Claim Missing Document
Check
Articles

Metacognitive training pada pasien dengan skizofrenia: A literature review Amira, Iceu; Hendrawati, Hendrawati; Maulana, Indra; Platini, Hesti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 8 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i8.12096

Abstract

Background: Schizophrenia is a psychotic disorder characterized by major disturbances in thoughts and emotions. Patients with schizophrenic disorders have disturbances in cognitive function characterized by disturbances in the cognitive system, so metacognitive training therapy is needed. Metacognitive Training Therapy is a combination of psychoeducation, cognitive remediation therapy and cognitive behavioral therapy aimed at reducing the overall severity of symptoms and improving several neurocognitive subdomains and social cognitive functions.Purpose: This study aims to identify metacognitive training interventions in patients with schizophrenia.Method: The databases used were EBSCOhost (Cinahl) and Pubmed and 159 articles were found.Results: Stage through the initial selection obtained 32 articles. Then, articles were selected based on inclusion criteria in the form of publications in the last 10 years (2013-2023), national and international journals in Indonesian and English, articles with full text, and 5 peer-reviewed articles. Next, articles were selected based on research title, country, research objectives, research methods, population and sample, and research results.Conclusion: This study found that participants who had quite severe symptoms at the start of training were greatly helped in reducing the overall severity of symptoms by the metacognitive therapy they underwent.Keywords: Metacognitive; Schizophrenia; Training.Pendahuluan: Skizofrenia merupakan gangguan psikotik yang ditandai dengan gangguan utama dalam pikiran dan emosi. Pada pasien dengan gangguan skizofrenia memiliki gangguan dalam fungsi kognitif ditandai dengan adanya gangguan sistem kognitif sehingga diperlukan terapi Metacognitive Training. Terapi Metakognitif Training merupakan gabungan dari psikoedukasi, terapi remediasi kognitif dan terapi kognitif perilaku bertujuan untuk menurunkan keparahan gejala secara keseluruhan serta memperbaiki beberapa subdomain neurokognitif dan fungsi kognitif sosial.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi intevensi metacognitive training pada pasien dengan skizofrenia.Metode: Database yang dilakukan adalah EBSCOhost (Cinahl) dan Pubmed dan ditemukan sebanyak 159 artikel.Hasil: Tahap melalui seleksi awal diperoleh 32 artikel. Kemudian, artikel diseleksi berdasarkan kriteria inklusi berupa terbit 10 tahun terakhir (2013-2023), jurnal nasional maupun internasional yang berbahasa Indonesia dan Inggris, artikel dengan full text, dan artikel yang peer reviewed didapatkan sebanyak 5 artikel. Selanjutnya, artikel diseleksi berdasarkan judul penelitian, negara, tujuan penelitian, metode penelitian, populasi dan sampel, dan hasil penelitian.Simpulan: Penelitian ini menemukan bahwa peserta yang memiliki gejala-gejala yang cukup parah pada awal pelatihan sangat dibantu dalam menurunkan keparahan gejala secara keseluruhan oleh terapi metakognitif yang dijalani.
Penyuluhan Kesehatan tentang Penerapan Relaksasi Autogenik untuk Mengurangi Kecemasan pada Keluarga Pasien di Ruang Bedah Amira, Iceu; Hendrawati, Hendrawati
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 12 (2025): Volume 8 No 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i12.23021

