Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Estetika Bentuk Busana Pada Lukisan Wayang Kamasan Made Tiartini Mudarahayu; I Nyoman Sedana; Anak Agung Gede Rai Remawa; I Ketut Sariada
PANGGUNG Vol 31, No 2 (2021): Estetika Dalam Keberagaman Fungsi, Makna, dan Nilai Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1072.137 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v31i2.1573

Abstract

Di balik keberagaman bentuk busana dalam lukisan Wayang Kamasan, terdapat pakem dan kreativitas bagi pelukis gaya Kamasan, mengingat bahwa kesenian ini merupakan kesenian klasik dan komunal di Bali. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan estetika bentuk dari Thomas Munro yang menyatakan bahwa satu benda seni memiliki pengorganisasian unsur dan detail yang ditujukan untuk menyampaikan imajinasi dan pesan dari sebuah objek, adegan, situasi dalam benda seni tersebut. Hasil studi menunjukkan bahwa motif busana figur dalam seni lukis Wayang Kamasan dapat dibagi dalam tiga bagian, yaitu: (1) Bagian kepala (utama), terdiri atas motif yang menggambarkan identitas utama dari figur yang ingin disampaikan, contohnya: motif buana lukar pada figur Bima. (2) Bagian badan (madya), terdiri dari motif pendukung identitas figur, contohnya: motif gelang kana pada figur Tualen. (3) Bagian kaki (nista), terdiri atas motif kain yang mendukung identitas figur, seperti motif poleng pada figur Bima. Motif yang menjadi pakem dan tidak dapat diubah polanya adalah motif utama, sedangkan sebagian dari motif isian bersumber dari kreativitas masingmasing seniman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat ruang eksplorasi yang luas bagi kreativitas seniman lukis Wayang Kamasan.Kata Kunci: Estetika Bentuk, Motif Busana, Lukisan Wayang Kamasan, Pakem, Kreativitas
BÈRBUDI BAWA LEKSANA BUSANA ADAT BALI KE KANTOR YANG MODIS, TERJANGKAU, DAN BERKELANJUTAN Ni Putu Darmara Pradnya Paramita; Made Tiartini Mudarahayu; Ni Kadek Yuni Diantari
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 11, No 2 (2022): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v11i2.39328

