Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Hubungan aktivitas fisik dengan musculoskeletal disorder (MSDs) pada lansia Puspitasari, Nurwahida; Ariyanto, Andry
Journal of Physical Activity (JPA) Vol. 2 No. 1 (2021): Published in January 2021
Publisher : Asosiasi Program Studi Olahraga PGRI Indonesia (APOPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pentingnya aktivitas fisik pada lansia sebagai bentuk pencegahan terhadap penyakit degeneratif serta pemeliharaan kapasitas fungsional yang dapat mengurangi resiko musculoskeletal disorder (MSDs) pada lansia. Musculoskeletal disorder (MSDs) adalah cedera dan gangguan yang mempengaruhi gerakan tubuh manusia atau sistem musculoskeletal (yaitu otot, tendon, ligamen, saraf, diskus, pembuluh darah, dll). Minimnya pergerakan pada tubuh disebabkan kurangnya aktivitas fisik menimbulkan tingginya angka keluhan musculoskeletal disorder (MSDs) seperti nyeri pada leher, bahu, lutut, pingggang, dan anggota tubuh lainnya. Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik dengan musculoskeletal disorder (MSDs) pada lansia. Metode penelitian ini menggunakan observasi dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah responden sebanyak 45 orang lansia berusia 60-79 tahun. Instrumen penelitian menggunakan kuisioner Physical Activity Scale for Eldery (PASE) untuk aktivitas fisik dan Nordic Body Map Quisionare (NMQ) untuk mengukur Musculoskeletal disorder (MSDs). Analisis data dengan uji statistik Spearman-rank program SPSS 21. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan aktivitas fisik terhadap musculoskeletal disorder (MSDs) pada lansia dengan nilai (P= 0,000). Kesimpulannya, aktivitas fisik yang semakin buruk meningkatkan musculoskeletal disorder (MSDs) pada lansia.
Perbedaan Pengaruh Latihan Zig-Zag Run Dan Three Corner Drill Terhadap Agility Pemain Sepakbola Baturetno Football School U-16 Fachrizal Aditya Perdana; Muhamad Ali Jafar; Andry Ariyanto
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.457

Abstract

Agility merupakan salah satu komponen kondisi fisik yang sangat penting dalam olahraga, terutama sepak bola, karena berperan dalam kemampuan pemain untuk bergerak cepat, menjaga keseimbangan, serta melakukan perubahan arah tanpa kehilangan kontrol tubuh. Peningkatan agility dapat dicapai melalui program latihan yang terstruktur dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh antara latihan Zig-zag run dan Three corner drill terhadap peningkatan agility pada pemain Baturetno Football School U-16. Penelitian menggunakan metode quasi eksperimen dengan desain pretest-posttest control group. Sampel terdiri dari 22 pemain laki-laki berusia 16 tahun yang dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok Zig-zag run mendapatkan latihan dengan dosis 8 detik × 3 repetisi, dilakukan tiga kali seminggu selama empat minggu (12 sesi latihan). Kelompok Three corner drill berlatih dengan frekuensi yang sama selama empat minggu dengan dosis 4 repetisi × 3 set berdurasi 8 detik pada minggu pertama dan disesuaikan sesuai program. Data dianalisis menggunakan paired sample t-test untuk melihat peningkatan dalam masing-masing kelompok dan independent t-test untuk mengetahui perbedaan antar kelompok, dengan taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua jenis latihan memberikan peningkatan agility yang signifikan. Kelompok Zig-zag run memperoleh nilai p = 0,001, sedangkan Three corner drill memperoleh p = 0,002. Hasil independent t-test menunjukkan adanya perbedaan pengaruh yang signifikan (p = 0,042), di mana Zig-zag run memberikan peningkatan agility lebih besar. Kesimpulannya, kedua bentuk latihan efektif dalam meningkatkan agility pemain sepak bola usia 16 tahun, namun Zig-zag run terbukti lebih dominan dalam meningkatkan kemampuan perubahan arah cepat. Latihan ini direkomendasikan untuk digunakan secara konsisten dalam program pembinaan pemain muda.
Hubungan fatigue terhadap nyeri otot Upper Trapezius pada karyawan Rumah Sakit Bethesda Santoso, Ricky Sugiarto; Ariyanto, Andry; Riyanto, Agus
Journal Physical Therapy UNISA Vol. 6 No. 1 (2026): April
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31101/jitu.4613

