Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

IMPLIKASI PERNIKAHAN USIA TUA TERHADAP KONDISI PSIKOLOGIS DAN MEDIS KEDUA MEMPELAI Jasmin, Suriah Pebriyani; Hikmah, Nur
AN-NISA Vol. 16 No. 2 (2023)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/an.v16i2.5613

Abstract

Pernikahan merupakan sunnatulah yang memiliki tujuan yaitu membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah. Selain itu untuk sebagai fungsi regenerasi dengan melahirkan keturunan. Batas usia minimum diatur dalam proses pernikahan dalam hal ini usia dini atau  di bawah umur, agar pernikahan yang dilangsungkan dapat mencapai tujuannya sebagaimana mestinya dan terhindar dari masalah psikologis dan kesehatan. Hal inilah yang sering menjadi bahan kajian dari beberapa ahli namun tidak membahas masalah pernikahan yang dilakukan oleh kedua pihak yang sudah berusia lanjut. Seyogyanya di usia lanjut dengan klasifikasi usia banyak hal yang perlu dikaji kembali terkait dengan tujuan pernikahan yaitu membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah serta mampu melahirkan keturunan. Fokus masalah dalam artikel ini yaitu bagaimana dampak psikologis yang diperoleh mempelai perempuan yang melakukan pernikahan di usia lanjut dan dampak medis dari pernikahan usia tua, baik  bagi laki-laki maupun perempuan. Jenis penelitian yang dilakukan ialah penelitian library research yang berorientasi pada pernikahan yang dilakukan oleh kedua mempelai yang berusia lanjut dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan multi pendekatan, yaitu pendekatan psikologis, pendekatan sosiologis, dan pendekatan ilmu kesehatan.  Hasil kajian dari fokus masalah yang dibahas bahwa seyogyanya pernikahan dilakukan oleh kedua pihak yang memasuki masa ideal menikah, agar pernikahan yang dijalankan dapat memenuhi tujuan dan urgensinya, yaitu sakinah, mawaddah dan rahmah serta dapat berfungsi sebagai regenarasi dengan melahirkan keturunan. Selain itu menghindari berbagai masalah baik dari psikologis dan ilmu kesehatan yang berkaitan erat dengan pemenuhan kewajiban kedua pihak suami istri.
TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP TRADISI MACCERA’ AQORANG PADA MASYARAKAT BUGIS STUDI DI DESA LAMPOKO Mutmainnah, Ainun; Jasmin, Suriah Pebriyani; Hamsidar
MADDIKA : Journal of Islamic Family Law Vol. 5 No. 1 (2024): Maddika: Journal Of Islamic Family Law
Publisher : UIN Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24256/maddika.v5i1.5478

Abstract

Abstract This study aims to analyze the Islamic legal review of the maccera' aqorang tradition in the Bugis community in Lampoko village. The research method used is qualitative research, which consists of field research and literature. The research approach consists of a sociological approach, a philosophical approach, a historical approach, and a normative theological approach. This approach is carried out through the process of investigation, collection, management, analysis, and presentation of data collected through interviews and documentation. The data analysis technique uses data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study indicate that the community's view of the maccera' aqorang tradition is a customary process carried out by the Bugis community where the process is by slaughtering a white chicken as a paccera'. This tradition is carried out by the community when their child has completed the Qur'an or has reached a verse that is considered sacred. This tradition has been passed down from generation to generation and should not be abandoned, but if the procession contains anything that is contrary to Islamic law, it must be immediately changed or abandoned. In the last four years, there have been changes in procedures, elements that are considered negative have been eliminated, and the process no longer contains values that are contrary to Islamic law. Keywords: Maccera’Aqorang, Bugis Tradition, Islamic Law
Logika Maqāṣid Al-Syarī‘ah Sebagai Paradigma Kritik Dalam Rekonstruksi Hukum Islam Jasmin, Suriah Pebriyani; HL, Rahmatiah; Sultan, Lomba
Ekspose: Jurnal Penelitian Hukum dan Pendidikan Vol. 24 No. 2 (2025): DESEMBER
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/ekspose.v24i2.10575