Abstract

The Balinese people's disobedience to the Bali Governor's Regulation Number 79 of 2018 which can be seen through violations by not using traditional clothes on a predetermined day, gave rise to the idea of creating Balinese traditional clothing by carrying out the concept of being fashionable, affordable and sustainable. Fashionable means in accordance with ethics, looks attractive and raises the personal character of the wearer. Affordable is defined as a price that is not expensive because it uses materials produced by local weavers from Nusa Penida and Sidemen Karangasem. Sustainable means creating synergies in the industrial cycle, by prioritizing traditional Balinese textiles produced by local weaver and is expected to lead to the preservation of textiles, both tangible and intangible. This concept is implemented in Bèrbudi Bawa Leksana's fashion collection consisting of 6 clothes created by referring to Frangipani's method. The research and creation of the Bèrbudi Bawa Leksana collection is expected to be a means of education for the Balinese people and a form of academic and professional contribution in supporting government regulations for mutual progress.   Keywords: traditional clothing, balinese, fashionable, affordable. AbstrakKetidakpatuhan masyarakat Bali terhadap Peraturan Gubernur Bali Nomor 79 Tahun 2018 yang dapat dilihat melalui pelanggaran dengan tidak menggunakan pakaian adat pada hari yang telah ditentukan, memunculkan gagasan penciptaan busana adat Bali dengan mengusung konsep modis, terjangkau dan berkelanjutan. Modis berarti sesuai dengan etika, tampak menarik dan memunculkan karakter pribadi si pengguna busana. Terjangkau dimaknai dengan Harga yang tidak mahal karena menggunakan bahan produksi penenun lokal asal Nusa Penida dan Sidemen Karangasem. Berkelanjutan berarti memunculkan sinergi dalam siklus industri, dengan mengutamakan tekstil tradisional Bali yang diproduksi pengrajin lokal dan diharapkan dapat bermuara pada pelestarian tekstil baik secara tangible maupun intangible. Konsep tersebut diimplementasikan dalam koleksi busana Bèrbudi Bawa Leksana terdiri atas 6 busana yang diciptakan dengan mengacu pada metode penciptaan Frangipani. Penelitian dan penciptaan koleksi Bèrbudi Bawa Leksana diharapkan dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat Bali dan salah satu bentuk kontribusi akademisi dan professional dalam mendukung peraturan pemerintah demi kemajuan bersama.Kata Kunci: busana adat, bali, modis, terjangkau. Authors:Ni Putu Darmara Pradnya Paramita: Institut Seni Indonesia DenpasarMade Tiartini Mudarahayu: Institut Seni Indonesia DenpasarNi Kadek Yuni Diantari : Institut Seni Indonesia Denpasar References:Agung, L., Kartasudjana, T., Permana, A. W. (2021). Estetika Nusantara dalam Karakter Gim Lokapala. Gorga Jurnal Seni Rupa, 10 (2), 473-477. http://dx.doi.org/10.24114/gr.v10i2.28556.Andriyanti, S., Sinaga, R., Lubis, R. (2022). Aplikasi Ornamen Sumatera Utara Kreasi Kekinian pada Desain Busana Ready-To-Wear dengan Teknik Sablon Printing. Gorga Jurnal Seni Rupa, 11 (1), 25 35.http://dx.doi.org/10.24114/gr.v11i1.28791.Arshiniwati, N. M. ., Mudra, I. W. ., Sustiawati, N. L. ., Sudibya, I. G. N. ., & Heriyawati, Y. . (2021). Representasi Budidaya Rumput Laut Dan Kain Rangrang Dalam Tari Gulma Penida. Mudra Jurnal Seni Budaya, 36(2), 237–244. https://doi.org/10.31091/mudra.v36i2.1475.Dewanti P. P. W. A., I Gusti A.M. (2020). Inovasi Busana Adat ke Pura (Wanita Modern). In: Seminar Nasional Desain dan Arsitektur. 