Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Hubungan Penggunaan Sepatu Boot dan Prevalensi Trichophyton Sp pada Penambang Batu Bara Suhartini, Suhartini; Aina, Ganea Qorry; Rahayu, Famala Eka Sanhadi
JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan) Vol. 5 No. 2 (2022): JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan)
Publisher : LPPM Universitas Hafshawaty Zainul Hasan Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33006/ji-kes.v5i2.269

Abstract

AbstrakTinea unguium merupakan kelainan kuku yang disebabkan oleh jamur golongan dermatofita terutama genus Trichophyton sp. Penyakit ini sering menyerang penambang batu bara yang selalu menggunakan sepatu tertutup saat bekerja dalam waktu yang lama, menyebabkan kondisi kaki lembab sehingga merupakan media potensial untuk pertumbuhan jamur. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan lama penggunaan sepatu terhadap prevalensi Tricophyton sp. Merupakan penelitian korelasional dengan desain univariat, mengidentifikasi jamur pada kerokan kuku 40 pekerja tambang batu bara di Kelurahan Loa Janan Ulu dengan durasi bekerja sebagai penambang batu bara. Hasil penelitian ditemukan jamur penyebab tinea unguium dari genus Trichophyton sebanyak 34 sampel (85%), sebanyak 6 sampel (15%) hanya ditemukan jamur non dermatofita seperti Aspergillus sp, Penicillium sp, Cylindrocapon sp, Cladophialophora sp, Mucor sp, Penicillium sp, Fusarium sp, dan Curvularia sp. Hasil penelitian menunjukkan korelasi signifikan dengan koefisien korelasi sebesar 0,931 sehingga ada korelasi yang kuat antara durasi penggunaaan sepatu safety dengan prevalensi infeksi Tricophyton sp. Pekerja tambang yang positif (34 sampel) rata-rata bekerja lebih dari 12 jam per hari dan 6 sampel lainnya bekerja 2-4 jam sehari. Kesimpulan terdapat korelasi antara lama penggunaan sepatu dengan prevalensi Tricophyton sp pada pekerja tambang. Saran mengidentifikasi sampai tingkat jenis jamur Tricophyton sp yang menginfeksi kuku pekerja tambang.Kata kunci  : Tinea unguium, Sepatu Safety, Pekerja Tambang Batu Bara. AbstractTinea unguium is an infection of the nail plate caused by dermatophyta fungi especially Trichophyton sp. This infection commonly affects coal miners who wears safety boots in long duration which makes their feet humid and become a potential media for fungi to grow. This study aims to investigate how duration of wearing boots correlate with Tricophyton sp prevalence. This study employed a univariate-correlational design to correlate Tricophyton sp prevalence in toenails sample taken from 40 coal miners in Loa Janan Ulu District with their working duration. The finding of this study reveals that 34 samples (85%) are infected by Trichophyton sp while on the other hand,  it is found a non dermatophyta fungi such Aspergillus sp, Penicillium sp, Cylindrocapon sp, Cladophialophora sp, Mucor sp, Penicillium sp, Fusarium sp, dan Curvularia sp in 6 sampes. It reveals that R value is 0,931 and therefore it concludes that there is a significant correlation between duration of wearing boots and Tricophyton sp prevalence in coal miners. Looking at the duration, 34 infected samples belong to coal miners who works more than 12 hours a day while the other six works for two until four hours per day. This study concludes that there is a correlation between duration of using safety boots and the Tricophyton prevalence in coal miner's nails. The present researchers suggest the future researcher to identify the types of Tricophyton fungi which infected coal miner's nails.Keywords:  : Tinea unguium, Safety Boots, Coal Miners
Efektivitas Antibakteri Kombinasi Ekstrak Daun Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) dan Keji Beling (Strobilanthes crispus Blume) terhadap Escherichia coli pada Ulkus Diabetikum Dwi Pramesti, Deva Amelia; Harlita, Tiara Dini; Aina, Ganea Qorry
JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan) Vol. 8 No. 1 (2024): JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan)
Publisher : LPPM Universitas Hafshawaty Zainul Hasan Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33006/jikes.v8i1.790

