Sofa Dewi Alfian
Department Of Pharmacology And Clinical Pharmacy, Universitas Padjadjaran, Faculty Of Pharmacy

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Farmaka

TEKNOLOGI DIGITAL UNTUK MENINGKATKAN KEPATUHAN PENGOBATAN PADA PASIEN DIABETES MELLITUS: REVIEW ATIKEL Aeni Suciati; Sofa Dewi Alfian
Farmaka Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i2.33943

Abstract

Diabetes mellitus menjadi masalah kesehatan global yang diperkirakan prevalensinya akan terus meningkat. Kepatuhan pengobatan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapai keberhasilan terapi dan mencegah terjadinya komplikasi. Akan tetapi, pengobatan yang kompleks dalam jangka waktu yang panjang dapat memicu rendahnya kepatuhan pengobatan pada pasien diabetes mellitus. Berbagai intervensi telah dilakukan untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan pasien diabetes mellitus, salah satunya intervensi berbasis teknologi digital. Tujuan dari review artikel ini adalah untuk mengulas penggunaan teknologi digital serta efektivitasnya dalam meningkatkan kepatuhan pengobatan pada pasien diabetes mellitus. Metode yang digunakan berupa studi pustaka artikel pada jurnal nasional ataupun internasional yang terbit dalam 10 tahun terakhir (2011-2021) melalui media online seperti Google search, Google scholar, PubMed, dan NCBI. Review ini memuat 10 artikel mengenai penggunaan teknologi digital serta efektivitasnya dalam meningkatkan kepatuhan pengobatan diabetes. Teknologi digital tersebut diantaranya layanan pesan singkat (SMS), IVR (Interactive Voice Response), telemedicine, pill box reminder, m-Health Apps (Medisafe dan Gather Health), Ios App PatientPartner, dan media sosial WhatsApp. Sebagian besar studi menunjukkan teknologi tersebut memberikan hasil yang baik dalam meningkatkan kepatuhan pengobatan pada pasien diabetes mellitus.
Evaluasi Aspek CDOB Penanganan Produk Rantai Dingin Berdasarkan Checklist Inspeksi Diri di Salah Satu Pedagang Besar Farmasi di Bandung Kusuma, Clara Fernanda; Alfian, Sofa Dewi; Mulyasyari, Ade Irma
Farmaka Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v22i1.51291

Abstract

Dalam keberlangsungan proses distribusi produk dari PBF ke berbagai outlet, perlu dipertimbangkan dengan baik prosesnya mulai dari penerimaan produk, penyimpanan, hingga pengiriman produk ke outlet. Hal ini sangat penting terutama untuk produk rantai dingin atau cold chain products (CCP) yang sangat sensitif terhadap temperatur sehingga harus dilakukan penyimpanan yang tepat dan sesuai dengan persyaratan yang tertera pada pedoman CDOB 2020. Studi ini dilakukan untuk mengevaluasi aspek CDOB penanganan produk CCP di salah satu PBF yang berada di Bandung (PBF X), berdasarkan checklist inspeksi diri BPOM RI. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2023 dengan metode observasional bersifat deskriptif serta evaluatif, dengan mengisi formulir inspeksi diri PBF, membaca SOP, instruksi kerja, dan wawancara dengan Apoteker penanggung jawab PBF. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa PBF X sudah memenuhi persyaratan (19 dari 19) dari aspek penanganan produk CCP terkait penerimaan, penyimpanan, serta pengiriman. PBF X sudah menjalankan aspek CDOB dalam praktiknya berdasarkan checklist inspeksi diri. PBF X diharapkan dapat tetap mempertahankan penanganan produk CCP yang sudah baik.
Evaluasi Penerapan CDOB Aspek Psikotropika Berdasarkan Checklist Inspeksi Diri di Salah Satu PBF Kota Bandung Nauroh, Judith; Alfian, Sofa Dewi; Mulyasyari, Ade Irma
Farmaka Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v22i2.51412

