Claim Missing Document
Check
Articles

Peran Perawat Dalam Membangun Insight Pada Pasien Skizofrenia Dengan Halusinasi Sebagai Upaya Untuk Mencegah Kekambuhan : A Case Report Rida Rosi Nur Asifa Rida Rosi Nur Asifa; Efri Widianti Efri Widianti; Iceu Amira DA Iceu Amira DA
Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa Vol. 6 No. 2 (2023): Mei 2023
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan : Insight yang buruk pada pasien dengan Skizofrenia berkaitan erat dengan munculnya relaps atau kekambuhan. Penataan ulang perawatan klinis dan peran tim tenaga kesehatan untuk menjadi lebih baik akan bernanfaat untuk pasien dengan insight yang buruk. Maka dari itu, tujuan dari studi kasus ini untuk menganalisis peran perawat dalam membangun insight pasien Skizofrenia untuk mencegah kekambuhan. Case report : Seorang laki-laki berusia 31 tahun dengan Skizofrenia mengalami gejala halusinasi pendengaran dan penglihatan mengalami relaps dengan faktor utama adanya insight yang buruk. Pembahasan : Peran perawat sesuai core theory diantaranya mendampingi pasien, memantau kepatuhan pengobatan, membantu merefleksikan diri, memberikan intervensi berbasis evidence, kolaborasi interdisiplin dan melakukan psikoedukasi. Namun tidak seluruh peran tersebut dilakukan oleh perawat di lapangan diantaranya memberikan intervensi berbasis evidence, dan tidak optimal dalam membantu merefleksikan diri serta mendampingi pasien. Kesimpulan : Pada dasarnya peran perawat di lapangan secara keseluruhan belum optimal dengan kendala utama perawat belum memahami pentingnya aspek insight dalam mencegah kekambuhan.
Aplikasi Terapi Tought Stopping pada Halusinasi Pendengaran pada Pasien Skizofrenia: Laporan Kasus Putri, Khansa Aisah; Amira, Iceu; Sriati, Aat
Jurnal Keperawatan Jiwa Vol 12, No 3 (2024): Agustus 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jkj.12.3.2024.611-622