Abstract

Abstrak Ulkus diabetikum merupakan komplikasi kronik diabetes melitus tipe 2. Salah satu bakteri penyerta yang menginvasif ulkus diabetikum adalah Escherichia coli. Daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) dan daun keji beling (Strobilanthes crispus Blume.) berpotensi sebagai antibakteri alami karena kandungan senyawa bioaktifnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas antibakteri kombinasi ekstrak daun binahong dan keji beling terhadap Escherichia coli. Jenis penelitian yang digunakan adalah true experimental menggunakan kombinasi ekstrak perbandingan 1:1 dengan variasi konsentrasi 25%, 50%, 75%, dan 100%. Setiap konsentrasi diuji efektivitasnya terhadap Escherichia coli menggunakan metode difusi Kirby Bauer dengan kontrol positif Ciprofloxacin 5 µg dan kontrol negatif aquadest steril. Analisis data yang digunakan adalah uji One Way ANOVA dan dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh kombinasi ekstrak terhadap penghambatan pertumbuhan Escherichia coli. Konsentrasi yang paling efektif dari kombinasi ekstrak adalah 100% sebesar 10,50 mm dan efektivitasnya sebesar 36,84% dengan kontrol positif Ciprofloxacin 5 µg sebesar 28,50 mm. Dapat disimpulkan bahwa kombinasi ekstrak daun binahong dan daun keji beling memiliki potensi sebagai antibakteri alami terhadap Escherichia coli, namun potensinya masih di bawah Ciprofloxacin 5 µg. Kata kunci: efektivitas antibakteri, Escherichia coli, ulkus diabetikum   Abstract Diabetic ulcer is a chronic complication of type 2 diabetes mellitus. One of the accompanying bacteria invading diabetic ulcers is Escherichia coli. Binahong leaf (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) and keji beling leaf (Strobilanthes crispus BIume) have potential as natural antibacterials. This study aims to determine the antibacterial effectiveness of combination binahong and keji beling leaf extracts against Escherichia coli. The type of research used is true experimental using a combination of extracts in a 1:1 ratio with concentration variations of 25%, 50%, 75%, and 100%. Each concentration was tested for effectiveness against Escherichia coli using the Kirby Bauer diffusion method with positive control Ciprofloxacin 5 µg and negative control sterile aquadest. Data analysis used was One Way ANOVA Test and continued with Duncan's Multiple Range Test (DMRT). The results showed that there was an effect of combination extracts to inhibit the growth of Escherichia coli. The most effective concentration is 100% at 10.50 mm, and its effectiveness is 36.84% with positive control Ciprofloxacin 5 µg at 28.50 mm. It can be concluded that the combination of binahong and keji beling extracts has potential as a natural antibacterial against Escherichia coli, but its potential is still below Ciprofloxacin 5 µg. Keywords: antibacterial effectiveness, Escherichia coli, diabetic ulcer
Uji Efektivitas Eco-enzyme sebagai Hand Sanitizer Alami dalam Meminimalisir Angka Kuman pada Tangan Mahasiswa Jurusan Teknologi Laboratorium Medis Nirmala, Nirmala; Harlita, Tiara Dini; Aina, Ganea Qorry; Sukarya , I Gede Andika
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 1 (2025): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i1.10407

Abstract

Kebersihan tangan merupakan langka penting dalam mencegah penyebaran penyakit menular seperti diare, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Hand sanitizer berbahan alkohol efektif membunuh kuman, namun penggunaannya secara berlebihan dapat menyebabkan iritasi kulit. Oleh karena itu, alternatif berbasis bahan alami seperti eco-enzyme yang berasal dari fermentasi limbah organik seperti kulit jeruk nipis dan daun singkong dapat menjadi alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas eco-enzyme sebagai hand sanitizer alami dalam meminimalisir angka kuman pada tangan mahasiswa Jurusan Teknologi Laboratorium Medis. Penelitian menggunakan metode Quasi Experiment dengan rancangan One Group Pretest-Posttest Design. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling terhadap 30 responden. Sampel diambil menggunakan metode swab sebelum dan sesudah penggunaan hand sanitizer alami berbasis eco-enzyme, lalu dikultur pada media PCA menggunakan metode tuang. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan metode Uji Wilcoxon. Hasil menunjukkan rata-rata angka kuman sebelum penggunaan hand sanitizer alami adalah 9 CFU/cm² dan setelah penggunaan menurun menjadi 5 CFU/cm². Berdasarkan uji Wilcoxon diperoleh nilai p-value sebesar 0,006 (p<0,05), maka hasil tersebut menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada jumlah angka kuman sebelum dan sesudah penggunaan hand sanitizer berbasis eco-enzyme pada tangan Mahasiswa Jurusan Teknologi Laboratorium Medis. Dengan demikian, hand sanitizer berbasis eco-enzyme efektif dalam menurunkan angka kuman pada tangan mahasiswa Jurusan Teknologi Laboratorium Medis.
Potensi Kombinasi Ekstrak Keji Beling dan Binahong Sebagai Antibakteri Terhadap Bakteri Gram Negatif Penyebab Ulkus Diabetikum HARLITA, TIARA DINI; AINA, GANEA QORRY; AZAHRA, SRESTA
Sains Medisina Vol 4 No 2 (2025): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v4i2.844

