Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

INTENSITAS PENYAKIT ANTRAKNOSA PADA PEPAYA DENGAN SISTEM TANAM TUMPANG SARI DAN TUNGGAL DI RANTAU PANJANG, RUMBAI BARAT, PEKANBARU Ibrahim, Roy; Hamzah, Hamzah; Alhaviz, Alhaviz
Jurnal Pertanian Presisi (Journal of Precision Agriculture) Vol 8, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/jpp.2024.v8i1.11048

Abstract

Buah pepaya sangat disukai oleh masyarakat Indonesia karena rasanya yang manis dan memiliki kandungan nutrisinya yang tinggi. Salah satu organisme penganggu tanaman yang menyebabkan kehilangan hasil buah pepaya adalah penyakit antraknosa yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum spp., yang merupakan penyakit penting bagi tanaman pepaya. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai penyakit antraknosa pepaya di Kelurahan Rantau Panjang, Kecamatan Rumbai Barat. Pengamatan kondisi lahan dengan sistem tumpang sari dan tunggal, gejala penyakit antraknosa, serta dilakukan pengukuran tingkat insidensi dan keparahan penyakit di lapangan. Hasil pengamatan penyebab busuk buah pada pepaya adalah jamur C. gloeosporioides. Persentase insidensi penyakit busuk buah sistem tanam tumpang sari paling tinggi mencapai 25%, sedangkan sistem tanam tunggal 10%. Keparahan penyakit busuk buah akibat C. gloeosporioides pada sistem tanam tumpang sari berkisar 8-10% sedangkan pada sistem tanam tunggal berkisar 5-6%. Tingginya tingkat serangan insidensi dan keparahan penyakit pada sistem tanam tumpang sari disebabkan tidak adanya sanitasi lahan terhadap buah yang terinfeksi dan kesalahan dalam pemilihan tanaman tumpang sari seperti cabai dan keladi selain itu penggunaan pestisida yang tidak tepat sasaran diduga menyebabkan penyakit ini selalu ada di lahan.
Aplikasi Mulsa Bawah Tanah Pada Budidaya Jagung Manis (Zea mays L. Saccharata) Nareswari, Aptika; Anindita, Devina Cinantya; Alhaviz, Alhaviz
MEDIAGRO Vol 20, No 1 (2024): MEDIAGRO
Publisher : Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/mediagro.v20i1.9900

Abstract

Traditional mulching practices primarily involve the surface application of mulch materials. However, underground mulching offers a novel approach to enhance weed control, moisture retention, and nutrient management while optimizing crop yields. This research aims to explore the implementasion of underground mulch in sweet corn cultivation within Kediri Regency, Indonesia from April to July of 2022. We conducted field experiments to evaluate the impact of underground mulch on sweet corn growth compared it to conventional surface mulching with randomized complete block design (RCBD) with three treatments (i) non mulch, (ii) conventional plastic mulch, (iii) underground mulch  and four repetitons in cultivationg sweet corn Talenta F1. This research contributes to the advancement of sustainable corn farming practices and provides insight into innovative mulching techniques. Our findings reveal significant advantages of using underground mulch in terms of increasing water availability as observed from the soil moisture content on a scale 1-10, reduce evaporation (Eo), support vegetative growth (plant height), accelerate total chlorophyll level, and increase the ear’s fresh weight.Keywords: crop yields, moisture retention, weed control
Testing The Physicochemical Properties Of Liquid Organic Fertilizer Waste Of Spincord Fish (Channa Striata) Prastari, Cindytia; Ibrahim, Roy; Alhaviz, Alhaviz
JURAGAN - Jurnal Agroteknologi Vol. 2 No. 2 (2024)
Publisher : Yayasan Rahmatan Fiddunya Wal Akhirah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58794/juragan.v2i2.964

