Claim Missing Document
Check
Articles

Analysis of Column and Beam Minimum Reinforcement Requirements on the Building Structure of the Faculty of Psychology, University of Semarang Widorini, Trias; Crista, Ngudi Hari; Anggraini, Lila
International Journal of Sustainable Building, Infrastructure and Environment (IJOSBIE) Vol 2, No 1 (2021)
Publisher : Science and Technology Research Centre, Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/ijosbie.v2i1.8418

Abstract

In formulating the seismic design criteria for a building at ground level or determining the amplification of the peak earthquake acceleration from the bedrock to the ground for a site, the site must be classified first. Site class assignment must be carried out through field and laboratory soil investigations. Site Class consists of SA (hard rock), SB (rock), SC (medium soil), SE (soft soil) and SF (special soil). SNI 1726: 2019 with various classes of SB, SC, SD and SE sites. From the analysis results, it is found that the variation of soil site classes has an effect on the area of minimum reinforcement requirements, except for the logitudinal reinforcement requirements of the lower support beam for site class variations, the value is fixed. The variation of soil site classes has a significant effect on the area requirements of the longitudinal reinforcement in the column. The largest requirement for column longitudinal reinforcement is Soft Soil Site Class (E) and the smallest requirement is Rock Site Class (B).
The PERENCANAAN ULANG GEDUNG PASAR JOHAR MENGGUNAKAN STRUKTUR FLAT SLAB: Johar Market Building Redesign Using a Flat Slab Structure Zhafira, Talitha; Aishah, Aina Firdha; Firdaus, Berlianna Adhistya; Widorini, Trias
Spektrum Sipil Vol 9 No 2 (2022): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/spektrum.v9i2.263

Abstract

Gedung Pasar Johar Selatan Semarang merupakan proyek pembangunan gedung empat lantai di daerah Purwodinatan Kota Semarang. Semula Gedung Pasar Johar direncanakan menggunakan metode struktur portal biasa (kolom, balok, dan pelat). Penelitian ini memodifikasi menggunakan struktur flat slab. Redesign menggunakan flat slab diharapkan mampu menahan beban gempa dan tetap aman strukturnya. Analisa perhitungan struktur menggunakan program ETABS v.18.1.1. Hasil penelitian menggunakan desain baru menggunakan tebal flat slab atau pelat 250 mm, tinggi drop panel sebesar 150 mm, dengan ukuran kolom 800x800 mm. Nilai displacement menggunakan flat slab masih aman dengan nilai terbesar 30 mm. Simpangan antar lantai arah x dan y masih dibawah nilai ijin sebesar 58,462 mm artinya redesain pasar johar memenuhi syarat. Kestabilan dari efek P-delta struktur masih dalam keadaan stabil karena nilainya dibawah batas stabilitas struktur 0,0909. Torsi tidak terjadi karena nilai story drift inelastic dibagi dengan simpangan antar lantai dibawah 1,2 dan 1,4.
ANALISIS PERENCANAAN PEMBANGUNAN RUMAH SUSUN MATARAM 11 LANTAI DI SEMARANG: Development Planning Analysis of Mataram Flats 11 Floors in Semarang Daffa Adi Pangestu, Muhammad; Zhafira, Talitha; Hartono, Naufal Fitriansah; Widorini, Trias
Spektrum Sipil Vol 10 No 2 (2023): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/spektrum.v10i2.324

Abstract

Kota Semarang adalah ibu kota Provinsi Jawa Tengah yang memiliki luas wilayah sebesar 373,70 km2. Luas kawasan permukiman eksisting di Kota Semarang telah mencapai 16.027,49 Ha dari rencana kawasan permukiman sebesar 20.832,94 Ha. Penelitian ini dilakukan sebagai upaya memaksimalkan fungsi tata guna lahan, khususnya sebagai sarana dan prasarana tempat tinggal di kota Semarang. Metode yang digunakan adalah pengumpulan data primer berupa data tanah dan data sekunder berupa data gempa serta gambar struktur bangunan yang kemudian di analisis dengan bantuan software ETABS V.20. Hasil penelitian ini adalah nilai simpangan antar lantai tertinggi ditinjau dari arah x sebesar 27,758 mm dan arah y sebesar 22,825 mm memiliki nilai di bawah simpangan ijin yaitu 70 mm. Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa simpangan antar lantai pada struktur gedung ini memenuhi persyaratan yang telah ditentukan oleh SNI-1726-2019 sehingga gedung rumah susun ini aman dari beban gempa. Nilai torsi ratio memiliki hasil di bawah 1,2 dan 1,4 sehingga berdasarkan SNI-1726-2019 struktur gedung rumah susun ini tidak memiliki ketidakberaturan torsi.
STUDI ANALISIS TULANGAN SENGKANG ULIR PADA GEDUNG T UNIVERSITAS SEMARANG DENGAN MEMBANDINGKAN PERATURAN SNI GEMPA 2012 DENGAN SNI GEMPA 2019 Crista, Ngudi Hari; Widorini, Trias; Anggraini, Lila
Bangun Rekaprima Vol. 7 No. 1 (2021): April 2021
Publisher : Politeknik Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (547.93 KB) | DOI: 10.32497/bangunrekaprima.v7i1.2585