Abstract

Ulkus diabetikum adalah satu keluhan yang terjadi pada pasien diabetes melitus yang sulit disembuhkan dan dapat menyebabkan infeksi bakteri hingga gangren diabetik. Penggunaan antibiotik jangka waktu lama dan dosis yang tidak sesuai dapat menimbulkan ketahanan bakteri yang berdampak pada meningkatkan biaya pengobatan dan angka kematian. Oleh karena itu, penggunaan tanaman obat sebagai alternatif untuk pengobatan mulai banyak dimanfaatkan karena lebih aman dalam penggunaan jangka waktu lama seperti pada tanaman binahong dan keji beling berpotensi sebagai antibakteri karena memiliki kandungan senyawa aktif. Penelitian ini bertujuan untuk menguji potensi senyawa yang diperoleh dari ekstrak etanol tanaman keji beling dan bihanong sebagai antibakteri terhadap bakteri Gram negatif penyebab ulkus diabetikum. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap. Uji antibakteri dilakukan dengan metode difusi Kirby Bauer terhadap Proteus sp. dan Escherichia coli, kemudian data dianalisis dengan uji ANOVA. Berdasarkan hasil yang didapatkan, baik ekstrak tunggal maupun kombinasi keji beling dan binahong dengan perbandingan 2:1 pada konsentrasi 100 mg/mL memberikan daya hambat terbesar terhadap kedua bakteri. Analisis statistik menunjukkan variasi konsentrasi dan kombinasi berpengaruh nyata (p<0,05). Disimpulkan bahwa kombinasi kedua ekstrak memiliki aktivitas antibakteri alami dan berpotensi sebagai agen pendukung penghambatan bakteri penyebab ulkus diabetikum.
Studi In Vivo Kombinasi Herbal Keji Beling, Binahong, dan Madu Kelulut terhadap Penyembuhan Luka Diabetik Hewan Model Aina, Ganea Qorry; Kusumawati, Nursalinda; Harlita, Tiara Dini; Dawam, Wirid Triana
Sains Medisina Vol 4 No 2 (2025): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v4i2.847

Abstract

Diabetes melitus adalah gangguan metabolik yang ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah (hiperglikemia) akibat penurunan sekresi insulin oleh pankreas, berkurangnya sensitifitas insulin, atau keduanya. Salah satu komplikasi yang sering terjadi adalah gangrene/ulkus, yaitu terjadi kerusakan integritas pada kulit yang disebabkan oleh gangguan sirkulasi perifer sehingga jaringan sekitar luka akan mati atau nekrotik dan mengalami pembusukan. Penggunaan bahan herbal sebagai obat luka terus dikembangkan dalam penelitian maupun pemanfaatannya, diantaranya adalah daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis), keji beling (Strobilanthes crispus Bl.), dan madu kelulut. Penelitian ini bertujuan untuk melihat efektifitas pemberian ekstrak daun binahong, daun keji beling, dan madu kelulut terhadap penyembuhan luka diabetik menggunakan hewan uji yaitu mencit putih jantan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimen murni. Setelah mencit diberi perlakuan, pengukuran diameter luka dimulai pada hari ke-0, 5, 10 dan 15. Hasil penelitian ini kemudian dianalisis menggunakan SPSS versi 25. Hasil uji statistik dengan uji One Way Anovamenunjukan nilai p <0,05 yaitu 0,000 yang berarti pemberian kombinasi herbal memiliki pengaruh terhadap penyembuhan luka diabetes. Selanjutnya dilanjutkan uji lanjutan yaitu Uji Duncan’s Multiple Range Test dengan hasil perlakuan yang paling efektif yaitu pemberian kombinasi ekstrak daun binahong dan daun keji beling.
Pengaruh jenis beras, cara masak dan lama penyimpanan terhadap kadar glukosa nasi Sabila, Amanda Rabiyatul; Farpina, Eka; Aina, Ganea Qorry
Journal of Tropical AgriFood Volume 7 Nomor 2, Tahun 2025
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35941/jtaf.7.2.2025.22505.158-164

