Antono, Yustinus Slamet
Unknown Affiliation

Published : 32 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

FUNGSI PERAYAAN ADAT BATAK DAN PERAYAAN SAKRAMEN PERKAWINAN PADA MASYARAKAT BATAK KATOLIK DALAM PERSPEKTIF FUNSIONALISME AGAMA Antono, Yustinus Slamet; Tambunan, Ade Christianto; Nadeak, Largus
LOGOS Vol. 20 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v20i2.2996

Abstract

Mayoritas masyarakat Batak Toba adalah Kristen (Protestan dan Katolik). Fungsionalisme agama memandang sesuatu sebagai agama dalam karakternya yang menyatukan masyarakat. Perayaan adat perkawinan Batak berdasar pada penghayatan akan sistem sosial dalihan na tolu. Perayaan sakramen perkawinan berdasar pada kepercayaan akan subjek spiritual yang disebut Tuhan. Kedua perayaan berfungsi dalam masyarakat. Dalam analisa fungsi integratif perayaan adat perkawinan Batak dan perayaan sakramen perkawinan mempengaruhi nilai-nilai perkawinan. Perkawinan dihayati mengandung kesepakatan bebas kedua pengantin, keterlibatan keluarga dan struktur dalihan na tolu, kehadiran Tuhan, kesetiaan perkawinan, serta penerusan keturunan sebagai tujuan perkawinan. Dalam fungsi laten of maintenance, perayaan adat perkawinan diterima dan membuat masyarakat menghidupi nilai-nilainya karena merupakan tradisi warisan yang bernilai baik, merupakan syarat untuk menerima hak sebagai anggota masyarakat, serta merupakan sarana menerima berkat berupa kehangatan relasi sosial. Perayaan sakramen perkawinan diterima dan membuat masyarakat menghidupi nilai-nilainya karena merupakan sarana berelasi dengan Tuhan, merupakan sarana memohon dan menerima berkat berupa optimisme hidup perkawinan, serta pengaruh dari lingkungan sosial.
HUBUNGAN ANTARA PEMAHAMAN ORANG TUA TENTANG KEWAJIBAN DAN HAK MENDIDIK ANAK TERHADAP PRAKTIK PENDIDIKAN ANAK: Studi di Paroki Santa Maria Bunda Yesus, Tirtonadi, Padang Purba, Asrot; Antono, Yustinus Slamet; Nadeak, Largus; Hanggoro, Benediktus Bagus
LOGOS Vol. 21 No. 1 (2024): Januari 2024
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v21i1.3416

Abstract

Orang tua adalah pendidik yang pertama dan utama bagi anak-anak mereka. Gereja menetapkan dalam kanon 226, §2, bahwa orang tua memiliki tugas untuk mengusahakan pendidikan kristiani kepada anak-anak mereka. Gereja menetapkan norma-norma pelaksana kewajiban dan hak orang tua mendidik anak yang diwujudkan dalam pendidikan anak dalam keluarga, pemilihan sarana pendidikan dan hubungan dengan para pendidik lainnya. Penulis melihat ada kemungkinan bahwa pemahaman orang tua tentang kewajiban dan hak mendidik anak memiliki hubungan (korelasi) yang positif dan signifikan dengan praktik pendidikan anak. Untuk membuktikannya, Penulis mengadakan penelitian kuantitatif di Paroki Tirtonadi, Padang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman orang tua mengenai kewajiban dan hak mereka mendidik anak berkorelasi secara positif dan signifikan terhadap praktik pendidikan anak. Apabila orang tua memiliki pemahaman yang baik mengenai kewajiban dan hak mendidik anak, maka praktik pendidikan anak juga akan berlangsung baik. Namun apabila orang tua memiliki pemahaman yang tidak baik mengenai kewajiban dan hak mendidik anak, maka praktik pendidikan anak juga akan berlangsung tidak baik.
PENGHAYATAN TEPO SELIRO DALAM BUDAYA JAWA DI INDONESIA SEBAGAI SUMBANGSIH BAGI DUNIA MASA KINI UNTUK MEMBANGUN PERSAUDARAAN UNIVERSAL: Uraian Deskriptif-Kritis Terhadap Situasi Dunia Masa Kini dalam Perspektif Budaya Jawa sebagai Usaha untuk Membangun Persaudaraan Universal Pratama, Fransiskus Asisi Satria Rudi; Stanislaus, Surip; Antono, Yustinus Slamet
LOGOS Vol. 21 No. 1 (2024): Januari 2024
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v21i1.3421

