Claim Missing Document
Check
Articles

Konstruksi Konjektur Siswa SMP Topik Perbandingan Keliling dan Luas Persegipanjang Fransisca Nur Zuraidha; Abdul Haris Rosyidi
Jurnal Riset Pendidikan dan Inovasi Pembelajaran Matematika (JRPIPM) Vol. 6 No. 1 (2022): JRPIPM SEPTEMBER 2022 VOLUME 6 NOMOR 1
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jrpipm.v6n1.p15-31

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan tujuan mendeskripsikan konstruksi konjektur siswa SMP pada topik perbandingan keliling dan luas persegipanjang. Subjek penelitian adalah 3 siswa SMP Negeri yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian ini adalah tes konstruksi konjektur dan wawancara, lalu dianalisis menggunakan indikator konstruksi konjektur, yaitu (1) identifikasi dan eksplorasi masalah, (2) merumuskan konjektur, (3) menguji dan menyempurnakan konjektur, dan (4) membuktikan konjektur. Hasil penelitian menunjukkan pada tahap identifikasi dan eksplorasi masalah, siswa menentukan apa yang ditanyakan pada soal; menentukan informasi yang dibutuhkan untuk menjawab soal; memunculkan contoh-contoh lain; menemukan pola perbandingan keliling dan luas persegipanjang sebelum dan sesudah diperbesar. Pada tahap merumuskan konjektur, satu siswa merumuskan dengan memerhatikan pola sedangkan dua siswa perlu bantuan untuk merumuskannya. Siswa menguji konjektur menggunakan nilai panjang, lebar, dan perbesaran yang lain. Tidak ada siswa yang menyempurnakan konjektur karena merasa sudah benar. Siswa membuktikan konjektur dengan bantuan. Satu siswa berpikir bahwa menguji konjektur sudah sama dengan melakukan pembuktian. Kata Kunci: konstruksi konjektur, perbandingan, persegipanjang.
Pendampingan Perancangan Pembelajaran Inovatif untuk Menghadapi Tuntutan Abad 21 Bagi Guru-Guru Matematika SMP Kabupaten Nganjuk Endah Budi Rahaju; Abdul Haris Rosyidi; Siti Khabibah; Ika Kurniasari; Ahmad Wachidul Kohar
Jurnal Pengabdian Masyarakat IPTEKS Vol 7, No 2 (2021): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT IPTEKS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/jpmi.v7i2.3829

Abstract

Saat ini guru matematika didorong untuk dapat merancang pembelajaran yang diarahkan pada pencapaian tujuan pembelajaran matematika dan menjawab tantangan kecakapan abad 21, yaitu kemampuan berpikir logis, kritis, analitis, kreatif, cermat, teliti, serta mengembangkan kemampuan menggunakan matematika dalam pemecahan masalah. Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan program pelatihan guru yang dapat mendorong guru untuk mendesain pembelajaran yang sesuai dengan tantangan tersebut, seperti dengan model pembelajaran berbasis proyek (project-based learning). Program pelatihan yang dirancang dalam PKM berfokus pada tujuan utama yaitu merancang pembelajaran berbasis proyek pada materi SMP. Mitra yang dipilih adalah guru-guru SMP yang tergabung dalam MGMP Kabupaten Nganjuk sebanyak 52 guru, yang mana peserta diminta untuk membuat rancangan pembelajaran matematika inovatif berbasis projek. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kegiatan pendampingan mendapat respon positif dari peserta berdasarkan hasil angket yang diberikan dan membuka peluang guru untuk menghasilkan rancangan pembelajaran sesuai dengan yang ditugaskan
PERSPEKTIF PHYLOGENESIS DAN ONTOGENESIS DALAM PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA MENGGUNAKAN ASPEK SEJARAH MATEMATIKA Shofan Fiangga; Abdul Haris Rosyidi; Tatag Yuli Eko Siswono
AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.976 KB) | DOI: 10.24127/ajpm.v6i2.1044

Abstract

History of mathematics discusses a historical aspect of mathematics concepts since its appearance and development through ages. Understanding the background of why a certain concept appears in mathematics, an innovation in teaching and learning material may be developed. The historical aspect of mathematics concept can be used as guided reinvention activities for the children to learn the concept. This idea is in line with what stated in curriculum 2013. However, to implement in curriculum 2013, there is no feasible framework that can be used to work on. One perspective that can be used in this implementation is phylogenensis and ontogenesis perspective. In this paper a discussion on how phylogenesis and ontogenesis may be used to implement the history in teaching mathematics will be presented. In addition, an example on how a history can be used as reference in learning is provided.
THE CONSTRUCTION PROCESS OF NEW CONCEPT BASED ON APOS THEORY: MALE VS FEMALE IN DIRECT PROPORTION Abdul Haris Rosyidi; Kurrotul Hasanah
AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika Vol 11, No 4 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1248.195 KB) | DOI: 10.24127/ajpm.v11i4.5706

