Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Anxiety in patients treated with hemodialysis Yunia, Eva Anita; Saragih, Julwansa; Damanik, Derma Wani; Dewi, Rani Sartika
Jurnal Prima Medika Sains Vol. 5 No. 2 (2023): December
Publisher : Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/jpms.v5i2.4588

Abstract

Patients with renal failure undergoing hemodialysis often experience anxiety due to various individual, socioeconomic, and environmental factors. This study aimed to analyze the factors associated with anxiety in these patients. This was a quantitative, cross-sectional study. The risk factors for anxiety investigated in this study were education, duration of hemodialysis, knowledge, and family support. The study included 50 patients with renal failure undergoing hemodialysis (total sampling). Data were collected directly by distributing questionnaires to the patients. Data were analyzed using the chi-square test and logistic regression analysis (α=0.05). The results showed that education level was not significantly associated with anxiety in these patients (p= 0.816). However, the duration of hemodialysis (p= 0.023) and patient knowledge (p= 0.048) were significantly associated with the anxiety experienced by the patients. Family support was a protective factor against anxiety in these patients (P = 1.00). The dominant variable affecting patient anxiety is the duration of hemodialysis (p=0.041; PR = 4.1; 95%CI 1.061-16.107). This means that patients undergoing hemodialysis for more than 6 months are 4.1 times more likely to experience moderate anxiety compared to patients who have been undergoing hemodialysis for 6 months or less.
Association of Risk Factors with Type 2 Diabetes: A Scoping Review Hulu, Victor Trismanjaya; Saragih, Julwansa; Damanik, Balqis Nurmauli; Damanik, Derma Wani; Yunia, Eva Anita; Sinurat, Buenita
Jurnal Keperawatan Priority Vol. 7 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/jukep.v7i2.5305

Abstract

The incidence of type 2 diabetes mellitus (type 2 DM) is one of the public health problems worldwide, with various factors as risk factors that can lead to high morbidity and mortality rates for people with type 2 DM. This study aims to identify, investigate, and summarize various scientific evidence related to risk factors for type 2 DM. The approach used in this study was a scoping review with the PRISMA protocol. The PICO framework was used as an early-stage strategy in conducting article searches. Databases such as Google Scholar, PubMed, Scopus, and ScienceDirect were used as literature search tools. The study inclusion criteria were journal articles published from 2016 to 2024 and English-language articles with open access. Of the 157 journal articles identified, only 11 were eligible for analysis after selection and eligibility. The data extraction stage was conducted by six people on 11 eligible articles and continued with the qualitative data analysis process. The study reported that age, education, duration of DM, gender and income, physical activity, obesity, consumption of sugary foods and beverages, and low fruit consumption are risk factors for type 2 DM.
Edukasi Pendampingan Minum Obat Pada Keluarga Dengan Penderita Tuberculosis Paru Di Kelurahan Bahkapul Kota Pematangsiantar (Educational Guidance In Taking Medicine For Families With Pulmonary Tuberculosis Patients In Bahkapul Village, Pematangsiantar City) Damanik, Derma Wani; Saragih, Julwansa; Yunia, Eva Anita; Dewi, Rani Sartika
Indonesia Berdaya Vol 6, No 1 (2025)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20251043