Abstract

Halusinasi merupakan salah satu gejala gangguan jiwa yang mengalami perubahan persepsi sensorik terhadap rangsangan internal dan eksternal disertai respon berkurang, berlebihan atau menyimpang. Skizofrenia adalah suatu kondisi mental dimana terjadi disfungsi kepribadian, penurunan fungsi sosial dan distorsi realitas disertai halusinasi dan delusi. Salah satu intervensi non farmakologis adalah terapi penghentian pikiran yang bertujuan untuk menghilangkan pikiran-pikiran yang tidak diinginkan dan mengganggu. Tujuan dari laporan kasus ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan terapi penghentian pikiran pada klien skizofrenia dengan halusinasi pendengaran. Penelitian ini menggunakan metode laporan kasus yang diuraikan secara deskriptif dan pendekatan asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosis, perencanaan intervensi, pelaksanaan dan evaluasi. Subyek penelitian dalam laporan kasus ini adalah pasien skizofrenia yang mengalami halusinasi pendengaran. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, pemeriksaan fisik dan rekam medis. Intervensi diberikan sebanyak 5 sesi dalam 3 hari. Hasil penelitian dievaluasi menggunakan instrumen Psychotic Symptom Rating Scales (PSYRATS) untuk melihat penurunan frekuensi, durasi dan isi halusinasi pada klien. Hasil evaluasi menunjukkan pemberian terapi penghentian pikiran efektif dengan penurunan frekuensi halusinasi pada klien dari 4 kali menjadi 1 kali sehari. Intervensi ini perlu dibarengi dengan penerapan generalis dalam mengendalikan halusinasi.
Penyuluhan Menjaga Kesehatan Mental pada Era Adaptasi Kebiasaan Baru Amira, Iceu; Hendrawati, Hendrawati; Sukmawati, Sukmawati; Maulana, Indra; Rosidin, Udin
JPKMI (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Indonesia) Vol 4, No 1: Februari (2023)
Publisher : ICSE (Institute of Computer Science and Engineering)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Era kebiasaan baru pada saat ini dihadapkan pada beberapa permasasalahan yang harus dihadapi masyarakat. Ketika masyarakat belum terbiasa dengan kondisi yang harus dijalani, itu dapat menumbuhkan masalah terutama gangguan kesehatan mental. Untuk mengurangi gangguan tersebut  pada masyarakat, harus mengetahui bagaimana cara mengatasinya  agar tidak berlanjut kepada gangguan kesehatan mental yang berat. Tujuan kegiatan pengabdian pada masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman “Tentang  Menjaga Kesehatan Mental pada era Adaptasi Kebiasaan Baru” .  Metoda pelaksanaan Program Pengabdian Masyarakat ini adalah penyuluhan kepada masyarakat dalam bentuk Webinar, dengan Platform Zoom,  sasaran kegiatan adalah masyarakat yang berada di sekitar tempat tinggal mahasiswa Unpad yang sedang KKN. Kegiatan ini dimulai dengan membuat perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, hingga penyusunan laporan. Hasil kegiatan berdasarkan pengukuran pengetahuan melalui pre dan post test. Hasil pre test  rata-rata nilainya 64,71. Setelah materi di sampaikan kemudian melaksanakan post test bertujuan untuk mengetahui sejauh mana  perubahan pengetahuan partisipan  tentang Kesehatan mental nilainya ada peningkatan menjadi rata-rata 82,42  ada kenaikan sebesar 27,36%. Simpulan, Setelah diadakan webinar tentang pentingnya menjaga Kesehatan mental di era adaptasi kebiasaan baru, partisipan bisa menambah pengetahuan  dan dari hasil pre dan post tes ada peningkatan. Dengan meningkatnya pengetahuan tersebut maka diharapkan adanya kesiapan mental masyarakat di era adaptasi kebiasaan baru.Abstract: The era of new habits at this time is faced with several problems that must be faced by society. When people are not used to the conditions that must be lived, it can grow problems, especially mental health disorders. To reduce these disorders in the community, it is necessary to know how to overcome them so that they do not continue to severe mental health disorders. The purpose of this community service activity is to increase knowledge and understanding "About Maintaining Mental Health in the New Habit Adaptation Era".The program was carried out by providing education to the society through activities such as Webinars or online seminars through Zoom application. The participants involved were people in the village where the UNPAD internship students stayed. The program began with planning, implementing, evaluating, and reporting the program. In order to figure out the difference in the society’s knowlegde before and after the program, pretest and posttest were carried out. The mean score of the pretest was 64, 72, while that of the posttest was 82, 42. This means that there is an improvement in the knowledge of the society by 27.36%. In conclusion, after conducting or providing the webinars about the importance of maintaining good mental health during the pandemic era, the participants knowledge increased. With the increase in knowledge, it is hoped that the mental readiness of the community in facing the era of adaptation to new habits is expected.
