Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Hubungan antara Pet Attachment dengan Psychological Well-Being pada Masyarakat Bali yang Memelihara Hewan Anjing Hambarsika, I Gusti Ayu Made Evania; Ayuningtias, Agnes Utari Hanum; Hardika, I Rai
JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI) Vol. 2 No. 1 (2023): JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI)
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/js.v2i1.2482

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pet attachment dengan psychological well-being masyarakat Bali yang memiliki hewan peliharaan anjing. Penelitian ini menggunakan metodologi kuantitatif, alat ukur pet attachment dan psychological well-being diukur dengan skala Lexington Attachment to Pets Scale dan Six- Dimensional Psychological Well-being Scale yang sudah diadaptasi ke Bahasa Indonesia. Sampel penelitian berjumlah 349 orang masyarakat Bali yang memeliharan hewan peliharaan anjing, berusia 18-40 tahun dan beragama Hindu. Hasil analisa korelasi menujukan bahwa pet attachment berkorelasi secara positif terhadap psychological well-being (sig= 0.00 < 0.05) dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0.799. Meningkatnya pet attachment seperti peningkatan terhadap kualitas hidup, gaya hidup yang sehat dan sumber kenyamanan maka akan ada peningkatan juga terhadap psychologocal well-being pemilik hewan peliharaan anjing.
Dinamika Meaning of Life pada Remaja Bali yang Orang Tuanya Bercerai Dewi, G. A. A Wulan Prameswari; Dewi, Ni Nyoman Ari Indra; Hardika, I Rai
JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI) Vol. 2 No. 3 (2023): JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI)
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/js.v2i3.2702

Abstract

Perceraian di Indonesia semakin meningkat setiap tahunnya. Dampak dari perceraian tidak hanya orang tua, melainkan juga pada usia remaja khususnya pada remaja Bali. Umumnya Budaya Bali memiliki sistem patrilineal dan patriarki yang dapat memengaruhi kondisi psikologis remaja Bali yang orang tuanya bercerai. Selain itu, dampak yang dirasakan remaja dapat kehilangan makna hidupnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika meaning of life pada remaja Bali yang orang tuanya bercerai. Metode penelitian menggunakan kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Kriteria penelitian ini adalah remaja perempuan atau laki-laki Bali dengan rentang usia 15-20 tahun yang orang tuanya telah bercerai selama 1-10 tahun. Teknik yang digunakan yaitu wawancara, observasi dan dokumen. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil dari ketiga narasumber memiliki makna hidupnya setelah orang tuanya bercerai. Hal ini karena terpenuhinya aspek-aspek dan faktor-faktor dari meaning of life. Ketiga narasumber memiliki aspek yaitu makna hidup, kebebasan berkehendak, pikiran bunuh diri dan sikap terhadap kematian. Pada aspek kepuasan hidup dan kepantasan hidup belum terpenuhi dengan baik oleh narasumber. Selanjutnya pada faktor meaning of life dapat terpenuhi dengan baik, yaitu pemahaman diri, perubahan sikap, kegiatan terarah dan dukungan sosial.
Gambaran Kemandirian Activity of Daily Living Pada Anak Tunagrahita Ringan Ditinjau dari Pola Asuh Orang Tua Sari, Ni Putu Mira Kartika; Hardika, I Rai; Dewi, Ni Nyoman Ari Indra
JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI) Vol. 3 No. 1 (2024): JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI)
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/js.v3i1.2953

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menggambarkan mengenai kemandirian activity of daily living tunagrahita ringan ditinjau dari pola asuh orang tua. Metode dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap orang tua penyandang tunagrahita ringan di Insan Mandiri Homeschooling. Penelitian ini berfokus pada bidang kemandirian activity of daily living anak tunagrahita seperti bidang penampilan diri dan sikap untuk mengembangkan kepribadian yang wajar, bidang makan dan minum, bidang kesehatan lingkungan, bidang tugas-tugas sederhana di rumah, bidang keuangan, bidang pemeliharaan anak kecil, dan bidang pertolongan pertama pada kecelakaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat persamaan dan perbedaan kemampuan kemandirian dari masing-masing subjek ditinjau dari pola asuh orang tua. Dilihat dari bidang kemandirian activity of daily living anak tunagrahita ringan, bentuk kemandirian activity of daily living anak tunagrahita ringan yang mengalami pola asuh demokratis lebih lebih memenuhi deskripsi kemandirian, dibandingkan dengan anak tunagrahita ringan dengan pola asuh permisif dan otoriter.
Gambaran Penerimaan Diri Pada Ibu Yang Mengalami BABY BLUES SYNDROME Pasca Melahirkan Anak Pertama Perdana, I Gede Audric Satria; Retnoningtias, Diah Widiawati; Hardika, I Rai
JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI) Vol. 3 No. 2 (2024): JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI)
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/js.v3i2.3143

