0,9% 4-5 kolf sampai terapi pH netral diukur dengan kertas lakmus, moxifloxacin hydrochloride 0,5% 1 gtt per jam OD, chelating agent berupa EDTA (Etilen Diamin Tetra Asetat) tetes mata 5mg/ml 4x 1 tetes OD, vitamin C 2x100 mg tablet.Kata kunci: trauma asam mata, trauma kimia mata, trauma mata
Cedera Terbuka Bola Mata (Open Globe Injury) Zalfa Salsabila Aprilia; Muhammad Yusran; Nisa Karima
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 9 No. 2 (2022): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cedera pada mata merupakan hal yang umum ditemukan dalam praktik primer. Open Globe Injury  menjadi penyebab utama gangguan penglihatan permanen dan kebutaan di dunia. Kebutaan tentunya sangat berpengaruh pada kualitas hidup dan diikuti dengan hilangnya produktivitas. Anamnesis yang rinci diikuti dengan pemeriksaan okular yang diindikasikan serta pemeriksaan radiologi merupakan bagian penting dari setiap penilaian trauma. Pencegahan kehilangan penglihatanpermanen akibat cedera mata memerlukan penilaian awal yang akurat dan diagnosis dini, termasuk pertolongan pertama okular primer yang baik dan rujukan cepat cedera mata serius ke unit gawat darurat dengan akses ke pelayanan oftalmologi Berbagai penelitian tentang patofisiologi cedera mata dan faktor prognostiknya serta kemajuan dalam metode diagnostikdan terapeutik telah sangat meningkatkan tingkat keberhasilan untuk mengelola open globe injury.  Kata kunci: open globe, trauma okular
Literature Review Diagnosis Dan Tatalaksana Trikiasis Nadhira Yasmin; Agustyas Tjiptaningrum; Muhammad Yusran
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Trikiasis adalah kelainan margin kelopak mata di mana arah pertumbuhan bulu mata tidak normal . Pertumbuhan bulu mata terarah ke bagian dalam menuju bola mata. Trikiasis dapat menyebabkan iritasi mata. Trikiasis merupakan kondisi yang didapat dan bukan kogenital. Komplikasi yang dapat ditimbulkan dari trikiasis adalah abrasi kornea dan ulkus kornea karena pertumbuhan bulu mata yang mengarah ke bola mata sehingga bulu mata bergesekkan dengan kornea dalam waktu yanglama. Metode penelitian ini dimulai dengan melakukan penelusuran artikel di Google Scholar, PubMed dan NCBI dalam rentang tahun yang telah ditentukan oleh peneliti serta menggunakan kata kunci trikiasis, diagnosis trikiasis, tatalaksana trikiasis. Hasil penelitian ini menemukan diagnosis trikiasis dapat dilakukan dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik.Tatalaksana yang dapat dilakukan pada trikiasis tergantung pada jumlah bulu mata yang terlibat. Penggunaan Soft Contact Lense Base Curve, pencabutan bulu mata dan tindakan bedah merupakan tatalaksana dari trikiasis.  Kata kunci: diagnosis, tatalaksana, trikiasis