Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Pengembangan Media Komik untuk Membangun Kesadaran Budaya di SMA Sulthon Aulia Boarding School Bekasi Susi Fitri; Hilma Fitriyani; Aditya Febriansyah Ramadhan
INSIGHT: Jurnal Bimbingan Konseling Vol 7 No 2 (2018): INSIGHT: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.769 KB) | DOI: 10.21009/INSIGHT.072.06

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan media pembelajaran berupa komik mengenai kesadaran ragam budaya yang ditujukan untuk kelas X di SMA Sulthon Aulia Boarding School Bekasi. Kesadaran budaya merupakan hal mendasar yang harus dimiliki oleh individu sebelum mereka memiliki pengetahuan dan keterampilan budaya. Menurut Sue & Sue (2006), kesadaran merupakan salah satu kompetensi utama yang harus dimiliki dari ketiga kompetensi antar budaya. Sampel yang diambil pada penelitian sebanyak 80 peserta didik. Peneliti menggunakan teknik simple random sampling dalam pengambilan sampel. Metode penelitian yang digunakan merupakan metode pengembangan Research and Development (RnD) menggunakan model ADDIE (Analyze, Design, Development, Implementation, dan Evaluation). Hasil evaluasi formatif yang dilakukan oleh ahli media memperoleh nilai sebesar 70%, penilaian ahli konten 86%, penilaian peserta didik terhadap media mencapai 87.5%, dan penilaian capaian kinerja peserta didik mencapai 92.5%. Hasil pengembangan komik untuk membangun kesadaran budaya dikategorikan sangat baik. Komik yang dikembangkan ini berisikan mengenai cerita-cerita ragam budaya yang tiap episodenya mengandung isu budaya etnis. Komik ini akan memiliki 3 cerita dari setiap 3 isu yang berbeda, terdiri dari stereotip, mikroagresi, dan diskriminasi. Kata Kunci: Pengembangan, Model ADDIE, Kesadaran budaya. Abstract This study aims to produce an instructional media in the form of comic regarding the cultural difference awareness designed for the 10th grader of Sulthon Aulia Boarding High School Bekasi. Cultural awareness is a fundamental thing that must be done by individuals before they have knowledge and skills. According to Sue & Sue (2006), awareness is one of the virtues that must be created from all three multicultural competencies. The samples were taken from 80 students. The researcher used the simple random sampling technique to take the samples. The method used is the Research and Development (RnD) method using the ADDIE (Analyze, Design, Development, Implementation, dan Evaluation) model. Based on the assessment, the formative evaluation conducted by the media expert is 70%, content expert assessment is 86%, the students assessment about media is 87,5%, and student assessment about learning attainment is 92.5%. The result of the development of comic to build the cultural awareness is categorized as excellent. The developed comic is a book containing a series of diverse cultural stories. Each story presents different issues of ethnic culture. This comic portrays three stories of three different issues, namely stereotype, microagression, and discrimination. Keywords: Development, ADDIE model, cultural awareness.
Pengembangan Website Mindful Self-Compassion bagi Remaja yang Mengalami Tekanan Putus Cinta Nabila Umniyah; Susi Fitri; Dede Rahmat Hidayat
INSIGHT: Jurnal Bimbingan Konseling Vol. 11 No. 1 (2022): INSIGHT: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/INSIGHT.111.06