Abstract

ABSTRAK Tindakan pembedahan merupakan salah satu intervensi medis yang umum dilakukan untuk mengatasi berbagai kondisi kesehatan. Namun, prosedur ini sering kali menimbulkan berbagai respons psikologis pada pasien dan keluarga, salah satunya adalah kecemasan. Kecemasan  adalah respons emosional yang ditandai dengan perasaan khawatir, tegang, dan takut, yang dapat mempengaruhi kondisi fisik dan mental. Salah satu intervensi non-farmakologis yang efektif untuk mengatasi kecemasan adalah terapi relaksasi autogenik. Kegiatan penyuluhan  kesehatan ini dilaksanakan di Ruang Inap Rubi Bawah RSUD dr. Slamet Garut dengan melibatkan 13 keluarga pasien. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan penyuluhan pada keluarga pasien mengenai intervensi non farmakologis yang bisa dilakukan di rumah sakit.  Pada kegiatan ini menggunakan metode penyuluhan dan demonstrasi kepada keluarga pasien tentang terapi relaksasi autogenk. Setelah dilakukan penyuluhan, keluarga memahami tentang terapi non farmakologis untuk mengurangi kecemasan selama menunggu pasien di rumah sakit, serta bisa melakukan secara mandiri. Dari hasil pre dan postest ada peningkatan dari 65% menjadi 75%. Disarankan untuk peneliti berkutnya melakukan penelitian yang sasarannya lebih banyak lagi dan menggunakan terapi non farmakologis yang lainnya. Kata Kunci: Kecemasan, Keluarga Pasien, Penyuluhan Kesehatan, Relaksasi Autogenik.  ABSTRACT Surgical procedures are one of the common medical interventions used to address various health conditions. However, this procedure often elicits various psychological responses in patients and families, one of which is anxiety. Anxiety is an emotional response characterized by feelings of worry, tension, and fear, which can affect physical and mental well-being. One effective non-pharmacological intervention for managing anxiety is autogenic relaxation therapy. This health education activity was conducted in the Lower Ruby Ward of Dr. Slamet Garut Regional General Hospital, involving 13 patient families. This activity aims to educate patients' families about non-pharmacological interventions that can be done in the hospital. This activity uses educational and demonstration methods for patient families regarding autogenic relaxation therapy.  This activity uses educational and demonstration methods for patient families regarding autogenic relaxation therapy and guided imagery.  From the results of the pre and post-tests, there was an increase from 65% to 75%. It is recommended for future researchers to conduct studies with a larger target group and utilize other non-pharmacological therapies. Keywords: Anxiety, Patient's Family, Health Education, Autogenic Relaxation
Edukasi Donor Darah “Setetes Darah, Sejuta Harapan” di MA YPI Baiturahman Leles Hendrawati, Hendrawati; Amira, Iceu
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 12 (2025): Volume 8 No 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i12.22556

Abstract

ABSTRAK Donor darah merupakan  proses pengambilan darah dari seseorang secara sukarela untuk disimpan di bank darah untuk kemudian dipakai pada transfusi darah. Siswa SMA/sederajat yang menjadi pendonor darah pertama adalah contohpositif yang dapat memotivasi teman-temannya dan generasi muda lainnya untuk turut serta dalam kegiatan donor darah. Walaupun menjadi pendonor darah pertama di kalangan siswa SMA memiliki banyak manfaat, ada beberapa tantangan yang perlu diperhatikan. Beberapa siswa mungkin merasa takut atau khawatir tentang prosedur donor darah serta kurangnya pengetahuan mengenai manfaat donor darah dapat menjadi tantangan. Edukasi pendidikan kesehatan mengenai donor darah dan dukungan emosional agar para siswa mengetahui manfaat donor darah serta saling memotivasi untuk melakukan donor darah. Metode pelaksanaan kegiatan menggunakan metode ceramah dan diskusi yang disertai oleh pembagian media berupa leaflet yang berisi informasi mengenai donor darah. pendidikan kesehatan diberikan kepada  50 peserta yang hadir dan mengikuti kegiatan dengan antusias. Peserta mengalami peningkatan pengetahuan terkait donor darah. Hal tersebut dapat dilihat dari peserta mampu menjawab pertanyaan yang diajukan pemateri terkait apa saja yang diperlukan sebelum donor darah, dan menjelaskan manfaat dari donor darah. Edukasi tentang donor darah di MA YPI Baiturohman tercapai dengan adanya peningkatan nilai  sebesar 40,58 point , dan siswa siswi diharapkan mau melaksakan donor darah secara rutin dengan bekerjasama pihak sekolah dan PMI Garut  Kata Kunci: Donor Darah, Edukasi, Harapan  ABSTRACT Blood donation is the process of taking blood from someone voluntarily to be stored in a blood bank for later use in blood transfusions. High school/equivalent students who become the first blood donors are positive examples who can motivate their friends and other young people to take part in blood donation activities. Although being the first blood donor among high school students has many benefits, there are several challenges that need to be considered. Some students may feel afraid or worried about the blood donation procedure and a lack of knowledge regarding the benefits of blood donation can be a challenge. To provide health education regarding blood donation and emotional support so that students know the benefits of blood donation and motivate each other to donate blood. The method of carrying out activities uses lecture and discussion methods accompanied by the distribution of media in the form of leaflets containing information about blood donation. Health education was provided to 50 participants who attended and participated in the activity enthusiastically. Participants experienced increased knowledge regarding blood donation. This can be seen from the participants being able to answer questions asked by the presenters regarding what is needed before donating blood, and explaining the benefits of donating blood. Education about blood donation at MA YPI Baiturohman was achieved with an increase in scores of 40.58 points, and students were expected to be willing to carry out blood donations regularly in collaboration with the school and PMI Garut. Keywords: Blood donation, Education, Hope
Gambaran Kelekatan Remaja dengan Kedua Orang Tua pada Mahasiswa Baru Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran Tahun Ajaran 2025/2026 Aushaf, Inka Fadilla Nur; Amira, Iceu; Kosim, Kosim
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 2 (2026): Volume 8 Nomor 2 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i2.24175