Abstract

Dunia zaman sekarang sedang mengalami krisis moralitas. Dampak buruk dari krisis moralitas menimbulkan masalah sosial, seperti kesenjangan dan ketidakadilan sosial. Secara kongkrit, masalah sosial ini tampak dalam adanya sikap-sikap manusia untuk memanipulasi nilai luhur kehidupan, eksploitasi sosial serta lumpuhnya relasi sosial, semakin lama manusia jatuh pada sikap individulisme. Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki martabat, hak dan kewajiban yang sama untuk mengembangkan hidup bersama. Salah satu usaha untuk, membangun hidup bersama adalah menerapkan Tepo Seliro. Melalui penerapan Tepo Seliro, Setiap orang diajak untuk membangun dunia masa kini dalam persaudaraan universal. Hal ini dapat diwujudkan melalui sikap keluar dan diri sendiri, menumbuhkan kasih yang terbuka, melampaui kepentingan dan status sosial serta menciptakan kebaikan bersama. Melalui sikap-sikap seperti itu, maka semua manusia dapat bekerja sama untuk mengembangkan hidup bersama secara adil dan bermartabat.
BERSUKACITA DALAM PENDERITAAN SETURUT TELADAN FAUSTINA Donobakti, Yohanes Anjar; Kuniawan, Agustinus; Antono, Yustinus Slamet
LOGOS Vol. 21 No. 2 (2024): Juli 2024
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v21i2.3954

Abstract

Manusia selalu ingin hidup damai, sejahtera, dan penuh sukacita, jauh dari segala penderitaan. Namun, dalam usaha pencarian itu, ia sering tidak menyadari bahwa dirinya justru mengalami penderitaan, kehilangan pegangan hidup, dan mengalami krisis iman. Sehingga tidak jarang relasi antara manusia dan Allah menjadi jauh dan ia merasa ditinggalkan oleh-Nya. Relasi yang renggang antara manusia dan Allah disebabkan oleh kesombongan manusia. Manusia yang sombong menganggap dirinya dapat selamat apabila ia menggunakan kekuatannya sendiri tanpa bantuan dari Allah. Kesombongan manusia sangat bertolak belakang dengan kodratnya yang rapuh dan lemah. Kodrat manusia itu tidak terlepas dari penderitaan. Penderitaan yang menjadi bagian dari hidup harus diterima dan dihadapi. Faustina menyadari dirinya yang rapuh dan lemah tidak terlepas dari penderitaan dalam hidupnya. Tetapi ia dapat menghadapi penderitaannya dengan sukacita. Sukacita dalam penderitaan terjadi karena ia mengalami kehadiran Yesus dalam doa dan karyanya. Kehadiran Yesus itu mengampuni, menghibur, menyembuhkan, dan menyelamatkan. Demikian juga dengan umat manusia yang menerima dan menyatukan penderitaannya bersama penderitaan Yesus, ia dapat mengalami sukacita dalam penderitaan dan dapat mengatasi kesulitan hidupnya setiap hari. Bersukacita dalam penderitaan membuat umat beriman semakin dimurnikan dan bersatu dengan Allah sang sumber Cinta dan Kerahiman.
“HOMO AXIOLOGICUS” DIMENSI FENOMENOLOGIS DAN ONTOLOGIS NILAI Gunawan, L.A.S.; Tinambunan, Laurentius; Antono, Yustinus Slamet
LOGOS Vol. 22 No. 1 (2025): Januari 2025
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v22i1.4470

Abstract

Homo axiologicus starts from the concept of human nature as a thoughtful animal (animal rationale). Human beings are part of the animal kingdom, but they transcend it due to their capacity for thinking. By thought, humans differentiate themselves from other animals. One key distinction is their ability to engage with and live by values, which is what defines homo axiologicus. This article aims to explain the phenomenological and ontological dimensions of value. The phenomenological dimension deals with how values appear or present themselves in human experience. The central question posed here is: How do values appear in human consciousness? Furthermore, the ontological dimension concerns the existence and nature of values, addressing questions such as: What are values? How do values exist? Where do values originate? Through these two dimensions, values in human consciousness possess two aspects: on one hand, values manifest in daily life and academic life; on the other hand, the values that appear in consciousness have an essential foundation. Therefore, values in the life of homo axiologicus present themselves existentially through both the phenomenological and ontological dimensions, demonstrating that human beings are rational beings as well as volitional beings in the world.
KOMUNITAS BASIS GEREJAWI SEBAGAI SALAH SATU WADAH SOSIALISASI SEMANGAT PERSAUDARAAN UNIVERSAL ENSIKLIK FRATELLI TUTTI DI PAROKI MARIA BUNDA PEMBANTU ABADI, BATAM Sitepu, Mitsiebenson; Moa, Antonius; Antono, Yustinus Slamet
LOGOS Vol. 22 No. 2 (2025): Juli 2025
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

