Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis perbandingan arus starting motor induksi 3 fasa Sartika, Linda; Prasetia, Abdul Muis; Akbar, Muhammad Allriz
JURNAL ELTEK Vol. 23 No. 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/eltek.v23i2.6461

Abstract

Motor induksi tiga fasa merupakan motor yang mengubah energi listrik menjadi energi mekanik dan banyak digunakan pada industri kecil maupun besar sebagai penggerak. Dalam pengoperasiannya, motor induksi tiga fasa memiliki tantangan berupa lonjakan arus yang tinggi saat starting, yang dapat menyebabkan penurunan tegangan pada sistem distribusi dan mengganggu peralatan lain yang terhubung. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbandingan arus starting motor induksi tiga fasa menggunakan empat metode berbeda: DOL, Wye Delta, VSD, dan tahanan dalam. Metode penelitian dilakukan secara eksperimental dengan pengujian langsung pada motor induksi tiga fasa rotor belitan. Parameter yang diukur meliputi arus, tegangan, dan faktor daya saat starting dan saat motor beroperasi normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat metode menghasilkan karakteristik arus starting yang berbeda: DOL sebesar 1,5 A, Wye Delta 0,9 hingga 1,9 A, VSD 1,2 A, dan tahanan dalam sebesar 2 A. Metode Wye Delta terbukti paling efektif dalam mengendalikan lonjakan arus saat starting karena menggunakan dua konfigurasi yang memungkinkan pengurangan arus secara bertahap. Penelitian ini memberikan rekomendasi pemilihan metode starting yang sesuai untuk aplikasi industri dengan mempertimbangkan kebutuhan pengendalian arus awal.   ABSTRACTThree-phase induction motors convert electrical energy into mechanical energy and are widely used as prime movers in both small and large industrial applications. During operation, three-phase induction motors face challenges related to high current surges during starting, which can cause voltage drops in distribution systems and disrupt connected equipment. This research aims to analyze and compare the starting current of three-phase induction motors using four different methods: DOL, Wye Delta, VSD, and internal resistance. The research methodology was conducted experimentally with direct testing on a wound rotor three-phase induction motor. Parameters measured included current, voltage, and power factor during starting and normal operation. The results show that the four methods produce different starting current characteristics: DOL at 1.5 A, Wye Delta at 0.9 to 1.9 A, VSD at 1.2 A, and internal resistance at 2 A. The Wye Delta method proved most effective in controlling current surges during starting because it uses two configurations that allow for gradual current reduction. This research provides recommendations for selecting appropriate starting methods for industrial applications by considering initial current control requirements.
Smart Automation of Salinity and Turbidity for Sustainable Aquaculture of Harpodon nehereus Prasetia, Abdul Muis; Gazali Salim; Linda Sartika; Mujiyanto Mujiyanto; Julian Ransangan; Ariel E San Jose; Sitti Hartinah; Retno Hartati; Rozi
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 18 No. 1 (2026): JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jipk.v18i1.78793

Abstract

Graphical Abstract   Highlight Research 1. Model of growth and mortality of otek fish (Netuma thalassina (Rüppell, 1837)) in Tarakan waters, North Kalimantan. 2. Growth, mortality, and reproductive model of Bombay duck (Harpodon nehereus, Hamilton 1822) in Juata Laut waters, North Kalimantan. 3. Growth pattern and the condition index of nomei fish Harpodon nehereus captured with mini trawl in Tarakan Waters. 4. Characteristics of Model Growth and Mortality of White Shrimp (Penaeus merguiensis de Man 1888) in The Estuaria of Bengara, Regency Bulungan. 5. Preliminary study on the domestication of giant freshwater prawn, Macrobrachium rosenbergii (De Man, 1879) from North Kalimantan, Indonesia.   Abstract Automated water quality monitoring systems are urgently needed to ensure fish health and maintain aquaculture product quality. This study develops an adaptive microcontroller-based control system that automatically regulates salinity and turbidity to support the sustainable aquaculture of Harpodon nehereus. This study developed and evaluated a microcontroller-based system for automated regulation of salinity and turbidity in H. nehereus aquaculture ponds. Methods involved environmental observation, sensor calibration, system design, and field validation of a digital sensor-based water quality controller, tested in a pilot estuarine pond to keep salinity (~17‰) and turbidity (20-30 NTU) within optimal ranges. Calibration results obtained through linear regression analysis showed strong correlation with standard instruments (R² = 0.94 for salinity and R² = 0.93 for turbidity). Field trials demonstrated effective maintenance of turbidity within 22-27 NTU for 24 hours, and stepwise tests confirmed the system’s ability to track real-time salinity shifts. These results indicate that the microcontroller-based system effectively stabilises key water parameters for H. nehereus aquaculture and performs more efficiently than open systems. As one of the first integrated systems designed for automated salinity and turbidity regulation in estuarine aquaculture, it offers a practical and scalable approach to improve sustainability and ensure the food security of coastal fisheries. Future work should extend control to pH, DO, and temperature, refine calibration with predictive algorithms and wireless connectivity so that it can be used more widely in precision aquaculture with fish stocks.      
ANALISA PENGARUH PERUBAHAN BEBAN TERHADAP KARAKTERISTIK GENERATOR SINKRON PLTMG DI TANJUNG SELOR Sartika, Linda; Prasetia, Abdul Muis; Sejati, joko; Vebryan, Ebiet; Ramadhani, Alfian; Ferdiayansyah, Ferdiayansyah; Setiawan, Ahmad
Elektrika Borneo Vol 11, No 2 (2025): Elektrika Borneo Edisi Oktober
Publisher : Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Borneo Tarakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35334/eb.v11i2.7001