Abstract

Rapid social change and the increasing complexity of modern legal issues have created serious challenges to the relevance and justice of Islamic law in the contemporary era. Many textual provisions of Islamic law often confront dynamic social realities, thereby necessitating a critical paradigm for interpreting and reconstructing the law so that it remains contextual and oriented toward the realization of public welfare (maṣlaḥah). In this context, this research becomes urgent as it explores the logic of maqāṣid al-syarī‘ah as a critical paradigm in the reconstruction of Islamic law. Maqāṣid al-syarī‘ah, which was originally understood as the normative objective of the Sharī‘ah aimed at protecting the five essential human needs (al-ḍarūriyyāt al-khamsah) religion, life, intellect, lineage, and property has undergone a significant expansion in both meaning and function. In contemporary development, maqāṣid is no longer confined merely to preserving welfare but has evolved into an epistemological and critical framework for assessing the relevance, justice, and benefit of Islamic law in responding to modern social dynamics. By employing a maqāṣid-based approach, Islamic law is no longer rigidly understood through textual formalism but becomes open to reinterpretation in accordance with the principles of justice, welfare, gender equality, and respect for human rights. This study employs a qualitative method using hermeneutical analysis of both classical and modern literature. The rapid social transformation and the emergence of modern legal problems such as child marriage, gender equality, bioethics, environmental issues, and social justice emphasize the urgent need for a new paradigm in understanding Islamic law to ensure its continued relevance and fairness. In this regard, the study situates the logic of maqāṣid al-syarī‘ah as a critical paradigm for reconstructing Islamic law. Originally serving to preserve the five essential human needs (al-ḍarūriyyāt al-khamsah), maqāṣid has now evolved into an epistemological framework capable of critically evaluating and dynamically interpreting Islamic law. Findings from various studies indicate that the application of maqāṣid to contemporary issues demonstrates its potential as a bridge between normative texts and social realities, thus establishing maqāṣid al-syarī‘ah as an essential instrument in developing an Islamic legal system that is adaptive, progressive, humanistic, and contextually grounded   Perubahan sosial yang cepat dan kompleksitas persoalan hukum modern menimbulkan tantangan serius bagi relevansi dan keadilan hukum Islam di era kontemporer. Banyak ketentuan hukum Islam yang bersifat tekstual sering kali dihadapkan pada realitas sosial yang dinamis, sehingga menuntut adanya paradigma kritis dalam menafsirkan dan merekonstruksi hukum agar tetap kontekstual dan berorientasi pada kemaslahatan. Dalam konteks inilah, penelitian ini menjadi urgen karena membahas logika maqāṣid al-syarī‘ah sebagai paradigma kritik dalam rekonstruksi hukum Islam. Maqāṣid al-syarī‘ah yang semula dipahami sebagai tujuan normatif syariat untuk melindungi lima kebutuhan pokok manusia (al-ḍarūriyyāt al-khamsah) agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta kini mengalami perluasan makna dan fungsi. Pada perkembangan kontemporer, maqāṣid tidak lagi diposisikan sekadar sebagai instrumen pemeliharaan kemaslahatan, melainkan juga sebagai kerangka epistemologis dan kritis untuk menilai relevansi, keadilan, serta kemanfaatan hukum Islam dalam menghadapi dinamika sosial modern. Dengan menggunakan pendekatan maqāṣid, hukum Islam tidak lagi dipahami secara kaku melalui formalisme tekstual, melainkan terbuka terhadap reinterpretasi sesuai prinsip keadilan, kemaslahatan, kesetaraan gender, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis hermeneutik terhadap literatur klasik dan modern.Perubahan sosial dan munculnya problematika hukum modern seperti perkawinan anak, kesetaraan gender, bioetika, lingkungan hidup, dan keadilan sosial menegaskan urgensi paradigma baru dalam memahami hukum Islam agar tetap relevan dan berkeadilan. Dalam konteks ini, penelitian ini menempatkan logika maqāṣid al-syarī‘ah sebagai paradigma kritik dalam rekonstruksi hukum Islam. Maqāṣid yang semula berfungsi menjaga lima kebutuhan pokok manusia (al-ḍarūriyyāt al-khamsah) kini berkembang menjadi kerangka epistemologis yang mampu menilai dan menafsirkan hukum Islam secara lebih dinamis. Hasil berbagai kajian menunjukkan bahwa penerapan maqāṣid pada isu-isu kontemporer memperlihatkan potensinya sebagai jembatan antara teks normatif dan realitas sosial, sehingga menjadikan maqāṣid al-syarī‘ah instrumen penting dalam membangun hukum Islam yang adaptif, progresif, humanis, dan kontekstual.
REVITALISASI KONSEP RUMAH TANGGA SAKINAH DI ERA MODERN: PENDEKATAN TEMATIK HADIS TERHADAP TANTANGAN DAN SOLUSI KEHIDUPAN MUSLIM Jasmin, Suriah Pebriyani; Aisyah, Siti; Abdul Rahman Sakka
Jurnal AL-SYAKHSHIYYAH Jurnal Hukum Keluarga Islam dan Kemanusiaan Vol 7 No 2 (2025): Volume 7, Nomor 2, Desember 2025
Publisher : IAIN BONE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/as-hki.v7i2.10640

Abstract

This article examines the revitalization of the concept of a sakinah family in the modern era through a thematic analysis of hadiths concerning marital relations, family responsibilities, consultation, and compassion among family members. Amid the influence of globalization, value secularization, and digital media that shape communication patterns and moral dynamics within Muslim families, the reinterpretation of prophetic values becomes essential to maintain relevance and adaptability. Using a qualitative, library-based method, the study identifies key themes such as spiritual communication, gender justice, compassionate education, and ethical use of technology. The findings emphasize that revitalizing the sakinah concept must be grounded in the maqāṣid al-sharī‘ah, including the protection of religion, life, intellect, lineage, and property. The implementation of hadith values highlights the importance of compassionate communication, just relationships, and ethical child education, as well as the wise use of digital technology to support prophetic principles. This study offers an integrative paradigm that harmonizes prophetic values with modern challenges as a practical guide for Muslim families.