Claim Missing Document
Check
Articles

STRUKTURALISME NOVEL SUNSET BERSAMA ROSIE KARYA TERE LIYE Nur Rohmah; Resdianto Permata Raharjo; Magfirotul Hamdiah
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 7 No. 2 (2022): JURNAL BASTRA EDISI APRIL-JUNI 2022
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.084 KB) | DOI: 10.36709/bastra.v7i2.110

Abstract

Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis teori struktural karya sastra yang terkandung dalam Novel “Sunset Bersama Rosie” karya Tere Liye. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan struktural. Novel “Sunset Bersama Rosie” ini yakni bertema cinta dan pengorbanan, alur atau plot yang terkandung di dalamnya yakni alur regresif atau campuran, latar atau setting yang tergambar di dalam novel tersebut yakni latar tempatnya Jakarta, Jimbaran Bali, Dreamland, Kuta, Seminyak, Bandara, Pelabuhan, Apartemen Tegar, Rumah Sekar, Resor Gili Trawangan, Gunung Rinjani, Danau Segara Anakan, Shelter, dan rumah sakit, sedangkan latar waktu yang tersirat yakni pagi, siang, sore, dan malam, pula latar suasananya tersirat tokoh-tokoh di dalamnya merasa senang, sedih, perasaan tegang, bersyukur, dan romantis. Adapun tokohnya meliputi Tegar, Rosie, Nathan, Sekar, Anggrek, Sakura, Jasmine, Lili, Oma, Mitchell, Clarice, dan Lian. Amanat yang disampaikan yakni tidak boleh menyia-nyiakan suatu kesempatan, menghindari amarah yang mengganggu saat mengambil keputusan, dan belajar dari masa lalu. Novel “Sunset Bersama Rosie” Suatu karya sastra yang baik yang mampu meninggalkan suatu pesan dan kesan bagi pembacanya. Di samping itu mampu memberi manfaat atau kegunaan, yaitu kekayaan batin, wawasan kehidupan, dan moral.
DIALEK BAHASA MADURA PADA MASYARAKAT PANDHALUNGAN DI GADING PROBOLINGGO Siti Nur Kholiza; Ainol; Magfirotul Hamdiah
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 9 No. 3 (2024): JURNAL BASTRA EDISI JULI 2024
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v9i3.541

Abstract

Dialek adalah variasi bahasa yang dibedakan karena perbedaan asal penutur dan perbedaan kelas sosial penutur. Dialek juga dapat disebut dengan logat atau bahasa khas dari suatu daerah. Adanya dialek disebabkan karena pengaruh dari bahasa-bahasa lain yang pernah digunakan dalam suatu wilayah tertentu. Setiap kegiatan yang dilakukan masyarakat akan mempengaruhi keberagaman bahasa. Dialek juga terdapat pada masyarakat pandhalungan di Gading Probolinggo yang menggunakan dialek bahasa Madura. Penelitian ini dianalisis menggunakan deskriptif kualitatif. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan bentuk dialek bahasa Madura pada masyarakat pandhalungan di Gading Probolinggo. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini melalui: (1) Wawancara, (2) Cacatan Lapangan, (3) Dokumentatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya bentuk dialek bahasa Madura pada masyarakat pandhalungan di Gading Probolinggo. Data yang diperoleh dalam penelitian ini melalui 10 percakapan pada 3 masyarakat pandhalungan yang menetap di Desa Dandang Kecamatan Gading Kabupaten Probolinggo.
STUDI KASUS ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS PENDERITA CHILDHOOD DISENTEGRATIVE DISORDER Sunaidi; Mamluatun Ni’mah; Magfirotul Hamdiah
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 9 No. 3 (2024): JURNAL BASTRA EDISI JULI 2024
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v9i3.554

