Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Mutu sensori dan keamanan mikrob garam dengan fortifikasi kerang pisau (Solen sp.): Sensory quality and microbial safety of salt with razor clam (Solen sp.) fortification Febianto, Erfan; Asih, Eka Nurrahema Ning; Indahsari, Kurniyawati
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol. 27 No. 4 (2024): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 27(4)
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/jphpi.v27i4.52236

Abstract

Prevalensi angka hipertensi di Indonesia cukup tinggi 31,4% yang disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya tingkat konsumsi garam berlebihan. Diet garam atau mengonsumsi garam rendah natrium merupakan alternatif untuk mengurangi kasus hipertensi. Garam diet dapat diproduksi dengan beberapa metode salah satunya metode fortifikasi. Kerang pisau memiliki kandungan gizi tinggi khususnya kandungan protein, oleh karena itu baik digunakan sebagai bahan pembuatan garam fortifikasi. Tujuan penelitian ini adalah menentukan konsentrasi garam kasar dan tepung kerang pisau terbaik dalam pembuatan garam fortifikasi berdasarkan karakteristik sensori dan mikroba. Perlakuan yang digunakan meliputi garam kasar yang dihaluskan dan tepung kerang pisau. Perbandingan konsentrasi garam (%) dan tepung kerang pisau (%) yaitu 95:5 (F1), 90:10 (F2), 85:15 (F3), 80:20 (F4), 75:25 (F5), dan 50:50 (F6). Parameter kimia yang diamati, yaitu NaCl, kadar air, protein, abu, lemak, dan karbohidrat. Parameter mikroba yang diamati, yaitu bakteri Escherichia coli. Parameter sensori yang diamati meliputi tekstur, warna, aroma, dan rasa. Hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa perlakuan F6 (50:50%) terbaik dengan nilai tekstur 7,2 (suka); aroma 6,53 (netral); warna 7,2 (suka); dan rasa 7,93 (suka) dari skala 1-9. Karakteristik kimia garam fortifikasi perlakuan terbaik (F6), yaitu NaCl 52,52%, kadar air 6,61%, protein 42,11%, abu 46,6%, lemak 0,98%, dan karbohidrat 3,7%. Kelimpahan bakteri E. coli pada seluruh produk yaitu <3 MPN/g. Perlakuan F6 (50%:50%) dapat direkomendasikan sebagai perlakuan terbaik berdasarkan hasil pengujian parameter mikroba dan sensori.
Potensi skrining fitokimia dan aktivitas antioksidan ekstrak daun Avicennia marina dan Avicennia alba dari Selat Madura: Potential phytochemical screening and antioxidant activity of Avicennia Marina and Avicennia Alba leaf extracts from the Madura Strait Widiawati, Widiawati; Asih, Eka Nurrahema Ning
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol. 27 No. 5 (2024): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 27(5)
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/jphpi.v27i5.52421

Abstract

Selat Madura termasuk pusat perkembangan sektor perikanan dan kelautan di Jawa Timur karena memiliki biodiversitas vegetasi A. marina dan A. alba yang melimpah. Tingginya potensi sumberdaya hayati laut di sekitar selat Madura dapat memicu keanekaragaman senyawa fitokimia dan aktivitas antioksidan ekstrak daun A. marina dan A. alba. Tujuan penelitian ini adalah menentukan kandungan fitokimia dan aktivitas antioksidan pada ekstrak daun A. marina dan A. alba dari Selat Madura. Metode yang digunakan meliputi ekstraksi sampel menggunakan maserasi dengan metanol, uji fitokimia secara kualitatif dengan melihat perubahan visualisasinya, dan uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH yang menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan senyawa fitokimia yang terdeteksi pada ekstrak mangrove A. marina meliputi alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan triterpenoid, sedangkan A. alba meliputi alkaloid, tanin, saponin, dan triterpenoid. Aktivitas antioksidan terdeteksi pada ekstrak A. marina dengan hasil konsentrasi 119,08±32,7 ppm tergolong dalam aktivitas antioksidan sedang, sedangkan ekstrak A. alba tergolong dalam aktivitas antioksidan sangat lemah dengan konsentrasi 287,72 ±39,2 ppm, serta IC50 asam askorbat sebesar 2,208 ppm termasuk antioksidan sangat kuat. Potensi sumberdaya hayati laut A. marina dan A. alba yang melimpah di Selat Madura terutama di Kabupaten Bangkalan dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang dan menghasilkan nilai ekonomi tinggi
Stabilitas fisik dan uji iritasi produk peel-off mask dari ekstrak H. scabra, A. marina, dan bittern: Physical stability and irritation peel-off mask products from H. scabra, A. Marina extracts, and bittern Ridyawati, Ika Wahyu; Asih, Eka Nurrahema Ning
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol. 27 No. 11 (2024): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 27(11)
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/jphpi.v27i11.52574

