Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Pengaruh Metode Pembelajaran Active Debate terhadap Keaktifan Belajar Siswa Kelas XI SMKN 1 Ampek Angkek Pada Mata Pelajaran PAI Banat, Zaharatul; Aprison, Wedra; Hasibuan, Pendi; Iswantir, Iswantir
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i2.27886

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya keaktifan belajar siswa dalam pembelajaran PAI diantarnya: peserta didik malas dalam mengerjakan tugas, tidak mau bertanya, tidak menjawab pertanyaan yang diberikan guru, kurang aktif dalam memecahkan suatu permasalahan atupun persoalan yang diberikan guru, tidak mencatat hal-hal penting yang disampaikan guru. Tidak aktif dalam berdiskusi, maka salah satu upaya dalam meningkatkan keaktifan belajar siswa adalah dengan menerapkan metode pembelajaran active debate. Dari pemrasalahan tersebut maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh metode pembelajaran active debate terhadap keaktifan belajar siswa pada mata pelajaran PAI. Metode dalam penelitian ini adalah eksperimen dengan disein the statistic group comparision:randomized control group only design. Sampel pada penelitian ini adalah kelas XI TKJ 2 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI AKL sebagai kelas kontrol. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan angket. Teknik analisis data menggunakan uji normalitas, homogenitas dan independent sampel t-test kemudian dianalisis menggunakan bantuan software SPSS. Berdasarkan uji hipotesisi menggunakan uji independent sampel t-test. Hasil uji t, nilai signifikansi keaktifan belajar siswa senilai 0,030 yang lebih < 0,05 artinya Ho ditolak dan Ha diterima dapat dismpulkan: terdapat pengaruh metode pembelajaran active debate terhadap keaktifan belajar siswa kelas XI SMKN 1 Ampek Angkek.
Pandangan Hukum Islam Terhadap Cerai Gugat pada Usia Dini Pernikahan di Pengadilan Agama Maninjau Ridha, Muhammad; Deliana, Deliana; Hasibuan, Pendi
USRATY : Journal of Islamic Family Law Vol. 1 No. 1 (2023): Editions January-June 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/usraty.v1i1.6598

Abstract

Artikel ini membahas mengenai faktor-faktor terjadinya cerai gugat pada usia dini pernikahan di Pengadilan Agama Maninjau serta analisis hukum islam terhadap cerai gugat pada usia dini pernikahan. Pembahasan ini dilatar belakangi karena pada masa pademi covid-19 banyak terjadi cerai gugat pada usia dini pernikahan di PA Maninau yang dilakukan oleh pasangan yang menikah pada usia menikah yang ditentukan Undang-Undang Perkawinan No. 16 Tahun 2019, yakni laki-laki dan perempuan berusia 19 tahun. Jenis penelitian artikel ini adalah penelitian lapangan dengan mengolah data secara kualitatif. Dari penelitian yang dilakukan disimpulkan beberapa faktor terjadinya cerai gugat pada usia dini pernikahan pada masa pandemi covid-19 di Pengadilan Agama Maninjau adalah karena pasangan kurang bisa memaknai arti dari sebuah pernikahan, tidak sabar dan mengalah, komunikasi antara suami isteri kurang intens, pendidikan, nafkah, ditinggal suami, suami tempramental, suami dipenjara dan gangguan pihak ketiga. Cerai gugat pada usia dini pernikahan tidak bertentangan dengan syari’at islam demi mencegah “kemudharatan” antara suami isteri yang terjadi apabila pernikahan tetap dipertahankan.This article discusses the factors of contested divorce at an early age of marriage at the Maninjau Religious Court as well as an analysis of Islamic law on contested divorce at an early age of marriage. This discussion is motivated by the fact that during the Covid-19 pandemic there were many contested divorces at an early age, marriages in PA Maninau were carried out by couples who married at the age determined by Marriage Law No. 16 of 2019, namely boys and girls aged 19 years. The type of research in this article is field research by processing data qualitatively. From the research conducted, it was concluded that several factors led to divorce at an early age of marriage during the Covid-19 pandemic at the Maninjau Religious Court, namely because the couple was unable to interpret the meaning of marriage, was impatient and gave in, communication between husband and wife was less intense, education, livelihood, left by husband, temperamental husband, husband imprisoned and third party interference. Divorce at an early age of marriage does not conflict with Islamic law in order to prevent "harm" between husband and wife that occurs if the marriage is maintained
Pengaruh Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS) terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik dalam Konsep Al-Qur’an Hadits di Kelas VII Pondok Pesantren Diniyah Limo Jurai Huda, Ahmad Nurul; Hasibuan, Pendi; Wati, Salmi; Mustafa, Mustafa
ALSYS Vol 5 No 4 (2025): JULI
Publisher : Lembaga Yasin AlSys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/alsys.v5i4.6572

