Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Efektivitas Antibakteri Kombinasi Ekstrak Daun Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) dan Keji Beling (Strobilanthes crispus Blume) terhadap Escherichia coli pada Ulkus Diabetikum Dwi Pramesti, Deva Amelia; Harlita, Tiara Dini; Aina, Ganea Qorry
JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan) Vol. 8 No. 1 (2024): JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan)
Publisher : LPPM Universitas Hafshawaty Zainul Hasan Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33006/jikes.v8i1.790

Abstract

Abstrak Ulkus diabetikum merupakan komplikasi kronik diabetes melitus tipe 2. Salah satu bakteri penyerta yang menginvasif ulkus diabetikum adalah Escherichia coli. Daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) dan daun keji beling (Strobilanthes crispus Blume.) berpotensi sebagai antibakteri alami karena kandungan senyawa bioaktifnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas antibakteri kombinasi ekstrak daun binahong dan keji beling terhadap Escherichia coli. Jenis penelitian yang digunakan adalah true experimental menggunakan kombinasi ekstrak perbandingan 1:1 dengan variasi konsentrasi 25%, 50%, 75%, dan 100%. Setiap konsentrasi diuji efektivitasnya terhadap Escherichia coli menggunakan metode difusi Kirby Bauer dengan kontrol positif Ciprofloxacin 5 µg dan kontrol negatif aquadest steril. Analisis data yang digunakan adalah uji One Way ANOVA dan dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh kombinasi ekstrak terhadap penghambatan pertumbuhan Escherichia coli. Konsentrasi yang paling efektif dari kombinasi ekstrak adalah 100% sebesar 10,50 mm dan efektivitasnya sebesar 36,84% dengan kontrol positif Ciprofloxacin 5 µg sebesar 28,50 mm. Dapat disimpulkan bahwa kombinasi ekstrak daun binahong dan daun keji beling memiliki potensi sebagai antibakteri alami terhadap Escherichia coli, namun potensinya masih di bawah Ciprofloxacin 5 µg. Kata kunci: efektivitas antibakteri, Escherichia coli, ulkus diabetikum   Abstract Diabetic ulcer is a chronic complication of type 2 diabetes mellitus. One of the accompanying bacteria invading diabetic ulcers is Escherichia coli. Binahong leaf (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) and keji beling leaf (Strobilanthes crispus BIume) have potential as natural antibacterials. This study aims to determine the antibacterial effectiveness of combination binahong and keji beling leaf extracts against Escherichia coli. The type of research used is true experimental using a combination of extracts in a 1:1 ratio with concentration variations of 25%, 50%, 75%, and 100%. Each concentration was tested for effectiveness against Escherichia coli using the Kirby Bauer diffusion method with positive control Ciprofloxacin 5 µg and negative control sterile aquadest. Data analysis used was One Way ANOVA Test and continued with Duncan's Multiple Range Test (DMRT). The results showed that there was an effect of combination extracts to inhibit the growth of Escherichia coli. The most effective concentration is 100% at 10.50 mm, and its effectiveness is 36.84% with positive control Ciprofloxacin 5 µg at 28.50 mm. It can be concluded that the combination of binahong and keji beling extracts has potential as a natural antibacterial against Escherichia coli, but its potential is still below Ciprofloxacin 5 µg. Keywords: antibacterial effectiveness, Escherichia coli, diabetic ulcer
Pengaruh jenis beras, cara masak dan lama penyimpanan terhadap kadar glukosa nasi Sabila, Amanda Rabiyatul; Farpina, Eka; Aina, Ganea Qorry
Journal of Tropical AgriFood Volume 7 Nomor 2, Tahun 2025
Publisher : Department of Agricultural Products Technology, Mulawarman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35941/jtaf.7.2.2025.22505.158-164

Abstract

Prevalensi diabetes yang meningkat di Indonesia, khususnya di Kalimantan Timur, menyebabkan masyarakat berhati-hati terhadap asupan gula harian, termasuk glukosa dalam nasi. Kadar glukosa nasi dapat berubah tergantung jenis beras, cara memasak, suhu, dan lama penyimpanan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh jenis varietas beras (beras putih, merah dan hitam), cara masak (rice cooker dan dandang) dan lama penyimpanan (0, 1, 3, dan 6 jam) terhadap kadar glukosa nasi. Penelitian menggunakan faktorial 3x2x4 dalam Rancangan Acak Lengkap. Data dianalisis dengan ANOVA tiga-arah dan uji Tukey. Hasil menunjukkan bahwa jenis beras, cara masak, dan lama penyimpanan berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap kadar glukosa nasi. Interaksi antara jenis beras dan lama penyimpanan memberikan pengaruh nyata terhadap kadar glukosa nasi. Nasi hitam memiliki kadar glukosa terendah. Cara masak dengan dandang menghasilkan kadar gula lebih rendah (5,83%) dibanding rice cooker (6,14%). Lama penyimpanan menurunkan kadar glukosa nasi. Penyimpanan 3-6 jam menurunkan kadar gula 12,28-18,02% untuk beras hitam dan 6,63-14,58% untuk nasi putih. Penelitian merekomendasikan penggunaan beras hitam yang dimasak dengan dandang dan disimpan lebih dari 1 jam untuk penderita diabetes.
Analisis kadar glukosa pada nasi yang disimpan dan dipanaskan kembali Putri, Marcella Febrianti Inezitha; Farpina, Eka; Aina, Ganea Qorry
Journal of Tropical AgriFood Volume 8 Nomor 1 Tahun 2026
Publisher : Department of Agricultural Products Technology, Mulawarman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35941/jtaf.8.1.2026.22502.45-51