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan website Mindful Self-Compassion bagi remaja remaja yang mengalami tekanan putus cinta dengan nama “Free Me”. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dengan sampel remaja di wilayah DKI Jakarta dan berusia 15 – 21 tahun. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Breakup Distress Scale dan instrumen kebutuhan media website. Penelitian ini telah menghasilkan website Free Me yang memiliki enam menu, yaitu: 1) Beranda, 2) Asesmen, 3) Wawasan, 4) Pelatihan Mindful Self-Compassion, 5) Tentang Pengembang, dan 6) Kontak Kami. Hasil uji ahli media website memperoleh kategori “Sangat Layak”, hasil uji ahli materi memperoleh kategori “Layak”, dan hasil uji pengguna memperoleh kategori “Sangat Layak”. Hasil ini menunjukkan bahwa Free Me dapat digunakan sebagai website bantuan diri bagi remaja yang mengalami tekanan putus cinta. Berdasarkan hal tersebut, remaja yang mengalami putus cinta diharapkan untuk mengakses Free Me untuk mengetahui seberapa besar tekanan putus cinta yang dialami, dan selanjutnya remaja mampu menjadi teman bagi dirinya sendiri ketika mengalami tekanan akibat putus cinta yang tinggi.
PENGEMBANGAN PENANGANAN MASALAH PELECEHAN SEKSUAL MELALUI ADVOKASI DI SEKOLAH Susi Fitri; Eka Wahyuni
Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 (2023): PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT - SNPPM2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This community service focuses on developing the handling of sexual harassment problems through advocacy in schools. The annual records of the National Commission on Violence Against Women for 10 years (2012-2020) show that sexual violence in schools needs special attention, especially with the emergence of new forms of sexual violence that dominate such as online bullying (cyber harassment), threats of distributing private photos/videos (malicious distribution) and blackmail. online sexual harassment (sextortion). Problem-solving focuses on 1) developing the competence of guidance and counseling teachers in designing advocacy programs to deal with sexual harassment problems at a) the student level b) at the school level c) being involved in advocacy for handling sexual harassment in the community. 2) Develop guidelines for handling the problem of sexual harassment in schools. The methodology used in the community service program is data collection through student problem questionnaires, guidance and counseling teacher advocacy competency questionnaires, webinars, focus group discussions (FGD), and program development training. There are 4 stages, namely 1) introduction to the issue of sexual harassment and advocacy, 2) development of advocacy programs and signs, 3) implementation, and 4) evaluation. The outputs of this community service program are 1) Instruments for assessing the problem of sexual violence in schools 2) an Advocacy training guide 3) Advocacy signs for dealing with the problem of sexual violence in schools. Abstrak Pengabdian masyarakat ini berfokus pada pengembangan penanganan Masalah pelecehan seksual melalui advokasi di sekolah. Catatan tahunan komnas perempuan selama 10 tahun (2012-20220 memperlihatkan bahwa kekerasan seksual di sekolah perlu menjadi perhatian khusus terutama dengan munculnya bentuk kekerasan seksual baru yang mendominasi yaitu intimidasi daring (cyber harassment), ancaman penyebaran foto/video pribadi (malicious distribution) dan pemerasan seksual online (sextortion). Pemecahan masalah menitikberatkan pada 1) pengembangan kompetensi guru bimbingan dan konseling dalam merancang program advokasi untuk menangani masalah pelecehan seksual pada a) tingkat siswa b) pada tingkat sekolah c) terlibat dalam advokasi penanganan pelecehan seksual di masyarakat. 2) mengembangkan rambu-rambu dalam penanganan masalah pelecehan seksual di sekolah Metodologi yang digunakan dalam program pengabdian kepada masyarakat adalah pengambilan data melalui angket permasalah siswa, angket kompetensi advokasi guru BK, webinar, diskusi kelompok terfokus (FGD) dan pelatihan pengembangan program. Ada 4 tahap yaitu 1) pengenalan mengenai isu pelecehan seksual dan advokasi, 2) pengembangan program dan rambu-rambu advokasi, 3) pelaksanaan dan 4) evaluasi. Luaran dari program pengabdian masyarakat ini adalah 1) Instrumen untuk melakukan asesmen terhadap masalah kekerasan seksual di sekolah 2) Panduan pelatihan advokasi 3) Rambu-rambu advokasi untuk menangani masalah kekerasan seksual di sekolah.
Gambaran Evektifitas Cognitive Behavior Therapy Untuk Mengurangi Stres Akademik Pada Peserta Didik Di Sekolah Menengah Pertama Halim, Suprianto Baen; Awaluddin Tjalla; Susi Fitri
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 9 No. 2 (2025): April 2025, G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/g-couns.v9i2.6783