Abstract

Babyblues Syndrome merupakan gangguan Psikologis yang dapat dialami oleh Ibu pasca melahirkan. Umumnya babyblues syndrome lebih banyak dialami oleh ibu yang baru melahirkan anak pertama karena kurangnya pengalaman yang dimiliki oleh ibu dalam mengasuh buah hati. Penerimaan diri menjadi salah satu hal yang essensial bagi ibu. Dengan memiliki penerimaan diri yang baik, seorang ibu akan dapat lebih mudah untuk mengasuh buah hatinya serta menerima status barunya menjadi seorang ibu. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian ini dilakukan bersama tiga ibu postpartum dengan usia anak 0-3 bulan. Teknik yang digunakan yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil dari ketiga narasumber memiliki penerimaan diri yang baik karena terpenuhinya aspek-aspek penerimaan diri pada ketiga narasumber walaupun diawal ketiga narasumber memiliki pengalaman yang berbeda-beda dalam menyambut kehadiran buah hati namun saat ini sudah mampu untuk menerima kehadiran buah hati dengan baik.
Identifikasi Fase-Fase Siklus Kekerasan dan Kebermaknaan Hidup pada Perempuan Penyintas KDRT Saraswati, Ni Made Yulia Paramita; Hardika, I Rai; Retnoningtias, Diah Widiawati
JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI) Vol. 3 No. 2 (2024): JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI)
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/js.v3i2.3158

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pengalaman penyintas kekerasan melalui fase-fase siklus kekerasan dalam rumah tangga dan makna hidup yang diperoleh pasca pengalaman kekerasan yang dilakukan oleh suami. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi yang dilakukan terhadap perempuan korban penyintas KDRT. Penelitian ini berfokus pada fase-fase dalam siklus kekerasan serta sumber-sumber, aspek, dan faktor kebermaknaan hidup. Hasil dari penelitian ini adalah semua korban KDRT mengalami ketiga fase dalam siklus kekerasan. Fase pembentukan ketegangan ditandai dengan awal mula pemicu terjadinya konflik seperti faktor ekonomi, campur tangan mertua atau ipar, munculnya serangan verbal. Fase kekerasan akut adalah puncak terjadinya kekerasan yang ditandai dengan perilaku merusak barang dan melakukan kekerasan fisik. Fase bulan madu ditandai dengan perilaku meminta maaf dari suami terhadap istri dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Makna hidup para korban ditemukan melalui nilai kreatif, nilai penghayatan, dan nilai sikap. Faktor internal seperti pemahaman terhadap diri sendiri, kemampuan mengubah sikap menjadi lebih positif, melakukan kegiatan yang terarah, dan memiliki komitmen untuk bertahan menjalani kehidupan dan mencapai tujuannya. Faktor eksternal yaitu adanya dukungan sosial. Terdapat pula aspek-aspek yang menjadi tolak ukur dalam proses penemuan makna hidup para narasumber seperti mengetahui tujuan hidupnya, memiliki kepuasan hidup, kebebasan dalam berkehendak, sikap terhadap kematian, pikiran tentang bunuh diri, dan merasa pantas atas hidup yang dijalaninya. Sebagian besar narasumber menekankan pada kebahagiaan pribadi, fokus menjalankan peran dan tanggung jawab sebagai orang tua yang baik, dan penghargaan terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak.
Humor-Based Coping Stress Images Explored in Side of Sense of Humor in Teachers Educators Children With Special Needs in Insan Mandiri Homeschooling Schools Pradnyasiwi, Made Indah; Hardika, I Rai; Dewi, Ni Nyoman Ari Indra
JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI) Vol. 4 No. 3 (2025): JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI)
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/js.v4i3.3138

Abstract

This study aims to find a picture of coping stress using humor that is explored in terms of the sense of humor in teachers of educators of children with special needs at Insan Mandiri Homeschooling schools. The research method used is qualitative method with case study approach. Data collection techniques use interviews, observations and documentation conducted on teachers teaching children with special needs. This study focuses on aspects of sense of humor consisting of humor production, coping with humor, humor appreciation and attitudes toward humor. The result of this study is that from teachers of educators of children with special needs who cope with stress with humor because the sense of humor that is owned is also supportive. Starting from being able to create humor well when experiencing stress, being able to manage humor as a way to reduce stress, appreciation of humor given also has a good impact on the success of coping strees and attitudes towards humor that are expressed by giving a feeling of pleasure to humor even though they experience stress pressure.
PROFIL KOGNITIF SLOW LEARNER BERDASARKAN TES WECHSLER INTELLIGENCE SCALE FOR CHILDREN (WISC) DI SEKOLAH X BADUNG BALI Dewi, Ni Nyoman Ari Indra; Retnoningtias, Diah Widiawati; Huwae, Gretty Henofela; Hardika, I Rai
Seminar Ilmiah Nasional Teknologi, Sains, dan Sosial Humaniora (SINTESA) Vol. 8 (2025): PROSIDING SINTESA
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/snts.v8i.5255