Abstract

Fish wealth in the Indonesian region is abundant and efforts are continuously being made to increase the catch. Abundant fish catches become leftover fish or discarded fish due to various reasons, for example the fishermen's limited knowledge and facilities in fish processing methods. It turns out that the remaining fish or discarded fish can still be used. Nowadays snakehead fish (Channa striata) is widely used to make fish sauce, but in the manufacturing process only the flesh is used, this causes the skin and bones to become unusable waste. In general, fish waste contains many nutrients, namely N (Nitrogen), P (Phosphorus) and K (Potassium), which are components of organic fertilizer.The increase in waste production greatly influences global warming which triggers climate change. With proper processing in accordance with the environment and its presence in the environment, it is hoped that the environment will be clean, healthy and comfortable, in addition, appropriate waste can produce use value that will add income. From the research results, it can be concluded that the addition of the bromelain enzyme with a concentration of 150 mL produces the highest nitrogen content, namely 0.39%, while for the phosphorus content, the addition of 150 mL of enzyme shows a higher value, namely 0.168% and the highest nitrogen content, namely 0.037%, is owned by POC with the addition of 150 mL of bromelain enzyme.
Pemberdayaan Kelompok Tani Senyerang Melalui Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik Cair dari Limbah Nanas Alhaviz, Alhaviz; Eka Pratiwi, Erviana; Imtaz Sumbari, Ahmad; Utami Lestari, Sri; Ibrahim, Roy; Ihsan, Fikratul
JDISTIRA - Jurnal Pengabdian Inovasi dan Teknologi Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Yayasan Rahmatan Fidunya Wal Akhirah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58794/jdt.v5i1.1358

Abstract

Nanas (Ananas comosus) merupakan komoditas hortikultura yang banyak dibudidayakan untuk konsumsi segar maupun olahan industri. Dalam proses pengolahannya, sekitar 30-40% bagian buah menjadi limbah, seperti kulit, batang, dan bagian yang tidak terpakai. Limbah ini sering tidak dimanfaatkan dengan baik, padahal memiliki potensi besar untuk diolah menjadi pupuk organik cair (POC). POC dari limbah nanas dapat mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia serta meningkatkan kesuburan tanah dan produksi tanaman. Selain itu, POC berperan dalam meningkatkan kualitas hasil panen dan mengurangi dampak negatif limbah terhadap lingkungan. Pemanfaatan limbah nanas juga dapat memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat, termasuk kelompok wanita tani. Kulit nanas mengandung 81,72% air; 20,87% serat kasar; 17,53% karbohidrat; dan 4,41% protein, menjadikannya bahan yang potensial untuk fermentasi menjadi POC. Pupuk ini mengandung 1,12% nitrogen (N), 0,2% fosfor (P), 1,24% kalium (K), dan 3,51% karbon organik (C). POC dari kulit nanas telah terbukti bermanfaat bagi tanaman seperti selada dan mentimun. Pelatihan pembuatan POC dari limbah nanas dapat meningkatkan kesadaran dan keterampilan masyarakat dalam mengelola limbah organik. Dengan demikian, inovasi ini tidak hanya mendukung pertanian berkelanjutan tetapi juga memberikan solusi bagi pengelolaan limbah industri nanas.
EKSTRAKSI POLISAKARIDA MANAN DARI BUNGKIL INTI SAWIT Ihsan, Fikratul; Azzahro, Hanifah Ulfa; Anggraini, Anna; alhaviz, Alhaviz
JURNAL TEKNOLOGI PERTANIAN Vol. 13 No. 2 (2024)
Publisher : Prodi Teknologi Pangan Fakultas Pertanian Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/jtp.v13i2.3603

Abstract

Palm kernel cake (PKE) is a residue product of palm kernel oil whose production has increased every year. Dietary fiber in there is mannan polysaccharides in palm kernel cake. Mannan polysaccharides consist of linear mannan, glucomannan, galactomannan and glucogalactomannan have the ability to bind water, so they can be used as thickeners by the food industry. This study aims to obtain the yield of mannan polysaccharides extracted using water solvent and NaOH solvents. The design used was a Completely Randomized Design (CRD) with one factor such as temperature (60oC, 100oC and 121oC) for water solvents and NaOH concentration (6%, 12% and 18%) for NaOH solvents. The results showed that temperature treatment had a significant effect on the yield produced and NaOH concentration treatment had a significant effect on the yield produced. The temperature treatment of 121oC produced the highest yield of 0.056 g/25 g BIS and the concentration treatment of 18% NaOH produced the highest yield of 0.281 g/25 mg BIS. The FTIR spectrum shows that the extraction results have increased the number of vibrations at a wavelength of 800-900 cm-1 which is the C-H vibration region (β-pyranose bond) as a characteristic band of mannan polysaccharides. Keywords: Palm kernel cake, NaOH, mannan polyssaccharides, temperature
PENGARUH SUBSTITUSI KOLANG-KALING TERHADAP KARAKTERISTIK NORI BERKONSEP EDIBLE FILM DARI RUMPUT LAUT JENIS EUCHEUMA COTTONII Ihsan, Fikratul; Anggarini, Anna; Alhafiz
JURNAL TEKNOLOGI PERTANIAN Vol. 14 No. 1 (2025)
Publisher : Prodi Teknologi Pangan Fakultas Pertanian Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/jtp.v14i1.4102

