Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Perbedaan Kadar Glukosa Darah Sewaktu Menggunakan Antikoagulan Ethylene Diamine Terta Acetic Acid (Edta) Dan Natrium Florida (NaF) Dengan Variasi Penundaan Waktu Pemeriksaan Pada Siswa Smk Semesta Bumiayu Mulyani, Eti; Pangesti, Ira; Farabi, Meka Faizal
Pharmaqueous: Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol. 5 No. 2 (2023): Volume 5, Nomor 2, November 2023
Publisher : Universitas Al-Irsyad Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36760/jp.v5i2.322

Abstract

Laboratorium klinis memiliki peran penting dalam penegakan diagnosis, serta pencegahan terhadap penyakit dan pengobatan terhadap penyakit. Salah satu pemeriksaan laboratorium klinis diantaranya pemeriksaan glukosa darah yang dilakukan untuk mengetahui konsentrasi glukosa dalam darah. Pemeriksaan glukosa darah dapat menggunakan specimen darah utuh, serum atau plasma dengan antikoagulan EDTA, heparin, Natrium sitrate dan Natrium Florida. Pemeriksaan sampel dengan penundaan perlu ditambahkan bahan pengawet. Perbedaan penggunaan antikoagulan EDTA dan NaF terjadi karena antikoagulan EDTA tidak terdapat zat yang menghambat proses glikolisis, hanya dapat mencegah koagulasi, dan antikoagulan NaF dapat menghambat proses glikolisis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan antikoagulan dan waktu penundaan pemeriksaan terhadap kadar glukosa darah. Jenis penelitian ini adalah pendekatan Cross sectional. Sampel adalah darah vena dari 15 orang siswa SMK Semesta Bumiayu dengan tidak memperhatikan riwayat status glukosa darah sebelumnya yang dimasukkan dalam 2 tabung berbeda, plasma EDTA dan Plasma Natrium Fluorida (NaF). Kadar glukosa sampel diperiksa dengan metode glukosa oksidase (GOD) dengan variasi penundaan waktu 1 jam, 2 jam dan 3 jam. Uji statistik menggunakan independent T-test, One way Anova dan Kolmogorov-Smirnov Test. Hasil penelitian menunjukan nilai α = 0,000 (pemeriksaan menggunakan EDTA dan NaF dengan variasi penundaan waktu 1 jam, 2 jam dan 3 jam). Terdapat pebedaan yang bermakna antara pemeriksaan glukosa darah menggunakan antikoagulan EDTA dan antikoagulan NaF dengan variasi penundaan waktu pemeriksaan 1 jam, 2 jam dan 3 jam
Pengaruh Pengobatan Multi Drug Resistant Tuberculosis (TBMDR) Terhadap Kadar Hemoglobin Dan Hematokrit Di Rsud Cilacap Pada Januari 2020 Sampai Desember 2022 Ma’rifah, Solihatul; Pangesti, Ira; Faizal, Imam Agus
Pharmaqueous: Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol. 5 No. 2 (2023): Volume 5, Nomor 2, November 2023
Publisher : Universitas Al-Irsyad Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36760/jp.v5i2.323

Abstract

Penyakit tuberkulosis (TB) sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan utama yang menjadi tantangan dunia. Salah satu tantangan kita terhadap penanggulangan TB dalam beberapa tahun belakangan ini adalah penyebaran TB resisten obat yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis (MTB) yang resisten terhadap Rifampisin (RIF) dan Isoniazid (INH). Multi Drug Resistant Tuberculosis (TB MDR)pada dasarnya adalah suatu fenomena yang merupakan dampak dari perbuatan manusia yang kebanyakan terjadi karena pengobatan TB yang tidak adekuat maupun juga dapat disebabkan karena penularan langsung. Penyakit Tuberkulosis paru merupakan suatu infeksi kronis pada jaringanparu yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis. Setiap kondisi penyakit yang berhubungan dengan peradangan, dan yang berlangsung lebih dari 1 atau 2 bulan, dapat menyebabkan anemia kronis. Tujuan penelitian ini untuk Mengetahui pengaruh pengobatan TB MDR terhadap kadar hemoglobin dan hematokrit pada pasien TB MDR sebelum dan sesudah pengobatan di RSUD Cilacap. Jenis penelitian cross sectional menggunakan pendekatan analitik dengan rancangan komparatif Data yang digunakan berupa data sekunder pengobatan TB MDR terhadap kadar hemoglobin dan hematokrit yang dia ambil di RSUD Cilacap dalam jangka waktu bulan Januari 2020 -Desember 2022 sebanyak 26 sampel pasien.
In Vitro Anti-Biofilm Activity of Nutmeg (Myristica fragrans) Leaf Infusion Extract Wijayanti, Faulia Triana; Nugroho, Yusuf Eko; Pangesti, Ira
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 9, No 1 (2025): November 2025
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v9i1.2097