412-417.Dewi Pebryani, N., Ratna C.S, T. I. ., Rai Remawa, A. A., & Radiawan, I. M. (2022). Digital Transformation in Endek Weaving Tradition. Mudra Jurnal Seni Budaya, 37(1), 78–85. https://doi.org/10.31091/mudra.v37i1.1886.Harmelia, C. , Yuliarma. Y. (2021). Perubahan Desain Busana Adat Pengantin Wanita di Kota Pariaman Sumatera Barat. Gorga Jurnal Seni Rupa, 10 (2), 515-521. https://doi.org/10.24114/gr.v10i2.29093.Hartini, L.P.I., Kartika S.,& Made S. (2021) Analisis Faktor Persepsi Akademisi Terhadap Penggunaan Busana Adat di Lingkungan Sekolah. E-Jurnal Matematika, 10(3).179-185. http://doi.org/10.24843/MTK.2021.v10.i03.p340.Hendra. H., & Agustin, D. (2022). Eksistensi Tenun Songket Halaban Kabupaten Lima Puluh Kota. Gorga Jurnal Seni Rupa, 11 (1), 202-2011. http://dx.doi.org/10.24114/gr.v11i1.28908.Laksana, S.B., Faradillah N. (2021). Rancangan Busana Ready to Wear Menggunakan Teknik Engineered Print. Jurnal Atrat 9(3), 266-274. http://dx.doi.org/10.26742/atrat.v9i3.1773.Mesra. M, Kartono, G., Ibrahim, A. (2022). Penerapan Ornamen Tradisional Sumatera Utara pada Toples Makanan Sebagai Sarana Revitalisasi. Gorga Jurnal Seni Rupa, 11 (1), 81-88. http://dx.doi.org/10.24114/gr.v11i1.33639.Mudarahayu, M. T., Sedana, I. N., Remawa, A. A. G. R., & Sariada, I. K. (2021). Estetika Bentuk Busana Pada Lukisan Wayang Kamasan. Panggung, 31(2).191-202. http://dx.doi.org/10.26742/panggung.v31i2.1573.Nabila, A., Sari Y. (2020). Penerapan Teknik Sablon Crack Binder Pada Adibusana Dengan Inspirasi Budaya Bali. Jurnal Atrat 8(2). 131-139. http://dx.doi.org/10.26742/atrat.v8i2.1522.Provinsi Bali. Peraturan Gubernur Nomor 79 Tahun 2018 Tentang Hari Penggunaan Busana Adat Bali. 2018.Sudharsana, T. I. R. C. (2016). Global Fashion Discourse In Cosmopolitan Kuta. International Journal of Multidisciplinary Educational Research, 5(8), 1-7. http://s3-ap-southeast-1.amazonaws.com/ijmer/pdf/volume5/volume5-issue8(1)-2016.pdf.UKM Karya Ilmiah Mahasiswa UNHI. (2020). Kearifan Lokal Bali di Era Milenial. Denpasar: UNHI Press Publishing.
BÈRBUDI BAWA LEKSANA: METAFORA AIR DALAM BUSANA ADAT BALI KE KANTOR Ni Putu Darmara Pradnya Paramita; Made Tiartini Mudarahayu; Ni Kadek Yuni Diantari
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 2 (2022): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasionar Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berbudi Bawa Leksana merupakan koleksi busana adat Bali ke kantor dengan konsep modis (fashionable), terjangkau (affordable), dan berkelanjutan (sustainable). Modis yang dimaksud adalah sesuai dengan nilai estetika, etika moral dan spiritual yang menggambarkan jati diri, karakter dan budi pekerti. Terjangkau yaitu harga dari busana adat Bali dapat dijangkau oleh masyarakat Bali, sedangkan berkelanjutan yaitu integritas ekologis dan keadilan sosial yang lebih luas melalui pemilihan bahan yang berkualitas produksi pengrajin lokal dengan nilai budaya Bali, sehingga terselip upaya pelestarian yang berkelanjutan baik dari sisi tangible maupun intangible tekstil Bali yang digunakan. Konsep modis, terjangkau dan berkelanjutan dalam Berbudi Bawa Leksana merupakan representasi dari metafora pergerakan air dari hulu ke hilir sekaligus metafora fungsi air, melalui aturan pemerintah melestarikan budaya hingga menyejahterakan masyarakat, serta pada akhirnya berujung pada siklus pelestarian budaya yang melibatkan pemerintah, pelaku seni budaya/produsen, dan masyarakat.
Jagat Nirmala: Tradisi Mebuug-Buugan Dalam Busana Style Feminine Exotic Berkolaborasi Dengan Butik Luh Jaum Puspa Anjani, Ayu Diah; Sudharsana, Tjok Istri Ratna Cora; Mudarahayu, Made Tiartini
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 3 No. 1 (2023): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v3i1.2228