Abstract

Prevalensi diabetes yang meningkat di Indonesia, khususnya di Kalimantan Timur, menyebabkan masyarakat berhati-hati terhadap asupan gula harian, termasuk glukosa dalam nasi. Kadar glukosa nasi dapat berubah tergantung jenis beras, cara memasak, suhu, dan lama penyimpanan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh jenis varietas beras (beras putih, merah dan hitam), cara masak (rice cooker dan dandang) dan lama penyimpanan (0, 1, 3, dan 6 jam) terhadap kadar glukosa nasi. Penelitian menggunakan faktorial 3x2x4 dalam Rancangan Acak Lengkap. Data dianalisis dengan ANOVA tiga-arah dan uji Tukey. Hasil menunjukkan bahwa jenis beras, cara masak, dan lama penyimpanan berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap kadar glukosa nasi. Interaksi antara jenis beras dan lama penyimpanan memberikan pengaruh nyata terhadap kadar glukosa nasi. Nasi hitam memiliki kadar glukosa terendah. Cara masak dengan dandang menghasilkan kadar gula lebih rendah (5,83%) dibanding rice cooker (6,14%). Lama penyimpanan menurunkan kadar glukosa nasi. Penyimpanan 3-6 jam menurunkan kadar gula 12,28-18,02% untuk beras hitam dan 6,63-14,58% untuk nasi putih. Penelitian merekomendasikan penggunaan beras hitam yang dimasak dengan dandang dan disimpan lebih dari 1 jam untuk penderita diabetes.
Analisis kadar glukosa pada nasi yang disimpan dan dipanaskan kembali Putri, Marcella Febrianti Inezitha; Farpina, Eka; Aina, Ganea Qorry
Journal of Tropical AgriFood Volume 8 Nomor 1 Tahun 2026
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35941/jtaf.0.0.0.22502.%p

Abstract

Nasi merupakan makanan pokok kaya karbohidrat, sering dikonsumsi di Indonesia, namun kadar glukosanya yang tinggi dapat mempengaruhi kesehatan. Kebiasaan masyarakat menyimpan dan memanaskan kembali nasi memunculkan pertanyaan tentang dampaknya terhadap kadar glukosa. Penelitian ini bertujuan menganalisis perubahan kadar glukosa pada nasi putih, merah, dan hitam pada penyimpanan di kulkas (1-4℃) dan suhu ruang (20-25℃) selama 1, 3, dan 6 jam, serta setelah pemanasan kembali (65℃ selama 15 menit). Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimen dengan desain pretest-posttest only control. Sampel yang digunakan adalah nasi putih, nasi merah, dan nasi hitam. Nasi disimpan dalam dua kondisi suhu kulkas (1-4°C) dan suhu ruang (20-25°C), dengan variasi waktu penyimpanan 1 jam, 3 jam, dan 6 jam. Setelah penyimpanan, nasi dipanaskan kembali pada suhu 65°C selama 15 menit. Pengukuran kadar glukosa dilakukan menggunakan metode Luff-Schoorl. Data dianalisis menggunakan uji t berpasangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nasi putih dengan penyimpanan pada suhu ruang selama 1 jam mempunyai kadar glukosa tertinggi, yaitu 8,0956%, dan terendah adalah nasi hitam dengan penyimpanan dalam kulkas selama 6 jam (3,8958%). Pada perlakuan pemanasan kembali, kadar glukosa tertinggi diperoleh dari nasi putih dengan penyimpanan pada suhu ruang selama 1 jam (8,2098%) dan terendah adalah nasi hitam dengan penyimpanan dalam kulkas selama 6 jam (4,0303%). Penyimpanan, waktu penyimpanan dan pemanasan memberikan pengaruh nyata terhadap perbedaan kadar glukosa dari nasi yang dicobakan. Hasil yang paling aman untuk penderita diabetes melitus adalah nasi hitam yang disimpan di kulkas selama 6 jam lalu dipanaskan kembali.
The Effect of Boiling on Nitrite Content in Green Mustard (Brassica rapa var. parachinensis) with Soil And Hydroponic Growing Media 'Aisy, ‘Afif ‘Aziizah Rihhadatul; Aina, Ganea Qorry; Farpina, Eka
Indonesian Journal of Food Technology Vol 4 No 2 (2025): Indonesian Journal of Food Technology
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan Fakultas Pertanian UNSOED