As small faith-based communities, Basic Ecclesial Communities (BECs) play a strategic role in fostering bonds of solidarity, dialogue, and compassion toward others, transcending ethnic, cultural, and religious boundaries, core principles promoted in Fratelli Tutti. In the context of MBPA Parish, BECs function not only as spaces for communal faith gatherings but also as arenas for faith formation and the cultivation of social awareness. The methodology employed in this study combines both library research and fieldwork. Data were collected through literature review involving books, articles, and journals relevant to the research theme, as well as through field interviews conducted. The data were analyzed by interpreting the interview findings in light of the principles and values of universal fraternity as articulated in Fratelli Tutti. The findings reveal that BECs in MBPA Parish serve as both a means of faith formation and a locus for social praxis. Through regular meetings, social outreach, and engagement with the broader community, BECs reinforce values of solidarity, care for the marginalized, and foster spaces for intergroup dialogue. However, the research also identifies several challenges, both internal and external. Internal challenges include the limited realization of dialogue, openness, and shared responsibility among BEC members in daily life. External challenges manifest in societal stigma and negative perceptions toward Catholics by other groups. The study concludes that BECs, when guided by a vision aligned with the spirit of Fratelli Tutti, have the potential to be effective instruments for the socialization of universal fraternity, embodied in dialogue, openness, and shared responsibility. Continuous and consistent socialization processes may ultimately contribute to social transformation toward a more just, peaceful, and fraternal world.
TOKOH PANUTAN-KHARISMATIS DALAM KEBHINEKAAN Antono, Yustinus Slamet
LOGOS Vol 14 No 2 (2017): Juni 2017
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v14i2.340

Abstract

Isu kebhinekaan atau keberagaman akhir-akhir ini diserukan kembali oleh orang-orang yang dianggap tokoh atau menokohkan diri dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Pengangkatan kembali isu-isu tersebut bisa dimaklumi karena akhir-akhir ini tindakan-tindakan yang mengarah pada radikalisme muncul di berbagai tempat di Indonesia. Artinya, terdapatnya kelompok masyarakat yang anti kebhinekaan (tidak terang-terangan) itu pernah muncul pada masa-masa sebelumnya tetapi frekuensinya tidak sebanyak yang terjadi pada akhir-akhir ini. Bukan tidak mungkin gerakan-gerakan tersembunyi seperti itu membahayakan keutuhan negara. Tokoh panutan-kharismatis yang mengedepankan kebhinekaan demi keutuhan negara selalu dibutuhkan agar masyarakat Indonesia terbebas dari kekacauan yang disebabkan oleh sara (suku, agama dan ras).
RUMAH TRADISIONAL BATAK TOBA MENUJU KEPUNAHAN : Suatu Analisis Antropologis Antono, Yustinus Slamet
LOGOS Vol 4 No 2 (2005): Juni 2005
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v4i2.397

Abstract

The progress of science and technology give a great effect to human culture. New inventions or methods, either they are beneficial or not for human life, slowly put aside the people way of life is the which has already been practiced along the centuries or even take its place. One of the richness of Indonesian cultures is that there are so many kinds of traditional houses. It is one of the identities of tribes. Almost in all places in Indonesia, the forms of the traditional house-buildings are changing, even some of them are going to be disappeared. This article is a result of research on a changing culture, especially that of orientation of the Bataks in building their dwelling. Through library research on the traditional-house building of Toba Batak’s and studies on theory of culture and field research, this article describes the causal factors of the decreasing of the traditional-house building among the Toba Bataks.
MANIFESTASI THE SACRED PADA MASYARAKAT INDONESIA: Adisi Substitusi dan Sinkretisasi Antono, Yustinus Slamet
LOGOS Vol 16 No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v16i1.564

Abstract

Selain yang diajarkan dalam agama-agama resmi, setiap suku bangsa Indonesia juga memiliki keyakinan-keyakinan asli terkait dengan apa saja yang dianggap sakral (the sacred). Lebih dari itu adat-istiadat yang ditampakkan dalam upacara-upacara tradisional bisa dengan mudah dicari hubungannya dengan apa yang dianggap sakral itu. Artikel ini akan menampilkan beberapa manifestasi yang sakral dalam kehidupan sehari-hari yang sebenarnya bisa merupakan substitusi (penggantian), adisi (tambahan) dan sinkretisasi (penyesuaian, penyelarasan). Untuk memperluas sudut pandang terhadap fenomena itu, dalam artikel ini akan dihadirkan gagasan-gagasan antropolog dan sosiolog yang mendalami masalah keagamaan.
KEBUDAYAAN BUKAN HANYA SEKEDAR ADAT-ISTIADAT Antono, Yustinus Slamet
LOGOS Vol 13 No 1 (2016): Januari 2016
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v13i1.869

Abstract

Dalam percakapan sehari-hari oleh kebanyakan orang kebudayaan sering dimengerti sebagai adat-istiadat suku bangsa tertentu atau kesenian daerah suku bangsa tertentu.  Di sisi lain jika membaca tulisan-tulisan tentang kebudayaan, kita akan menemukan bermacam-macam definisi kebudayaan dan argumentasi-argumentasinya mengapa kebudayaan didefinisikan seperti itu. Tulisan ini mengangkat beberapa aspek yang biasanya dibicarakan para ahli jika mereka melukiskan kebudayaan.