Abstract

Tuberkulosis (TBC) paru merupakan suatu infeksi penyakit yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis yang menyerang saluran napas utama dan bronkus. Tuberkulosis paru masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia, yang dapat mempengaruhi semua kelompok usia. Tuberculosis paru menjadi penyebab kematian tertinggi kedua di dunia setelah COVID-19 pada tahun 2022 dan lebih dari 10 juta orang terjangkit penyakit tuberculosis paru setiap tahunnya. Negara Indonesia berada pada posisi kedua dengan jumlah beban kasus TBC terbanyak pada tahun 2023 dengan jumlah kasus diperkirakan sebanyak 1.060.000 kasus dan 134.000 kematian per tahun. Sementara itu, jumlah kasus penderita tuberculosis paru di Provinsi Sumatera Utara tahun 2022 sebanyak 19147 kasus. Sedangkan jumlah penderita tuberculosis paru di Kota Pematangsiantar pada tahun 2021 mencapai 440 orang dan mengalami peningkatan menjadi 636 orang pada tahun 2022. Penyakit tuberkulosis paru sangat mudah resisten terhadap obat, sehingga untuk mengobatinya membutuhkan waktu yang lama. Oleh sebab itu dalam proses pengobatan, peran keluarga sangat dibutuhkan sebagai unit terdekat pasien untuk melakukan pengawasan. Pelaksanaan pengabdian masyarakat yang dilakukan berupa pemberian edukasi. Sasaran pada kegiatan ini adalah keluarga dengan penderita tuberculosis paru yang tinggal di Kelurahan Bahkapul Kota Pematangsiantar sebanyak 28 orang. Hasil pengabdian masyarakat diperoleh bahwa sebelum edukasi mayoritas pengetahuan responden adalah cukup sebanyak 13 orang (46%) dan setelah mendapatkan edukasi tingkat pengetahuan responden meningkat menjadi baik sebanyak 23 orang (82%). Kegiatan pengabdian masyarakat memperoleh respon yang positif dari peserta dan terjadinya peningkatan pengetahuan ataupun pemahaman keluarga penderita tuberculosis paru setelah mendapatkan edukasi tentang pendampingan minum obat. Abstract. Pulmonary tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by the bacteria Mycobacterium tuberculosis that attacks the main respiratory tract and bronchi. Pulmonary tuberculosis is still a public health problem worldwide, which can affect all age groups. Pulmonary tuberculosis is the second highest cause of death in the world after COVID-19 in 2022 and more than 10 million people are infected with pulmonary tuberculosis each year. Indonesia is in second place with the largest number of TB cases in 2023 with an estimated number of cases of 1,060,000 cases and 134,000 deaths per year. Meanwhile, the number of cases of pulmonary tuberculosis sufferers in North Sumatra Province in 2022 was 19,147 cases. Meanwhile, the number of pulmonary tuberculosis sufferers in Pematangsiantar City in 2021 reached 440 people and increased to 636 people in 2022. Pulmonary tuberculosis is very resistant to drugs, so it takes a long time to treat it. Therefore, in the treatment process, the role of the family is very much needed as the patient's closest unit to carry out supervision. The implementation of community service is carried out in the form of providing education. The target of this activity is families with pulmonary tuberculosis sufferers who live in Bahkapul Village, Pematangsiantar City, totaling 28 people. The results of community service obtained that before education, the majority of respondents' knowledge was sufficient, totaling 13 people (46%) and after receiving education, the level of respondent knowledge increased to good, totaling 23 people (82%). Community service activities received a positive response from participants and there was an increase in knowledge or understanding of families with pulmonary tuberculosis sufferers after receiving education about medication assistance.
Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap Keluarga dalam Penanganan Pertama Keracunan Makanan di Huta III Desa Tanjung Pasir Kabupaten Simalungun Siregar, Nabilah; Damanik, Derma Wani; Julianto, Julianto; Pasaribu, Yohanna Adelina
JURNAL KEPERAWATAN SUAKA INSAN (JKSI) Vol. 10 No. 1 (2025): Jurnal Keperawatan Suaka Insan (JKSI)
Publisher : STIKES Suaka Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51143/jksi.v10i1.631

Abstract

Keracunan merupakan kejadian gawat darurat yang umum terjadi dalam keluarga. Data World Health Organization menyebutkan terdapat dua juta orang di dunia meninggal setiap tahun akibat keracunan makanan dan minuman. Keracunan yang tidak segera mendapatkan penanganan pertama yang tepat dapat menimbulkan kematian. Keluarga berperan penting dalam melakukan penanganan pertama pada kasus ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap keluarga dalam penanganan pertama keracunan makanan. Desain penelitian ini yaitu cross sectional. Penelitian dilakukan pada sampel 50 orang anggota keluarga di Huta III Desa Tanjung Pasir Kabupaten Simalungun, menggunakan teknik purposive sampling. Data penelitian berupa data kuantitatif yang dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Chi square dengan bantuan aplikasi SPSS. Hasil analisa data menunjukkan mayoritas responden memiliki pengetahuan kurang sebanyak 21 orang (42%), sikap negatif sebanyak 28 orang (56%), serta terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap keluarga dalam penanganan keracunan makanan (nilai p <0,05). Penulis menyarankan agar perawat dapat memberikan edukasi kepada keluarga tentang penanganan pertama kegawatdaruratan keracunan makanan.
Edukasi pemberian makanan tambahan pada balita sebagai upaya pencegahan stunting di UPTD PUSKESMAS Martimbang Pematangsiantar [Education on providing supplementary food to toddlers as an effort to prevent stunting at the Martimbang Pematangsiantar Community Health Center] Damanik, Derma Wani; Saragih, Julwansa; Yunia, Eva Anita; Dewi, Rani Sartika
Indonesia Berdaya Vol 6, No 3 (2025)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20251206

