Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

THE UNIQUE A OLD ARTEFACT STONE'S DALAM BUSANA EDGY STYLE Wartini, Ketut Ari; Sudharsana, Tjok Istri Ratna Cora; Mudarahayu, Made Tiartini
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 4 No. 2 (2024): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v4i2.4416

Abstract

Di Indonesia memiliki banyak bentuk-bentuk proses penguburan dengan menggunakan wadah dan banyak ragamnya, hal ini merupakan menjadi bukti adanya kemampuan dan alam pikiran sendiri dan setiap daerah mempunyai ciri khas masing-masing. Adanya perbedaan bentuk dan jenis wadah kuburan, pada satu sisi dapat dipandang sebagai suatu perkembangan yang mungkin bersifat lokal karena pengaruh lingkungan alamnya, tetapi dapat juga dianggap sebagai suatu proses perkembangan budaya dari masa ke masa. Bentuk-bentuk wadah kubur yang terbuat dari batu dapat dibedakan dalam beberapa jenis, misalnya: kubur dolmen (hybrid dolmen graves), kubur peti batu (stone-cist graves atau stoneslab graves), tempayan batu (stone vats), dan keranda batu atau sarkofagus (Heine Geldern 1945: 148-152; Soejono, 1977: 31) Masyarakat (suku) Minahasa yang terletak di Sulawesi Utara ini merupakan suku di Indonesia yang memiliki bentuk-bentuk budaya khas, yang berupa peninggalan berupa tradisi penguburan yang sudah ada pada zaman megalitik yang berupa kubur peti batu atau yang sering disebut dengan waruga. Dari hasil penelitian terlihat bahwa kubur batu waruga ini ternyata mempunyai beberapa ciri khas bentuk keragaman seperti tutupnya, tetapi ternyata beberapa keragaman bentuk tutup waruga ini tidak memperlihatkan adanya suatu simbol dari status sosial masyarakat pendukungnya, seperti contoh kebanyakan tradisi penguburan yang ada didaerah lain berciri megalitik lainnya.
WANGUNAN BETENG URIP : ANALOGI RUMAH ADAT JOGLO PENCU PADA BUSANA BERGAYA LOGIC DENGAN UNSUR KULTURAL Indartini, Ni Putu Melani; Pebryani, Nyoman Dewi; Mudarahayu, Made Tiartini
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 4 No. 2 (2024): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v4i2.4421

Abstract

Rumah Joglo Pencu merupakan sebuah bangunan tradisional yang berasal dari Kudus, Jawa Tengah. Joglo Pencu merupakan sebuah rumah hunian yang memiliki keunikan pada bagian struktur dan juga sejarah pendiriannya yang membedakannya dari rumah Joglo lainnya. Rumah Joglo Pencu sendiri merupakan karya seorang imigran China bernama The Ling Sing yang mana mualaf dan dipanggil Kiayai Telingsing. Aristektur Joglo Pencu memiliki perbedaan dengan Joglo lainnya, seperti pada tata ruangnya yang lebih sederhana, jenis atap yang digunakan, dan berbagai jenis ukiran yang diterapkan. Metode penciptaan menggunakan tahapan penciptaan "Frangipani" Design Fashion dari Dr. Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana, tahun 2016. Dari sepuluh tahap nantiny akan digunakan hanya delapan tahap Rumah Joglo Pencu diwujudkan dalam bentuk analogi diterapkan dalam busana ready to wear, ready to wear deluxe, dan haute couture dengan kata kunci yang terpilih dengan menggunakan style Logic. Ide dari busana ini nantinya diharapkan dapat menambah referensi kepustakaan mengenai arsitektur Indonesia salah satunya Joglo Pencu, dan dapat mengenalkan Joglo Pencu secara detail lebih luas kepada masyarakat.
JULUK ADOK : TRADISI CAKAK PEPADUN LAMPUNG DALAM PENCIPTAAN BUSANA READY TO WEAR, DELUXE DAN SEMI COUTURE Siti Wasi’aturrizqi; Sudharsana, Tjok Istri Ratna Cora; Mudarahayu, Made Tiartini
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 4 No. 2 (2024): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v4i2.4423