Abstract

This study aims to reveal the phenomena that occur in children with special needs who suffer from Childhood Disentegrative Disorder in the form of spoken language. The symptom of childhood dysentegrative is the occurrence of a decrease in the ability acquired at least the age of two years. Then the ability that has been acquired will decline until the age of three, or four or even ten years. The reality in the field shows that “M” as a respondent has a language disorder in the context of speaking. This research is a qualitative research using a 16-year-old child who has childhood dysentegrative symptoms so that it is said to be a case study research. Data collection techniques used observation, interviews, and documentation, while data analysis techniques used triangulation techniques. The results showed that “M” as a respondent in this study had speech disorders in phoneme replacement, syllable omission, and phoneme omission in spoken morphemes
PEMEROLEHAN BAHASA MELALUI PROGRAM VISITTING LECTURER PADA PEMELAJAR BIPA FILIPINA Magfirotul Hamdiah; Rikke Kurniawati; Maria Rosalinda Talan
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 9 No. 3 (2024): JURNAL BASTRA EDISI JULI 2024
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v9i3.570

Abstract

Penutur asing terkadang keingintahuan terhadap hal-hal baru sangat tinggi. Hal ini juga dirasakan oleh pemelajar Filipina. Pendeskripsian kemampuan berbahasa Indonesia pemula secara lisan dan tulis pada pemelajar Filipina adalah salah satu tujuan pada penelitian ini. Selain itu, tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan kendala yang dialami penutur asing terhadap pelafalan bahasa Indonesia. Salah satu lembaga yang menaungi pembelajaran BIPA adalah lembaga Kereta Bahasa. Kereta Bahasa merupakan lembaga yang memiliki program Visitting Lecturer yang telah bekerja sama dengan beberapa Negara. Negara yang menjadi tujuan program ini adalah Filipina. Filipina merupakan negara yang tertarik mempelajari bahasa Indonesia lebih mendalam. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif kualitatif adalah penelitian yang menggambarkan suatu keadaan secara jelas menggunakan kalimat atau kata-kata. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik wawancara, observasi secara daring dan simak catat. Penelitian dilakukan pada September sampai dengan November 2023. Sumber data penelitian ini adalah beberapa peserta didik kelas 11 dari beberapa sekolah di Filipina yang masih tercatat sebagai peserta didik. Data dalam penelitian ini merupakan kalimat yang diucapkan oleh pemelajar atau peserta program Visitting Lecturer. Hasil penelitian mendeskripsikan berbahasa Indonesia pemula secara lisan dan tulis pada pemelajar Filipina. Hasil selanjutnya kendala yang dialami oleh pemelajar BIPA asal Filipina karena beberapa faktor.
Narasi Ekosemiotik Kultural dalam Novel Tanjung Kemarau Karya Royyan Julian: Resistensi Budaya dan Advokasi Lingkungan di Madura Agik Nur Efendi; Anas Ahmadi; Titik Indarti; Magfirotul Hamdiah; Diah Kusyani; Wa Mirna; Siti Nurjanah; Rahma Anugraheny
GHANCARAN: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia SPECIAL EDITION: LALONGET VI
Publisher : Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/ghancaran.vi.21446

Abstract

This study examines the novel Tanjung Kemarau by Royyan Julian through an ecosemiotic perspective to explore cultural resistance and environmental advocacy in Madura Island. The primary focus of this research is how cultural symbols and narratives in the novel reflect the close relationship between the local community and the environment, particularly the mangrove forests. Using a descriptive qualitative approach, this study analyzes the symbolism and meanings related to ecological and cultural issues in the novel. The findings show that mangrove forests are not only viewed as physical ecosystems but also as sacred spaces revered by the community. Mystical figures such as Nyai Rasera and the village cleansing rituals are depicted as part of the community's efforts to preserve the environment and resist commercial exploitation. The novel serves as a form of resistance against environmentally destructive modernization practices, while also acting as an advocacy tool emphasizing the importance of preserving cultural values in ecological conservation. This research enriches the discourse of ecosemiotics in Indonesian literary studies and highlights the potential of literature as a medium for culturally-based environmental advocacy.
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia di Ruang Publik Jawa Timur Rohmah, Nur; Hamdiah, Magfirotul; Nadiyah N, Afifah; Mahaputri, Matrix Erga; Saputri, Sharlah Fadilah Ayu; Nadiya, Fia; Islami, Sylvira Putri; Pingkan, Alfia
DIKSI: Jurnal Kajian Pendidikan dan Sosial Vol. 7 No. 1 (2026): Diksi: Jurnal Kajian Pendidikan dan Sosial
Publisher : Yayasan Pendidikan Bima Berilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53299/diksi.v7i1.3662