Abstract

Abstract. Stunting is a disorder of growth and development in children due to chronic malnutrition and repeated infections, which is characterized by their length or height being below the established standard. The toddler group needs attention because they are a group that is vulnerable to malnutrition. Malnutrition is still a major problem in infants and children under five years of age (toddlers) globally. In 2025, the world of nutrition is expected to face a number of new complex issues. Not only challenges in terms of nutritional problems, such as multiple malnutrition, obesity, and stunting, but also changes in education models and nutritional intervention approaches. The incidence of stunting in North Sumatra Province in 2023 reached 19,298 people with details of toddlers with stunting as many as 18.9%, malnutrition 7.9%, undernutrition 13.2% and overnutrition 3.5%. The incidence of stunting in Pematang Siantar City was 303 people, with the number of toddlers with stunting as many as 7.7%, malnutrition 4.2%, undernutrition 7.2% and overnutrition 4.2%. The implementation of community service carried out in the form of providing education on providing additional food for toddlers. The target of this activity was mothers with toddlers in the working area of the UPTD Martimbang Pematangsiantar Health Center as many as 12 people. The results of community service obtained that before education, the majority of the knowledge of the education participants was sufficient as many as 7 people (58.3%) and after receiving education, the majority of knowledge became good as many as 10 people (83.3%). Community service activities received a good and positive response from the participants and there was an increase in the knowledge of mothers who have children and children will be healthy according to their growth and development. Abstrak. Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada dibawah standar yang ditetapkan. Kelompok balita perlu mendapat perhatian karena merupakan kelompok yang rawan terhadap kekurangan gizi. Malnutrisi masih menjadi permasalahan utama pada bayi dan anak di bawah lima tahun (balita) secara global. Pada tahun 2025, dunia gizi diperkirakan akan menghadapi sejumlah isu baru yang kompleks. Tidak hanya tantangan dari sisi masalah gizi, seperti malnutrisi ganda, obesitas, dan stunting, tetapi juga perubahan dalam model pendidikan dan pendekatan intervensi gizi.  Angka kejadian stunting di Provinsi Sumatera Utara tahun 2023 mencapai 19.298 orang dengan rincian balita dengan stunting sebanyak 18,9%, gizi buruk 7,9%, gizi kurang 13,2% dan gizi lebih 3,5%. Angka kejadian stunting di Kota Pematang Siantar sebanyak 303 orang, dengan jumlah balita stunting sebanyak 7,7%, gizi buruk 4,2%, gizi kurang 7,2% dan gizi lebih 4,2%. Pelaksanaan pengabdian masyarakat yang dilakukan berupa pemberian edukasi pemberian makanan tambahan pada balita. Sasaran pada kegiatan ini adalah ibu dengan balita di wilayah kerja UPTD Puskesmas Martimbang Pematangsiantar sebanyak 12 orang. Hasil pengabdian masyarakat diperoleh bahwa sebelum edukasi mayoritas pengetahuan peserta edukasi adalah cukup sebanyak 7 orang (58,3%) dan setelah memperoleh edukasi mayoritas pengetahuan menjadi baik sebanyak 10 orang (83,3%). Kegiatan pengabdian masyarakat memperoleh respon yang baik dan positif dari peserta kegiatan dan terjadinya peningkatan pengetahuan  ibu yang memiliki anak serta anak akan menjadi sehat sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangannya.
SCOPING REVIEW ON RISK FACTORS ASSOCIATED WITH HYPERTENSION IN INDONESIA Hulu, Victor Trismanjaya; Saragih, Julwansa; S, Buenita; Damanik, Derma Wani; Zebua, Arianus; Yunia, Eva Anita; Rifai, Achmad; Dewi, Rani Sartika
Jurnal Ilmiah Keperawatan Vol 8 No 2 (2025): Jurnal Mutiara Ners
Publisher : Program Studi Ners UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/jmn.v8i2.6076