Abstract

Karena adanya peraturan gempa yang mengalami revisi dan perilaku gempa setiap zona selalu mengalami perubahan hampir setiap tahun dikarenakan adanya pergeseran lempeng dan bebatuan serta akibat aktivitas vulkanik, maka suatu peraturan gempa terbaru muncul dan diberlakukan, dengan adanya peraturan terbaru menyebabkan perlunya revisi atau peninjauan ulang bangunan-bangunan yang sudah berdiri untuk dikaji ulang menggunakan peraturan tersebut. Dari adanya gempa menyebabkan banyak terjadi kerusakan pada struktur bangunan. Setelah dilakukan kajian yang mendalam tentang hal ini, bahwa gempa besar yang terjadi ternyata karena percepatan batuan dasar lebih besar daripada percepatan batuan dasar yang telah ditetapkan dalam peta gempa SNI 03-1726-2012. Berdasarkan penemuan tersebut menyebabkan peta gempa SNI 03-1726-2012 dinilai sudah tidak sesuai lagi di-aplikasikan sebagai pedoman perencanaan struktur tahan gempa. Dengan adanya peraturan terbaru (RSNI 03-1726-2019) maka semua bangunan yang direncanakan dengan peraturan lama (SNI 03-1726-2012) perlu adanya evaluasi perhitungan pengaruh gempa bangunan lama terhadap peraturan terbaru.Pada penelitian ini analisis dilakukan dengan menggunakan tulangan Ulir baik untuk tulangan Pokok maupun tulangan geser. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dengan menganalisa prilaku struktur antara kedua peraturan tersebut pada bangunan gedung perkuliahan gedung T Universitas Semarang didapat Jumlah tulangan longitudinal ulir mengalami kenaikan sebesar 7 % dan kebutuhan tulangan Sengkang ulir mengalami kenaikan 12% , Sedangkan jumlah kebutuhan tulangan longitudinal ulir mengalami kenaikan pada tulangan lapangan sebesar 33 % , serta tulangan Sengkang ulir mengalami kenaikan 40 % .sehingga berdasarkan hasil tersebut bahwa gaya geser mengalami peningkatan yang cukup tinggi, sehingga evaluasi terhadap bangunan gedung ”“ gedung lama perlu adanya pengkajian ulang.
Evaluasi Mutu Beton dengan Metode Non-Destructive Test pada Kolom Gedung Parkir Menara USM Prasetya, Bagas; Zhafira, Talitha; Sagara, Nandhika Jihan; Widorini, Trias; Sitorus, Mentari S.
Jurnal Teknik Sipil Institut Teknologi Padang Vol 11 No 1 (2024): Jurnal Teknik Sipil institut Teknologi Padang
Publisher : ITP Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21063/jts.2024.V1101.040-45