Abstract

Tradisi Cakak Pepadun dari Lampung, Sumatera, memiliki akar sejarah dari Kerajaan Lampung pada abad ke-17. Sebagai seni bela diri khas, Cakak Pepadun telah menjadi bagian vital dari kehidupan masyarakat Lampung selama berabad-abad. Nilai-nilai tradisionalnya tetap dijaga dan diajarkan melalui pelatihan dan pertunjukan. Dalam mempromosikan budaya Lampung, penggunaan berbagai jenis busana seperti Ready to Wear, Deluxe, dan Semi Couture memegang peran penting. Perbedaan antara ketiganya terletak pada kualitas, eksklusivitas, dan harga. Dalam era modern, pengembangan proses pengenalan budaya adat penting untuk menarik perhatian baik dari lokal maupun luar Lampung, membantu melestarikan dan memperkaya warisan budaya di tengah perubahan zaman.
The Grandeur of the Eruption of Benteng Belgica Representasi Benteng Belgica dalam Busana Bergaya Exotic Dramatic Suganda, Tyasa Romadhona Jaya; Priatmaka, I Gusti Bagus; Mudarahayu, Made Tiartini
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 4 No. 2 (2024): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v4i2.4424

Abstract

Benteng Belgica merupakan benteng pertahanan yang dibangun oleh Portugis pada abad ke-16 di Pulau Banda Neira, Maluku. Benteng ini dibangun guna menghadapi perlawanan rakyat Banda akan penentangan monopoli perdagangan pala oleh VOC. Selama masa perang dunia, benteng ini telah 3 kali mengalami pergantian kepemilikan yakni Portugis, Belanda, dan Indonesia. Kontruksi bangunan yang terdiri dari dua tumpuk membuat benteng ini sangat kokoh. Dengan pola dasar bangunan segilima atau lebih dikenal pentagon membuat benteg Belgica memiliki lima titik pengamatan utama yang setiap titiknya terdapat bastion dan Menara pengamatan. Dengan keunikan benteng ini yang merupakan ikon dari uang pecahan 1000 rupiah menjadikan penulis ingin leboh memperkenalkan Benteng Belgica dalam nuansa busana extotic dramatic kedalam tiga jenis busana yakni ready to wear busana pria, ready to wear deluxe busana Wanita, dan Semi Couture busana Wanita. Dalam penciptaan karya penulis menggunakan metode FRANGIPANI merupakan 10 tahap penciptaan busana dan gaya ungkap analogi.
BALA PALA INDONESIA: CREATIVE PROCESS OF CONCEPTUAL ILLUSTRATION BASED ART FASHION Mudarahayu, Tiartini
International Journal of Social Science Vol. 5 No. 4 (2025): December 2025
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53625/ijss.v5i4.11868

Abstract

Banda nutmeg sparked conflict, until thenegotiations culminated in the signing of three peace treaties known as the Treaty of Breda, one of which concerned the exchange of Run Island and Manhattan. Seeing Banda nutmegas a subject that can be read as a source of inspiration with an interdisciplinary basis for art fashion, the author chose illustrations with the phenomenon of `Cinderella` art as the background, as a medium for expressing the work. The method used is the elaboration of frangipani and three aesthetic approaches by referring to the theoretical foundations of creativity, product semantics, and phenomenological aesthetics. The results of the research synthesis of creation in the form of novelty conceptual illustration works based on art fashion in the collection of works "Bala Pala Indonesia", seven works in textile media with interdisciplinary creative processing techniques. The formulation of the stages of the creative process in question consists of: 1) Determination of the subject of creation; 2) Research consisting of a review of literature and sources of works with similar ideas that have existed previously and experimental research on the subject of creation as well as; 3) Exploration of forms, mediums, and creative techniques based on research results; 4) sample creation; 5) embodiment of the work; 6) presentation of the work. These process stages are flexible and can be adjusted to the needs of users.
“AYUNING ANGGA” EKSPLORASI VISUAL TARI REJANG AYUNAN SEBAGAI INSPIRASI PERANCANGAN KARYA BUSANA TUGAS AKHIR Ni Putu Galuh Rani Shanty; Made Tiartini Mudarahayu; Ni Luh Ayu Pradnyani Utami
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 6 No. 1 (2026): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Eksplorasi warna dalam rancangan busana yang terinspirasi dari tradisi “Rejang Ayunan”. Tradisi Rejang Ayunan ini adalah bentuk rasa syukur dari masyarakat desa pupuan terhadap Ida Sang Hyang Widhi. Tema-tema tersebut menjadi dasar konsep dalam penciptaan karya busana ini. Metode penciptaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Frangipani, yang menekankan proses eksplorasi ide, riset visual dan emosional, analisis elemen seni dan budaya, hingga perwujudan karya busana secara konseptual. Hasil dari penciptaan ini berupa rancangan busana yang memvisualisasikan tahapan perjalanan emosional, mulai dari konflik batin, kesadaran akan arti pulang, refleksi diri, hingga transformasi menuju penerimaan diri. Melalui karya busana ini, diharapkan sebagai medium artistic yang mampu menyampaikan pesan emosional secara visual, sekaligus menunjukan bahwa desain mode dapat berfungsi sebagai sarana menuangkan narasi diri dan memiliki nilai estetika, konseptual, dan emosional.