Abstract

Nasi merupakan makanan pokok kaya karbohidrat, sering dikonsumsi di Indonesia, namun kadar glukosanya yang tinggi dapat mempengaruhi kesehatan. Kebiasaan masyarakat menyimpan dan memanaskan kembali nasi memunculkan pertanyaan tentang dampaknya terhadap kadar glukosa. Penelitian ini bertujuan menganalisis perubahan kadar glukosa pada nasi putih, merah, dan hitam pada penyimpanan di kulkas (1-4℃) dan suhu ruang (20-25℃) selama 1, 3, dan 6 jam, serta setelah pemanasan kembali (65℃ selama 15 menit). Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimen dengan desain pretest-posttest only control. Sampel yang digunakan adalah nasi putih, nasi merah, dan nasi hitam. Nasi disimpan dalam dua kondisi suhu kulkas (1-4°C) dan suhu ruang (20-25°C), dengan variasi waktu penyimpanan 1 jam, 3 jam, dan 6 jam. Setelah penyimpanan, nasi dipanaskan kembali pada suhu 65°C selama 15 menit. Pengukuran kadar glukosa dilakukan menggunakan metode Luff-Schoorl. Data dianalisis menggunakan uji t berpasangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nasi putih dengan penyimpanan pada suhu ruang selama 1 jam mempunyai kadar glukosa tertinggi, yaitu 8,0956%, dan terendah adalah nasi hitam dengan penyimpanan dalam kulkas selama 6 jam (3,8958%). Pada perlakuan pemanasan kembali, kadar glukosa tertinggi diperoleh dari nasi putih dengan penyimpanan pada suhu ruang selama 1 jam (8,2098%) dan terendah adalah nasi hitam dengan penyimpanan dalam kulkas selama 6 jam (4,0303%). Penyimpanan, waktu penyimpanan dan pemanasan memberikan pengaruh nyata terhadap perbedaan kadar glukosa dari nasi yang dicobakan. Hasil yang paling aman untuk penderita diabetes melitus adalah nasi hitam yang disimpan di kulkas selama 6 jam lalu dipanaskan kembali.
The Effect of Boiling on Nitrite Content in Green Mustard (Brassica rapa var. parachinensis) with Soil And Hydroponic Growing Media 'Aisy, ‘Afif ‘Aziizah Rihhadatul; Aina, Ganea Qorry; Farpina, Eka
Indonesian Journal of Food Technology Vol 4 No 2 (2025): Indonesian Journal of Food Technology
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan Fakultas Pertanian UNSOED

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.ijft.2025.4.2.17807

Abstract

Background: Nitrite is a compound that has the potential to pose health risks if consumed in excessive amounts, including through the formation of carcinogenic nitrosamine compounds and disruption of oxygen transport due to methemoglobin formation. The nitrite content in green vegetables is influenced by various factors, including the cultivation system and processing processes before consumption, one of which is boiling. Purpose:This study aims to determine the effect of soil and hydroponic growing media on the nitrite levels of green mustard (Brassica rapa var. parachinensis) after boiling. Method: This study used an experimental design with green mustard samples cultivated in soil and hydroponic media. The samples were boiled for 3 minutes, then the nitrite levels were analyzed using the Griess method with a UV–Vis spectrophotometer according to SNI 06-6989.9-2004. Data analysis was carried out using normality tests, homogeneity tests, and independent t-tests. Result: The results showed that the initial nitrite levels of hydroponic green mustard were higher than those of green mustard from soil media. After boiling, the nitrite content in the soil-grown mustard greens was 20.61 mg/kg with a reduction percentage of 88.91%, while in the hydroponic mustard greens it was 71.05 mg/kg with a reduction percentage of 70.71%. The results of statistical tests showed a significant difference (p < 0.05) between the two growing media. This study concluded that the type of growing media significantly affected the nitrite content of the mustard greens after boiling, where the soil media produced lower nitrite levels compared to the hydroponic media.
Uji Aktivitas Antikolesterol Ekstrak Jamu Pahitan terhadap Mencit (Mus musculus) Hiperkolesterol Azhari, Charisa Maylani Putri; Aina, Ganea Qorry; Kusumawati, Nursalinda; Azahra, Sresta
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 2 (2026): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i2.12352