Abstract

Peel-off mask adalah jenis kosmetik yang banyak digunakan untuk mengatasi kulit wajah kering. Penggunaan produk ini dapat melembapkan dan memberikan efek relaksasi karena kaya kandungan mineral bagi kulit. Bahan hayati laut kaya mineral yang berpotensi sebagai bahan peel-off mask adalah ekstrak Holothuroidea scabra, Avicennia marina dan bittern. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan formula produk peel-off mask terbaik dari ekstrak H. scabra, A. marina dan bittern berdasarkan stabilitas fisik dan uji iritasi. Uji meliputi rendemen ekstrak, formulasi peel-off mask, stabilitas fisik (organoleptik, cyling test, uji pH dan uji waktu mengering) dan uji iritasi (eritema, panas dan gatal-gatal). Formula yang digunakan pada penelitian ini yaitu bittern (mL)+H. scabra (mg)+A. marina (mg) dengan F0 (kontrol), F1 (33,33+33,33+33,33), F2 (50+25+25), F3 (25+50+25), dan F4 (25+25+50). Hasil penelitian menunjukkan bahwa stabilitas fisik produk terbaik terdapat pada F2 (bittern 50 mL, ekstrak H. scabra 25 g, dan A. marina 25 g). Formula ini aman digunakan di kulit wajah karena 30 panelis tidak mengalami iritasi (eritema, panas dan gatal-gatal) dengan pH produk yaitu 5,52 sesuai dengan nilai kulit normal pada wajah.
Mutu produk saus hidrolisat kerang tahu (Meretrix sp.) fortifikasi garam konsumsi kadar NaCl 87%: Product quality of hydrolyzate tofu shell sauce (Meretrix sp.) fortification of consumption salt with 87% NaCl content Salsabila, Marwa; Asih, Eka Nurrahema Ning; Kartika, Ary Giri Dwi; Pratiwi, Wiwit Sri Werdi; Efendy , Makhfud
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol. 28 No. 4 (2025): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 28(4)
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/jphpi.v28i4.62321

Abstract

Kerang tahu sebagai sumber protein hewani dari laut Madura berpotensi dijadikan produk olahan inovatif saus kerang. Rekacipta inovasi saus kerang perlu penambahan garam konsumsi kadar NaCl 87% untuk menciptakan rasa yang kompleks serta unik dan enzim papain untuk mempermudah proses hidrolisis kerang sebagai bahan baku. Standar produk berdasarkan SNI 01-4275-1996 serta PerBPOM nomor 13 tahun 2019 adalah acuan yang digunakan agar produk aman dikonsumsi. Tujuan penelitian adalah menentukan formula terbaik serta menganalisis perbedaan signifikan penggunaan garam konsumsi dan enzim papain dengan konsentrasi yang berbeda terhadap karakteristik fisik, kimia serta mikrobiologi saus kerang (Meretrix sp.). Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan metode eksperimen meliputi preservasi kerang, hidrolisis kerang, pembuatan saus, uji karakteristik saus, yaitu parameter fisika (viskositas), kimia (proksimat dan pH) serta mikrobiologi (Angka Lempeng Total dan E. coli). Perbandingan konsentrasi dalam proses hidrolisis dengan persentase kerang (%): garam konsumsi (%): enzim papain (%), yaitu 89,1:1:9,9 (F1), 85,5:5:9,5 (F2), 81:10:9 (F3), 76,5:15:8,5 (F4), 72:20:8 (F5), 67,5:25:7,5 (F6). Hasil penelitian menunjukkan karakteristik fisik saus terbaik pada F2 dengan nilai viskositas 1.033±67,55 mPa.s. Berdasarkan SNI 01.4275:1996 dan PerBPOM nomor 13 tahun 2019 diketahui bahwa F3 merupakan formula terbaik berdasarkan karakteristik kimia dan mikrobiologi. Nilai prosimat F3 diantaranya kadar protein 3,81±0,03%, air 80,90±0,44%, abu 3,96±0,05%, lemak 1,57±0,18%, kabohidrat 9,74±0,69%, pH 5.90±0.00, sedangkan ALT 0,29x104 dan E. coli <3 MPN/g. Parameter fisik, kimia (air, abu, protein dan pH) dan mikrobiologi pada saus kerang memiliki perbedaan, sedangkan parameter kimia (lemak dan karbohidrat) tidak berbeda. Secara keseluruhan F3 direkomendasikan sebagai formula terbaik dan aman dikonsumsi masyarakat.
Karakteristik Edible Film Berbasis Agar (Geledium sp.) Dan Tepung Tapioka Dengan Persentase Agar Yang Berbeda Dewi, Kartika; Widyaningsih, Dhea; Asih, Eka Nurrahema Ning; Insafitri, Insafitri; Prastari, Cindytia
Juvenil Vol 6, No 4: November (2025)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v6i4.31920

