Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PENINGKATAN PENGETAHUAN MELALUI EDUKASI DAGUSIBU PADA IBU KADER TENTANG DEXAMETASON DI RW 02 SEMANAN, KALIDERES, JAKARTA BARAT Latief, Mutawalli Sjahid; Hidayat, Febri; Dipta, Eka; Komarudin, Dede; Fitri, Dewi Rahma; Fajar, In Rahmi Fatria; Adriana, Yulis; Rusli, Jessica
INTEGRITAS : Jurnal Pengabdian Vol 10 No 1 (2026): JANUARI - JULI
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat - Universitas Abdurachman Saleh Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36841/integritas.v10i1.7341

Abstract

Pengelolaan obat yang tepat di rumah tangga sangat penting untuk menjamin keamanan dan efektivitas terapi. Namun, pengetahuan dan kesiapan ibu kader dalam mendapatkan, menggunakan, menyimpan, dan membuang obat secara benar masih rendah, sehingga penggunaan obat yang rasional menjadi terhambat. Pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesiapan ibu kader di RW 02 Kelurahan Semanan, Kalideres, Jakarta Barat melalui edukasi DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang obat secara tepat) menggunakan presentasi dan leaflet, dengan fokus khusus pada penggunaan Dexametason. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif pretest-posttest satu kelompok dengan 72 responden. Hasil pre-test menunjukkan kategori “baik” sebesar 38,9%, yang meningkat menjadi 76,4% pada post-test setelah edukasi. Uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik (p=0,000; p<0,05). Edukasi DAGUSIBU terbukti efektif meningkatkan pemahaman ibu kader tentang Dexametason dan pengelolaan obat secara umum, sehingga diharapkan mendorong penggunaan obat yang lebih aman, tepat, dan ramah lingkungan di masyarakat.
FORMULASI SEDIAAN KRIM EKSTRAK ETANOL 70% DAUN BAMBU APUS (GIGANTOCHLOA APUS) SEBAGAI PELEMBAB KULIT Ayu Wardani , Kartika; Fatria Fajar, In Rahmi; Sjahid Latief, Mutawalli; Hidayat, Febri
IONTech Journal Vol. 6 No. 2 (2025): Agustus 2025
Publisher : Institut Sains dan Teknologi Al-Kamal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62702/ion.v6i2.132

Abstract

Bambu apus (Gigantochloa apus) merupakan tumbuhan yang berasal dari kawasan Asia tropis keluarga poaceae. Daun bambu apus mengandung bioaktif tinggi flavon, lakton, dan asam fenolat yang memiliki khasiat bagi kesehatan kulit, berpotensi sebagai pelindung kulit dari sengatan sinar matahari dan memberikan efek melembabkan. Selain itu juga terbukti, bersifat antioksidan dan anti mikrobial. Ekstrak daun bambu apus diformulasi menjadi sediaan krim pelembab. Tujuan penelitian ini, mengetahui nilai IC50, memformulasikan ekstrak etanol 70% daun bambu apus menjadi sediaan krim dan mengetahui apakah sediaan krim ekstrak daun bambu apus efektif dapat digunakan untuk pelembab kulit. Metode penelitian ini termasuk rancangan eksperimental. Evaluasi sediaan yang dilakukan meliputi uji mutu fisik, uji efektivitas antioksidan ekstrak,uji kelembaban, uji kesukaan dan uji stabilitas fisik sediaan krim.Hasil penilitian diketahui nilai IC50 ekstrak daun bambu apus sebesar 204,33 ppm. Ekstrak daun bambu apus dapat diformulasikan sebagai sediaan krim dan memiliki aktivitas kelembaban krim terbaik pada formulasi tiga (F3),berdasarkan alat uji kelembaban dengan kenaikan kelembaban kulit sukarelawan meningkat dari rata-rata kelembaban awal 23,3% menjadi 43,6% dengan presentase kenaikan sebesar 20,3%, nilai tersebut menunjukkan bahwa berdasarkan persyaratan skala nilai kelembaban alat skin moisture analyzer termasuk dalam kulit yang lembab. Kata Kunci : Krim, Pelembab, Daun bambu apus
EVALUATION OF RATIONAL USE OF AMLODIPINE AND CAPTOPRIL IN TYPE 2 DIABETES MELLITUS PATIENTS WITH COMORBIDITIES AT TANGERANG DISTRICT GENERAL HOSPITAL Yusma, Ahsan; Amalia Syafitri, Rizki; Sjahid Latief, Mutawalli; Hidayat, Febri
IONTech Journal Vol. 6 No. 2 (2025): Agustus 2025
Publisher : Institut Sains dan Teknologi Al-Kamal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62702/ion.v6i2.136