Abstract

Energi listrik merupakan kebutuhan penting bagi masyarakat untuk mendukung berbagai aktivitas, dan permintaannya terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk serta perkembangan pembangunan. Variasi konsumsi listrik setiap hari menyebabkan perubahan beban pada generator pembangkit, yang kemudian memengaruhi kinerja sistem ketenagalistrikan. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik generator sinkron pada PLTMG di Tanjung Selor saat terjadi perubahan beban. Analisis dilakukan melalui perhitungan daya aktif, tegangan terminal, dan arus armatur berdasarkan data operasional selama satu minggu.Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya aktif rata-rata mencapai nilai puncak sebesar 5.390 kW pada pukul 20.00 WITA, disertai penurunan tegangan terminal ketika daya aktif meningkat. Selain itu, arus armatur juga mengalami kenaikan signifikan, dengan rata-rata mencapai 2.150 A pada jam yang sama saat beban puncak terjadi. Temuan ini menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara perubahan beban dengan parameter kelistrikan generator. Oleh karena itu, pengaturan arus medan yang tepat diperlukan untuk menjaga kestabilan tegangan terminal dan kualitas daya listrik.
RANCANG BANGUN SISTEM KONTROL KECEPATAN MOTOR INDUKSI 3 FASA JENIS DAHLENDER MENGGUNKAN PROGRAMMABLE LOGIC CONTROLLER Prasetia, Abdul Muis; Sartika, Linda; Selama, Selama; Vebryan, Ebiet
Elektrika Borneo Vol 11, No 2 (2025): Elektrika Borneo Edisi Oktober
Publisher : Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Borneo Tarakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35334/eb.v11i2.6945

Abstract

Motor Dahlander adalah jenis motor AC asinkron dengan 2 atau lebih putaran. Hal ini dapat dilihat ketika dibandingkan dengan motor 3 fasa yang hanya memiliki 1 putaran dengan daya yang sama. Motor Dahlander sendiri merupakan motor dengan rotor kandang tupai. PLC sendiri memiliki beberapa keunggulan, termasuk memudahkan perubahan sistem kabel tanpa perlu mengganti sistem kabel dan dapat menggantikan kinerja beberapa relay hanya dengan menggunakan PLC. Jenis penelitian ini bersifat kuantitatif, yang merupakan pengembangan menggunakan desain. Dari hasil desain sistem kontrol motor Dahlander, sistem kontrol berfungsi sesuai harapan, ketika motor berputar lambat, kontak 1 bekerja, dan ketika berputar cepat, kontak 2 dan 3 bekerja. Untuk melakukan instalasi sistem kontrol motor induksi tipe Dahlander, diperlukan gambar diagram kontrol, gambar diagram daya, dan gambar diagram tangga. Pada sistem kontrol kecepatan motor induksi 3 fasa tipe Dahlander, kecepatan rotor yang lambat adalah 1456 rpm, dan pada kecepatan cepat, rotor berputar pada 2917 rpm.
SISTEM KONTROL TRAFFIC LIGHT BERDASARKAN JARAK ANTRIAN KENDARAAN PADA SIMPANG EMPAT MENGGUNAKAN PROGRAMMABLE LOGIC CONTROLLER BERBASIS PHOTOELECTRIC Prasetia, Abdul Muis; Sartika, Linda; Andika, Andika
Jurnal Kajian Teknik Elektro Vol 10, No 2 (2025): JKTE VOL 10 NO 2 (SEPTEMBER 2025)
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52447/jkte.v10i2.7818

Abstract

Seiring dengan banyaknya kendaraan yang ada maka dibuatlah traffic light. Pada tanggal 10 Desember 1868, traffic light pertama kali diterapkan di Inggris, tujuannya adalah mengatur lalu lintas di jalan raya. Adanya traffic light ini dapat mencegah kemacetan serta mengurangi kecelakaan yang ada di jalan. Serta juga dapat mengatur lajunya arus lalu lintas. Dalam penelitian ini penulis mencoba untuk bereksperimen, dengan kontrol PLC berbasis photoelectric yang terpasang pada traffic light. Tujuan utama dalam pengotrolan ini adalah memperhitungankan jarak antrian dan lama waktu tunggu pada traffic light dangan sensor sebagai photoelectric sebagai pengindraan yang mengirim sinyal pada PLC sebagai pusat kontrol. Terdapat tiga sensor yang digunakan yang berfungsi sebagai pendeteksi panjang antrian kendaraan pada setiap simpang. Jika antrian kendaraan mencapai sensor pertama waktu pada lampu hijau 7 detik lebih lama dibanding waktu normal. Jika antrian kendaraan mencapai sensor kedua waktu lampu hijau lebih lama 13 detik. Jika antrian kendaraan mencapai sensor ketiga maka waktu lampu hijau lebih lama 20 detik dari waktu normal. Syarat mengaktifkan sensor apabila terhalang selama 5 detik. Pada sistem kontrol traffic light ini, waktu tunggu (lampu merah) terlama antrian kendaraan 109 detik kondisi simpang dalam keadaan normal. Jika sensor aktif secara bersamaan waktu lampu hijau terlama 43 detik