Edukasi Tentang Dampak serta Cara Mengatasi Masalah Kesehatan Jiwa dan Psikososial Akibat COVID-19 Hendrawati, Hendrawati; Amira, Iceu; Senjaya, Sukma; Maulana, Indra; Rosidin, Udin
JPKMI (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Indonesia) Vol 4, No 1: Februari (2023)
Publisher : ICSE (Institute of Computer Science and Engineering)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: COVID-19 merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh jenis virus corona yang muncul di Wuhan, Tiongkok pada bulan Desember 2019, kemudian menyebar ke banyak negara di seluruh dunia. Begitu juga di Indonesia dan Jawa Barat penyebarannya sampai kepelosok daerah terpencil. Kondisi tersebut sangat berdampak terhadap gangguan kesehatan mental. Melihat permasalahan kesehatan mental dalam konteks situasi pandemi COVID-19, maka perlu upaya untuk mengatasi situasi global mengatasi masalah yang timbul. Karena masalah kesehatan mental akibat  Pandemi COVID-19 dapat mempengaruhi terhadap  individu, keluarga dan masyarakat. Masalah  psikososial  yang sering terjadi yaitu kecemasan  harga diri rendah, isolasi sosial, keputusasaan, stress sampai bunuh diri,  baik yang di sadari maupun tidak. Tujuan dari Pengabdian ini masyarakat diharapkan adanya peningkatan pengetahuan masyarakat tentang dampak serta cara mengatasi masalah kesehatan jiwa dan psikososial akibat COVID-19. Metode yang digunakan adalah  edukasi dengan webinar, populasinya adalah masyarakat sebagai mitra KKN.  Hasil kegiatan setelah dilakukan edukasi tentang dampak serta cara mengatasi masalah kesehatan jiwa dan psikososial akibat COVID-19 adalah rata-rata nilai pengetahuan peserta sebelum dilakukan edukasi sebesar 70 point dan setelah dilakukan edukasi menjadi 95 point. Ada peningkatan rata-rata nilai pengetahuan sebesar 25 point. Kesimpulannya setelah dilakukan edukasi ada peningkatan pengetahuan masyarakat tentang dampak serta cara mengatasi masalah kesehatan jiwa dan psikososial akibat COVID-19.Abstract: COVID-19 is an infectious disease caused by a type of corona virus that appeared in Wuhan, China in December 2019, then spread to many countries around the world. Likewise in Indonesia and West Java it spreads to remote areas. This condition greatly affects mental health disorders. Seeing mental health problems in the context of the COVID-19 pandemic situation, efforts are needed to overcome the global situation to overcome the problems that arise. Because mental health problems due to the COVID-19 Pandemic can impact individuals, families and communities. Psychosocial problems that often occur are anxiety, low self-esteem, social isolation, hopelessness, stress to suicide, both consciously and unconsciously. The purpose of this community service is to increase public knowledge about the impacts and ways to deal with mental health and psychosocial problems due to COVID-19. The method used is education with webinars, the population is the community as KKN partners. The results of the activity after education about the impact and ways to deal with mental health and psychosocial problems due to COVID-19 are that the average participant knowledge before education is 70 points and after education is 95 points. There is an average increase in the value of knowledge by 25 points. In conclusion, after education has been carried out, there is an increase in public knowledge about the impacts and ways to deal with mental health and psychosocial problems due to COVID-19.
Dukungan Orangtua terhadap Pendidikan Seksual pada Anak Retardasi Mental : Narative Review Hendrawati, Hendrawati; Fitriani, Liesna; Amira, Iceu; Arum, Ema; Maulana, Indra
Malahayati Nursing Journal Vol 6, No 11 (2024): Volume 6 Nomor 11 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v6i11.15438

