Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Peran Orang Tua Dalam Mendidik Anak Perspektif Muhammad Taqī Al-Falsafī; Tela’ah Kitab Al-Thifl Baina Al-Waratsah Wa Al-Tarbiyah Fariq, Wan Muhammad; Darwis, Muhajir; Sofiani, Ika Kurnia; Uminar, Ajeng Ninda
Al-Athfaal: Jurnal Ilmiah Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 4 No. 1 (2021): Al-Athfaal: Jurnal Ilmiah Pendidikan Anak Usia Dini
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ajipaud.v4i1.8401

Abstract

Penelitian ini mengkaji pemikiran muhammad taqī al-falsafī (1908-1998) tentang peran orang tua dalam mendidik anak. Beliau merupakan pemikir asal Iran yang sezaman dengan Ayatullah al-Khomeini. Penelitian studi kepustakaan ini dimaksud untuk mengetahui peran orang tua dalam mendidik anak beserta relevansinya terhadap pola asuh orang tua pada era modern. Data primer penelitian ini adalah kitab Al-Thifl Baina Al-Waratsah wa Al-Tarbiyah yang merupakan karyanya. Sedangkan data skunder diambil dari buku-buku dan artikel-artikel yang berkaitan dengan pembahasan. Untuk mencapai tujuan di atas, penelitian ini menggunakan metode: induktif, deduktif, komperatif, dan analisis isi. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa ada lima peran orang tua dalam mendidik anak yang dapat dikutip dari kitab tersebut. Di antaranya: jangan mengingkari janji dengan anak; melatih anak untuk bersikap jujur; memuliakan kepribadian anak; menumbuhkan keimanan pada diri anak; dan tidak berlebihan dalam mencintai anak. Konsep pemikiran Muhammad Taqi al-Falsafi masih diterapkan oleh para orang tua dalam mendidik anak dan masih relevan dalam pendidikan anak saat ini.
PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM PERSPEKTIF MUHAMMAD ‘ABID AL-JABIRI Fariq, Wan Muhammad
Ta'allum: Jurnal Pendidikan Islam Vol 10 No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/taalum.2022.10.2.160-190

Abstract

Muhammad ‘Abid Al-Jabiri dikenal sebagai pemikir wacana keislaman kontemporer yang banyak menghasilkan banyak karya berkaitan dengan studi pemikiran Islam, filsafat, politik, budaya, pendidikan dan lain-lain. Secara umum, pemikirannya penuh dengan kritik kontstruktif terhadap pemikiran Islam Tradisionalis-Konservatif. Berbicara tentang diskursus pendidikan, ia pernah membahas tentang sistem pendidikan di Maroko yang dianggap masih mempertahankan sistem tradisionalis dan sudah tidak relevan dengan konteks kekinian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemikiran Muhammad ‘Abid Al-Jabiri dan relevansinya terhadap pendidikan saat ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan (Library Research). Teknik pengumpulan data yaitu pengutipan dari buku, jurnal, berita dan hasil penelitian. Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hasil penelitian ini mendapatkan bahwa pemikiran Muhammad ‘Abid Al-Jabiri tentang definisi, tujuan, metode, materi, evaluasi dan solusi dalam pengembangan pendidikan relevan dengan konteks pendidikan saat ini.
Keutamaan Guru dalam Pendidikan Islam Surah Ali 'Imran Ayat 18; Kajian Tafsir Nawawi Lestari, Cahya Dwi; Fariq, Wan Muhammad; Darwis, Muhajir
Ta'allum: Jurnal Pendidikan Islam Vol 12 No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/taalum.2024.12.1.97-124