Abstract

Tradisi Mebuug-buugan merupakan Tradisi Sakral yang dilaksanakan sehari setelah Hari Raya Nyepi oleh masyarakat Desa Adat Kedonganan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung. Menurut umat Hindu, tradisi ini bertujuan untuk menetralisir sifat buruk manusia. Dalam tradisi ini, lumpur menjadi simbol dosa yang melekat pada manusia dan saat tahun baru Caka dibersihkan. Secara etimologi bahasa mebuugbuugan berasal dari kata “Buug“ yang berarti tanah/lumpur dan “bhu” yang artinya ada atau wujud, sehingga berafiliasi 8 menjadi kata “Bhur ” yang artiya Bumi, tanah atau pertiwi sehingga awalan memenjadi sebuah kata kerja atau aktivitas.Dapat diartikan mebuug-buugan berarti sebuah interaktivitas dengan menggunakan tanah/ lumpur (buug) sebagai media. Oleh karena itu penulis ingin memperkenalkan tradisi mebuug-buugan a kepada masyarakat luas melalui penciptaan busana feminine exotic. Dalam penciptaan busana feminine exotic ini mempergunakan teori FRANGIPANI yaitu 8 tahapan penciptaan busana dan gaya ungkap analogi. Dari sepuluh metode tahapan FRANGIPANI hanya delapan metode penciptaan dijadikan sebagai landasan dalam penciptaan koleksi busana dengan ide pemantik tradisi mebuug-buugan kedalam tiga jenis busana meliputi ready to wear busana pria, ready to wear deluxe busana wanita, dan semi couture busana wanita. Hasil dari penciptaan busana ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dalam bidang fashion.
Sudhi Jagat Ambrastha Ama Metafora Tradisi Ngaben Bikul Sebagai Inspirasi Penciptaan Busana Classic Elegant Saraswati, Ni Made; Sudharsana, Tjok Istri Ratna Cora; Mudarahayu, Made Tiartini
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 3 No. 1 (2023): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v3i1.2229