Abstract

Kesulitan-kesulitan yang dialami oleh peserta didik akan dipersepsi sebagai beban yang melebihi batas kemampuan peserta didik dan akan berdampak stres akademik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas bimbingan cognitive-behavior therapy untuk mengurangi stres akademik pada peserta didik. Penelitian ini menggunakan metode pre-eksperimental design karena adanya manipulasi perubah bebas yang berupa perlakuan atau treatment. Hasil studi pendahuluan terhadap 30 peserta didik didapatkan 83,3% peserta didik yang mengalami stres akademik tinggi, 16,7% rendah. Subjek penelitiannya adalah peserta didik yang berada pada kategori stres akademik tinggi yaitu sebanyak 20 orang yang kemudian diberi perlakuan atau tritmen untuk mengukur keefektifan sebelum data didapatkan 83,3<8,35 artinya ada perbedaan atau perubahan peserta didik ketika diberikan tritmen bimbingan cognitive-behavior therapy sehingga dapat diartikan bahwa berhasil menyelesaikan satu masalah yaitu mengurangi stres akademik di SMP Negeri 8 palopo.  Kata Kunci: bimbingan cognitive behavior therapy, stres akademik, peserta didik
Gambaran Kesejahteraan Psikologis Siswa Kelas Besar Sekolah Dasar dan Implikasinya Terhadap Program Mindfulness Berbasis Sekolah Artati, Kristina Betty; Eka Wahyuni; Susi Fitri
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 9 No. 2 (2025): April 2025, G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/g-couns.v9i2.7044