Abstract

Krisis moralitas banyak terjadi dikalangan pelajar. Salah satu indikator penyebabnya adalah lemahnya pegangan terhadap agama dan juga kegagalan dari dunia pendidikan terutama guru. Banyak guru yang lupa akan tanggung jawabnya bahkan tidak mengetahui akan keistimewaan derajat keutamaan seorang guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui analisa keutamaan guru dalam pendidikan Islam surah Ali ‘Imran ayat 18; kajian tafsir Nawawi dan relevansinya dengan UU RI No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen. Adapun penelitian ini bersifat kepustakaan (Library Research) yaitu kajian pustaka yang mengambil data-data tertulis dari berbagai literatur yang terdapat di dalam perpustakaan. Penelitian ini dilakukan dengan mencari informasi, menelaah buku, jurnal, atau lainnya yang berkaitan dengan skripsi ini. Kemudian di analisis menggunakan teknik analisis isi (Content Analysis), hermeneutik objektif, dan metode maudhu’i. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada tiga keutamaan yang terdapat dalam tafsir An-Nawawi pada surah Ali ‘Imran ayat 18 yaitu (1) Guru adalah orang yang paham dengan ilmu tauhid; (2) Ditinggikan derajatnya oleh Allah SWT; (3) Dijamin oleh Allah tentang keadilannya. Adapun ketiga keutamaan tersebut memiliki relevansi dengan Undang-Undang RI nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen.
Inovasi Model Self Organized Learning Environments (SOLE) dalam Pembelajaran Materi Sejarah Kebudayaan Islam; Menuju Kurikulum Merdeka Belajar Fariq, Wan Muhammad; Sri Murhayati; Zaitun
EDUCATE : Journal of Education and Culture Vol. 2 No. 03: September 2024
Publisher : Rumah Riset Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61493/educate.v2i03.127

Abstract

Inovasi model pembelajaran merupakan unsur penting dalam pengembangan pembelajaran sampai saat ini. Salah satunya adalah Model pembelajaran Self Organized Learning Environments (SOLE). Model ini merupakan gagasan yang dikembangkan oleh Sugata Mitra berasal dari India. Penelitian ini mencoba memodifikasi dan menginovasi antara model pembelajaran SOLE dengan materi Sejarah Kebudayaan Islam di tingkat Aliyah yang relevan dengan kurikulum Merdeka Belajar. Jenis penelitian yang digunakan yaitu kualitatif dengan menggunakan motode studi kepustakaan (literature review) dengan menggunakan analisis deskriptif. Sumber data diambil dari hasil penelitian dan artikel-artikel yang berkaitan dengan penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model ini dalam pembelajaran materi Sejarah Kebudayaan Islam, dapat dilakukan dengan 3 (tiga) tahap, yaitu: (1) tahapan pertanyaan (Question) dengan 3 (tiga) langkah, (2) tahapan penyelidikan (Investigation) dengan 3 (tiga) langkah; dan (3) tahapan peninjauan (Review) dengan 3 (tiga) langkah. Model pembelajaran Self Organized Learning Environments (SOLE) ini bisa dimodifikasi dan diinovasi dengan diterapkan kepada materi Sejarah Kebudayaan Islam tingkat Madrasah Aliyah
Religious Moderation in Tunjuk Ajar Melayu and Its Integration into the Madrasah Curriculum in Riau Wan Muhammad Fariq; Munzir Hitami; Zaitun Zaitun
AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan Vol 17, No 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : STAI Hubbulwathan Duri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35445/alishlah.v17i3.7256