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi dari nori berkonsep edible film dan mengetahui pengaruh pensubstitusian kolang-kaling terhadap nori dari rumput laut jenis Eucheuma cottonii berdasarkan sifat fisik, kimia dan tingkat penerimaan panelis pada uji organoleptik. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 3 kali ulangan. Analisis data menggunakan Analisis of Varian (ANOVA), kemudian dilanjutkan dengan Duncan’s New Multiple Range (DNMRT) pada taraf nyata 5%. Perlakuan yang digunakan adalah pensubstitusian rumput laut E. cottonii dengan kolang-kaling yaitu A (100%:0%), B (90%:10%), C (80%:20%), D (70%:30%) dan E (60%:40%). Formulasi pembuatan nori yaitu dengan menambahkan 50 ml air, 2 ml larutan daun suji dan 1 ml gliserin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pensubstitusian rumput laut jenis E. cottonii dengan kolang-kaling berpengaruh nyata terhadap ketebalan, kekuatan tarik, kadar air, kadar abu, kadar protein, kadar serat makanan dan kadar kalsium tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap daya serap air, intensitas warna dan aktivitas air. Hasil penelitian menunjukkan pensubstitusian kolang-kaling hingga 30% (perlakuan D) masih dapat digunakan sebagai bahan pensubstitusi rumput laut E. cottonii dalam pembuatan nori berkonsep edible film dan merupakan perlakuan terbaik berdasarkan tingkat penerimaan organoleptik dengan nilai warna (3,41), rasa (3,29), tekstur (3,6) dan aroma (3,59).
Produksi Pangan Dan Sumbangan Pendapatan Lahan Pekarangan Di Kelurahan Perhentian Marpoyan Kecamatan Marpoyan Damai Di Kota Pekanbaru Nurwati, Niken; Mufti, Mufti; Alhaviz, Alhaviz
Baselang Vol 4, No 1: APRIL 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/bsl.v4i1.130

Abstract

Kelurahan Perhentian Marpoyan  merupakan salah satu kelurahan yang berada pada di Kecamatan Marpoyan Damai di Kota Pekanbaru  yang terdapat 6 Kelompok Wanita Tani (KWT), dalam konsep Rumah Pangan Lestari (RPL). Potensi lahan pekarangan bila dimanfaatkan secara optimal akan mampu mendukung ketersediaan pangan dan membantu peningkatan pendapatan rumah tangga. Tujuan penelitian: 1). Mengetahui penggunaan lahan pekarangan. 2). Menghitung Produksi pangan dan pendapatan dari pekarangan. 3). Menganalisis sumbangan pekarangan terhadap pendapatan keluarga. 4). Mengetahui hambatan dalam pemberdayaan pekarangan. Penelitian dilaksanakan dengan metode survey.  Hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut:1). Luas lahan pekarangan rata-rata 22,80 m2. 85,82%  atau 19,57 m2 telah dimanfaatkan. Komoditi yang diusahakan didominasi kelompok sayur (70%), tanaman buah dan tanaman rempah (43,33%), kelompok  hewani yang diusahakan; ayam (26,67%) dan ikan (10%). 2). Produksi dan pendapatan dari lahan pekarangan relatif rendah. 3). Sebagian besar rumah tangga sampel (46,7%) memiliki pendapatan dari pekarangan kurang dari Rp.100.000/bulan, rata-rata pendapatan sebesar Rp. 294.623/bulan. Sumbangan pendapatan pekarangan terhadap pendapatan keluarga  sebesar 93,33%. 4). Hambatan dalam pemberdayaan pekarangan;  kondisi lahan yang kurang subur, kurangnya modal yang dimiliki rumah tangga sampel, serta lahan yang relatif sempit.
KERAGAMAN KONSUMSI PANGAN RUMAH TANGGA DI KOTA PEKANBARU Nurwati, Niken; Mufti, Mufti; Alhaviz, Alhaviz
JAS (Jurnal Agri Sains) Vol 7, No 2: Desember 2023
Publisher : Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/jas.v7i2.1216

