Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Determinasi Diri sebagai Prediktor Ketangguhan Mental pada Atlet Mahasiswa Ersaliya Arezah; Haryanta Haryanta
Sang Pencerah: Jurnal Ilmiah Universitas Muhammadiyah Buton Vol 8 No 2 (2022): Sang Pencerah: Jurnal Ilmiah Universitas Muhammadiyah Buton
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah Buton

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.066 KB) | DOI: 10.35326/pencerah.v8i2.2075

Abstract

Sebagai atlet, mencapai kemenangan dalam suatu pertandingan merupakan fokus utama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan determinasi diri pada ketangguhan atlet mahasiswa. Responden penelitian (N = 130) merupakan atlet mahasiswa yang menekuni sebuah olahraga dan pernah mengikuti kompetisi. Skala yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas Skala Ketangguhan Mental yang disusun oleh Theses dan Cherry dan diadaptasi oleh Haryanta (2016) dan Skala Determinasi Diri yang merupakan kompilasi dari tiga skala, yaitu Sport Motivation Scale oleh Pelletier, dkk, (1995), Sport Motivation Scale-II oleh Pelletier, dkk, (2013), dan Sport Motivation Scale-6 oleh Mallett, dkk, (2007) dan diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia. Metode analisis data menggunakan teknik analisis regresi sederhana. Hasilnya R2 sebesar 0.12 menunjukkan determinasi diri berperan sebanyak 12.1% pada ketangguhan mental (p = 0.000).
LATIHAN KOSENTRASI DAN IDENTIFIKASI BAKAT SISWA PADA GURU PJOK Alficandra Alficandra; Ersaliya Arezah; M. Fransazeli Makarohim; Iwan Rivaldi; Muhammad Givari
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 3 (2022): Volume 3 Nomor 3 Tahun 2022
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v3i3.9221

Abstract

Masalah yang dihadapi oleh mitra berkaitan dengan program pembinaan prestasi olahraga di lingkungan Dispora Kabupaten Rokan Hilir Provinsi Riau. Pembinaan yang dilakukan tentunya membutuhkan banyak masukan dan penguatan dibidang pembinaan prestasi. Salah satu faktor penunjang yang diperlukan disini adalah Latihan Konsentrasi dan Identifikasi Bakat pada anak usia dini. Faktor konsentrasi adalah unsur yang sangat penting dalam mencapai kesuksesan dalam penampilan seorang dan bakat merupakan suatu kelebihan berupa kemampuan yang dimiliki seseorang dalam suatu bidang, yang mana dengan bakatnya tersebut ia tidak harus belajar dan berlatih dengan keras dalam bidang tersebut seperti orang lain yang tidak memiliki bakat sepertinya. Selain itu bakat dibawa oleh seseorang sejak lahir dan baru diketahui seiring perjalanan usiany sehingga perlunya identifikasi bakat. Kegiatan dari penguatan konsep Latihan konsentrasi dan identifikasi bakat ini dilaksanakan dengan beberapa tahapan. Pertama, tahap persiapan yaitu melakukan survei dan diskusi untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan, menetapkan sasaran, menyiapakan materi dan kebutuhan lainnya. Kedua, tahap pelaksanaan dengan kegiatan melakukan pre-test dan menyampaikan materi tentang latihan konsentrasi dan identifikasi bakat. Ketiga, tahap evaluasi dengan melakukan post-test dan menganalisis hasil akhir dari kegiatan Pengabdian masyarakat yang telah dilakukan. kegiatan pengabdian masyarakat ini berjalan dengan baik dari awal sampai akhir kegiatan, peserta mengikuti dengan antusias dan aktif dalam berdiskusi dengan pemateri. Hasil akhir diperoleh ada peningkatan pemahaman peserta berkaitan dengan penerapan konsep latihan konsentrasi dan identifikasi bakat siswa dalam meningkatkan prestasi atlet.
Why is Generation Z Prone to Swearing?: A Psycholinguistic Study on Semantic Shifts in Profanity (Mengapa Generasi Z Mudah Mengumpat?: Studi Psikolinguistik pada Perubahan Semantik dalam Umpatan) Sigit Nugroho; Ersaliyah Arezah; Muhammad Ahkam Alwi; Wahyudi Rahmat; Lisfarika Napitupulu; Yanwar Arief
Jurnal Gramatika Vol 9, No 2 (2023)
Publisher : Universitas PGRI Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22202/jg.2023.v9i2.7429

Abstract

Humans often use profanity as verbal aggression to express displeasure towards others or a particular situation. Using animal names and gender-related terms with regional connotations is common in Indonesian society. Generation Z, who predominantly engage in social media, have learned to use words like animal names or genders as tools to express their emotions, both aggressively and non-aggressively, which impact on interpersonal communication. This research aims to understand the semantic changes of words created by Generation Z. This will be achieved by applying four principles of semantic change: amelioration, pejoration, narrowing, and broadening. This research will explore the use of expletives in the style of Generation Z in their daily lives and the purpose behind their usage. The study adopts a qualitative approach, with eight respondents meeting the criteria of being part of Generation Z, frequently using expletives, and actively participating in social media. The data obtained will be analyzed using a thematic approach.  The results of this study indicate that the expletives used by Generation Z have deviated from standard literal language. Despite undergoing semantic changes, the words coined by Generation Z still constitute a part of verbal aggression. The inability to contextualize expletives within normative, psychological, and sociological perspectives renders these words commonplace and acceptable.
The Employability of Government Institution: The Role of Job Crafting and Creative Climate Moderator Ersaliya Arezah; Fathul Himam
Gadjah Mada Journal of Psychology (GamaJoP) Vol 9, No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/gamajop.69025