Abstract

Rational use of antihypertensive drugs is essential for patients with Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) with comorbidities to optimize therapeutic efficacy and minimize adverse drug reactions. This study aimed to evaluate the appropriateness of antihypertensive therapy in outpatient BPJS T2DM patients at RSU Tangerang District. A descriptive retrospective study was conducted on 80 BPJS T2DM patients with comorbidities who received captopril or amlodipine from January to June 2021. Data were collected from medical records and analyzed for appropriateness regarding contraindications, indications, drug selection, and dosage according to clinical guidelines including JNC VII/VIII, ACC/AHA, Pharmaceutical Care, and PIONAS. All patients received medications without contraindications, resulting in a 100% appropriateness rate. Specifically, 68.8% of patients received captopril and 31.3% received amlodipine appropriately. All indications and drug selections were fully aligned with clinical guidelines, and dosing was correct for all patients: captopril 12.5 mg in 14 cases (17.50%) and 25 mg in 41 cases (51.25%), amlodipine 5 mg in 19 cases (23.75%) and 10 mg in 6 cases (7.50%). Antihypertensive therapy in BPJS T2DM patients at RSU Tangerang District was rational and fully adherent to clinical guidelines, ensuring patient safety and therapeutic efficacy. The study was limited to two drugs and outpatient care; therefore, future research should include additional antihypertensive medications and care settings to generalize the findings.
KAJIAN INTERAKSI ANTAROBAT DAN HUBUNGANNYA DENGAN POLIFARMASI PADA PASIEN SKIZOFRENIA Ahriansyah, Andi; latief, Mutawalli Sjahid
IONTech Journal Vol. 7 No. 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Institut Sains dan Teknologi Al-Kamal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62702/ion.v7i1.160

Abstract

Schizophrenia is a chronic mental disorder affecting thought processes, perception, affect, and behavior, requiring long-term pharmacotherapy. In routine practice, patients frequently receive multiple concurrent medications (polypharmacy) to control psychiatric symptoms and manage comorbid conditions, which may increase drug-related problems, particularly potential drug–drug interactions (pDDIs). This study aimed to identify pDDIs and examine their association with the number of prescribed drugs among outpatients with schizophrenia at a public hospital in Jakarta. A retrospective analytical cross-sectional study was conducted from January to June 2025. From 357 outpatients, 15 medical records met the inclusion criteria (age ≥18 years, schizophrenia as the primary diagnosis, complete demographic/clinical and medication data, and at least two drugs per visit). Patient characteristics and medication profiles were collected. pDDIs were identified based on drug combinations and categorized by severity. The association between the number of drugs (<3 vs ≥3) and pDDIs was assessed using chi-square testing with odds ratio (OR). Most patients were aged 46–55 years (53.3%), and 73.3% had no documented comorbidities. The most frequently prescribed antipsychotics were risperidone (46.7%) and clozapine (33.3%), and 66.7% of patients received ≥3 drugs. pDDIs were detected in all prescriptions (15/15; 100%), totaling 26 events, predominantly moderate (73.08%) rather than major (26.92%). The most common interaction was risperidone–trihexyphenidyl (15.38%). No statistically significant association was found between the number of drugs and pDDIs (p=0.591; OR 0.444; 95%CI 0.022–9.032). These findings highlight the need for ongoing medication review and clinical pharmacy services to mitigate interaction risks, particularly involving antipsychotics and concomitant therapies.