Abstract

Kemampuan kognitif merupakan aspek fundamental dalam keberhasilan belajar anak. Namun, tidak semua anak menunjukkan perkembangan kognitif yang optimal. Sebagian anak berada pada rentang kemampuan intelektual yang lebih rendah tetapi masih mampu mengikuti pembelajaran reguler, dikenal sebagai slow learners. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil kognitif anak slow learner berdasarkan hasil asesmen Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC) di Sekolah X Kabupaten Badung. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan populasi sebanyak 15 anak yang diidentifikasi memiliki kendala dalam proses pembelajaran di kelas melalui informasi dari guru dan konselor sekolah. Teknik pengambilan sampel menggunakan sampling jenuh. Hasil asesmen menunjukkan terdapat tiga anak (J, M, dan K) dengan IQ total berada pada rentang 70–79, yang termasuk kategori slow learner. Skor IQ verbal dan IQ performance pada ketiga subjek relatif seimbang, dengan selisih antara 1–9 poin, menunjukkan tidak adanya ketimpangan signifikan antar domain kognitif. Kondisi ini mengindikasikan bahwa hambatan belajar yang muncul bukan akibat gangguan spesifik pada proses kognitif tertentu, melainkan karena kapasitas intelektual umum yang lebih rendah. Anak slow learner umumnya membutuhkan waktu lebih lama dalam memahami konsep abstrak dan memerlukan pengulangan dalam pembelajaran. Temuan ini mendapatkan bahwa anak dengan kecerdasan di bawah rata-rata mampu belajar dengan baik melalui pendekatan konkret, instruksi bertahap, dan dukungan individual. Kesimpulannya, profil kognitif anak slow learner ditandai oleh kemampuan intelektual pada rentang batas bawah normal dengan keseimbangan antara kemampuan verbal dan performansi. Hasil ini memberikan implikasi penting bagi guru dan konselor sekolah untuk merancang strategi pembelajaran adaptif, dengan menekankan penguatan keterampilan dasar, penggunaan media visual, serta pembelajaran berbasis pengulangan.
Adversity Quotient Generasi Z di Universitas X Utami, Ni Putu Surya Pradnya; Hardika, I Rai; Septiarly, Yashinta Levy
AURELIA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol 5, No 1 (2026): January 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/aurelia.v5i1.7010

Abstract

This study explores the level of adversity quotient (AQ) among Generation Z students at Universitas X, Indonesia, who are often labeled as the strawberry generation for being perceived as fragile in facing challenges. The research aims to describe the distribution of AQ and identify differences based on demographic factors such as gender and age. Using a quantitative descriptive approach, data were collected from 356 respondents through a validated questionnaire consisting of 32 items measuring four AQ dimensions: control, origin and ownership, reach, and endurance. The findings reveal a polarized distribution, with the majority of students in the very high (30.1%) and very low (29.2%) categories. Independent samples t-test indicated significant gender differences, with female students showing higher AQ than male students. Moreover, Kruskal–Wallis analysis showed age-based differences, where students aged 19–21 years recorded higher AQ levels compared to older groups. These results highlight the need for targeted interventions to enhance resilience among students with lower AQ.
Profil Kognitif Anak Dengan Kesulitan Belajar Berdasarkan Tes WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) Dewi, Ni Nyoman Ari; Retnoningtias, Diah Widiawati; Huwae, Gretty Henofela; Hardika, I Rai
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 12 No 2.D (2026): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemampuan berpikir, mengingat, memahami, dan memecahkan masalah yang mendukung keberhasilan akademik. Namun, tidak semua anak memiliki perkembangan kognitif yang optimal, sehingga muncul kesulitan belajar (learning difficulties). Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan profil kognitif anak dengan kesulitan belajar berdasarkan hasil asesmen Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC) di Sekolah X Kabupaten Badung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif. Subjek penelitian berjumlah 14 siswa yang diidentifikasi mengalami kesulitan belajar. Pengambilan data dilakukan secara individual oleh tim psikolog dan observer melalui tes WISC. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi kemampuan intelektual pada anak, dengan 13,3% tergolong retardasi mental, 20% slow learners, 20% berada pada kategori rata-rata bawah, 33,3% rata-rata, dan 13,3% rata-rata atas. Ditemukan pula perbedaan signifikan antara IQ Verbal dan IQ Performance pada beberapa anak (selisih ≥15 poin), yang mengindikasikan adanya potensi Specific Learning Disorder (SLD). Anak dengan profil IQ Total normal tetapi memiliki ketidakseimbangan antara kemampuan verbal dan performa cenderung mengalami hambatan belajar spesifik, terutama pada aspek membaca dan menulis. Sementara itu, anak dengan IQ <70 dikategorikan memiliki hambatan intelektual global, dan anak dengan IQ 70–79 tergolong slow learners yang membutuhkan strategi pembelajaran konkret dan berulang. Temuan ini menegaskan pentingnya asesmen kognitif dalam mengidentifikasi pola kekuatan dan kelemahan anak dengan kesulitan belajar agar intervensi pendidikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan individu.