Abstract

Background: Hypertension is a global health problem that contributes significantly to deaths from cardiovascular disease. Unhealthy lifestyles, including excessive salt consumption, physical inactivity, and obesity, are the primary factors. Without management, hypertension can lead to serious complications such as heart disease, stroke, and kidney failure. Objective: This study aims to investigate, summarise, and identify various scientific evidence related to hypertension risk factors. Methods: This study employed a scoping review approach organised according to the PRISMA protocol. The Population–Concept–Context (PCC) framework was utilised as an initial guideline in formulating research questions and searching for relevant articles. The literature search process was conducted using several databases, including Google Scholar and Scopus. The included articles had to meet the inclusion criteria, which were limited to open-access journals published between 2020 and 2025. From a total of 512 articles found, only 14 met the selection criteria and were suitable for analysis. The data extraction process was conducted by eight people on the 14 selected articles, followed by qualitative data analysis. Results: The findings indicate that factors such as age, gender, length of employment, consumption of salt, sugary drinks, high-fat foods, elevated total cholesterol levels, low vegetable intake, lack of physical activity, stress, and abdominal circumference that exceeds the recommended play a role in increasing the risk of hypertension. Conclusion: These factors trigger fluid retention, insulin resistance, dyslipidemia, and central obesity that together raise blood pressure and accelerate vascular damage.
Edukasi Terapi Inhalasi Uap Menggunakan Minyak Kayu Putih dalam Meningkatkan Bersihan Jalan Nafas pada Keluarga Dengan Anak Yang Menderita ISPA [Education On Steam Inhalation Therapy Using Eucalyptus Oil to Improve Airway Clearance In Families With Children Suffering From Respiratory Tract Infections (RTI).] Multi, Silvia; Damanik, Derma Wani
Indonesia Berdaya Vol 6, No 4 (2025)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20251250

Abstract

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan menyakit yang menyerang fungsi saluran pernafasan pada manusia, disebabkan oleh virus, jamur, dan bakteri dengan gejala berupa batuk, pilek, demam serta mengeluarkan ingus atau lendir yang berlangsung sampai dengan 14 hari dan menular serta berbahaya dengan sangat mudah terutama anak-anak atau seseorang yang memiliki tingkat imunitas tubuh yang rendah. ISPA adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas dari penyakit menular di dunia.  Jumlah kasus ISPA di Indonesia pada tahun 2023 mencapai 877.531 jiwa. Penyakit ini dapat menimbulkan masalah berupa ketidakefektifan bersihan jalan nafas. Jenis penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif dengan pendekatan studi kasus. Lokasi penelitian dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Martimbang Pematangsiantar. Jumlah sampel sebanyak 2 keluarga dengan anak usia 5-14 tahun, Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Penelitian  pada keluarga 1 dilakukan pada tanggal 29 April–01 Mei 2025 dan pada keluarga 2 dilakukan pada tanggal 06-08 Mei 2025. Hasil penelitian terapi inhalasi uap minyak kayu putih yang dilakukan selama 3 hari dengan durasi 10-15 menit. Pada keluarga Ⅰ menunjukan tingkat pengetahuan keluarga tentang terapi terapi inhalasi meningkat, dengan hasil sebelum tindakan pernafasan 35 kali/menit dan setelah tindakan mengalami perubahan frekuensi nafas menjadi 24 kali/menit, pada keluarga Ⅱ menunjukan tingkat pengetahuan keluarga terkait terapi inhalasi meningkat dengan hasil sebelum tindakan pernafasan 32 kali/menit dan setelah tindakan anak mengalami perubahan frekuensi nafas menjadi 20 kali/menit. Edukasi terapi inhalasi uap menggunakan minyak kayu putih efektif dalam meningkatkan bersihan jalan nafas. Diharapkan pada pihak puskesmas dan keluarga dapat  menerapkan implementasi terapi inhalasi uap minyak kayu putih secara bertahap kepada anak yang menderita ISPA sehingga hasil yang diharapkan tercapai dan bersihan jalan nafas anak meningkat.
Edukasi Teknik Menyusui yang Benar pada Bayi dalam Meningkatkan Pengetahuan Ibu Postpartum Di Rumah Sakit Tentara TK 01.07.01 Pematangsiantar [Education On Proper Breastfeeding Techniques for Infants to Improve Postpartum Mothers' Knowledge at TK 01.07.01 Military Hospital Pematangsiantar] Purba, Nova Necis Natalia; Damanik, Derma Wani
Indonesia Berdaya Vol 6, No 4 (2025)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20251249