Abstract

ABSTRAKTepung tapioka merupakan salah satu bahan hidrokoloid dalam pembuatan edible film namun memiliki sifat gel yang lemah dan mudah robek sehingga perlu penambahan agar (Gelidium sp.). Penambahan agar dalam pembuatan edible film berbasis tepung tapioka bertujuan agar edible film yang dihasilkan memiliki karakteristik yang sesuai. Penelitian ini bertujuan mengetahui konsentrasi agar terbaik sebagai polisakarida tambahan untuk memperbaiki nilai kuat tarik pada edible film berbahan tepung tapioka.  Perlakuan yang diberikan berupa perbedaan konsentrasi agar, yaitu P1= 0,12%, P2= 0,14%, dan P3= 0,16%. Karakteristik yang di uji berupa ketebalan, water vapor transmission rate (WVTR), kuat tarik, kadar air, dan kelarutan. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam satu arah (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan perbedaan konsentrasi agar pada edible film berbeda nyata terhadap ketebalan sebesar 0,042-0,52 mm, kuat tarik sebesar 15,39-21,43 MPa, tetapi tidak berbeda nyata terhadap water vapor transmission rate (WVTR), kadar air, dan kelarutan. Formulasi P3 menghasilkan karakteristik edible film terbaik. Perlakuan ini menunjukkan kuat tarik tertinggi (21,43 MPa), WVTR terendah (3,84 g/m²/hari), serta nilai ketebalan, kadar air, dan kelarutan yang masih dalam batas ideal karakteristik edible film. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi tepung tapioka dan agar memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bahan kemasan ramah lingkungan yang aplikatif pada industri pangan.Kata kunci: kelarutan, ketebalan, kuat tarik, water vapor transmission rate (WVTR)ABSTRACTTapioca flour, a hydrocolloid substance utilized in the production of edible films, possesses limited gelling capabilities and is prone to tearing; hence, the addition of agar (Gelidium sp.) is required. The addition of agar in the process of making tapioca flour-based edible films aims to ensure that the edible film possesses the desirable qualities. This research aims to determine the optimal concentration of agar as an additive polysaccharide to improve the tensile strength of edible films made from tapioca flour. The given treatments consisted of varying agar concentrations: P1 = 0.12%, P2 = 0.14%, and P3 = 0.16%. The evaluated characteristics included thickness, water vapor transmission rate (WVTR), tensile strength, moisture content, and solubility. The data obtained were analysed using one-way ANOVA (analysis of variance). The research results showed that different agar concentrations in edible films significantly affected thickness (0.042-0.52 mm) and tensile strength (15.39-21.43 MPa), but did not significantly affect water vapour transmission rate (WVTR), moisture content, and solubility. Formulation P3 produced the best edible film characteristics. This treatment showed the highest tensile strength (21.43 MPa), the lowest WVTR (3.84 g/m²/day). Thickness, moisture content, and solubility values were all within the optimal ranges for edible film properties.Keywords: solubility, tensile strength, thickness, water vapor transmission rate (WVTR)
Kontaminasi Kadmium (Cd) serta Analisis Risiko Kesehatan Manusia melalui Konsumsi Kerang Tahu (Meretrix spp.) di Pesisir Bangkalan Nurrizal, Muhammad Naufal; Asih, Eka Nurrahema Ning; Kartika, Ary Giri Dwi
Jurnal Kelautan Tropis Vol 28, No 3 (2025): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v28i3.29550