Abstract

Pendidikan saat ini perlu memprioritaskan kesejahteraan psikologis para siswanya, karena adanya tekanan akademis dan sosial yang seringkali dirasa berat bagi para siswa yang berdampak pada perkembangan holistik dan kinerja di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesejahteran psikologis siswa kelas besar sekolah dasar dan implikasinya terhadap program mindfulness berbasis sekolah. Pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif. Pengambilan sampel dengan teknik sampling jenuh, sehingga subyeknya berjumlah 213 siswa. Data dikumpulkan melalui instrument The Stirling Children’s Wellbeing Scale (SCWBS), teknik analisis data menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian ditemukan 27,70% atau 59 siswa memiliki kondisi kesejahteraan psikologis tinggi dan 72,30% atau 154  memiliki kondisi kesejahteraan psikologis rendah. Oleh karena itu diperlukan upaya sekolah bekerjasama dengan konselor sekolah untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis siswa. Salah satu program intervensi yang efektif yang dapat digunakan yaitu program Mindfulness berbasis sekolah. Kata kunci: kesejahteraan psikologis, siswa kelas besar, program mindfulness berbasis sekolah
Pelatihan Penggunaan Modul Ketahanan Keluarga Anti Narkotika bagi Guru tingkat SMP di Indramayu Hilma Fitriyani; Karsih; Susi Fitri; Eva Fitri Yuanita
Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2024): PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT - SNPPM2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract In 2023, the prevalence of drug abuse in Indonesia reached 1.73%, equivalent to approximately 3.3 million people. This alarming figure is predominantly observed among adolescents. The situation becomes even more precarious for this age group when parental care is inadequate, particularly concerning parental presence in their lives. Indramayu, in recent years, has emerged as the largest source of migrant workers compared to other regions in Indonesia. This trend warrants attention due to the vulnerability arising from the absence of parents in the lives of children and adolescents in Indramayu.Preventing drug abuse necessitates fundamental interventions, and family involvement plays a crucial role. Parental guidance and warm family interactions have a positive impact on a child’s development, helping them build resilience against drug abuse.One effective intervention is the “Anti-Drug Family Resilience” program, which has demonstrated long-term positive effects on parental caregiving abilities and children’s resilience. Expanding the use of this intervention is essential. Training teachers to implement the “Anti-Drug Family Resilience” module provides a significant opportunity for wider dissemination. Evaluation results indicate that teachers can comprehend the module’s content, understand its implementation, and exhibit adequate facilitation skills. Teachers are optimistic that this program can be successfully implemented in schools to provide drug abuse prevention interventions for both parents and students. Keywords: family resilience, anti-narcotic Abstrak Angka prevalensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia pada tahun 2023 mencapai 1.73% atau setara 3,3 juta penduduk Indonesia. Angka tersebut didominasi oleh kalangan remaja. Situasi ini menjadi lebih rentan pada kelompok usia remaja dengan pengasuhan orangtua yang tidak memadai, utamanya berkenaan dengan kehadiran orangtua dalam kehidupan para remaja. Indramayu sejak beberapa tahun belakangan menjadi pengirim pekerja migran terbanyak dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Hal ini tentu perlu diwaspadai dengan kerentanan ketiadaan sosok orangtua pada anak dan remaja di Indramayu. Pencegahan penyalahgunaan narkoba perlu dilakukan melalui upaya intervensi yang mendasar, yaitu melibatkan peran keluarga. Pengasuhan orangtua dan interaksi yang hangat di dalam keluarga memberi pengaruh positif terhadap tumbuh kembang anak dan membantunya untuk memperkuat diri dari penyalahgunaan narkoba. Intervensi Ketahanan Keluarga anti Narkotika merupakan intervensi yang diketahui memberi dampak positif jangka panjang terhadap kemampuan pengasuhan orangtua dan resiliensi anak, sehingga penggunaannya perlu lebih diperluas. Melatih guru untuk menggunakan modul ketahanan keluarga anti narkotika memberikan kesempatan yang besar untuk memperluas penyebaran intervensi dengan melihat hasil evaluasi kegiatan yang menunjukkan modul intervensi ketahanan keluarga anti narkotika dapat dipahami oleh guru. Simulasi yang dilakukan oleh peserta menunjukkan bahwa guru dapat memahami isi modul, memahami cara penggunaan modul, menunjukkan keterampilan yang memadai sebagai fasilitator intervensi ketahanan keluarga anti narkotika. Para guru juga menunjukkan optimisme bahwa program tersebut dapat dijalankan di sekolahnya untuk memberikan intervensi pencegahan penyalahgunaan narkoba kepada orangtua dan peserta didik. Kata Kunci: ketahanan keluarga, anti narkotika
UPAYA PENGEMBANGAN SEKOLAH AMAN BERDASARKAN PERSPEKTIF PESERTA DIDIK DI SMPN 1 JATI BARANG INDRAMAYU ekawahyuni; Susi Fitri; Karsih; Dede Rahmat Hidayat
Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2024): PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT - SNPPM2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Preventing sexual violence in schools is a priority issue of concern for the government. To develop a sexual violence prevention program, input from students is needed to find a voice from below. This community service activity aims to provide an understanding of sexual violence prevention and safe schools and get input on safe schools from students' eyes. This activity was carried out at SMPN 1 Jati barang with 298 students from grade 8. Based on the results of the activity, it appears that students have experienced sexual violence at school, at home, and on social media. They also feel safe at school, at home, and on social media. The voice of learners was obtained with the theme of learners' expectations of schools and teachers, expectations from friends and themselves, and expectations from parents. Based on these learners' expectations, a safe school program can be developed at school. Keywords: sexual violence, School-based sexual violence prevention; safe school   Abstrak Upaya pencegahan kekerasan seksual di sekolah merupakan isu prioritas yang menjadi perhatian pemerintah. Untuk mengembangkan program pencegahan kekerasan seksual diperlukan masukan dari peserta didik untuk mencari suara dari bawah. Kegiatan pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang pencegahan kekerasan seksual dan sekolah aman serta mendapatkan masukan tentang sekolah aman dari kaca mata peserta didik. Kegiatan ini dilaksanakan di SMPN 1 Jati barang dengan jumlah peserta didik sebanyak 298 peserta didik yang berasal dari kelas 8. Berdasarkan hasil kegiatan terlihat siswa memiliki pengalaman tentang kekerasan seksual di sekolah, rumah dan media sosial. Mereka juga merasa aman berada di sekolah, rumah dan di media sosial. Suara dari peserta didik yang diperoleh dengan tema harapan perserta didik terhadap sekolah dan guru, harapan dari teman dan diri sendiri dan harapan dari orangtua. Berdasarkan harapan peserta didik ini dapat dikembangkan program sekolah aman yang dikembangkan di sekolah.  Kata Kunci: kekerasan seksual; pencegahan kekerasan seksual berbasis sekolah, sekolah aman
Pengembangan Perilaku Prososial Peserta Didik Sekolah Menengah Pertama Labschool Jakarta melalui Program Labschool Student Social Care (Labs Care) Zetta Zahrina; Susi Fitri
INSIGHT: Jurnal Bimbingan Konseling Vol. 13 No. 2 (2024): INSIGHT: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/INSIGHT.132.05