Abstract

Ngaben tikus merupakan salah satu jenis upacara Nangluk Mrana. Hal ini diuraikan dalam buku upacara “Nangluk Mrana” karangan Tjokorda Raka Krisnu “Nangluk” berarti empangan, tanggul, pagar, atau penghalang dan “mrana” berarti hama atau bala penyakit. Mrana adalah istilah yang umum dipakai untuk menyebut jenis-jenis penyakit yang merusak tanaman. Tujuan dari Upacara Ngaben Tikus yakni untuk mengusir hama tikus. Di samping itu juga untuk mengembalikan roh tikus yang telah mati ke alamnya dan jika ditakdirkan terlahir kembali maka tidak lagi menjadi hama perusak sawah petani. Ngaben bikul mengandung nilai kearifan lokal dan juga nilai filosofi yang menyangkut aspek-aspek penting dalam kehidupan manusia menjadi inspirasi penulis dalam menciptakan karya tugas akhir dengan proses penciptaan frangipani. Frangipani merupakan tahapan penciptaan karya diterapkan kedalam tiga kategori yaitu busana ready to wear, ready to wear deluxe, dan houte couture. Menggunakan pendekatan metafora dengan gaya classic elegant yang merupakan penggabungan antara kesan klasik namun tetap elegan. Yang kemudian disimpulkan menjadi karya yang berjudul Sudhi Jagat Ambrastha Ama.
Digdaya: Analogi Debus Banten Sebagai Inspirasi Penciptaan Busana Edgy Romli, Mauliya; Sukmadewi, Ida Ayu Kade Sri; Mudarahayu, Made Tiartini
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 3 No. 1 (2023): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v3i1.2239

Abstract

Kesenian Debus adalah seni pertunjukan yang merupakan kombinasi dari seni tari, seni suara, dan seni olah batin yang bernuansa mistis. Fenomena mistis sudah dipercaya oleh sebagian masyarakat sejak jaman dulu, kepercayaan yang berbau mistis ini didasari dari ajaram agama yang tersebar dimasyarakat.Secara historis kesenian Debus Banten mulai dikenal pada abad ke17 pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa. Kesenian ini tumbuh dan berkembang bersamaan dengan berkembangnya agama Islam di Banten. Pada awalnya kesenian ini mempunyai fungsi sebagai penyebaran agama Islam. Sebagai bentuk perjuangan rakyat dari konflik dan bersitegang dengan penjajah, para ulama memberi “bekal” menumbuhkan keberanian para pemuda, sebuah ilmu kebal kental akan daya mistis. Dengan golok menyayat-nyayat tubuh mengeluarkan darah namun tidak terasa sakit dan dapat sembuh dengan cepat. Perjuangan pada setiap-setiap ritual dan pantangan yang tidak sembarangan orang dapat ikuti, kemistisan menjadi daya tarik kesenian debus. Tertususk-tusuk tercabik-cabik diiringi lantunan ayat mengiringi permainan gerakan demi gerakan dilakukan, menaiki puncak tangga disetiap anak tangga berupa golok tajam. Merokok menghasilkan asap yang lambat laun menghilang terbawa angin. Kearifan lokal Budaya Debus Banten menjadi inspirasi penulis dalam menciptakan karya Tugas Akhir yang digarap melalui proses penciptaan karya Frangipani. Melalui tahapan tersebut penulis dapat menciptakan karya melalui pendalaman tradisi kearifan lokal budaya Debus Banten yang kemudian diterapkan dalam tiga kategori busana, yakni busana ready to wear, busana deluxe, dan busana Couture. Karya busana tersebut akan digarap melalui pendekatan Analogi dengan gaya busana edgy, tradisi debus banten dengan judul “Digdaya”.
Kasut Kumis Semeru: Metafora Anggrek Selop Tanaman Endemik Jawa Timur dalam Penciptaan Busana Karya Tugas Akhir Abdi Isa, Ni Putu Maria; K. Tenaya, A.A. Ngurah Anom Mayun; Mudarahayu, Made Tiartini
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 3 No. 1 (2023): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v3i1.2245