Abstract

ABSTRACT It is important to give sexual education to every child, including children with mental retardation, because they will grow and develop. Parental support is also important in providing sexual education because they are someone who interacts with the child every day. This literature study aims to determine parental support for sexual education for children with mental retardation. This research uses a narrative review method with data based on PubMed, EBSCO and Google Scholar. Search for literature using the keywords Support, Parents, Sexual Education, Mental Retardation / Intellectual Disability / Mental Retardation /Learning Disability/Developmental Disability / Learning Disabilities. Articles were synthesized according to the inclusion criteria: Original research, full text articles, in addition articles regarding parental support for sexual education for children with mental retardation were taken as samples, the year of publication of the article was a maximum of the last 10 years (2011-2020), used English or Indonesian, article regarding parental support for sexual education for mentally retarded children. 67,670 articles were found, after analysis. 8 articles were found, which revealed that parents had not received and understood how to overcome the problem of providing sexual education at home. Parental support regarding sex education for children with mental retardation is very much needed and must be done early to prevent abuse. sexual education so it is important to provide psychoeducation to parents to increase children's knowledge regarding sexual education. Key words: Parental support, sexual education, mental retardatioABSTRAK Pendahuluan: Pendidikan seksual penting diberikan pada setiap anak termasuk anak  dengan retardasi mental karena mereka akan tumbuh dan berkembang. Dukungan  orangtua juga penting dalam memberikan pendidikan seksual karena mereka  merupakan seseorang yang berinteraksi dengan anak tersebut setiap hari. Studi  literatur ini bertujuan untuk mengetahui dukungan orangtua terhadap pendidikan  seksual pada anak retardasi mental. Metode: Penelitian ini menggunakan metode narrative review dengan data based  PubMed, EBSCO dan googleScholer. Pencarian litratur dengan menggunakan kata kunci Dukungan / Support, Orangtua / Parent, Pendidikan Seksual / SexEducation, Retardasi Mental/Tunagrahita/Intellectual Disability/Mental Retardation / Learning Disability / Developmental Disability /Learning Disabilities. Artikel disentesis sesuai dengan kriteria inklusi: Penelitian original, artikel  full teks, sebagai tambahan artikel mengenai dukungan orangtua terhadap  pendidikan seksual pada anak retardasi mental diambil sebagai sampel, tahun  terbit artikel maksimal 10 tahun terakhir (2011-2020), menggunakan bahasa  Inggris atau Indonesia, artikel mengenai dukungan orangtua terhadap pendidikan  seksual pada anak retardasi mental. 67.670 artikel ditemukan,setelah dianalisis. Didapatkan 8 artikel, yang mengungkapkan  bahwa  orangtua belum mendapatkan dan memahami  cara mengatasi masalah pemberian pendidikan seksual di rumah. Dukungan orang tua tentang pendidikan seks pada anak Retardasi mental sangat dibutuhkan dan harus dilakukan secara dini untuk mencegah terjadinya pelecehan seksual sehingga   psikoedukasi  penting diberikan kepada  orangtua guna meningkatkan pengetahuan anak mengenai  pendidikan seksual. Kata kunci: Dukungan orangtua, Pendidikan seksual, Retardasi  Mental
Pengurangan Rasa Nyeri pada Pasien Post Operasi melalui Teknik Relaksasi: Literature Review Maulana, Indra; Platini, Hesti; Amira, Iceu; Hendrawati, Hendrawati; Yosep, Iyus
Jurnal Vokasi Keperawatan (JVK) Vol. 7 No. 2 (2024): DESEMBER
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/jvk.v7i2.34669

Abstract

Teknik relaksasi napas dalam merupakan suatu bentuk asuhan keperawatan yang dalam hal ini perawat mengajarkan kepada pasien bagaimana cara melakukan napas dalam Ada tiga hal yang utama yang diperlukan dalam relaksasi yaitu posisi yang tepat, pikiran beristirahat, lingkungan yang tenang. Posisi pasien diatur senyaman mungkin dengan semua bagian tubuh disokong (misal bantal menyokong leher), persendian fleksi, dan otot-otot tidak tertarik (misal tangan dan kaki tidak disilangkan). tujuan dari teknik relaksasi napas dalam adalah untuk mengurangi stres baik stres fisik maupun emosional yaitu menurunkan intensitas nyeri dan menurunkan kecemasan. Database yang digunakan untuk mencari artikel dalam literature review ini yaitu  Pubmed, Chinahl, dan Scopus dengan kata kunci bahasa inggris “Patient post surgery”, “Relaxation Therapy”, dan “Pain Relief”, Sehingga mendapat jumlah artikel dari database Pubmed 23 artikel, Cinahl 9 artikel, dan Scopus 110 dengan kriteria inklusi yaitu penelitian berjenis Randomized Control Trial (RCT), artikel dengan sampel >30 orang. Setelah dilakukan seleksi peneliti mendapatkan 6 artikel yang sesuai. Hasil studi literatur menunjukkan bahwa teknik relaksasi nafas dalam dapat menurunkan skala nyeri pada pasien post-operative. Ada beberapa teknik relaksasi atau terapi relaksasi untuk mengurangi nyeri pada pasien post operasi yang dapat diterapkan, diantaranya adalah teknik relaksasi napas dalam, relaksasi benson, relaksasi otot progresif serta relaksasi progresif. Penggunaan teknik ini dapat diterapkan perawat untuk manajemen nyeri di ruang perawatan pasca operasi dengan keuntungan dapat menghemat waktu, hemat biaya, mudah dipelajari, dan bebas risiko.
Bimbingan Karir untuk Menentukan Masa Depan pada Siswa/Siswi Kelas IX SMPN 3 Jatinangor Amira, Iceu; Hendrawati, Hendrawati; Rosidin, Udin
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 1 (2025): Volume 8 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i1.17796