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan peran program Labschool Student Social Care (Labs Care) dalam mengembangkan perilaku prososial peserta didik di SMP Labschool Jakarta. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan menggunakan dokumentasi, wawancara, dan observasi dengan purposive sampling sebagai teknik pengambilan sampelnya, dan dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi perkembangan perilaku yang peserta didik rasakan atas pengalaman menjalani beberapa kegiatan selama program Labs Care. Temuan lain pada program ini adalah pada implementasinya, peneliti masih mendapati hal yang kurang tepat pada program Labs Care. Perilaku prososial yang muncul pada program ini meliputi berbagi, bekerja sama, menyumbang, menolong, jujur, dan berderma. Sedangkan level penalaran moral peserta didik berada pada tingkat self-reflective empathic orientation. Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh guru BK untuk menyusun layanan bimbingan dan konseling seperti layanan orientasi dan layanan informasi serta melakukan upaya-upaya lainnya untuk mengelola program Labs Care dan membantu mengembangkan perilaku prososial peserta didik.
Persepsi Remaja terhadap Keberfungsian Keluarga Ditinjau dari Keluarga Utuh dan Bercerai di Tangerang Selatan Fitri Farikah; Karsih; Susi Fitri
INSIGHT: Jurnal Bimbingan Konseling Vol. 13 No. 2 (2024): INSIGHT: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/INSIGHT.132.04

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi keberfungsian keluarga di kalangan remaja dari keluarga utuh dan keluarga bercerai di Tangerang Selatan. Sebanyak 217 remaja berusia 15-18 tahun berpartisipasi dalam penelitian ini, dengan 158 remaja berasal dari keluarga utuh dan 59 remaja berasal dari keluarga bercerai. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling, dan instrumen Family Assessment Device (FAD) digunakan untuk pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada keberfungsian keluarga yang dirasakan antara remaja dari keluarga utuh dan remaja dari keluarga bercerai di Tangerang Selatan, dengan tingkat signifikansi p = 0,022 < 0,05. Oleh karena itu, temuan ini menunjukkan bahwa struktur keluarga, baik pada keluarga utuh maupun yang bercerai, dapat mempengaruhi persepsi remaja terhadap keberfungsian keluarga. Secara keseluruhan, penelitian ini menyoroti pentingnya memahami bagaimana struktur keluarga berdampak pada pandangan remaja terhadap keberfungsian keluarga mereka.
Pendekatan Cognitive Behavioral Therapy Dalam Mereduksi Perilaku Agresif Pada Remaja Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga: Narrative Synthesis Anugrah Ade Putra; Susi Fitri; Happy Karlina Marjo
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 9 No. 3 (2025): Agustus 2025. G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/g-couns.v9i3.7588

Abstract

Penelitian ini mengkaji tahapan Cognitive Behavioral Therapy, dalam mereduksi perilaku agresif pada remaja yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Pentingnya merumuskan susunan sesi melalui teknik narrative synthesis untuk memastikan susunannya memenuhi aspek yang akan diintervensi. Metode yang digunakan yakni systematic literature review untuk menganalisis bukti empiris dari ragam database elektronik yang tersedia. Penelitian ini mengidentifikasikan delapan tahapan sistematis yang dapat digunakan yakni: (1) Membangun aliansi terapeutik dan asesmen, (2) psikoedukasi dan identifikasi pikiran maladaptif, (3) restrukturisasi kognitif, (4) regulasi emosi dan manajemen perilaku, (5) modifikasi keyakinan, (6) pemecahan masalah, (7) pencegahan kekambuhan, serta (8) Evaluasi dan terminasi. Pendekatan komprehensif dan fleksibilitas format CBT menjadi keunggulan dalam memenuhi kebutuhan spesifik remaja korban KDRT. Penelitian ini menyoroti signifikansi intervensi yang tepat dan terstruktur disetiap sesianya melalui teknik yang ada dalam CBT dapat membantu remaja agresif dikarenakan pengalaman KDRT dalam mengembangkan pola pikir, emosi, dan perilaku adaptif. Kata kunci: cognitive behavioral therapy, perilaku agresif, remaja, kekerasan dalam rumah tangga, intervensi psikologis.