Abstract

Anggrek merupakan tanaman bunga dengan nilai jual tinggi. Paphiopedilum glaucophyllum J.J.Sm. var. glaucophyllum yang lebih dikenal sebagai anggrek selop atau anggrek kantung merupakan salah satu jenis anggrek endemik Jawa Timur yang termasuk dalam kategori tumbuhan langka di Indonesia. Habitat alami anggrek selop berada di bukit sebelah selatan Gunung Semeru, Lumajang Jawa Timur. Pada habitat aslinya anggrek ini hidup menempel pada dinding – dinding yang tinggi dan curam. Pada karya tugas akhir ini saya membuat tiga tingkatan busana yaitu ready to wear, deluxe, dan couture dengan menggunakan anggrek selop sebagai ide pemantik. Setelah membedah ide pemantik saya mendapatkan lima kata kunci yaitu mahkota bunga, mengkilap, kantong/ labellum, hijau dengan corak coklat, dan ungu. Dari kata kunci yang saya dapatkan kemudia saya mengimplementasikan menggunakan gaya bahasa metafora. Metode penciptaan karya yang saya gunakan dalam menciptakan busana ready to wear, deluxe dan couture adalah metode milik Tjok Istri Ratna Cora yaitu “ FRANGIPANI The Secret Steps of Art Fashion ”, dimana FRANGIPANI memiliki 10 tahapan yang terdiri dari ide pemantik (design brief), reset sumber seni (researching and sourcing), analisa estetika elemen seni (analizing art fashion element), menarasikan ide seni fashion ke dalam visualisasi dua dimensi atau tiga dimensi (narrating of art fashion idea by 2D or 3D visualitation), memberikan jiwa - taksu (giving a soul-taksu), menginterpretasikan keunikan (interpreting of singularity), promosi (promoting), afirmasi merek (affirmation branding), Mengarahkan produksi seni fashion melalui metode kapitalis humanis (navigating art fashion production by humanist capitalism method), memperkenalkan bisnis fashion (introducing the art fashion business).
“SANG ARABICA”: Metafora Kopi Kintamani Dengan Cipta, Rasa Dan Karya Dalam Sebuah Rancangan Busana Moneko, I Kadek Dode; Sudharsana, Tjok Istri Ratna Cora; Mudarahayu, Made Tiartini
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 3 No. 2 (2023): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kopi Arabica merupakan kopi yang memiliki cita rasa yang unik dan kompleks dibandingkan dengan kopi lainnya. Salah satu daerah yang memproduksi kopi Arabica di Bali yakni daerah Kintamani, Kabupaten Bangli. Kopi arabica sendiri telah terkenal dikalangan pecinta kopi di dunia. Untuk lebih memperkenalkan komoditas dari daerah Kintamani satu ini ke berbagai penjuru dunia dengan cara yang unik, dimana dengan mengaplikasikan kopi Arabica Kintamani dalam bentuk karya busana. Dalam penciptaannya, terdapat tiga busana yang dirancang yakni Ready to Wear, Ready to Wear Deluxe, dan Semi Couture. Ketiga busana ini dalam proses penciptaannya berawal dari ide dasar yakni kopi arabica Kintamani, kemudian dikembangkan melalui mind mapping yang membentuk kata kunci karya busana ini. Kata kunci tersebut menjadi Batasan yang menggambarkan moodboard sebagai kumpulan objek yang digunakan untuk membantu dalam mengembangkan ide dan konsep dalam merancang dan menciptakan karya busana, serta storyboard atau sketsa gambar yang menerangkan alur cerita pada karya Sang Arabica ini secara garis besarnya. Penciptaan karya busana Sang Arabica menggunakan metode Frangipani yang meliputi desain brief, research and sourching, analyzing, narrating idea, giving a soul-taksu, interpreting final collection, promoting, affirmation branding, navigating art fashion by humanist capitalism method, and introducing art fashion business. Dalam penciptaan karya busana ini diharapkan mendorong semangat mahasiswa maupun desainer muda lainnya dalam berkarya serta meniti karir dalam dunia fashion desain.
Swastra Seni Busana : Sebuah Analogi Dari ”Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro Karya Raden Saleh” Sebagai Inspirasi Penciptaan Karya Busana Berkolaborasi Dengan Pagi Motley Studio Dewi, Dewa Ayu Sinta; Adnyana, I Wayan; Mudarahayu, Made Tiartini
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 4 No. 1 (2024): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh adalah salah satu karya seni terkenal yang menggambarkan peristiwa sejarah penting di Indonesia pada abad ke-19. Pangeran Diponegoro digambarkan dalam keadaan yang sangat dramatis, dengan tangan terikat dan dipandu oleh tentara Belanda. Lukisan ini mencerminkan semangat perlawanan dan perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah. Penciptaan karya busana Tugas Akhir yang dilatarbelakangi oleh keinginan penulis dalam mengimplementasikan Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro dengan mewujudkannya kedalam karya busana dengan menggunakan teori pendekatan analogi. Metode yang digunakan dalam penciptaan karya ini adalah sembilan penciptaan Frangipani hasil penciptaan ini diharapkan dapat memperkenalkan Lukisan bersejarah yaitu Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoroa karya Raden Saleh yang di visualisasikan dengan karya busana Tugas Akhir ready to wear, ready to wear deluxe dan semi couture.
Eternity of Majesty: Analogi Keindahan Arsitektur Katedral Santo Yosef Pontianak Dalam Busana Classic Elegant Arvia, Ni Desak Made Amanda; Sudharsana, Tjok Istri Ratna Cora; Mudarahayu, Made Tiartini
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 4 No. 1 (2024): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gereja Katedral Santo Yosef berdiri sejak 9 Desember 1909, merupakan gereja tertua di Paroki Keuskupan Agung Pontianak. Bangunan gereja dirancang oleh arsitek asli dari Kalimantan Barat didampingi Tim Asistensi Pembangunan Gereja. Model gereja mengacu arsitektur klasik "Corinten" yang terlihat dari kubah bulat sebagai kubah utama dan diatasnya ada kubah kecil lagi yang disebut "Rotunda". Bangunan Katedral St. Yosef Pontianak memiliki arsitektur bergaya roma dengan pilar-pilar besar, jendela-jendela kaca patri yang indah menggambarkan ilustrasi orang-orang kudus, namun tetap memiliki unsur kebudayaan Dayak yang melekat. Terdapat ornamen-ornamen Dayak berupa motif burung enggang dan motif Dayak lainnya yang terukir di pintu maupun dinding Katedral. Dalam penciptaan karya Tugas Akhir studi independent ini, penulis menggunakan style minimalis, klasik dan elegan yang dipadukan dengan unsur etnik. Bentuk busana yang sederhana, tidak menggunakan layering dan menggunakan warna dasar yang netral menjadi acuan penulis dalam pembuatan desain dan pemilihan bahan. Busana dengan ide pemantik Katedral Santo Yosef Pontianak menghasilkan tiga buah karya yaitu busana ready to wear, ready to wear deluxe, semi couture. Hal yang ingin ditonjolkan dalam penciptaan desain adalah siluet ruang setengah lingkaran menyerupai kubah, Dimana kubah tersebut merupakan icon dari Katedral Santo Yosef Pontianak. Selain siluet, teknik juga cukup diperhatikan untuk membuat susunan kain menyerupai kaca-kaca patri karena kaca patri sangat identik dengan Katedral. Desain yang sederhana dan warna dasar yang netral merupakan bentuk dari penerapa gaya busana minimalis dan elegan.