Abstract

Abstract. The postpartum period is the period following the delivery of the placenta until the reproductive organs return to their normal state, lasting 6 weeks or 42 days. One of the problems frequently faced by breastfeeding mothers is a lack of knowledge about proper breastfeeding techniques. Education about breastfeeding techniques is an important step in addressing this issue. The goal of breastfeeding technique education is to improve the baby's attachment to the breast and the mother's ability to position the baby correctly. The initial assessment revealed that postpartum mothers did not yet understand proper breastfeeding techniques, including proper positioning and attachment. After being educated on proper breastfeeding techniques, their knowledge increased, and they were able to explain and practice breastfeeding techniques as taught. Education about proper breastfeeding techniques has been proven effective in improving postpartum mothers' knowledge, reducing complaints, and increasing confidence and comfort in breastfeeding. Abstrak. Masa postpartum merupakan masa setelah lahirnya plasenta hingga organ reproduksi kembali seperti semula, berlangsung selama 6 minggu atau 42 hari. Salah satu masalah yang sering dihadapi ibu menyusui adalah kurangnya pengetahuan tentang teknik menyusui yang benar. Edukasi mengenai teknik menyusui merupakan Langkah penting dalam mengatasi masalah tersebut. Tujuan dari edukasi teknik menyusui yaitu untuk meningkatkan perlekatan bayi pada payudara ibu, kemampuan ibu untuk meningkatkan posisi bayi dengan benar. Hasil pada pengkajian awal, ibu postpartum belum memahami tentang teknik menyusui yang benar, termasuk posisi dan perlekatan yang tepat, setelah diberikan edukasi teknik menyusui yang benar, pengetahuan ibu meningkat, ibu mampu menjelaskan dan mempraktikan teknik menyusui sesuai dengan yang diajarkan. Edukasi teknik menyusui yang benar terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan ibu postpartum, dapat mengurangi keluhan serta meningkatkan percaya diri dan kenyamanan dalam menyusui.
Implementasi Pemberian Jus Semangka untuk Menurunkan Tekanan Darah pada Lansia dengan Hipertensi [Implementation of Watermelon Juice Administration to Reduce Blood Pressure in Elderly with Hypertension] Hasibuan, Diki Eka Putra; Damanik, Derma Wani
Indonesia Berdaya Vol 6, No 4 (2025)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20251257