Abstract

Semarang adalah salah satu kota dengan kepadatan penduduk yang tinggi. Hal ini membuat lahan di kota Semarang menjadi sempit sehingga pembangunan gedung parkir dan basement menjadi salah satu solusi yang bisa ditawarkan oleh masyarakat modern di zaman sekarang. Tujuan penelitian ini adalah untuk  mengetahui nilai mutu beton pada gedung parkir dan basement Menara Universitas Semarang apakah sudah sesuai dengan perencanaan. Nilai mutu beton kolom suatu gedung dapat diketahui dengan melakukan uji kualitas fisik bangunan dengan cara tidak merusak beton (non-destructive) atau metode NDT, yaitu dapat menggunakan metode dan peralatan pengujian rebound number (Schimidt Hammer Test). Menara Universitas Semarang merupakan salah satu gedung termuda di Universitas Semarang yang dibangun pada tahun 2019 dan saat ini telah berusia ±4 tahun. Gedung Menara Universitas Semarang sendiri memiliki 10 lantai dengan kolam renang pada lantai paling atasnya. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode pengumpulan data primer dan sekunder, di mana data primer yang didapat adalah dengan cara melakukan survey atau uji tes non-destructive secara langsung pada kolom gedung parkir dan basement menara Universitas Semarang. Sedangkan data sekunder didapatkan dengan cara meminta data kepada instansi  terkait. Penelitian ini dilakukan pada 20 titik, di mana setiap titik diberikan pemukulan sekitar 10 pukulan. Dari perencanaan gedung parkir dan basement menara Universitas Semarang menggunakan mutu kolom beton K-375 atau setara dengan fc’ 31,125 MPa. Hasil penelitian ini mendapatkan nilai kuat tekan beton yang sudah sesuai dengan perencanaan.
Environmental Implications of Liquid Natural Rubber Latex as a Sustainable Additive in Concrete: Effects on Mechanical Performance and Water–Cement Interaction Hani Purwanti; Purwanto; Trias Widorini; Talitha Zhafira
Tropical Aquatic and Soil Pollution Volume 6 - Issue 1 - 2026
Publisher : Tecno Scientifica Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53623/tasp.v6i1.1161

Abstract

Increasing demand for ecologically friendly construction materials has promoted the use of renewable additives in concrete systems. This study investigates the influence of liquid natural rubber latex on the mechanical properties and water–cement interaction of conventional concrete with a focus on the environmental impact. Concrete mixtures were made using 0%, 5%, 7.5%, and 10% by volume of latex. Compressive and flexural strength tests were performed at 28 days to evaluate structural performance. The results show that increasing the latex content consistently decreases mechanical characteristics. Compressive strength dropped by roughly 10%, 18% and 26% and flexural strength reduced by 8%, 14% and 20% with 5%, 7.5% and 10% latex additions accordingly. This behavior is related to the involvement of latex as an extra fluid phase which affects the effective water–cement ratio, modifies hydration and leads to increased porosity and weaker bonding within the concrete matrix. From an environmental perspective, natural rubber latex provides advantages as a renewable and biodegradable resource that can lessen dependence on synthetic admixtures. However, the decline in mechanical performance suggests potential trade-offs, including reduced durability and greater material demand over the service life. The results imply that the latex application in concrete should be carefully regulated or supplemented with stabilizing materials to attain the best results. In conclusion, this study emphasizes the necessity to reconcile environmental benefits and engineering needs in the development of bio-based construction materials, especially in tropical settings.
Analysis of Column and Beam Minimum Reinforcement Requirements on the Building Structure of the Faculty of Psychology, University of Semarang Widorini, Trias; Crista, Ngudi Hari; Anggraini, Lila
International Journal of Sustainable Building, Infrastructure and Environment (IJOSBIE) Vol 2, No 1 (2021)
Publisher : Science and Technology Research Centre, Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/ijosbie.v2i1.8418

Abstract

In formulating the seismic design criteria for a building at ground level or determining the amplification of the peak earthquake acceleration from the bedrock to the ground for a site, the site must be classified first. Site class assignment must be carried out through field and laboratory soil investigations. Site Class consists of SA (hard rock), SB (rock), SC (medium soil), SE (soft soil) and SF (special soil). SNI 1726: 2019 with various classes of SB, SC, SD and SE sites. From the analysis results, it is found that the variation of soil site classes has an effect on the area of minimum reinforcement requirements, except for the logitudinal reinforcement requirements of the lower support beam for site class variations, the value is fixed. The variation of soil site classes has a significant effect on the area requirements of the longitudinal reinforcement in the column. The largest requirement for column longitudinal reinforcement is Soft Soil Site Class (E) and the smallest requirement is Rock Site Class (B).
Pelatihan Merakit Tulangan Tie Beam Pada Siswa SMK Galih Widyarini; Diah Rahmawati; Trias Widorini
Jurnal Hilirisasi Technology kepada Masyarakat (SITECHMAS) Vol. 6 No. 2 (2025): Vol. 6 No. 2 Oktober 2025
Publisher : Politeknik Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32497/sitechmas.v6i2.6219

