Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

The Confusion between Pustular Psoriasis and Acute Generalized Exanthematous Pustulosis as a Cause of Exfoliative Dermatitis: A Case Report Sari, Desiana Widityaning; Damayanti, Damayanti; Anggraeni, Sylvia; Umborowati, Menul Ayu; Cita Rosita Sigit Prakoeswa; Ervianti, Evy
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 33 No. 3 (2021): DECEMBER
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/bikk.V33.3.2021.224-231

Abstract

Background: Pustular psoriasis and Acute Generalized Exanthematous Pustulosis (AGEP) are grouped under pustular diseases, in which their clinical manifestations are similar. Those diseases can lead to exfoliative dermatitis. Purpose:To evaluate a specific histopathological examination in differentiating Pustular Psoriasis and AGEP. Case: A 55-year-old woman presented with sudden redness and diffused scaly skin with multiple pustules and also fever. She had taken Cefadroxil 2 days before the scales and pustules appeared. Leukocytosis and histopathological examination results from biopsy supported the diagnosis of AGEP. The patient was then hospitalized and received steroid therapy. Within the first week of tapering off, the scales disappeared but the pustules increased. After such clinical findings, the histopathological examination results were revisited and reassessed. Thus, we considered changing the diagnosis to Pustular Psoriasis, and the therapy was switched to Methotrexate. The patient had a better outcome, and the pustules slowly disappeared entirely. Discussion: It is often difficult to differentiate between the pustules in pustular psoriasis and AGEP unless by thorough history-taking and physical examinations. AGEP is characterized by a widespread of pustules with an acute febrile onset; while pustular psoriasis is an acute variant of psoriasis where pustules are spread over erythematous skin and accompanied by high fever and leukocytosis. Conclusion: Histopathological examination is the gold standard for the establishment of pustular psoriasis diagnosis. The histopathological characteristics of pustular psoriasis and AGEP are difficult to differentiate. Therefore, we need detailed history-taking and physical examination to establish the diagnosis.
Pelatihan Psychological First Aid (PFA) dan Stress Management untuk Mahasiswa Kedokteran Tahun Pertama FKK ITS 2024 Syulthoni, Zain Budi; Haykal, Muhammad Nazhif; Eljatin, Dwinka Syafira; Haque, Sayidah Aulia Ul; Rangkuti, Rahmah Yasinta; Fadhlina, Afia Nuzila; Indriastuti, Endah; Radiansyah, Riva Satya; Putri, Atina Irani Wira; Sari, Desiana Widityaning; Indriani, Ratri Dwi; Siswanto, Putri Alief; Mahdi, Faizal
Sewagati Vol 9 No 1 (2025)
Publisher : Pusat Publikasi ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j26139960.v9i1.2413

Abstract

Mahasiswa kedokteran tahun pertama menghadapi banyak tantangan dalam menye-suaikan diri dengan lingkungan akademik baru, yang dapat memengaruhi kesehatan mental mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mengelola stres dan memberikan dukungan psikologis melalui pelatihan manajemen stres dan dukungan psikologis pertama / Psychological First Aid (PFA). 30 mahasiswa kedokteran semester 1 FKK ITS mengikuti pelatihan, yang berlangsung selama dua hari dan total 16 jam. Pelatihan juga dievaluasi melalui pretest dan posttest menggunakan kuesioner. Melalui simulasi kasus, peserta menunjukkan kemampuan yang baik dalam menggunakan strategi PFA dan manajemen stres. Hasil analisis menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman dan keterampilan peserta setelah mengikuti pelatihan (p=0.000). Pelatihan mencakup pemaparan teori dan praktik keterampilan PFA, seperti keterampilan mendengarkan yang aktif, keterampilan komunikasi, keterampilan empati, dan keterampilan bertahan hidup. Dua modul program ber-ISBN dan publikasi di media massa. Kesimpulan dari pengabdian masyarakat adalah bahwa terjadi peningkatan pemahaman dan kemampuan mahasiswa kedokteran tahun pertama terhadap Psychological First Aid dan Stress Management yang diharapkan lebih siap menghadapi tantangan akademik.
Successful Management of High-Risk Pregnancy with TORCH Infection History and Chronic Hypertension Karimah, Rumman; Fadli, Sonny; Eljatin, Dwinka Syafira; Indriastuti, Endah; Sari, Desiana Widityaning; Ridhoi, Ahmad
Journal of Medicine and Health Technology Vol. 1 No. 2 (2024)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j30466865.v1i2.1129