Abstract

The concept construction process makes students' mathematical knowledge develop better than before. It’s because the concept construction process involves the relationship of one concept to another. In constructing a mathematical concept, gender is influential in process. This qualitative research aims to describe the process of constructing new concept of male and female students. The subjects were two sixth grade elementary school students (one male, one female). The instruments were test and interview. The data analyzed using APOS theory (Action, Process, Object, Schema). At action stage, they can solve problems related to direct proportion concept. At process stage, they can interpret direct proportion problem into various representations and explain the characteristics. At object stage, they can provide other examples of direct proportion concept and identify a problem including direct proportion concept or not. At schema stage, they can define direct proportion but female student was clearer in defining it than male student. They can also conclude its relationship with some concepts. They can construct new concept well, although there are errors in the process. Female student is better than male student at conveying the results of her thoughts both in writing and verbally in the process of constructing new concept.Proses konstruksi konsep menjadikan pengetahuan matematika siswa berkembang lebih baik dari sebelumnya. Hal ini karena proses konstruksi konsep melibatkan hubungan antara satu konsep dengan konsep lainnya. Dalam membangun konsep matematika, jenis kelamin berpengaruh dalam prosesnya. Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses konstruksi konsep baru siswa laki-laki dan perempuan. Subjek penelitian adalah dua siswa kelas VI SD (satu laki-laki, satu perempuan). Instrumen yang digunakan adalah tes dan wawancara. Data dianalisis menggunakan teori APOS (Aksi, Proses, Objek, Skema). Pada tahap aksi, mereka dapat memecahkan masalah yang berkaitan dengan konsep perbandingan senilai. Pada tahap proses, mereka dapat menginterpretasikan masalah perbandingan senilai ke dalam berbagai representasi dan menjelaskan karakteristiknya. Pada tahap objek, mereka dapat memberikan contoh lain dari konsep perbandingan senilai dan mengidentifikasi suatu masalah termasuk konsep perbandingan senilai atau bukan. Pada tahap skema, mereka dapat mendefinisikan perbandingan senilai tetapi siswa perempuan lebih jelas dalam mendefinisikannya daripada siswa laki-laki. Mereka juga dapat menyimpulkan hubungannya dengan beberapa konsep. Mereka dapat mengonstruksi konsep baru dengan baik, meskipun ada kesalahan dalam prosesnya. Siswa perempuan lebih baik daripada siswa laki-laki dalam menyampaikan hasil pemikirannya baik secara tertulis maupun lisan dalam proses mengonstruksi konsep baru.
ANALISIS KEMAMPUAN SISWA SMP DALAM MEMERIKSA KEMBALI PADA PEMECAHAN MASALAH KONTEKSTUAL Achirul Abadin; Abdul Haris Rosyidi
MATHEdunesa Vol 11 No 2 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (820.959 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n2.p584-596

Abstract

Memeriksa kembali merupakan kegiatan penting pada tahapan pemecahan masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan memeriksa kembali siswa dalam pemecahan masalah kontekstual topik perbandingan. Subjek penelitian ini adalah 4 siswa kelas VIII SMP Negeri di Surabaya tahun pelajaran 2021/2022. Instrumen penelitian ini berupa tes pemecahan masalah, dan pedoman wawancara. Teknik analisis data dilakukan dengan melihat hasil tes dan wawancara pada subjek yang mengacu pada 4 indikator memeriksa kembali, yaitu 1) memeriksa kebenaran jawaban yang diperoleh, 2) mencari cara penyelesaian lain, 3) menggunakan metode untuk menyelesaikan masalah lain, 4) menggeneralisasi berbagai cara penyelesaian yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan, pada memeriksa jawaban, semua siswa mampu memeriksa jawaban dengan baik dan benar. Pada indikator mencari jawaban menggunakan cara lain, terdapat 2 siswa yang belum mampu mencari jawaban menggunakan cara lain. Lalu, pada penggunakan metode untuk menyelesaikan masalah lain, semua siswa mampu menerapkan ke dalam permasalahan kontekstual lain. Sedangkan untuk menggeneralisasi atau menarik kesimpulan jawaban yang diperoleh dari berbagai cara, semua siswa mampu membuat kesimpulan mengenai berbagai penyelesaian yang digunakan dalam memecahkan masalah. Masih ditemukannya siswa yang belum mampu menemukan cara lain untuk menyelesaikan masalah, maka pada pembelajaran pemecahan masalah perlu dibiasakan menuntut siswa mengembangkan cara lain dalam menyelesaikan masalah.
Analisis Kegagalan Siswa SMA dalam Pemecahan Masalah Kontekstual Materi Kesebangunan Dewi Isarotur Rohmahh; Abdul Haris Rosyidi
MATHEdunesa Vol 11 No 3 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 3 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (776.782 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n3.p765-778