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan : Masa depan adalah suatu hal yang harus dipikirkan secara  tepat, karena banyak siswa-siswi yang masih belum memahami tentang karir yang akan dipilih nanti kedepannya, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya minat  terhadap suatu karir, minat orang tua dan kondisi sosial masyarakat, tingkat ekonomi  keluarga, dan lainnya. Sehingga pemilihan karir ini bagi para siswa- siswi SMP tidaklah mudah. Sebelum memilih karir, perlu dipikirkan terlebih dahulu jenjang pendidikan yang akan diambil selanjutnya apakah melanjutkan ke tingkat SMA atau SMK supaya bisa sejalan dengan karir yang akan kita ambil. Usulannya penyelesaian   sesuai dengan visi Indonesia Emas 2045 yaitu pendidikan ini merupakan salah satu kunci penting untuk adaptasi dan transformasi dalam mempersiapkan visi Indonesia  Emas 2045. Tujuan PKM: kami mengambil tema dan judul ini adalah untuk  sosialisasi kepada siswa-siswi tentang pentingnya bimbingan karir di lingkungan sekolah. Metode: Kegiatan ini menggunakan metode edukasi kepada siswa/ siswi, seta melakukan Teach- back Method yaitu evaluasi yang melibatkan peserta didik untuk menjelaskan kembali konsep- konsep yang telah diajarkan. Hasil: Respon peserta antusias dan aktif bertanya Ketika diberikan materi tentang bimbingan karir. Seluruh peserta aktif dalam kegiatan mulai dari pembukaan, pemaparan dan evaluasi, pre-test, post-test, pemberian penghargaan, hingga penutupan dan dokumentasi. Kesimpulan: Setelah dilakukan edukasi tentang pentingnya pemilihan karir bagi siswa ada   peningkatan dari hasil pre dan postest. Kata Kunci: Bimbingan, Karir, Siswa  ABSTRACT Introduction: The future is something that must be thought about appropriately, because many students still do not understand the career they will choose in the future, this is caused by several factors including interest in a career, parents' interest and the social conditions of society, family economic level, and others. So choosing this career for junior high school students is not easy. Before choosing a career, you need to think first about the level of education you will take and whether to continue to high school or vocational school level so that it can be in line with the career you will take. The proposed solution is in accordance with the vision of Golden Indonesia 2045, namely that education is one of the important keys for adaptation and transformation in preparing the vision of Golden Indonesia 2045. The purpose of PKM: we took this theme and title to socialize students about the importance of career guidance in the school environment. . Method: This activity uses an educational method for students, as well as carrying out a Teach-back Method, namely an evaluation that involves students to explain again the concepts that have been taught. Results: Participants responded enthusiastically and actively asked questions when given material about career guidance. All participants were active in activities starting from opening, presentation and evaluation, pretest, posttest, awarding, to closing and documentation. Conclusion: After providing education about the importance of career choice for students, there was an increase in pre and post-test results. Keywords: Career, Guidance, Student
Edukasi Persiapan Peserta Donor Sebelum Melakukan Donor Darah di Palang Merah Indonesia Garut Hendrawati, Hendrawati; Amira, Iceu; Rosidin, Udin
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 2 (2025): Volume 8 No 2 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i2.17646