Abstract

A 41-year-old pregnant woman of Javanese ethnicity attended the outpatient clinic of a private hospital, presented with fifth pregnancy and no living children due to a history of ectopic pregnancy, two times IUFD, and one time neonatal death. The patient also had a history of chronic hypertension and asthma. The examination showed positive IgG Toxoplasma and CMV antibody levels. The patient's blood pressure also never touched the normal limit since the beginning of pregnancy. At the end of pregnancy, she had very high blood pressure and proteinuria. According to WHO Maternal Mortality Rate (MMR) is still very high, where two of the five highest causes are infection and hypertension in pregnancy. High risk pregnancies require special attention in monitoring during pregnancy and management. In a history of bad obstetrical history it is necessary to screen for infection which can be done by antibody serology testing. A positive IgG indicates immunity to the virus, if possible it is necessary to check IgG Avidity to determine whether therapy is still needed or can rely on the immune system that has been formed. Chronic hypertension (Systolic Blood Pressure (SBP) > 140 mmHg and / or Diastolic Blood Pressure (DBP) > 90 mmHg since < 20 Weeks Gestational Age (WGA) until 42 days after delivery). First-line Labetalol and Nifedipine or second-line Methyldopa and Hydrochlorothiazide should be considered depending on the condition and gestational age. If there are signs of preeclampsia, termination should be done if possible, along with antihypertensives and anticonvulsants such as MgSO4.
The Role of Microbiota in Atopic Dermatitis Sari, Desiana Widityaning; Nur Annisa Nugraheningtyasari
Journal of Medicine and Health Technology Vol. 2 No. 2 (2025)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j30466865.v2i2.2630

Abstract

Skin microbiota play an important role in the pathogenesis of AD. Damage to the integrity of the skin mucosa allows penetration of allergens and colonization of the skin by pathogenic microorganisms. This can then stimulate inflammation related to excessive activation of Th2 lymphocytes throughout the body including the digestive tract and respiratory tract. The understanding of the latest definition of AD emphasizes this disease as a chronic inflammatory disease characterized by disruption of the skin barrier, inflammation, and dysbiosis (an imbalance between commensal and pathogenic bacteria, which then has significant health implications). Skin dysbiosis is based on an increase in the concentration of Staphylococcus aureus colonization, which causes a decrease in the number of commensal bacteria. Changes in the microbiota in AD affect the functioning of the immune system, stimulating inflammatory reactions that are manifested as atopic eczema. This concept of dysbiosis is important to discuss because it can influence new strategies for the treatment and prevention of AD. This article will further discuss the role of microbiota in AD.
Peningkatan Literasi Kesehatan Masyarakat tentang Nyeri Punggung Bawah Melalui Edukasi Interaktif dengan Manekin Tiga Dimensi Tulang Belakang Abnormal Gumilar Fardhani; Indriani, Ratri Dwi; Eljatin, Dwinka Syafira; Njoto, Edwin Nugroho; Fadhlina, Afia Nuzila; Wirayuda, Anak Agung Bagus; Sari, Desiana Widityaning; Radiansyah, Riva Satya; Hedianto, Tri; Kuswanto, Djoko
Sewagati Vol 9 No 6 (2025)
Publisher : Pusat Publikasi ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j26139960.v9i6.9133

Abstract

Nyeri punggung bawah merupakan penyakit muskuloskeletal dengan prevalensi tertinggi yang memerlukan upaya edukasi preventif kepada masyarakat. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang nyeri punggung bawah melalui edukasi interaktif menggunakan manekin tulang belakang abnormal yang dikembangkan dari data MRI dan CT scan pasien nyeri punggung bawah, dimanufaktur menggunakan teknologi 3D printing dan cetakan silikon-lateks, serta dirangkai dengan wire khusus untuk memvisualisasikan mekanika nyeri punggung bawah. Metode pelaksanaan meliputi pelatihan kader mahasiswa sebagai fasilitator edukasi, penyuluhan masyarakat di Pendopo Kelurahan Medokan Semampir, serta skrining kesehatan gratis. Sebanyak 75 peserta menghadiri kegiatan, dengan 61 orang mengisi pretest-posttest lengkap. Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan (p<0,05) dari skor pretest (9,44 ± 0,96) ke posttest (9,79 ± 0,55), mengonfirmasi bahwa metode ini efektif dalam menstandarisasi pemahaman konsep biomekanika yang kompleks (ditunjukkan dengan penurunan standar deviasi). Skrining kesehatan gratis terbukti meningkatkan ketertarikan dan partisipasi masyarakat. Saran ke depan meliputi pembentukan kader kesehatan untuk menyebarluaskan edukasi secara berkelanjutan, monitoring dan evaluasi rutin, serta pengembangan media edukasi dalam berbagai format untuk memastikan program memberikan dampak jangka panjang terhadap literasi dan perilaku kesehatan masyarakat.
Peningkatan Deteksi Dini Kanker Serviks melalui Skrining HPV DNA kepada Masyarakat di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Karimah, Rumman; Indriastuti, Endah; Eljatin, Dwinka Syafira; Soraya, Fira; Fitriani, Fatimah Nur; Haykal, Muhammad Nazhif; Hidayah, Rizka Nurul; Sari, Desiana Widityaning; Rangkuti, Rahmah Yasinta; Nurhayati, Lely; Syulthoni, Zain Budi; Fadli, Sonny
Sewagati Vol 9 No 6 (2025)
Publisher : Pusat Publikasi ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j26139960.v9i6.9141