Abstract

Permasalahan di bidang pangan saat ini adalah keadaan dimana terjadinya ketidakmampuan perseorangan maupun rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan pangan dan keamanan pangan. Keseimbangan pangan yang dikonsumsi masyarakat digambarkan dalam pola konsumsi pangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kecenderungan keragaman pangan rumah tangga dan menganalisis keragaman pangan di kota Pekanbaru. Penelitian dilaksanakan dengan metode survey, yang mana unit analisa dalam penelitian ini adalah rumahtangga.Penarikan responden secara Cluster Samplingberdasarkan wilayah pertanian dan non-pertanian, dengan jumlah sampel 100 orang. Data yang dikumpulkan dalam penelitian meliputi data primer dan data sekunder, kemudian data diolah secara diskriptif dan kuantitatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa: 1). Konsumsi pangan kelompok padi-padian didominasi oleh beras, rata-rata 2-3 kali perhari. Kecenderungan konsumsi gandum dan olahannya lebih tinggi (57%) dibandingkan jagung dan olahannya (12%). Kelompok pangan umbi-umbian yang lebih banyak dikonsumsi responden adalah ubi kayu (81%). 2). Rendahnya skor PPH di Pekanbaru dibandingkan capaian PPH nasional yaitu sebesar 87,2.
The Effect of Fertilizer Treatment on the Morphology of Maize (Zea mays) Planted in An Intercropping System in the Immature Oil Palm Plantation Alhaviz, Alhaviz; Hariyadi, Hariyadi; Supijatno, Supijatno
Journal of Tropical Crop Science Vol. 8 No. 03 (2021): Journal of Tropical Crop Science
Publisher : Department of Agronomy and Horticulture, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jtcs.8.03.187-194

Abstract

Applying and optimizing an intercropping system between oil palm and seasonal crops such as maize in the immature palm oil plantation is one way of obtaining additional income for farmers until the main crop (oil palm) mature and ready to harvest. The aim of the research was to determine the effects of fertilizers, particularly nitrogen (N) and potassium (K) on the growth and production of maize in an intercropping system with oil palm. The experiment, using one-factor randomized complete block design, was conducted at the Cikabayan Experimental Station, IPB University, Indonesia, from August to December 2020. Four set-ups were prepared corresponding to four different fertilizer applications as follows: A0 (without treatment), A1 (240 g Urea + 80 g KCl + 320 g SP-36 per plot), A2 (480 g Urea + 160 g KCl + 320 g SP-36 per plot), A3 (720 g Urea + 240 g KCl + 320 g SP-36 per plot). Applying the highest dosages of N and K (A3), significantly increased plant height, fresh weight, number of leaves, leaf area, stem diameter, cob length, cob weight, and husk-free cob weight. Intercropping maize with immature oil palm did not affect the oil palm growth.
Evaluation of the Physiological Quality of Rice Seeds (Oryza sativa) under Salinity and Pyrite Stress Conditions Laksamana, Hariy; Alhaviz, Alhaviz; Lestari, Sri Utami
Journal of Applied Agricultural Science and Technology Vol. 9 No. 4 (2025): Journal of Applied Agricultural Science and Technology
Publisher : Green Engineering Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55043/jaast.v9i4.429

Abstract

Salinity and pyrite are abiotic stress factors that can affect the physiological quality of rice seeds. This study aimed to evaluate the effects of salinity and pyrite stress on the viability and vigor of rice seeds. The research was conducted using a completely randomized design (CRD) with two factors: salinity levels (0 mM, 50 mM, and 100 mM NaCl) and pyrite dosages (0 mg, 200 mg, and 400 mg). The observed parameters included germination, maximum growth potential, vigor index, growth speed, simultaneous growth, and growth rate. The results showed that salinity stress significantly affected the vigor index and growth speed, while pyrite stress only influenced the growth speed. The interaction between the two factors did not show a significant effect on all physiological quality parameters of the seeds. However, there was a tendency for a decline in germination percentage, maximum growth potential, vigor index, growth speed, and simultaneous growth. The combination of high salinity stress (100 mM) and high pyrite dosage (400 mg) caused more pronounced growth retardation, particularly after day 10. Although rice seeds were able to maintain tolerance at low to moderate stress levels, an increase in the intensity of stress from both factors could hinder water and nutrient absorption, thereby reducing overall growth performance. The findings of this study provide insights into the tolerance limits of rice seeds to salinity and pyrite stress, which can serve as a basis for managing suboptimal lands for more sustainable rice production.