Abstract

ABSTRAK Donor darah adalah proses pengambilan darah dari seseorang secara sukarela untuk disimpan di bank darah yang digunakan untuk keperluan transfusi darah. Sebelum terjadi donor darah, pendonor akan melewati tahap seleksi donor darah dengan tujuan untuk melindungi kesehatan donor dengan cara memastikan bahwa donasi tersebut tidak berbahaya bagi kesehatannya, dan melindungi pasien dari resiko penyakit menular atau efek merugikan lainnya. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan pengetahuan bagi setiap pendonor supaya lebih siap dan merasa aman dan nyaman saat mau mendonorkan dan setelah di ambil darahnya. Metode yang dipergunakan dalam kegiatan ini adalah  memberikan edukasi secara tatap muka dan mengobservasi setelah dilakukan  pengambilan darah sampai pendonor merasa fit lagi/ tidak ada keluhan . Hasil kegiatan ini adalah adanya peningkatan  yaitu 47,8 point, hasil dari pretest /sebelum dilakukan edukasi dan postest. Adanya peningkatan pengetahuan dan kesiapan pendonor sebelum dilakukan pengambilan darah dan setelah di ambil darah, sehingga para pendonor tidak merasa ketakutan untuk diambil darahnya dan adanya kesadran untuk tetap menjadi pendonor secara rutin , diharapkan  persediaan darah di kabupaten Garut mencukupi untuk kebutuhan pasien baik  jangka pendek ataupun jangka panjanjang.. Kata Kunci:  Edukasi, Pendonor, PMI  ABSTRACT Blood donation is the process of taking blood from someone voluntarily to be stored in a blood bank to be used for blood transfusion purposes. Before a blood donation occurs, the donor will go through a blood donor selection stage with the aim of protecting the donor's health by ensuring that the donation is not dangerous to his health, and protecting the patient from the risk of infectious diseases or other adverse effects. The aim of this activity is to provide knowledge for Every donor should be better prepared and feel safe and comfortable when donating and after having their blood taken. The method used in this activity is to provide face-to-face education and observe after taking blood until the donor feels fit again/has no complaints. The result of this activity was an increase of 47.8 points, the results of the pretest / before education and posttest. There is an increase in knowledge and readiness of donors before taking blood and after blood is taken, so that donors do not feel afraid of having their blood taken and there is awareness to remain a regular donor. It is hoped that the blood supply in Garut district will be sufficient for patient needs, both short and long term. long term. Keywords: Education, Donors, PMI
Edukasi Dampak Pernikahan Dini terhadap Kejadian Stunting Rosidin, Udin; Amira, Iceu; Hendrawati, Hendrawati
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 1 (2025): Volume 8 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i1.18190

Abstract

ABSTRAK Pernikahan dini merupakan fenomena sosial yang sering terjadi dewasa ini. Pelaksanaan pernikahan dini sering kali berakar dari kondisi ekonomi dan permasalahan keluarga. Salah satu dampak dari pernikahan dini bagi perkembangan anak yaitu anak berisiko stunting.  Keadaan ini dikarenakan pada usia remaja masih membutuhkan gizi maksimal hingga usia 21 tahun. Apabila dalam usia remaja sudah mengalami kehamilan, maka tubuh ibu akan berebut gizi dengan bayi di kandungannya sehingga jika nutrisi ibu tidak cukup selama kehamilan, bayi akan lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR) dan sangat berisiko terkena stunting. Stunting diartikan sebagai kondisi pertumbuhan fisik anak yang terhambat akibat malnutrisi kronis, berpotensi memengaruhi perkembangan kognitif dan kesehatan jangka panjang. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman remaja tentang bahaya pernikahan dini terhadap kesehatan anak. Metode kegiatan yang digunakan adalah penyuluhan kesehatan. Tujuan kegiatan adalah meningkatkan pengetahuan remaja tentang dampak pernikahan dini terhadap kejadian stunting. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan jumlah remaja dalam katagori pengetahuan baik dan ada penurunan jumlah remaja yang dalam katagori pengetahuan kurang. Kesimpulan ada peningkatan pengetahuan remaja tentang dampak pernikahan dini terhadap kejadian stunting sebesar 20,86 poin. Kegiatan yang sudah dilaksanakan diharapkan dapat dilanjutan oleh masyarakat RW 17 dengan dukungan dari kelurahan Kotawetan dan Puskesmas Guntur. Sehingga pada akhirnya masyarakat dapat mencegah kejadian stunting. Kata Kunci: Pernikahan dini, Remaja, Stunting   ABSTRACT Early marriage is a social phenomenon that often occurs today. The implementation of early marriage is often rooted in economic conditions and family problems. One of the impacts of early marriage on children's development is that children are at risk of stunting.  This situation is because teenagers still need maximum nutrition until the age of 21 years. If a teenager experiences pregnancy, the mother's body will compete for nutrition with the baby in her womb so that if the mother's nutrition is inadequate during pregnancy, the baby will be born with a low birth weight (BBLR) and be at high risk of stunting. Stunting is defined as a condition where a child's physical growth is hampered due to chronic malnutrition, potentially affecting cognitive development and long-term health. Therefore, it is important to increase teenagers' knowledge and understanding of the dangers of early marriage on children's health. The activity method used is health education. The aim of the activity is to increase teenagers' knowledge about the impact of early marriage on the incidence of stunting. The results of the activity showed that there was an increase in the number of teenagers in the good knowledge category and a decrease in the number of teenagers in the poor knowledge category. The conclusion is that there is an increase in teenagers' knowledge about the impact of early marriage on the incidence of stunting by 20.86 points. It is hoped that the activities that have been carried out can be continued by the RW 17 community with support from the Kotawetan sub-district and the Guntur Community Health Center. So that in the end the community can prevent stunting.  Keywords: Early Marriage, Teenagers, Stunting
Peningkatan Cakupan Imunisasi Bayi dan Balita Melalui Edukasi dan Program Imunisasi Kejar Rosidin, Udin; Amira, Iceu; Hendrawati, Hendrawati
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 3 (2025): Volume 8 No 3 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i3.18318