Abstract

Kanker serviks merupakan penyebab kematian paling sering kedua akibat kanker pada wanita di Indonesia, dengan sebagian besar kasus berhubungan dengan infeksi persisten Human Papillomavirus (HPV) risiko tinggi. Deteksi dini melalui skrining berbasis HPV Deoxyribonucleic Acid (DNA) direkomendasikan sebagai metode paling sensitif untuk mencegah progresi lesi prakanker menjadi kanker invasif.Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan cakupan deteksi dini kanker serviks di lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melalui program skrining HPV DNA. Kegiatan melibatkan peserta perempuan diatas 30 tahun dan mencakup edukasi kesehatan reproduksi wanita, pemeriksaan HPV DNA secara gratis, serta survei kepuasan layanan. Hasil skrining HPV DNA menunjukkan bahwa 75 peserta (97%) memiliki hasil negatif untuk HPV risiko tinggi (High Risk-HPV atau HR-HPV) dan 2 peserta (3%) memiliki hasil positif untuk HR-HPV. Selain itu, survei kepuasan menunjukkan sebagian besar peserta menilai proses layanan sangat baik, terutama pada keramahan petugas (96% tingkat tertinggi), manfaat pemeriksaan (88%), serta kejelasan prosedur dan hasil pemeriksaan. Peserta juga memberikan masukan agar kegiatan serupa dilakukan secara rutin dan diperluas untuk skrining penyakit lain yang dapat dicegah. Program ini menunjukkan bahwa skrining HPV DNA dapat diterima dengan baik, meningkatkan literasi kesehatan, dan berpotensi menjadi model implementasi deteksi dini berkelanjutan di institusi pendidikan.
Program Skrining Prostate-Specific Antigen sebagai Upaya Deteksi Dini Kanker Prostat di Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Tahun 2025 Karimah, Rumman; Indriastuti, Endah; Eljatin, Dwinka Syafira; Soraya, Fira; Fitriani, Fatimah Nur; Haykal, Muhammad Nazhif; Hidayah, Rizka Nurul; Sari, Desiana Widityaning; Rangkuti, Rahmah Yasinta; Nurhayati, Lely; Syulthoni, Zain Budi; Fadli, Sonny
Sewagati Vol 9 No 6 (2025)
Publisher : Pusat Publikasi ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j26139960.v9i6.9145

Abstract

Kanker prostat merupakan salah satu kanker penyebab utama mortalitas pada pria, dan deteksi dini melalui pemeriksaan prostate-specific antigen (PSA) berperan penting dalam mencegah keterlambatan diagnosis. Program skrining ini diselenggarakan sebagai bagian dari kegiatan pengabdian masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dan akses deteksi dini pada kelompok pria berisiko khususnya untuk civitas akademika ITS dan masyarakat sekitar. Kegiatan meliputi edukasi mengenai pengetahuan umum, faktor risiko, dan gejala kanker prostat, kemudian diikuti pemeriksaan PSA secara gratis. Hasil skrining menunjukkan bahwa 75% peserta memiliki kadar PSA normal (<4,0 μg/L), sementara 25% peserta memiliki kadar PSA tidak normal (4,0 μg/L). Nilai PSA tinggi memiliki beberapa kemungkinan, di antaranya prostatitis, benign prostatic hyperplasia, pasca-ejakulasi/ digital rectal examination yang dilakukan dalam 48-72 jam sebelum pemeriksaan, aktivitas fisik berat sebelum pemeriksaan, atau kanker prostat. Peserta dengan PSA normal direkomendasikan melakukan pemeriksaan ulang setiap 1–2 tahun, sedangkan peserta dengan PSA tinggi disarankan berkonsultasi ke dokter spesialis urologi untuk evaluasi lanjutan. Program ini menegaskan pentingnya skrining PSA berbasis komunitas sebagai strategi efektif untuk meningkatkan deteksi dini dan mempercepat penatalaksanaan pada kasus berisiko tinggi untuk dampak jangka panjang terhadap kesehatan masyarakat. Kegiatan ini juga berhasil memperoleh penghargaan rekor MURI untuk skrining PSA dengan jumlah peserta terbanyak, yaitu 420 peserta.