. Giyanto
Department Of Plant Protection, Faculty Of Agriculture, IPB University Jln. Kamper, Kampus IPB Dramaga, Bogor, West Java 16680

Published : 26 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Buletin Agrohorti

Pelapisan Benih Menggunakan Bakteri Probiotik untuk Mempertahankan Viabilitas Benih Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt.) selama Penyimpanan Sarah Desmia Muchtar; Eny Widajati; . Giyanto
Buletin Agrohorti Vol. 1 No. 4 (2013): Oktober 2013
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.15 KB) | DOI: 10.29244/agrob.1.4.26-33

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan pelapisan benih menggunakan bakteri Bacillus subtilis, Serratia marcescens, dan Pseudomonas kelompok fluorescens terhadap viabilitas dan daya simpan benih jagung manis (Zea mays saccharataSturt.). Penelitian disusun dengan rancangan petak tersarang (Nested Design) dengan petak utama adalah periode simpan minggu ke 0, 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, dan 24 dan anak petak adalah perlakuan coating dengan bakteri Bacillus subtilis, Serratia marcescens, Pseudomonas kelompok fluorescens, dan kontrol. Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi yang sangat nyata antara perlakuan coating benih dan periode simpan terhadap daya berkecambah, berat kering kecambah normal, kadar air, dan populasi bakteri. Perlakuan coating benih dan periode simpan menunjukkan interaksi yang nyata terhadap indeks vigor benih. Tolok ukur kecepatan tumbuh benihhanya dipengaruhi oleh faktor tunggal periode simpan. Benih yang dilapisi bakteri menghasilkan nilai berat kering kecambah normal yang nyata lebih baik daripada benih tanpa coating. Benih tanpa coating memiliki nilai daya berkecambah sebesar 56.7% pada periode simpan 24 minggu. Benih yang dilapisi bakteri Bacillus subtilis dapat mempertahankan daya berkecambah hingga 64.0% sampai periode simpan 24 minggu, sedangkan Serratia marcescens mampu mempertahankan daya berkecambah hingga 60.0% . Berdasarkan tolok ukur daya berkecambah, pelapisan benih menggunakan bakteri Bacillus subtilis dan Serratia marcescens merupakan perlakuan pelapisan benih yang potensial untuk lebih dikembangkan. Bakteri Bacillussubtilis lebih mampu bertahan hidup selama penyimpanan dibanding dengan bakteri Serratia marcescens maupun Pseudomonas fluorescens.  Populasi bakteri Bacillus subtilis sampai dengan periode simpan 24 minggu adalah 14.2 × 104 cfu g-1.
Aplikasi Bakteri dalam Perlakuan Seed Coating untuk Mempertahankan Viabilitas dari Benih Cabai (Capsicum annuum L.) yang Sehat Herliyana Indahwardani; Eny Widajati; . Giyanto
Buletin Agrohorti Vol. 5 No. 1 (2017): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.984 KB) | DOI: 10.29244/agrob.v5i1.15883

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh perlakuan pelapisan benih menggunakan bakteri Bacillus subtilis, Pseudomonas keompok. fluorescens dan Serratia marcescens terhadap viabilitas benih cabai (Capsicum annuum L.) selama di penyimpanan. Penelitian ini mengunakan rancangan petak tersarang dengan tiga ulangan. Petak utama adalah periode simpan (0, 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21 dan 24 minggu) dan anak petak adalah perlakuan coating dengan bakteri tertentu (Bacillus subtilis, Pseduomonas kelompok fluorescens, Serratia marcescen dan kontrol). Benih cabai IPB C5 masih memiliki viabilitas yang cukup baik  hingga akhir penyimpanan, ditunjukkan dengan nilai daya berkecambah sebesar 77.33%. Perlakuan kontrol dan coating menggunakan bakteri menunjukkan nilai daya berkecambah, indeks vigor, kecepatan tumbuh dan bobot kering kecambah normal yang tidak berbeda nyata. Ketiga bakteri yang digunakan sebagai pelapis masih dapat hidup sampai periode simpan 24 minggu dengan populasi 5.89 x 104 cfu g-1 untuk Pseudomonas kelompok fluorescens, 4.79 x 104 cfu g-1 untuk Bacillus subtilis dan 1.70 x 104 cfu g-1 untuk Serratia marcescens.