Abstract

ABSTRACT Adolescence is transitional phase that is vulnerable to mental health problems, making emotional support from parents important in helping adolescents cope with developmental demands. Secure attachment with parents serves as a protective factor, particularly for new nursing students as late adolescents who face academic demands and social adaptation during the early period of university life. This study aimed to describe adolescent attachment to fathers and mothers among new students of the Faculty of Nursing at Universitas Padjadjaran in the 2025/2026 academic year. This study used a quantitative descriptive design with purposive sampling involving 160 respondents. Attachment was measured using the Indonesian version of the Inventory of Parent and Peer Attachment IPPA, which includes the dimensions of trust, communication, and alienation. Data analysis was conducted using univariate analysis.  Results showed that secure attachment, characterized by high trust, open communication, and low alienation, was slightly more dominant than insecure attachment, which reflects low trust, poor communication, and high alienation. Attachment to fathers showed that 85 respondents (53.1%) were in the secure category and 75 respondents (46.9%) were insecure, while attachment to mothers showed 84 respondents (52.5%) were secure and 76 respondents (47.5%) were insecure. Most students showed secure attachment with both parents, though about half showed insecure attachment. Family-based nursing support is recommended to enhance psychosocial adaptation in early college life. Keywords: Adolescent Attachment, Parents, First-Year Nursing Students, Inventory Of Parent And Peer Attachment (IPPA).  ABSTRAK Masa remaja merupakan fase transisi yang rentan terhadap gangguan kesehatan jiwa, sehingga dukungan emosional orang tua menjadi penting dalam membantu remaja menghadapi tuntutan perkembangan. Kelekatan yang aman dengan orang tua berperan sebagai faktor protektif pada mahasiswa baru Fakultas Keperawatan sebagai remaja akhir yang menghadapi tuntutan adaptasi pada awal perkuliahan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kelekatan remaja dengan ayah dan ibu pada mahasiswa baru Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran tahun ajaran 2025/2026. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kuantitatif dengan teknik purposive sampling terhadap 160 responden. Kelekatan diukur menggunakan Inventory of Parent and Peer Attachment (IPPA) versi Bahasa Indonesia, mencakup dimensi kepercayaan, komunikasi, dan keterasingan, serta dianalisis secara univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelekatan aman, yang ditandai oleh kepercayaan tinggi, komunikasi terbuka, dan rendahnya keterasingan, sedikit lebih dominan dibandingkan kelekatan tidak aman yang mencerminkan kepercayaan dan komunikasi rendah serta tingginya keterasingan. Kelekatan dengan ayah menunjukkan 85 responden (53,1%) berada pada kategori aman dan 75 responden (46,9%) tidak aman, sedangkan kelekatan dengan ibu menunjukkan 84 responden (52,5%) aman dan 76 responden (47,5%) tidak aman. Sebagian besar mahasiswa baru memiliki kelekatan aman dengan ayah dan ibu, meskipun sekitar setengah responden memiliki kelekatan tidak aman. Dukungan keperawatan berbasis keluarga diperlukan untuk menunjang adaptasi psikososial pada awal perkuliahan. Kata Kunci: Inventory of Parent And Peer Attachment (IPPA), Kelekatan Remaja, Mahasiswa Baru Keperawatan, Orang Tua.
Edukasi Kesehatan untuk Meningkatkan Kesadaran Terhadap Lingkungan yang Bersih dan Sehat melalui Inovasi Pengelolaan Sampah Plastik Pada Siswa di UPTD SD Negeri 2 dan 3 Desa Cikedung Kabupaten Indramayu Amira, Iceu; Hendrawati, Hendrawati; Yudha, Ray Kasuma
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 4 (2026): Volume 9 Nomor 4 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i4.25347