Abstract

The low level of critical thinking skills among students at Ponpes Diniyah Limo Jurai serves as the background for this study, which is attributed to the predominance of conventional teaching methods such as lectures and passive discussions. This study aims to examine the effectiveness of the cooperative learning model Think Pair Share (TPS) in improving students’ critical thinking abilities. A quasi-experimental method was employed using a posttest-only with nonequivalent groups design. A total of 52 seventh-grade students were randomly divided into two groups: experimental and control, each consisting of 26 students. Data were collected through questionnaires and documentation, and analyzed using normality and homogeneity tests, as well as hypothesis testing with the assistance of SPSS version 30. The results show a significance value (sig-2 tailed) of 0.038 < 0.05, indicating that the application of the TPS model has a significant effect on enhancing students’ critical thinking skills. This finding is supported by observation results showing noticeable improvement in critical thinking during the learning process. Thus, the TPS model is proven to be effective in improving students' critical thinking in Qur’an Hadits instruction. The study implies the need to adopt active learning models such as TPS in the context of Islamic boarding school education.
Pelaksanaan Pembelajaran Qira’ah Al-Kutub di Pondok Pesantren Tarbiyah Islamiyah Malalo Kabupaten Tanah Datar Ani, Sayyidah Rezky; Hasibuan, Pendi
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 2, No 12 (2025): Januari
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to determine the implementation of qira'ah al-kutub learning at the Tarbiyah Ismaliyah Malalo Islamic Boarding School. This study used qualitative research methods. The informants in this research were the qira'ah ak-pole teachers as key informants and the supporting informants were class VIII students. The data collection techniques used were observation, interviews and documentation. The data analysis used by the Milles and Uberman model is data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The data validity technique uses data triangulation. Based on the results of research conducted at the Malalo Islamic Tarbiyah Islamic boarding school, it can be concluded that in general the implementation of qira'ah al-pole learning at the Malalo Islamic Tarbiyah Islamic Boarding School has run smoothly but there are several steps that have not been implemented. Preliminary activities carried out by the qira'ah al-kutub teacher, in making preparations before learning, the ustadzah does not make lesson plans and syllabus but the ustadzah has a plan that has been thought through carefully before teaching but is not written in written form the ustadzah just remembers it, and then In this preliminary activity, the teacher only says greetings and reads prayers and forgets about giving apperception to students. The core activity carried out by the qira'ah al-kutub teacher goes straight into explaining the material without explaining the learning objectives first. And in this closing activity the teacher carries out in accordance with existing provisions.
Kewajiban Membayar Denda dalam Adat Perkawinan Semarga Di Nagari Panti Utara, Kecamatan Panti, Kabupaten Pasaman Dalam Tinjauan Hukum Islam Nasution, Andriadi Saputra; Hasibuan, Pendi
Indonesian Research Journal on Education Vol. 6 No. 1 (2026): Irje 2026
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/irje.v6i1.3985

Abstract

Pokok permasalahan dalam skripsi ini adalah adanya sebuah adat perkawinan atau kebiasaan masyarakar di Desa Sukadamai, Nagari Panti Utara yaitu praktek Membayar Denda yang wajib dibayar oleh pihak pengantin laki-laki dan perempuan sebab telah melakukan pelanggaran hukum adat perkawinan semarga di mana sebelum melakukan perkawinan di adakan acara Makkobar Adat (sidang adat). Oleh karenanya penulis ingin mengetahui lebih lanjut bagaimana praktek membayar denda ini, serta melihat bagaimana Tinjauan Hukum Islam tentang persoalan ini. Metode penelitian yang penulis gunakan dalam skripsi ini adalah metode deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian skripsi ini di Desa Sukadamai, Nagari Panti Utara, Kecamatan Panti, Kabupaten Pasaman. Sumber data skripsi ini ada yang bersifat primer yang diperoleh dari Alim Ulama, Hatobangon, dan Kepala Kampung, ada juga sumber data yang bersifat sekunder yang diperoleh dari buku-buku, karya ilmiah, dokumen-dokumen dan sumber lainnya yang relevan dengan permasalahan ini. Data-data diperoleh oleh penulis dengan metode wawancara, observasi dan juga dokumentasi. Hasil dari penelitian ini adalah yang pertama bahwa praktek membayar denda itu wajib dibayar kepada para tokoh masyarakat seperti Tokoh Adat, Hatobangon sebelum perkawinan dilangsungkan, kemudian yang kedua Tinjauan Hukum Islam terhadap kewajiban membayar denda dalam adat perkawinan semarga ini adalah diperbolehkan selama tidak memberatkan kepada pihak pelanggar dan tidak ada larangan dalam Nash Al-Qur’an maupun hadis. Adat tersebut berlaku bagi seluruh masyarakat adat Batak Mandailing yang melanggar hukum adat perkawinan semarga, adat tersebut telah berlaku secara turun-temurun sampai sekarang ini, adat ini tidak bertentangan dan tidak melanggar dalil syara’.