Abstract

Kolesterol tinggi merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Kondisi ini memicu terjadinya aterosklerosis, yaitu penyumbatan atau penyempitan pembuluh darah akibat penumpukan plak lemak yang dapat meningkatkan risiko serangan jantung. Salah satu ramuan tradisional yang digunakan secara turun-temurun untuk membantu mengatasi hiperkolesterolemia adalah jamu pahitan, yang terdiri atas sambiloto, brotowali, meniran, kumis kucing, daun salam, dan temulawak. Tanaman-tanaman tersebut mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, saponin, alkaloid, tanin, dan kurkumin yang berpotensi menurunkan kadar kolesterol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antikolesterol ekstrak jamu pahitan terhadap mencit jantan (Mus musculus) yang diinduksi hiperkolesterolemia. Desain penelitian yang digunakan adalah True Experimental dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Sebanyak 25 ekor mencit jantan dibagi menjadi lima kelompok, yaitu kontrol negatif, kontrol positif (simvastatin), serta tiga kelompok perlakuan dengan dosis ekstrak jamu pahitan masing-masing 200, 400, dan 600 mg/kg BB. Kadar kolesterol diukur pada hari ke-0, ke-5, ke-10, dan ke-15 menggunakan alat Point of Care Testing (Fora 6 Plus). Hasil menunjukkan bahwa dosis 200 mg/kg BB memberikan penurunan kadar kolesterol paling tinggi, yaitu sebesar 31,13%. Uji statistik Kruskal-Wallis yang dilanjutkan dengan Mann-Whitney menggunakan koreksi Bonferroni menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara kontrol negatif dengan seluruh kelompok perlakuan (p < 0,05). Dengan demikian, ekstrak jamu pahitan terbukti memiliki aktivitas antikolesterol dengan dosis optimal pada 200 mg/kg BB.
Deteksi Cemaran Bakteri dan Logam Berat pada Liquid Foundation Harlita, Tiara Dini; Aina, Ganea Qorry; Azahra, Sresta
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 2 (2026): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i2.12426

Abstract

Penggunaan dan penyimpanan kosmetik yang kurang tepat dapat menyebabkan kosmetik rentan terkontaminasi bakteri. Proses pengolahan kosmetik juga dapat menyebabkan terjadinya cemaran logam berat. Paparan logam berat dapat mengganggu kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi cemaran bakteri dan logam berat pada liquid foundation. Jenis penelitian ini adalah deskriptif. Sampel diambil secara purposive samping, berupa 10 merk liquid foundation yang telah digunakan selama 3 bulan. Pengujian cemaran bakteri menggunakan metode Angka Lempeng Total (ALT) dan cemaran logam berat timbal dan kadmium dianalisis menggunakan spektrofotometri serapan atom. Hasil uji ALT menunjukkan bahwa sembilan sampel memenuhi standar <103 koloni/gr dan satu sampel (F2) melebihi standar, yaitu 2,96x104 koloni/gr, dan terdapat cemaran Pseudomonas aeruginosa. Hasil uji cemaran logam berat menunjukkan kandungan timbal pada sembilan sampel dalam batas aman < 20 mg/kg dan satu sampel (F2) melebihi standar, yaitu 31,37 mg/kg. Kandungan kadmium pada seluruh sampel masih dalam batas aman, yaitu <5 mg/kg. Dari hasil tersebut, disimpulkan bahwa 9 dari 10 sampel diketahui memenuhi standar BPOM No. 12 Tahun 2019 sehingga layak digunakan.
Studi In Vivo: Efektivitas Ekstrak Keji Beling (Strobilanthes crispus) terhadap Penyembuhan Luka Mencit Diabetes Aina, Ganea Qorry; Dini, Harlita Tiara; Thereceliasandyakerd, Gladys
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 2 (2026): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i2.12431

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) adalah suatu gangguan yang biasanya ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa darah (hiperglikemia). Salah satu komplikasi yang ditimbulkan oleh DM adalah luka diabetik. Penggunaan obat tradisional saat ini banyak direkomendasikan karena efek sampingnya yang relatif kecil dan hasilnya yang cukup efektif. Keji beling umumnya digunakan sebagai obat tradisional untuk penyakit antidiabetes, sebagai diuretik, dan juga dapat digunakan sebagai antihiperglikemik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rata-rata diameter luka, pengaruh pemberian ekstrak daun beling pada konsentrasi 25%, 50%, 75%, dan 100%, dan untuk mengidentifikasi konsentrasi mana yang paling efektif dalam penyembuhan luka diabetik pada tikus. Jenis penelitian yang digunakan adalah Eksperimen Sejati dengan Alokasi Acak, dengan 6 tikus untuk setiap konsentrasi. Analisis data yang digunakan adalah uji statistik One Way ANOVA diikuti dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata diameter luka pada konsentrasi 25%, 50%, dan 75% lebih besar dibandingkan dengan 100%. Semua ekstrak pada konsentrasi 25%, 50%, 75%, dan 100% berpengaruh terhadap proses penyembuhan luka pada tikus diabetes, dengan nilai signifikan sebesar 0,015 < 0,05. Berdasarkan uji DMRT, ditemukan bahwa konsentrasi 100% paling efektif dalam proses penyembuhan luka diabetik. Pemberian ekstrak keji beling 100% memberikan hasil terbaik, dengan persentase penutupan luka mencapai 44,81%.