Abstract

ABSTRAK Kelompok balita merupakan kelompok rentan masalah kesehatan yang perlu diperhatikan untuk tetap produktif. Masa balita disebut “Golden age” yaitu masa anak mengalami periode emas  di masa awal kehidupan. Penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa masa Golden Age sebagai masa kritis, hal ini dikarenakan pertumbuhan dan perkembangan pada masa itu sangat pesat. Bagian penting yang harus diperhatikan dalam periode ini adalah perlu adanya daya tahan tubuh dan kekebalan terhadap berbagai penyakit, terutama penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi. Permasalahannya saat ini adalah cakupan pelayanan imunisasi bayi dan balita masih rendah. Hal ini disebabkan karena kurangnya pemahaman masyarakat tentang imunisasi. Untuk mengatasi permasalahan tersebut dilakukan edukasi kesehatan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang imunisasi serta mempermudah akses dan jadwal pelayanan yang fleksibel untuk mendapatkan pelayanan imunisasi. Tujuan kegiatan adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang imunisasi. Metode kegiatan adalah penyuluhan kesehatan dan kunjungan rumah. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan rata-rata nilai pengetahuan masyarakat sebelum dilaksanakan edukasi sebesar 67,27 dan rata-rata nilai pengetahuan setelah melaksanakan edukasi sebesar  81,82.  Kesimpulan ada peningkatan pengetahuan masyarakat tentang imunisasi sebesar 14,55 poin. Kegiatan yang sudah dilaksanakan diharapkan dapat dilanjutan oleh masyarakat RW 18 dengan dukungan dari kelurahan Kotawetan dan Puskesmas Guntur. Sehingga pada akhirnya cakupan pelayanan imunisasi meningkat. Kata Kunci: Cakupan Pelayanan, Imunisasi, Bayi Dan Balita   ABSTRACT Toddlers are a group vulnerable to health problems that need to be considered to remain productive. The toddler period is called the "Golden Age", which is the period when children experience a golden period in early life. Previous research stated that the Golden Age period is a critical period, this is because growth and development at that time are very rapid. An important part that must be considered in this period is the need for endurance and immunity to various diseases, especially diseases that can be prevented by immunization. The current problem is that the coverage of infant and toddler immunization services is still low. This is due to the lack of public understanding of immunization. To overcome this problem, health education is carried out to increase public understanding of immunization and facilitate access and flexible service schedules to obtain immunization services. The purpose of the activity is to increase public knowledge about immunization. The activity method is health counseling and home visits. The results of the activity showed an increase in the average value of public knowledge before education was carried out by 67.27 and an average value of knowledge after education was carried out by 81.82. The conclusion is that there is an increase in public knowledge about immunization by 14.55 points. The activities that have been implemented are expected to be continued by the RW 18 community with support from the Kotawetan sub-district and Guntur Health Center. So that in the end the coverage of immunization services increases. Keywords: Coverage of Services, Immunization, Infants and Toddlers