Abstract

Pemecahan masalah merupakan aktivitas penting dalam pembelajaran matematika. Masih terdapat siswa yang mengalami kegagalan dalam pemecahan masalah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kegagalan siswa dalam pemecahan masalah kontekstual materi kesebangunan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan subjek 4 siswa dari SMA Negeri di Bojonegoro. Subjek penelitian dipilih dari siswa yang mengalami kegagalan di tahapan pemecahan masalah Polya yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan pada tahap memahami masalah siswa gagal dalam menentukan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan soal, siswa gagal dalam menentukan informasi yang cukup untuk mencari yang ditanyakan, gagal memvisualisasikan masalah dengan tepat, dan memberikan argumen pemahamannya yang tidak sesuai dengan soal. Pada tahap merencanakan masalah, siswa gagal dalam mengkaitkan masalah dengan materi matematika, kurang tepat dalam menyebutkan teorema atau definisi yang terkait dengan masalah. Pada tahap menyelesaikan pemecahan masalah siswa menjalankan penyelesaian tidak sesuai dengan rencana yang sudah disusun, menyelesaikan masalah dengan langkah yang kurang tepat, dan gagal membuktikan penyelesaiannya adalah benar. Pada tahap melihat kembali pemecahan masalah siswa gagal menemukan alternatif penyelesaian lain. Ketidakmampuan siswa menemukan konsep atau teorema yang relevan menjadi indikasi bahwa ada masalah dalam menerapkan konsep matematika di kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran dengan Pendekatan TaRL untuk Meningkatkan Minat dan Hasil Belajar Matematika Peserta Didik Tanthowi Jauhari; Abdul Haris Rosyidi; Amik Sunarlijah
Jurnal PTK dan Pendidikan Vol 9, No 1 (2023): Januari - Juni
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Antasari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/ptk.v9i1.9290

Abstract

Abstract: This research was motivated by the low interest and learning outcomes of class VIII-F students of SMP Negeri 54 Surabaya. Learning that is not in accordance with the abilities of students can cause students to be less active and experience a decrease in interest in learning. Low interest in learning can have an impact on low learning outcomes. Learning with the Teaching at the Right Level (TaRL) approach which does not refer to the class level can facilitate various characteristics of students. The research conducted in these 2 cycles aims to increase interest in and results in learning mathematics through the TaRL approach. TaRL emphasizes teachers to give students different treatment so that students' learning abilities and interests can develop according to their respective levels of development. Data on interest in learning were collected through questionnaires and data on learning outcomes through written tests, both of which were analyzed quantitatively. The indicator of the success of this research is that the percentage of students' interest in learning is included in the "adequate" criteria and students get a minimum score of 80 on the learning outcomes test with a completeness percentage of >30%. The results showed that the average percentage of interest in learning increased 16% from 50% (low) in cycle I to 66% (enough) in cycle II. In the aspect of learning outcomes indicated by an increase in the percentage of completeness of 40.7% from 9.3% in cycle I to 50% in cycle II. The average student score increased by 16 points from 63 points in cycle I to 79 points in cycle II.Keywords: Learning Interest, Learning Outcome, TaRL Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya minat dan hasil belajar peserta didik kelas VIII-F SMP Negeri 54 Surabaya. Pembelajaran yang tidak sesuai dengan kemampuan peserta didik dapat menyebabkan peserta didik kurang aktif dan mengalami penurunan minat belajar. Minat belajar yang rendah dapat berdampak pada hasil belajar yang rendah. Pembelajaran dengan pendekatan Teaching at the Right Level (TaRL) yang tidak mengacu pada tingkat kelas dapat memfasilitasi berbagai karakteristik peserta didik. Penelitian yang dilakukan dalam 2 siklus ini bertujuan meningkatkan minat dan hasil belajar matematika melalui pendekatan TaRL. TaRL menekankan guru untuk memberikan peserta didik perlakuan yang berbeda agar kemampuan dan minat belajar peserta didik dapat berkembang sesuai tingkat perkembangan masing-masing. Data minat belajar dikumpulkan melalui lembar angket dan data hasil belajar melalui tes tulis dengan keduanya dianalisis secara kuantitatif. Indikator keberhasilan penelitian ini yaitu persentase minat belajar peserta didik termasuk dalam kriteria “cukup” dan peserta didik memperoleh nilai minimal 80 pada tes hasil belajar dengan persentase ketuntasan >30%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata persentase minat belajar meningkat 16% dari 50% (kurang) pada siklus I menjadi 66% (cukup) pada siklus II. Pada aspek hasil belajar ditunjukkan dengan adanya peningkatan persentase ketuntasan sebesar 40,7% dari 9,3% pada siklus I menjadi 50% pada siklus II. Rerata nilai peserta didik mengalami peningkatan 16 poin dari 63 poin pada siklus I menjadi 79 poin pada siklus II.Kata Kunci: Hasil Belajar, Minat Belajar, TaRL
Proses Validasi pada Pemodelan Matematis Siswa SMP (Studi Kasus: Siswa Perempuan dan Siswa Laki-Laki) Rika Faradilla Citra Kharisma; Abdul Haris Rosyidi
MATHEdunesa Vol 12 No 1 (2023): Jurnal Mathedunesa Volume 12 Nomor 1 Tahun 2023
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/mathedunesa.v12n1.p289-312