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan praktik pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia dalam ruang publik di Jawa Timur melalui analisis linguistik pada tiga media utama, yaitu papan nama usaha, surat resmi, dan media pengumuman. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, dokumentasi visual, dan analisis teks berdasarkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Data dianalisis melalui reduksi, kategorisasi kesalahan, interpretasi konteks penggunaan bahasa, dan klasifikasi ke dalam ranah pembinaan atau pengembangan bahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembinaan bahasa Indonesia di ruang publik masih menghadapi sejumlah tantangan. Berbagai kesalahan kebahasaan ditemukan, antara lain penggunaan huruf kapital yang tidak tepat, penulisan kata depan di yang tidak dipisah, kesalahan tanda baca, penggunaan istilah asing yang tidak diserap, dan inkonsistensi akronim pada dokumen formal. Fenomena ini mengindikasikan kurangnya pemahaman pelaku bahasa terhadap kaidah kebahasaan dan lemahnya pengawasan penggunaan bahasa dalam konteks publik. Sebaliknya, aspek pengembangan bahasa terlihat pada papan nama usaha UMKM yang memanfaatkan variasi linguistik secara kreatif. Penggunaan ejaan arkais seperti Djadoel dan Sjahdoe serta kosakata nonbaku seperti Gress menunjukkan adanya strategi branding yang tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga simbolik dan estetik. Bahasa digunakan sebagai sarana pembentukan identitas, penciptaan citra nostalgia, serta diferensiasi komersial dalam persaingan pasar. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ruang publik menjadi arena pertemuan antara norma bahasa baku dan kreativitas linguistik masyarakat. Oleh karena itu, pembinaan bahasa perlu dilakukan secara adaptif agar dapat menjaga standar kebahasaan tanpa menghambat dinamika inovasi bahasa yang berkembang di ruang publik.
Representasi Bahasa Generasi Z pada Konten Kreator Fujian Utami Putri di Media Sosial Adinda Atiqotuz Zummah; Magfirotul Hamdiah
Morfologi : Jurnal Ilmu Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya Vol. 4 No. 3 (2026): June: Morfologi : Jurnal Ilmu Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya
Publisher : Asosiasi Periset Bahasa Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/morfologi.v4i3.2791

Abstract

This study aims to describe the form and sociolinguistic function of Generation Z language representation used by content creator Fujianti Utami Putri on social media. A descriptive qualitative approach with content analysis method was applied to dissect this linguistic phenomenon deeply. The data source consists of an audio-visual document from a single video titled "Mau ketemu bayiiiii" (2026), lasting 1 minute and 53 seconds, downloaded from the official TikTok account @fujiiian. The research data includes words, phrases, and sentences in oral utterances as well as on-screen text that contain the linguistic characteristics of the younger generation. Data collection used the observation method through the Uninvolved Conversation Observation Technique (SBLC) and note-taking technique. Data analysis was completed through data reduction, data display in matrix tables, contextual interpretation, and conclusion drawing. The results show 12 data units classified into four main categories: first, English code-switching (stress relief, glowing, glass skin), second, regional dialects adapted into national slang (sat-set and ruwet), third, creative affixation neologisms (ngonten), and fourth, hyperbolic dictions (mantul). Functionally, this hybrid language variety acts as a strategic sociolinguistic instrument to strengthen the collective identity among Generation Z while breaking down formality barriers between a public figure and the audience to build emotional intimacy. This phenomenon proves that the Indonesian language is a living entity that continues to evolve creatively amidst digital technology disruption.
Variaisi Bahasa dalam Slogan Iklan Produk Kecantikan di Tiktok Tahun 2025-2026 Nuril Isabillah; Magfirotul Hamdiah
Morfologi : Jurnal Ilmu Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya Vol. 4 No. 3 (2026): June: Morfologi : Jurnal Ilmu Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya
Publisher : Asosiasi Periset Bahasa Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/morfologi.v4i3.2792