Abstract

This study investigates the values of religious moderation embedded in Tunjuk Ajar Melayu by Tenas Effendy and examines their potential integration into the madrasah curriculum in Riau. Religious moderation is a central educational and sociopolitical concern in Indonesia, particularly in multicultural regions such as Riau, where local wisdom can support national values of tolerance and pluralism. Using a qualitative approach, this research applies Jorge J. E. Gracia’s hermeneutic framework to analyze cultural texts within Tunjuk Ajar Melayu. The study combines literature review and qualitative document analysis based on Altheide’s six-stage model. To enhance validity, data triangulation was conducted through in-depth interviews with cultural experts and individuals closely associated with Tenas Effendy. The findings reveal eleven core values of religious moderation reflected in Malay expressions, poetry (pantun), and moral teachings: Tawassuṭ (moderation), I’tidāl (justice), Tasāmuḥ (tolerance), Shūra (consultation), Iṣlāh (reform), Qudwah (exemplary conduct), Tawāzun (balance), Musāwah (equality), Aulawiyah (prioritization), Taṭawwur wa Ibtikār (innovation), and Taḥaḍur/Ta’addub (civility). These values align with Islamic principles and the goals of Indonesia’s Merdeka curriculum, particularly through the local content subject Budaya Melayu Riau (BMR). The study concludes that integrating Tunjuk Ajar Melayu into religious education can reinforce moderate Islamic character and support culturally grounded curriculum development in madrasahs across Riau.
Reconstruction of Educator Responsibilities in Contemporary Education; Abd Al-Karim Bakkar's Perspective in The Digital Era Fariq, Wan Muhammad; Salleh, Nor Hazrul Mohd
Analisa: Journal of Social Science and Religion Vol 10, No 2 (2025): Analisa Journal of Social Science and Religion
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18784/analisa.v10i2.3044

Abstract

This study examines the responsibilities of educators in contemporary education from the perspective of Abd Al-Karim Bakkar amidst the digital era. This research seeks to answer two main questions: 1) What are the core responsibilities of educators according to Abd Al-Karim Bakkar's framework? and 2) How relevant are these responsibilities in addressing the challenges of the digital era? The method employed is a qualitative literature review (Library Research), utilizing content analysis to systematically identify and categorize themes within the text, combined with context analysis to understand the historical and intellectual environment of Bakkar's views on education. Primary data are sourced from Bakkar's book Ḥaul Al-Tarbiyyah Wa Al-Ta’līm, and secondary data are gathered from related journal articles, books, and other resources. The findings reveal that Abd Al-Karim Bakkar outlines seven responsibilities of educators, which include: (1) developing moral orientation; (2) educators as intergenerational connectors; (3) liberating the mind from its shackles; (4) facilitating students' goal-setting; (5) cultivating exploratory motivation and curiosity among students; (6) aligning teaching with students' cognitive development; and (7) curriculum and subject refinement. Additionally, the relevance of these responsibilities in the digital era encompasses the evolution of moral values, the educator's role in addressing the digital divide, fostering critical thinking, preparing youth for the workforce, and integrating digital skills into the curriculum to address future technological challenges. This study provides an overview of how educators' responsibilities must be reconstructed to align with the advancements of an era increasingly influenced by digital technology.
Islamic Teaching and Values in Boat deployment Kenduri in Deluk Village, Bengkalis District Meliza Deluk; Wan Muhammad Fariq
At-Tarbawi: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Kebudayaan Vol. 10 No. 2 (2023): At-Tarbawi: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Kebudayaan
Publisher : the Faculty of Education and Teacher Training of the Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/tarbawi.v10i2.6936

Abstract

This study is conducted because numerous people who live in Deluk Village do not comprehend the Islamic values entitled to the boat deployment tradition that has existed for years. Besides, there are yet concrete explanations regarding the benefits and Islamic teachings in the tradition which resulted in different perspectives on this ritual. This investigation aims to comprehend the procedure of boat deployment and understand the Islamic values behind such a tradition. A descriptive qualitative method was employed in this study by commencing observation, interview, and documentation. The finding suggests boat deployment tradition in Deluk Village was a custom and tradition before fishermen started to use the boat for fishing activities. Such tradition has been inherited from generation to generation and still exists till the present time. The results showed that the tradition of kenduri turun kapal pompong carried out by the people of Deluk Village is a custom or habit. This tradition is hereditary and still exists today. The process of carrying out the kenduri tradition of disembarking the pompong ship begins with the preparation of the ceremony, praying together, followed by eating kenduri, tepung tawar, and ending with the lowering of the pompong ship into the sea. The Islamic education values contained in the implementation of the kenduri pompong tradition are the value of tawhid (faith), the value of worship, moral values, and social values.