Abstract

Pedagang Besar Farmasi (PBF) dalam penyaluran obat menerapkan aspek-aspek yang tercantum pada pedoman Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) untuk memastikan penanganan obat yang tepat serta mencegah kerusakan atau penyalahgunaan obat. Produk Psikotropika merupakan zat atau obat, alamiah ataupun sintetis bukan narkotika, yang dapat mempengaruhi prilaku, pikiran, dan emosional yang digunakan dalam psikiatri. Produk obat golongan psikotropika memerlukan pengawasan khusus dalam penanganannya dari proses pengadaan hingga penyaluran ke sarana/outlet. Studi ini dilakukan untuk mengevaluasi aspek CDOB penanganan produk psikotropika di salah satu PBF yang berada di Bandung, berdasarkan checklist inspeksi diri BPOM RI. Penelitian ini bersifat deskriptif, evaluatif serta wawancara langsung kepada apoteker penanggung jawab yang dilakukan pada bulan Oktober 2023 di PBF “X” Kota Bandung. Hasil penelitian mengenai penerapan aspek operasional produk psikotropika yang telah diatur dalam menunjukan bahwa pelaksanaannya telah dilakukan dengan sangat baik, dengan nilai kesesuaian 100% dari seluruh poin observasi. Kata kunci: CDOB, Psikotropika, Pengawasan, PBF
Pemetaan Suhu Ruang Karantina Cold Chain Product (CCP) Pada Salah Satu Pedagang Besar Farmasi (PBF) di Kota Bandung Hidayat, Muhammad Adliansyah Prawiratama; Alfian, Sofa Dewi
Farmaka Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v22i1.51136

Abstract

Mutu sediaan farmasi tidak hanya dijamin pada saat produk dibuat oleh industri farmasi, namun harus dapat terjamin selama proses pendistribusian. Pedagang Besar Farmasi (PBF) menjadi aspek penting dalam penjaminan mutu sediaan farmasi dengan memastikan sepanjang alur pendistribusian mulai dari produk masuk warehouse hingga sampai ke tangan konsumen. Apoteker Penganggung Jawab PBF dalam hal mengkarantina obat memiliki tanggung jawab sebagai pengambil keputusan. Dalam hal karantina produk Cold Chain Product (CCP), penerima produk kembalian CCP wajib untuk segera disimpan didalam showcase chiller sampai ditentukan status dari produk tersebut apakah akan menjadi good atau bad stok. Tujuan pemetaan suhu ruang karantina CCP adalah untuk mengevaluasi mutu produk karantina CCP tetap terjaga selama penyimpanan dengan suhu yang terkondisi. Metode penelitian yang digunakan menggunakan pengumpulan suhu pada area penyimpanan showcase chiller dengan kriteria 2-8°C menggunakan 7 buah Electronic Data Logging Monitors (EDLM) selama 7 hari pada interval waktu 10 menit. Hasil penelitian didapatkan variasi suhu showcase chiller ruang karantina CCP dengan suhu terkecil pada titik ke-4B dan ke-5C yaitu 2,10°C dan suhu terbesar terdapat pada titik ke-2C yaitu 7,60°C. Rata-rata suhu dari tiap EDLM didapatkan pada suhu 4,31 ± 0,4251°C. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa suhu didalam showcase chiller telah sesuai rentang cold room sebagai rentang suhu penyimpanan produk karantina CCP.
Suplemen Untuk Meningkatkan Kualitas Tidur Thurfah, Jihan Nurul; Puspitasari, Irma Melyani; Alfian, Sofa Dewi
Farmaka Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i2.37399

Abstract

Tidur adalah bagian penting dari rutinitas manusia untuk memulihkan kondisi fisik dan mental. Tidur dapat mengalami gangguan yang meningkatkan risiko beberapa penyakit medis dan mental. Gangguan tidur dapat diobati dengan obat golongan sedatif (penenang), selain itu terapi tambahan dapat digunakan untuk memperbaiki gangguan tidur. Artikel ini merupakan studi literatur yang bertujuan untuk mengeksplorasi dan merangkum jenis, dosis, dan efektivitas suplemen yang dapat digunakan untuk pencegahan dan pengobatan. Pencarian literatur menggunakan basis data elektronik PubMed. Sebanyak 11 studi diidentifikasi dari 36 studi yang ditemukan. Empat dari enam suplemen menghasilkan efek signifikan terhadap penurunan gangguan tidur, yaitu melatonin, zat besi, carnosine, dan resveratrol, sedangkan vitamin D dan DHA (docosahexaenoic acid) tidak menghasilkan efek yang diharapkan. Dengan demikian, suplemen-suplemen di atas dapat digunakan sebagai terapi alternatif atau terapi tambahan untuk gangguan tidur.