Abstract

This study aims to describe language variation and language functions in beauty product advertising slogans on TikTok during 2025–2026. A descriptive qualitative method with a sociolinguistic approach was employed. The data consist of words, phrases, and sentences found in beauty product advertising slogans posted on TikTok accounts of skincare brands, cosmetics brands, and beauty influencers. Data were collected through observation and note-taking techniques, while data analysis followed the stages of data reduction, classification, interpretation, and drawing conclusions. The findings reveal that TikTok beauty advertising slogans are predominantly characterized by code-mixing (Indoglish) and slang varieties. These language forms are used to create a modern, trendy, and engaging impression that aligns with digital communication culture. In addition, the dominant language functions identified are informative and persuasive (conative) functions. The informative function is used to deliver product information, while the persuasive function aims to influence consumers’ purchasing decisions. Overall, the use of language variation in TikTok beauty advertising slogans indicates that language in digital media functions not only as a means of communication but also as a marketing strategy and a representation of contemporary lifestyle, particularly among Generation Z users.
Variasi Bahasa Berdasarkan Kelas Sosial Tokoh dalam Novel Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer Sa’adah Fuji Astutik; Magfirotul Hamdiah
Pragmatik : Jurnal Rumpun Ilmu Bahasa dan Pendidikan  Vol. 4 No. 3 (2026): Juli: Pragmatik : Jurnal Rumpun Ilmu Bahasa dan Pendidikan
Publisher : Asosiasi Periset Bahasa Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/pragmatik.v4i3.2835

Abstract

This study aims to describe language variation based on the social class of the characters in Bumi Manusia by Pramoedya Ananta Toer through a sociolinguistic approach. This research employed a descriptive qualitative method using reading, observation, and note-taking techniques. The data consisted of dialogues among characters containing language variations that reflect social stratification. The data were analyzed using the theory of language variation and sociolect proposed by Chaer and Agustina. The findings reveal three dominant language varieties: Dutch, Javanese Krama, and Bazaar Malay. Dutch is predominantly used by European characters and educated indigenous people as a symbol of social status, education, and colonial power. Javanese Krama functions as a marker of politeness, respect, and hierarchical social relationships within Javanese culture. Meanwhile, Bazaar Malay is commonly used by lower-class indigenous characters as a simple and egalitarian means of daily communication. These language varieties demonstrate that language functions not only as a communication tool but also as a marker of social identity, social status, power relations, and character interactions within the colonial society portrayed in the novel. Therefore, language variation in Bumi Manusia represents social stratification and serves as an essential element in depicting colonial social reality.
KONTEKS SOSIAL DALAM PODCAST DENNY SUMARGO DAN INARA RUSLI SERTA RELEVANSINYA TERHADAP MATERI DISKUSI DI MA MODEL ZAINUL HASAN GENGGONG Dwi Ainur Rosyidah; Endah Tri Wisudaningsih; Magfirotul Hamdiah
JIBS : JURNAL ILMIAH BAHASA DAN SASTRA Vol. 13 No. 1 (2026): JIBS (Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra)
Publisher : Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21067/jibs.v13i1.14413

Abstract

This study aims to describe the social context in the podcasts by Denny Sumargo and Inara Rusli, as well as the social context in Indonesian language learning using discussion materials at the Zainul Hasan Genggong Model Islamic High School, based on Dell Hymes’ SPEAKING model. The research method employed is descriptive qualitative. Data collection was carried out using note-taking, observation, interviews, and documentation to strengthen the data obtained. The data analysis technique used was the Miles and Huberman model, which includes data condensation, data presentation, and drawing conclusions. The validity of the findings in this study was assessed using the techniques of credibility, transferability, dependability, and confirmability. The results of the analysis were also discussed with the supervisor as a form of interpretative validation of the pragmatico-semantic meanings found. The research results indicate that the social context in the podcasts featuring Denny Sumargo and Inara Rusli, as well as Indonesian language learning using discussion materials at MA Model Zainul Hasan Genggong, fulfil the elements of Dell Hymes’ SPEAKING framework, which include setting and scene, participants, ends, act sequence, key, instrumentalities, norms, and genre. There are similarities in dialogic communication patterns, active participant involvement, and the application of communication norms in both speech events, despite differences in the level of linguistic formality and communicative purpose.