Abstract

Pseudomonas aeruginosa is an opportunistic Gram-negative bacterium commonly associated with severe infections, particularly in immunocompromised individuals. One of its major virulence factors is biofilm formation, which contributes to increased antimicrobial resistance. This study aimed to evaluate the inhibitory activity of nutmeg (Myristica fragrans) leaf infusion extract against P. aeruginosa biofilm formation in vitro. The experiment was conducted using a 96-well microtiter plate assay, and biofilm intensity was quantified at 595 nm following crystal violet staining. The results demonstrated that the nutmeg leaf infusion extract significantly inhibited biofilm formation, with varying levels of effectiveness depending on incubation time. These findings indicate the potential of nutmeg leaf infusion extract as an antibiofilm agent against P. aeruginosa.
Pengaruh Pemberian Ekstrak Buah Pala terhadap Kadar Eritrosit (RBC) dan Granulosit pada Tikus Putih (Rattus norvegicus) dengan Anemia Hasanah, Uswatun; Pangesti, Ira; Puspodewi, Dini
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 9, No 1 (2025): November 2025
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v9i1.2106

Abstract

Anemia is a condition characterized by a decreased number of erythrocytes and an increased number of leukocytes. According to the 2023 Indonesian Health Survey, the prevalence of anemia across all age groups is 16.2%, with a higher rate in women (18%) compared to men (14.4%). Nutmeg (Myristica fragrans Houtt) contains bioactive compounds such as saponins, flavonoids, alkaloids, and essential fatty acids that may contribute to increasing red blood cell counts and modulating leukocyte levels. This study aimed to determine the effect of nutmeg fruit extract on increasing RBC and reducing granulocyte levels in anemic white rats. A total of 25 male rats (200–350 g) were divided into five treatment groups. Anemia was induced using NaNO₂ at a dose of 1.5 mg/kg BW orally. Nutmeg extract was administered at doses of 200 mg/kg BW, 300 mg/kg BW, and 400 mg/kg BW. There were no significant differences (p > 0.05) between the positive control and treatment groups, nor between pre- and post-extract administration. At doses of 200 and 300 mg/kg BW, RBC percentage reached 20.7%. For granulocytes, the 300 mg/kg BW dose produced a higher percentage (27.6%) compared to the 200 and 400 mg/kg BW doses. These findings suggest that nutmeg fruit extract has the potential to support erythrocyte balance in anemia conditions, although further research with larger samples and controlled dosing is needed.%.
KORELASI KADAR GLUKOSA DARAH DENGAN HITUNG JENIS LEUKOSIT PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RSUD BAHTERAMAS KOTA KENDARI SULAWESI TENGGARA Surida, Wa Ode; Faisal, Imam Agus; Pangesti, Ira
Jurnal Analis Laboratorium Medik Vol 10 No 2 (2025): Jurnal Analis Laboratorium Medik
Publisher : UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/jalm.v10i2.6357

Abstract

Latar belakang: Diabetes melitus tipe 2 adalah penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan hiperglikemia akibat resistensi insulin. Hiperglikemia kronis memicu peradangan sistemik yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh. Oleh karena itu, pengukuran glukosa darah dan jumlah leukosit sangat penting untuk menilai status metabolik dan imunologi pasien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara kadar glukosa darah dengan hitung jenis leukosit pada penderita DM tipe 2 di RSUD Bahteramas Kota Kendari Sulawesi Tenggara. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional dengan menggunakan data sekunder dari 53 pasien DMT2 di RSUD Bahteramas Kota Kendari. Data berupa hasil pemeriksaan glukosa darah dan hitung jenis leukosit dari rekam laboratorium. Analisis dilakukan dengan uji Shapiro-Wilk dan korelasi Spearman Rank menggunakan SPSS. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar pasien memiliki kadar glukosa darah ≥200 mg/dL. Jumlah neutrofil rata-rata lebih tinggi dibandingkan jenis leukosit lainnya. Hasil uji Spearman menunjukkan bahwa akumulasi neutrofil berkorelasi positif signifikan dengan kadar glukosa darah (r = 0,413; p = 0,002), sementara akumulasi eosinofil berkorelasi negatif signifikan (r = -0,290; p = 0,035). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara kadar glukosa darah dengan beberapa jenis leukosit.
PERBANDINGAN HASIL HITUNG JUMLAH ERITROSIT MENGGUNAKAN TABUNG VACUTAINER EDTA BERDASARKAN SEBELUM DAN SESUDAH KADALUARSA 6 BULAN DAN 12 BULAN Endra Topan; Pangesti, Ira; Puspodewi, Dini
Pharmaqueous: Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol. 7 No. 1 (2025): Volume 7, Nomor 1, Mei 2025
Publisher : Universitas Al-Irsyad Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36760/jp.v7i1.620