Abstract

Venus clams are a fishery commodity on the coast of Bangkalan and a source of animal protein for the local people. However, the accumulation of cadmium in these clams could pose a health risk to humans through consumption. Therefore, this study aims to assess the level of cadmium contamination in the environment and analyze the health risks of consuming venus clams on the coast of Bangkalan. Seawater, sediment, and venus clamps samples were taken at two stations (Bancaran and Sambilangan) in the coastal area of Bangkalan, then analyzed for cadmium (Cd) content using Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). The analysis results showed that cadmium in seawater at Bancaran Station (0.003 mg/L) and Sambilangan Station (0.008 mg/L) had exceeded the quality standard threshold. Conversely, the cadmium content in sediment and venus clams at both stations was still below the threshold. Based on Target Hazard Quotients (THQ) and Estimated Weekly Intakes (EWI), consumption of tofu clams from both stations did not pose a health risk. Kerang tahu banyak dimanfaatkan sebagai komoditas perikanan di pesisir Bangkalan dan menjadi salah satu sumber protein hewani bagi masyarakat setempat. Namun, akumulasi kadmium dalam kerang tersebut dapat menimbulkan risiko kesehatan bagi manusia melalui konsumsi. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat cemaran kadmium pada lingkungan serta menganalisis risiko kesehatan dari konsumsi kerang tahu di Pesisir Bangkalan. Pengambilan sampel air laut, sedimen dan kerang laut dilakukan di dua stasiun (Bancaran dan Sambilangan) di lingkup pesisir Bangkalan, kemudian dilakukan analisis kandungan cadmium (Cd) dengan menggunakan alat Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS).  Hasil analisis menunjukkan kadmium pada air laut di Stasiun Bancaran (0,003 mg/L) dan Sambilangan (0,008 mg/L) telah melebihi ambang batas baku mutu. Sebaliknya kandungan kadmium di sedimen dan kerang tahu pada kedua stasiun masih dibawah ambang batas. Berdasarkan Target Hazard Quotients (THQ)dan Estiamted Weekly Intakes (EWI), konsumsi kerang tahu di kedua stasiun tidak berisiko terhadap kesehatan. 
Edukasi Tata Kelola dan Kandungan Gizi Limbah Cair Pemindangan Ikan Cakalang sebagai Bahan Petis Madura Berkualitas di Poklahsar Tuna Jaya Asih, Eka Nurrahema Ning; Ismawati, Nurul; Fitriani, Atiqah; Pratiwi, Wiwit Sri Werdi; Abidah, Indah Wahyuni; Kartika, Ary Giri Dwi; Nuzula, Nike I
Jurnal SOLMA Vol. 14 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/solma.v14i3.20886

Abstract

Background: Optimalisasi pengelolaan dan pemanfaatan limbah pemindangan ikan cakalang perlu dilakukan karena limbah ini berpotensi mencemari perairan namun kaya nutrisi. Penyuluhan ini bertujuan meningkatkan pemahaman mitra tentang pentingnya mengelola dan memanfaatkan limbah pemindangan ikan menjadi produk petis Madura yang bernilai gizi tinggi. Metode: Kegiatan melibatkan mitra yaitu Poklahsar Tuna Jaya dan pihak terkait. Tahapan kegiatan yang dilakukan berupa persiapan, penyuluhan, implementasi dan evaluasi. Kegiatan penyuluhan dilengkapi dengan kuisioner untuk mengukur tingkat pemahaman peserta terhadap materi penyuluhan. Hasil: Berdasarkan skala likert setelah penyuluhan dilaksanakan menunjukan 95% paham, 3% cukup paham dan 2% tidak paham mengenai pentingnya manajemen kelola limbah hasil pemindangan ikan. Respon peserta juga menunjukan 95% paham, 4% cukup paham dan 1% tidak paham mengenai kiat serta tahapan mempertahankan kandungan gizi pada air limbah hasil pemindangan ikan agar menghasilkan petis merah non histamin. Kesimpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat ini berimplikasi mampu meningkatkan pemahaman mitra dalam mengelola dan mempertahankan nilai gizi limbah pemindangan guna mempersiapkan bahan baku petis merah Madura berkualitas.