Abstract

Abstract. Hypertension is a condition where systolic blood pressure exceeds 140 mmHg and diastolic blood pressure exceeds 90 mmHg. A person is considered hypertensive based on intermittent or persistent increases in systolic and diastolic blood pressure. Hypertension exhibits symptoms such as severe headaches, dizziness, blurred vision, nausea, ringing in the ears, confusion, irregular heartbeat, fatigue, chest pain, difficulty breathing, and a pulsating sensation in the chest or neck. Hypertension is one of the leading causes of increased mortality and morbidity rates in Indonesia. The prevalence of hypertension among the elderly is quite high, approximately 40%, with a mortality rate of around 50% for individuals aged over 60 years. Hypertension is a vascular disorder that disrupts the supply of oxygen and nutrients carried by the blood to body tissues. Therefore, hypertensive patients require proper management. One of the non-pharmacological therapies that can be implemented is the administration of watermelon juice. This study is a quantitative research with a case study approach. The research was conducted at UPT Yansos Tuna Rungu Wicara dan Lanjut Usia Pematangsiantar from May 6 to May 31, 2025. The sample size consisted of two respondents, selected using purposive sampling. The results of the study showed changes in blood pressure in Client 1, with blood pressure of 140/100 mmHg on the first day, which decreased to 120/80 mmHg on the fifth day, and in Client 2, with blood pressure of 160/100 mmHg on the first day, which decreased to 110/70 mmHg on the fifth day. The implementation of watermelon juice administration was effective in reducing blood pressure in the elderly. Researchers recommend that clients and staff at UPT Yansos Tuna Rungu Wicara dan Lanjut Usia independently implement watermelon juice administration. Abstrak. Hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah sistolik 140 mmHg dan tekanan darah diastolik 90 mmHg. Seseorang dikatakan hipertensi dilihat dari meningkatnya tekanan darah sistolik dan diastolik yang intermitten atau menetap. Hipertensi memiliki gejala berupa sakit kepala parah, pusing, penglihatan buram, mual, telinga berdenging, kebingungan, detak jantung tidak teratur, kelelahan, nyeri dada, sulit bernafas, sensasi berdetak di dada atau leher. Hipertensi merupakan salah satu penyebab utama meningkatnya angka mortalitas dan morbiditas di Indonesia. Prevalensi hipertensi di kalangan usia lanjut cukup tinggi yaitu sekitar 40% dengan angka kematian sekitar 50% pada usia di atas 60 tahun.  Hipertensi merupakan gangguan pada pembuluh darah yang megakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah terhambat sampai kejaringan tubuh. Maka itu, penderita hipertensi sangat membutuhkan penanganan yang baik. Salah satu tindakan yang dapat dilakukan adalah dengan terapi non farmakologi dengan pemberian jus semangka. Jenis penelitian yaitu penelitian  kuantitatif  dengan pendekatan studi kasus. Lokasi penelitian dilakukan di UPT Yansos Tuna Rungu wicara dan Lanjut Usia Pematangsiantar. Penelitian dilakukan sejak tanggal 06 sampai 31 Mei 2025  Jumlah sampel sebanyak 2 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan terjadinya perubahan tekanan darah pada klien I dengan tekanan darah 140/100 mmHg pada hari pertama, mengalami penurunan menjadi 120/80 mmHg pada hari ke 5 dan pada klien 2 tekanan darah 160/100 mmHg pada hari pertama turun menjadi 110/70 mmHg mmHg pada hari ke 5.Implementasi pemberian jus semangka efektif menurunkan tekanan darah pada lansia. Peneliti menyarankan kepada klien dan petugas UPT Yansos Tuna Rungu Wicara dan lanjut Usia agar dapat menerapkan pemberian jus semangka  secara mandiri.
Impact of Health Education about Stroke Pre-Hospital Emergency Treatment on Family Knowledge in Puskesmas Kartini Pematangsiantar Region Siregar, Nabilah; Damanik, Derma Wani; Handayani, Astika
Jurnal Kesehatan Holistic Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Kesehatan Holistic Volume 7/ Nomor 2/ Juli 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan RS Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33377/jkh.v7i2.166

Abstract

Introduction: Stroke was the second leading cause of death in the world from 2000 to 2019, reached 11% of total deaths. Delay in pre-hospital treatment of stroke patients can lead to a reduced proportion of patients receiving recanalization therapy. Lack of family knowledge can cause families to seek help late when an attack occurs, the severity of the disease, repeated strokes even to death. Objective: This study aims to determine the effect of health education about pre-hospital stroke management on the knowledge of families of stroke sufferers in the area of ?? Kartini Public Health Center, Pematangsiantar City. Method: The research sample were 40 family members of stroke sufferers. The sampling technique was purposive sampling. Data analy used the Wilcoxon test. Result: The results showed that majority of respondents before receiving health education had less knowledge as many as 22 people (55%), and majority of respondents had good knowledge as many as 29 people (72.5%) after being given health education, and there was an influence of health education about stroke pre-hospital management on the knowledge of families of stroke sufferers (p value 0.000). Conclusion: Health education can increase family knowledge.