Abstract

This study aims to describe the validation process in the mathematical modeling of male and female students. The subjects of this study were male and female students at State Junior High Schools in Surabaya. Data collection procedures through the assignment of mathematical modeling problems and interviews. Data analysis refers to the validation typology of Czocher (2018). The results show that male students and female students have similarities in validating mathematical solutions obtained by repeating arithmetic operations performed previously. In addition, the two students equally succeeded in validating the real result found with consideration related to the effect of changing situation model and arithmetic operations. However, male and female students failed to generate a variety of models so that no activity emerged in generalizing the various solutions obtained. Male students are able to consider the influence of real context aspects on the solutions found, while female students are not. Female students can explain the real model that was built by mentioning the specified mathematical concepts and the reasons for using them, while male students are not.
The Process of System of Linear Equations in Three Variables Solving Procedure’s Construction Using Analogy: Individual VS Paired Kurrotul Hasanah; Abdul Haris Rosyidi
MATHEdunesa Vol 12 No 2 (2023): Jurnal Mathedunesa Volume 12 Nomor 2 Tahun 2023
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/mathedunesa.v12n2.p534-556

Abstract

The process of knowledge construction can provide meaningful learning experiences for students. This is because students build new knowledge themselves by connecting one knowledge to another. The purpose of this qualitative research is to describe the process of new procedure’s construction using analogy. The subjects of the research consisted of three students of grade X high school (one student took the test individually, two students took the test in pair). Data analysis based on the APOS theory’s stage (Action, Process, Object, and Schema). At the action stage, both individual and paired students determine what is known and asked about the system of linear equations (SLE) in three variables problem based on analogy with the known things and asked about the SLE in two variables problem. They correctly determine the solution set of SLE in three variables. They also checked the correctness of the solution set of SLE in three variables correctly. At the process stage, they outline the steps of defining the solution set of SLE in three variables clearly. At the object stage, individual student cannot explain other methods of solving SLE in three variables, while paired students explain four other methods of solving SLE in three variables, that is the method of elimination, substitution, graphing, and matrix. At the schema stage, individual student cannot generalize some methods of solving SLE in three variables, whereas paired student generalize some methods of solving SLE in three variables. They also concluded the most effective method of solving SLE in three variables, that is the combined method. Individual student also explains that there is a SLE in three variables that has no solution, whereas paired students cannot explain it. They can construct new procedure well, despite errors in their process. In the process of new knowledge construction, the student's prior knowledge determines the quality of its construction process.
Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis ICT dengan Metode Game-Based Learning Materi Statistika Muhammad Fahreza Aditianata; Abdul Haris Rosyidi
MATHEdunesa Vol 12 No 2 (2023): Jurnal Mathedunesa Volume 12 Nomor 2 Tahun 2023
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/mathedunesa.v12n2.p487-505

Abstract

This study describes the development of learning media based on ICT using game-based learning methods in statistical material and the results of its development are viewed from the criteria of the eligibility quality of the media. This research refers to the ADDIE Lee & Owens development model which consists of 5 stages, namely at the analysis stage, needs assessment and front-end analysis are carried out, the design stage is determining statistical material, navigation, flowcharts, and storyboards, the development stage is the process of making media and instrument validation ( validation sheet, pre-test, post-test and user response questionnaire) by two media experts and two material experts, the implementation stage was carried out by field trials on six class X students of a private high school in Sidoarjo, and the evaluation stage consisted of 3 levels, namely level 1 reactions, level 2 knowledge, and level 3 results. At this stage an assessment of the validation results was carried out from the media expert validator with 79.63% results in the appropriate category and material experts with 80.83% results in the appropriate category as an evaluation of level 2 knowledge, then an assessment of the results of the student respondent's questionnaire as an evaluation of level 1 reactions with a result of 80 .75% is in the proper category and the assessment level 3 results, obtained from the results of the pre-test and post-test. After that, the average rating of each aspect was added up from all validator assessments and student response questionnaires to determine the quality of the resulting media, which was 80.16%, according to quality criteria, categorized as feasible.