Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Perbedaan Kadar Glukosa Darah Sewaktu Menggunakan Antikoagulan Ethylene Diamine Terta Acetic Acid (Edta) Dan Natrium Florida (NaF) Dengan Variasi Penundaan Waktu Pemeriksaan Pada Siswa Smk Semesta Bumiayu Mulyani, Eti; Pangesti, Ira; Farabi, Meka Faizal
Pharmaqueous: Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol. 5 No. 2 (2023): Volume 5, Nomor 2, November 2023
Publisher : Universitas Al-Irsyad Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36760/jp.v5i2.322

Abstract

Laboratorium klinis memiliki peran penting dalam penegakan diagnosis, serta pencegahan terhadap penyakit dan pengobatan terhadap penyakit. Salah satu pemeriksaan laboratorium klinis diantaranya pemeriksaan glukosa darah yang dilakukan untuk mengetahui konsentrasi glukosa dalam darah. Pemeriksaan glukosa darah dapat menggunakan specimen darah utuh, serum atau plasma dengan antikoagulan EDTA, heparin, Natrium sitrate dan Natrium Florida. Pemeriksaan sampel dengan penundaan perlu ditambahkan bahan pengawet. Perbedaan penggunaan antikoagulan EDTA dan NaF terjadi karena antikoagulan EDTA tidak terdapat zat yang menghambat proses glikolisis, hanya dapat mencegah koagulasi, dan antikoagulan NaF dapat menghambat proses glikolisis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan antikoagulan dan waktu penundaan pemeriksaan terhadap kadar glukosa darah. Jenis penelitian ini adalah pendekatan Cross sectional. Sampel adalah darah vena dari 15 orang siswa SMK Semesta Bumiayu dengan tidak memperhatikan riwayat status glukosa darah sebelumnya yang dimasukkan dalam 2 tabung berbeda, plasma EDTA dan Plasma Natrium Fluorida (NaF). Kadar glukosa sampel diperiksa dengan metode glukosa oksidase (GOD) dengan variasi penundaan waktu 1 jam, 2 jam dan 3 jam. Uji statistik menggunakan independent T-test, One way Anova dan Kolmogorov-Smirnov Test. Hasil penelitian menunjukan nilai α = 0,000 (pemeriksaan menggunakan EDTA dan NaF dengan variasi penundaan waktu 1 jam, 2 jam dan 3 jam). Terdapat pebedaan yang bermakna antara pemeriksaan glukosa darah menggunakan antikoagulan EDTA dan antikoagulan NaF dengan variasi penundaan waktu pemeriksaan 1 jam, 2 jam dan 3 jam
Pengaruh Pengobatan Multi Drug Resistant Tuberculosis (TBMDR) Terhadap Kadar Hemoglobin Dan Hematokrit Di Rsud Cilacap Pada Januari 2020 Sampai Desember 2022 Ma’rifah, Solihatul; Pangesti, Ira; Faizal, Imam Agus
Pharmaqueous: Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol. 5 No. 2 (2023): Volume 5, Nomor 2, November 2023
Publisher : Universitas Al-Irsyad Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36760/jp.v5i2.323

Abstract

Penyakit tuberkulosis (TB) sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan utama yang menjadi tantangan dunia. Salah satu tantangan kita terhadap penanggulangan TB dalam beberapa tahun belakangan ini adalah penyebaran TB resisten obat yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis (MTB) yang resisten terhadap Rifampisin (RIF) dan Isoniazid (INH). Multi Drug Resistant Tuberculosis (TB MDR)pada dasarnya adalah suatu fenomena yang merupakan dampak dari perbuatan manusia yang kebanyakan terjadi karena pengobatan TB yang tidak adekuat maupun juga dapat disebabkan karena penularan langsung. Penyakit Tuberkulosis paru merupakan suatu infeksi kronis pada jaringanparu yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis. Setiap kondisi penyakit yang berhubungan dengan peradangan, dan yang berlangsung lebih dari 1 atau 2 bulan, dapat menyebabkan anemia kronis. Tujuan penelitian ini untuk Mengetahui pengaruh pengobatan TB MDR terhadap kadar hemoglobin dan hematokrit pada pasien TB MDR sebelum dan sesudah pengobatan di RSUD Cilacap. Jenis penelitian cross sectional menggunakan pendekatan analitik dengan rancangan komparatif Data yang digunakan berupa data sekunder pengobatan TB MDR terhadap kadar hemoglobin dan hematokrit yang dia ambil di RSUD Cilacap dalam jangka waktu bulan Januari 2020 -Desember 2022 sebanyak 26 sampel pasien.
In Vitro Anti-Biofilm Activity of Nutmeg (Myristica fragrans) Leaf Infusion Extract Wijayanti, Faulia Triana; Nugroho, Yusuf Eko; Pangesti, Ira
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 9, No 1 (2025): November 2025
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v9i1.2097

Abstract

Pseudomonas aeruginosa is an opportunistic Gram-negative bacterium commonly associated with severe infections, particularly in immunocompromised individuals. One of its major virulence factors is biofilm formation, which contributes to increased antimicrobial resistance. This study aimed to evaluate the inhibitory activity of nutmeg (Myristica fragrans) leaf infusion extract against P. aeruginosa biofilm formation in vitro. The experiment was conducted using a 96-well microtiter plate assay, and biofilm intensity was quantified at 595 nm following crystal violet staining. The results demonstrated that the nutmeg leaf infusion extract significantly inhibited biofilm formation, with varying levels of effectiveness depending on incubation time. These findings indicate the potential of nutmeg leaf infusion extract as an antibiofilm agent against P. aeruginosa.
Pengaruh Pemberian Ekstrak Buah Pala terhadap Kadar Eritrosit (RBC) dan Granulosit pada Tikus Putih (Rattus norvegicus) dengan Anemia Hasanah, Uswatun; Pangesti, Ira; Puspodewi, Dini
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 9, No 1 (2025): November 2025
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v9i1.2106

Abstract

Anemia is a condition characterized by a decreased number of erythrocytes and an increased number of leukocytes. According to the 2023 Indonesian Health Survey, the prevalence of anemia across all age groups is 16.2%, with a higher rate in women (18%) compared to men (14.4%). Nutmeg (Myristica fragrans Houtt) contains bioactive compounds such as saponins, flavonoids, alkaloids, and essential fatty acids that may contribute to increasing red blood cell counts and modulating leukocyte levels. This study aimed to determine the effect of nutmeg fruit extract on increasing RBC and reducing granulocyte levels in anemic white rats. A total of 25 male rats (200–350 g) were divided into five treatment groups. Anemia was induced using NaNO₂ at a dose of 1.5 mg/kg BW orally. Nutmeg extract was administered at doses of 200 mg/kg BW, 300 mg/kg BW, and 400 mg/kg BW. There were no significant differences (p > 0.05) between the positive control and treatment groups, nor between pre- and post-extract administration. At doses of 200 and 300 mg/kg BW, RBC percentage reached 20.7%. For granulocytes, the 300 mg/kg BW dose produced a higher percentage (27.6%) compared to the 200 and 400 mg/kg BW doses. These findings suggest that nutmeg fruit extract has the potential to support erythrocyte balance in anemia conditions, although further research with larger samples and controlled dosing is needed.%.