Abstract

ABSTRAK Permasalahan sampah masih menjadi isu lingkungan yang dihadapi masyarakat Desa Cikedung, Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu, khususnya rendahnya kesadaran pengelolaan sampah sejak usia dini. Berdasarkan hasil observasi lapangan, ditemukan kebiasaan membuang sampah sembarangan di lingkungan sekolah dan tingginya penggunaan sampah plastik. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya upaya edukatif yang terarah untuk meningkatkan pemahaman dan perilaku peduli lingkungan pada anak-anak sekolah dasar. PKM ini bertujuan untuk memberikan edukasi tentang kesadaran siswa sekolah dasar untuk memelihara lingkungan yang sehat serta pengolahan  sampah plastik menjadi barang yang berguna. Pelaksanaan kegiatan ini menggunakan pendekatan edukatif, partisipatif, dan aplikatif melalui kegiatan sosialisasi pengelolaan sampah, edukasi interaktif berbasis permainan, serta workshop daur ulang botol plastik menjadi tempat pensil. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa mengenai jenis-jenis sampah, konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle), serta pentingnya pemanfaatan kembali sampah menjadi barang bernilai guna. Antusiasme dan partisipasi aktif siswa selama kegiatan berlangsung menunjukkan bahwa program CERIA efektif sebagai media edukasi lingkungan hidup di tingkat sekolah dasar. Setelah dilakukan edukasi ini ada peningkatan dari hasil pre dan pos-test, yang tadinya 75 % menjadi 80%, memahami cara memelihara lingkungan yang sehat serta bagaimana pengolahan sampah yang baik terutama sampah plastik. Untuk kepala sekolah diharapkan program ini bisa dilanjutkan agar anak anak sekolah dasar dapat meningkatkan kesadaran tentang pentingnya kesehatan lingkungan serta dapat dilakukan setiap jumat bersih. Untuk pengelolaan sampah bisa dilakukan pada kegiatan ekstra kurikuler. Untuk peneliti selanjutnya dapat meneliti tentang inovasi pengelolaan sampah selain sampah plastik. Kata Kunci: Daur Ulang Sampah Plastik, Edukasi, Lingkungan Sehat.  ABSTRACT The issue of waste remains an environmental problem faced by the community of Cikedung Village, Cikedung District, Indramayu Regency, particularly the low awareness of waste management from an early age. Based on field observations, a habit of littering in the school environment and high plastic waste usage were found. These conditions indicate the need for targeted educational efforts to enhance understanding and environmentally conscious behavior among elementary school children. This community service program aims to educate elementary school students about the importance of maintaining a healthy environment and processing plastic waste into useful items. The implementation of this activity uses an educational, participatory, and applicative approach thru waste management socialization activities, interactive education based on games, and workshops on recycling plastic bottles into pencil cases. The results of the activities show an increase in students' understanding of the types of waste, the 3R concept (Reduce, Reuse, Recycle), and the importance of repurposing waste into useful items. The enthusiasm and active participation of the students during the activities indicate that the CERIA program is effective as a medium for environmental education at the elementary school level. After this education was conducted, there was an increase in the pre and post-test results, from 75% to 80%, in understanding how to maintain a healthy environment and how to properly manage waste, especially plastic waste. For the principal, it is hoped that this program can be continued so that elementary school children can increase their awareness of the importance of environmental health and it can be carried out every clean Friday. For waste management, it can be conducted as part of extracurricular activities. For future researchers, they can study innovations in waste management beyond plastic waste. Keywords: Plastic Waste Recycling, Education, Healthy Environment.