Larisa Paramitha
Departemen Dermatologi Dan Venereologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Indonesia

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

VERUKA VULGARIS LUAS AKIBAT PENYALAHGUNAAN KORTIKOSTEROID TOPIKAL PADA IBU HAMIL: SEBUAH LAPORAN KASUS Sukmara, Isni Maulina; Wibawa, Larisa Paramitha; Rakasiwi Ningrum, Rizki Irianti; Kusumaningrat, I Gst. Ayu Mirah
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 1 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i1.521

Abstract

Pendahuluan: Veruka vulgaris merupakan lesi jinak akibat infeksi human papilloma virus (HPV) yang perjalanan klinisnya dipengaruhi oleh sistem imun. Kondisi imunosupresi dapat mencetuskan reaktivasi infeksi HPV laten dan meningkatkan derajat keparahan penyakit. Kasus: Seorang wanita hamil berusia 40 tahun mengeluhkan papul-plak hiperkeratotik eritematosa pada pipi dan hidung sejak dua bulan yang diperberat dengan penggunaan kortikosteroid topikal potensi tinggi secara oklusi selama satu bulan. Pemeriksaan dermoskopi didapatkan gambaran densely packed papillae, central red dotted vessels, whitish halo, dan dark red hemorrhagic crust. Pasien didiagnosis veruka vulgaris, disarankan untuk menghentikan penggunaan kortikosteroid topikal dan diberikan pelembap krim ambiphilic hipoalergenik. Dalam pemantauan, lesi mengalami perbaikan dan menghilang spontan dalam waktu 1,5 bulan. Diskusi: Diagnosis veruka vulgaris dapat ditegakkan berdasarkan gambaran klinis dan dermoskopi. Perubahan sistem imun yang dialami oleh wanita hamil serta penggunaan kortikosteroid topikal dapat menyebabkan imunosupresi lokal pada kulit sehingga meningkatkan risiko veruka vulgaris. Veruka vulgaris dapat mengalami regresi spontan pada pasien imunokompeten. Penghentian kortikosteroid topikal dapat membantu menghentikan progresivitas penyakit. Kesimpulan: Kami melaporkan satu kasus veruka vulgaris yang diprovokasi oleh kortikosteroid topikal potensi tinggi jangka panjang. Kasus ini menekankan pentingnya penggunaan kortikosteroid topikal secara rasional disertai pemantauan ketat terutama pada ibu hamil agar efek samping terapi dapat dihindari. 
Kriteria ABCDE untuk Deteksi Dini Keganasan Kulit Parikesit Muhammad; Adhika Ayu Lestari; Kara Adistri; Ridha Sarly Amalia; Larisa Paramitha Wibawa
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49 No 11 (2022): Neurologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v49i11.322

Abstract

Tingginya insiden keganasan kulit yang ditemukan pada stadium lanjut membutuhkan kemampuan lebih baik untuk mengenali tanda dan gejala awal. Pengenalan dini gejala klinis kanker kulit berpigmen, terutama melanoma maligna, dapat dengan pemeriksaan lesi menggunakan kriteria ABCDE. Kriteria ini sederhana dan mudah digunakan, baik oleh tenaga medis maupun masyarakat awam. Makin banyak kriteria ABCDE yang terpenuhi, makin tinggi kemungkinan suatu lesi adalah kanker kulit. High incidence of skin malignancy found in advanced stages calls for a better clinical judgment to detect early signs and symptoms. Screening for early clinical findings of pigmented skin cancer, especially malignant melanoma, can use ABCDE criteria. The criteria are simple and easy to apply, either by medical professionals or general public. The more ABCDE criteria were met, the higher chance that a lesion is a skin cancer.
Comparing Sodium Fusidate and Petrolatum for Electrosurgery-related Wound Healing: A Double-blind Randomized Controlled Trial Parrol, Firman; Wibawa, Larisa Paramitha; Sitohang, Irma Bernadette Simbolon; Saldi, Siti Rizny Fitriana
Journal of General - Procedural Dermatology & Venereology Indonesia Vol. 9, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Electrosurgery is a common surgical technique used to treat skin tumors. This procedure produces necrotic skin, which might impair the wound healing process, prompting physicians to prescribe topical antibiotics to prevent infection. This study aims to analyze the efficacy of sodium fusidate ointment compared to petrolatum for wound healing after electrosurgery. Methods: We conducted a double-blind, randomized, controlled study with a within-person design. The inclusion criteria were adult subjects with seborrheic keratosis or acrochordon with a size of 4 mm to 10 mm on the face and neck, with a minimum of 2 lesions. Electrodessication was performed on the subject lesions. The patients were then randomized to receive and sodium fusidate ointment or petrolatum. Follow-up was done for up to 14 days, during which wound healing score, erythema, edema, crusts, re-epithelialization, incidence of infection, and subjective symptoms were assessed. This study is registered in ClinicalTrials.gov (NCT05353374). Results: Twenty-two subjects with 90 wounds were enrolled. The subjects had a mean age of 48.18 ± 11.25 years old and 86.4% of them had seborrheic keratosis. Statistical analysis revealed no significant difference in erythema, edema, crusts, re-epithelialization, infection, subjective symptoms, and total wound healing score appearance on days 3, 7, and 14 following the procedure. Conclusion: Both sodium fusidate ointment and petrolatum showed similar efficacy for wound healing after electrosurgery.