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.ijft.2025.4.2.17807

Abstract

Background: Nitrite is a compound that has the potential to pose health risks if consumed in excessive amounts, including through the formation of carcinogenic nitrosamine compounds and disruption of oxygen transport due to methemoglobin formation. The nitrite content in green vegetables is influenced by various factors, including the cultivation system and processing processes before consumption, one of which is boiling. Purpose:This study aims to determine the effect of soil and hydroponic growing media on the nitrite levels of green mustard (Brassica rapa var. parachinensis) after boiling. Method: This study used an experimental design with green mustard samples cultivated in soil and hydroponic media. The samples were boiled for 3 minutes, then the nitrite levels were analyzed using the Griess method with a UV–Vis spectrophotometer according to SNI 06-6989.9-2004. Data analysis was carried out using normality tests, homogeneity tests, and independent t-tests. Result: The results showed that the initial nitrite levels of hydroponic green mustard were higher than those of green mustard from soil media. After boiling, the nitrite content in the soil-grown mustard greens was 20.61 mg/kg with a reduction percentage of 88.91%, while in the hydroponic mustard greens it was 71.05 mg/kg with a reduction percentage of 70.71%. The results of statistical tests showed a significant difference (p < 0.05) between the two growing media. This study concluded that the type of growing media significantly affected the nitrite content of the mustard greens after boiling, where the soil media produced lower nitrite levels compared to the hydroponic media.
Anticholesterol Activity of Combined Binahong and Keji Beling Leaf Extracts in Mice (Mus musculus) Rizky, Eka Septia Nur; Aina, Ganea Qorry; Kusumawati, Nursalinda; Farpina, Eka
MEDFARM: Jurnal Farmasi dan Kesehatan Vol 14 No 2 (2025): Medfarm: Jurnal Farmasi dan Kesehatan
Publisher : LPPM Akafarma Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48191/medfarm.v14i2.684

Abstract

Cholesterol is a type of lipid found in the human body, with approximately 80% produced endogenously by the liver and the remaining 20% obtained from dietary sources. Elevated total cholesterol levels in the blood increase the risk of various health conditions such as cardiovascular disease, obesity, hypertension, and even stroke. Prolonged elevation can lead to plaque formation in blood vessels, resulting in impaired circulation and potentially life-threatening complications. The use of synthetic cholesterol-lowering drugs is often associated with unwanted side effects, including liver toxicity, muscle pain, and gastrointestinal disturbances. This has prompted increasing interest in safer, natural alternatives such as herbal medicine, which is perceived to provide fewer side effects and additional health benefits. This study aimed to investigate the anti-cholesterol activity of a combination of Binahong (Anredera cordifolia) and Keji Beling (Strobilanthes crispus) leaf extracts in mice (Mus musculus) induced with a high-cholesterol diet. The extraction method employed was maceration, using 96% ethanol as the solvent to ensure optimal phytochemical yield. The experimental design consisted of five groups: a negative control group, a positive control group, and three treatment groups receiving combinations of Binahong and Keji Beling extracts in ratios of 1:1, 1:3, and 3:1. Total cholesterol levels were measured using the Point of Care Test (POCT) method. The results showed that all treatment groups experienced a significant reduction in total cholesterol levels (p = 0.001 < 0.05). The most effective reduction was observed in the 1:1 ratio group, with a decrease of 45.39%, followed by the 3:1 group (27.80%) and the 1:3 group (14.17%). These findings indicate strong potential for development as an effective and safe herbal alternative for lowering cholesterol levels.