Abstract

Erythrocytes or red blood cells are one of the components of blood that are dense shaped like a disc and do not have a nucleus with a size of 7-8 μm that is immobile, reddish-yellow and chewy so that it can change shape according to the blood vessels that are passed. If the blood collection vacutainer tube containing the anticoagulant is used past the expiration date, it is likely that the vacuum does not draw the required amount of blood, so the anticoagulant does not work effectively and does not prevent the blood from clotting it. Based on this background, the purpose of this study is to determine the comparison of the results of calculating the number of erythrocytes using edta vacutainer tubes based on before and after the expiration of 6 months and 12 months. The type of study is a descriptive analytical study by looking at whether there is a comparison of the results of calculating the number of erythrocytes using EDTA vacutainer tubes based on before and after the expiration of 6 months and 12 months with univariate and bivariate data collection and analysis techniques. Based on the results of statistical analysis, it can be seen that the average score of participants decreased from before the ED intervention (M = 4.559; SD = 0.310) to 4.453 (SD = 0.379) at 6 months after ED, and decreased again to 4.437 (SD = 0.438) at 12 months after ED. Despite this downward trend in mean values, the results of the Repeated Measures ANOVA test showed that this difference was not statistically significant (F(1.216) = 2.871; p = 0.086), although p was close to the significance threshold value (p < 0.05). This means that there was no significant change in the score between measurement times, either before or after the ED in the 6 and 12-month periods. Although statistical tests say there is no significant difference, checking the number of erythrocytes using vacutainer EDTA tubes before expiration is still recommended because descriptively there is an increase and decrease in the number of erythrocytes.
PEMERIKSAAN KADAR HEMOGLOBIN PADA SISWI YANG TIDAK MENGKONSUMSI TABLET PENAMBAH DARAH DAN MENGKONSUMSI TABLET PENAMBAH DARAH DENGAN BUAH–BUAHAN DI SMK MA’ARIF NU 2 AJIBARANG Tutirofingah; Nugroho, Yusuf Eko; Pangesti, Ira
Pharmaqueous: Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol. 7 No. 1 (2025): Volume 7, Nomor 1, Mei 2025
Publisher : Universitas Al-Irsyad Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36760/jp.v7i1.625

Abstract

Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan utama pada remaja putri yang disebabkan oleh rendahnya kadar hemoglobin, terutama akibat kekurangan zat besi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar hemoglobin pada siswi yang tidak mengkonsumsi tablet penambah darah dan yang mengkonsumsi tablet penambah darah dengan tambahan konsumsi buah-buahan di SMK Ma’arif NU 2 Ajibarang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif komparatif dengan desain cross-sectional. Sampel terdiri dari 108 siswi yang dibagi menjadi tiga kelompok: tanpa perlakuan, konsumsi tablet penambah darah, dan konsumsi tablet penambah darah dengan buah-buahan. Pemeriksaan kadar hemoglobin dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan menggunakan alat Easy Touch GCHB. Analisis data dilakukan menggunakan uji ANOVA dan uji lanjutan Tukey HSD. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan signifikan kadar hemoglobin antara kelompok yang tidak mengkonsumsi tablet penambah darah dan yang mengkonsumsi tablet penambah darah (p=0,014). Namun, tidak terdapat perbedaan signifikan antara kelompok konsumsi tablet saja dan tablet dengan buah-buahan (p=0,743). Dapat disimpulkan bahwa konsumsi tablet penambah darah berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kadar hemoglobin, sementara penambahan buah-buahan tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan secara statistik.