Abstract

Nyeri otot upper trapezius sering dialami oleh pekerja, terutama yang bekerja dalam durasi panjang dan posisi tubuh tidak ergonomis, sehingga berisiko mengalami musculoskeletal disorders (MSDs). Di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta, banyak karyawan melakukan gerakan berulang dan bekerja dalam waktu lama, yang dapat menyebabkan kelelahan dan nyeri otot. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh durasi kerja terhadap kelelahan (fatigue) dan hubungannya dengan nyeri otot upper trapezius. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain deskriptif korelatif dan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 38 karyawan dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi dan kuesioner menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) untuk nyeri dan Fatigue Assessment Scale (FAS) untuk kelelahan. Hasil menunjukkan bahwa rata-rata durasi kerja responden adalah 6,61 ± 2,354 jam dan skor kelelahan rata-rata 35,13 ± 7,591. Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan signifikan antara durasi kerja dan kelelahan (p = 0.000), yang menunjukkan korelasi kuat. Kesimpulannya, terdapat hubungan signifikan antara durasi kerja dan fatigue yang berdampak pada nyeri otot upper trapezius. Disarankan agar karyawan menerapkan postur kerja ergonomis dan melakukan peregangan secara rutin untuk mencegah kelelahan otot.
Perbedaan Pengaruh Permainan Tradisional Congklak Dan Playdough Terhadap Fasilitasi Perkembangan Motorik Halus Anak Usia 5-6 Tahun Nabila Zahara Lazina; Rizky Wulandari; Andry Ariyanto
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.660

Abstract

Latar belakang : Anak usia dini berada pada masa emas dengan perkembangan motorik halus yang berlangsung pesat, terutama pada usia 5–6 tahun yang ditandai dengan kemampuan menulis, menggambar, dan menggunting sebagai kesiapan masuk sekolah. Stimulasi yang tepat diperlukan karena keterlambatan motorik halus dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari anak. Salah satu bentuk stimulasi yang dapat diberikan adalah play therapy melalui permainan tradisional congklak dan playdough. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh permainan tradisional congklak dan playdough terhadap fasilitasi perkembangan motorik halus anak usia 5–6 tahun serta membandingkan perbedaan pengaruh antara kedua jenis permainan tersebut. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain quasi experimental pre-test and post-test two group design. Sampel penelitian berjumlah 38 anak usia 5–6 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dan dibagi menjadi dua kelompok. Intervensi diberikan selama 4 minggu dengan total 10 kali pertemuan. Pengukuran kemampuan motorik halus dilakukan menggunakan Bender Gestalt Test. Analisis data dilakukan menggunakan perangkat lunak SPSS versi 26 Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa uji hipotesis 1 pada kelompok permainan tradisonal congklak diperoleh nilai p = 0,000 (p < 0,05) dan pada kelompok playdough juga diperoleh nilai p = 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat pengaruh latihan terhadap peningkatan motorik halus pada masing-masing kelompok. Selanjutnya, hasil uji perbedaan menggunakan independent sample t-test diperoleh nilai p = 0, 0.603 (p > 0,05), yang menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara permainan tardisional congklak dan playdough terhadap peningkatan kemampuan motorik halus. Kesimpulan: permainan tradisional congklak dan playdough sama-sama efektif dalam meningkatkan kemampuan motorik halus anak usia 5–6 tahun, dengan tingkat efektivitas yang relatif sama. Permainan tersebut dapat digunakan sebagai alternatif stimulasi motorik halus pada anak usia dini.