Abstract

Struktur bangunan gedung terdiri dari struktur atas dan struktur bawah. Struktur atas bagian gedung yang berada di atas tanah meliputi plat, balok dan kolom. Struktur bawah bagian gedung yang berada di bawah tanah meliputi pondasi dan tie beam. Tie beam adalah bangunan di atas pondasi yang berfungsi mendistribusikan beban ke pondasi. Tie beam diperlukan untuk menahan perbedaan penurunan (differensial settlement) dan pengaku pada kolom (Sugianto, 2018). Tujuan dari kegaitan ini adalah meningkatkan kemampuan hardskill pada Siswa SMK Negeri 3 Semarang dalam perakitan atau pemasangan tulangan baja tie beam. Di SMK Negeri 3 belum memiliki mata pelajaran mengenai perakitan tulangan tie beam, sehingga perlu adanya pelatihan terkait hal tersebut. Kegiatan terdiri dari pre test, pelatihan merakit, post test. Hasil pre test menunjukan 100% peserta tidak mengetahui cara merakit tulangan tie beam, berbanding dengan hasil post test 100% peserta mengetahui cara merakit tulangan tersebut.  Dari kegiatan pelatihan ini didapatkan adanya peningkatan kemampuan merakit tulangan tie beam pada peserta.
Pengabdian kepada Masyarakat melalui Optimalisasi Detail Engineering Design (DED) Struktur Masjid Berbasis Standar Konstruksi Nasional Nur Fithriani Fatma Cholida; Thalita Zhafira; Iryan Dwi Handayani; Trias Widorini
ABDIKAN: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknologi Vol. 4 No. 3 (2025): Agustus 2025
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/abdikan.v4i3.6118

Abstract

The mosque is the center of religious and social activities of the community. Its construction requires careful technical planning. This will ensure that the building is safe, efficient, and in accordance with Standar Nasional Indonesia (SNI). The purpose of this community service activity is to provide technical assistance during the process of preparing the Detail Engineering Design (DED) of the Assafi Qolbu Mosque building located in Mranggen District, Demak Regency. Using an expert-driven design approach, the assistance was carried out by a team of Civil Engineering lecturers at Semarang University. Site surveys, needs analysis, technical working drawings, and selection of structural materials according to standards were all work carried out. The activity resulted in a one-story building structure technical document (DED) that included the planning of strip and footplate foundations, sloofs, columns, beams, floor slabs, and light reinforced roof structures. A well-designed DED ensures that the durability of the building is guaranteed to meet the aspects of structural safety and material efficiency. This activity not only creates design documents, but also increases partners' understanding of the importance of involving experts in the construction of mosques, especially their structures. It is expected that this assistance will serve as an implementative model for the construction of worship facilities based on Indonesian National Standards.
ANALISIS PENGARUH KUALIFIKASI KONTRAKTOR TERHADAP KUALITAS PEKERJAAN PROYEK KONSTRUKSI DI KOTA SEMARANG Lila Anggraini; Diah Rahmawati; Trias Widorini
Jurnal Pengembangan Rekayasa dan Teknologi Vol. 1 No. 2 (2017): November (2017)
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jprt.v13i2.935

Abstract

The law on construction services has been in effect for seventeen years, but the world of construction services in Indonesia has not been very exciting, especially for construction workers for large-scale and high-tech projects. Indonesia's workforce is still considered not to have capability comparable with foreign construction workforce.To realize the success of quality buildings and able to function as planned, needed human resources of good quality as well.And the professional ability of the construction workforce is evidenced by the possession of a skill or skill certificate. As mandated by the Construction Services Act No. 18 of 1999 article 9. that any individual employed by a business entity as a construction planner or supervisor of a particular construction or energy in a construction business enterprise shall have a certificate of expertise.Based on the research factors that most affect the application of Construction Services Act of 1999 memnai certificate of competence of experts on the implementation of construction work.is a factor of human resources such as education experts, experience, training, age and ownership of certificates. Another factor is the method of implementation of work such as coordination and decision making, while the political factor is the regulation of rules and leadership factors, such as motivation and awards To know how far and how big the role of these construction service experts in achieving the success of construction work, so much in demand by both local and foreign workers, it is deemed necessary to research the role of experts in contributing to the success of a construction work.Therefore it is necessary to develop further research on the readiness of experts in terms of the fulfillment of the requirements and expertise, in order to obtain the predicate of professional engineers or professional engineers through certification of expertise held by professional associations that followed.