Abstract

The evolution of technology led to rapid changes that affected both organizations and employees. Employability was a term to describe a continuum process of fulfilling the skills and expertise that also changed rapidly. One’s behavior in crafting a job could lead to one’s employability. Organizational climate, which in this study was the creative climate, had a moderating role in affecting the job creation toward employability. This study aimed to explain the role of job crafting in predicting employability in government institution X and creative climate as the moderator. The quantitative approach was applied to this research, by distributing Employability Scale (α = 0.937), Job Crafting Scale (α=0.922), and Creative Climate Scale (α=0.950) to 129 employees of government institution X. The study showed that job crafting significantly predicted the employability (R2 = 56.7%; p = 0.000, p < 0.05) along with creative climate lessened the prediction of job crafting to employability (p = 0.027, p < 0.05). Thus, the hypothesis in this study was accepted. Therefore, it was worth noting that job crafting had benefits for employees’ employability with a constructive, suitable organizational climate.
Why is Generation Z Prone to Swearing?: A Psycholinguistic Study on Semantic Shifts in Profanity (Mengapa Generasi Z Mudah Mengumpat?: Studi Psikolinguistik pada Perubahan Semantik dalam Umpatan) Sigit Nugroho; Ersaliyah Arezah; Muhammad Ahkam Alwi; Wahyudi Rahmat; Lisfarika Napitupulu; Yanwar Arief
Jurnal Gramatika Vol 9, No 2 (2023)
Publisher : Universitas PGRI Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22202/jg.2023.v9i2.7429

Abstract

Humans often use profanity as verbal aggression to express displeasure towards others or a particular situation. Using animal names and gender-related terms with regional connotations is common in Indonesian society. Generation Z, who predominantly engage in social media, have learned to use words like animal names or genders as tools to express their emotions, both aggressively and non-aggressively, which impact on interpersonal communication. This research aims to understand the semantic changes of words created by Generation Z. This will be achieved by applying four principles of semantic change: amelioration, pejoration, narrowing, and broadening. This research will explore the use of expletives in the style of Generation Z in their daily lives and the purpose behind their usage. The study adopts a qualitative approach, with eight respondents meeting the criteria of being part of Generation Z, frequently using expletives, and actively participating in social media. The data obtained will be analyzed using a thematic approach.  The results of this study indicate that the expletives used by Generation Z have deviated from standard literal language. Despite undergoing semantic changes, the words coined by Generation Z still constitute a part of verbal aggression. The inability to contextualize expletives within normative, psychological, and sociological perspectives renders these words commonplace and acceptable.
Psikoedukasi Kelompok Lansia di Bukit Batu, Bengkalis dengan Pelaksanaan Expressive Art Therapy Wina Diana Sari; Rachmayati Eka Safitri; Ersaliya Arezah; Rizdqi Akbar Ramadhan
I-Com: Indonesian Community Journal Vol 4 No 2 (2024): I-Com: Indonesian Community Journal (Juni 2024)
Publisher : Fakultas Sains Dan Teknologi, Universitas Raden Rahmat Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33379/icom.v4i2.4788

Abstract

In 2050, as many as 16% of the world’s population will be elderly individuals. Furthermore, around 14% of adults aged 60 years and over live with mental disorders. This number is quite large for the post-productive group, hence special attention is needed for the empowerment and welfare of the elderly. The number of elderly people in rural areas is greater than in urban areas in Riau Province, which is the basis for implementing psychoeducation and art therapy for elderly groups in the district of Bukit Batu, Bengkalis. Art therapy in the form of fitness exercises and coloring was welcomed enthusiasticly by the target group. It is hope that the following service activities can be replicated in other villages as a form of concern for the elderly group.
PERBEDAAN MOTIVASI KERJA PADA SELF-EMPLOYMENT DAN APARATUR SIPIL NEGARA Arezah, Ersaliya; Safitri, Rachmayati Eka
Jurnal Manajemen Bisnis Dan Organisasi Vol 3 No 1 (2024): Jurnal Manajemen Bisnis Dan Organisasi (JMBO)
Publisher : Yayasan Pendidikan Cahaya Budaya Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58290/jmbo.v3i1.280

Abstract

Pemenuhan kebutuhan harian menjadi salah satu alasan seseorang untuk bekerja. Di samping pemenuhan tersebut, individu membutuhkan dorongan atau motivasi untuk terus bekerja, terlepas dari pekerjaan yang digeluti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motivasi kerja pada individu dari dua latar belakang pekerjaan yang berbeda, yaitu pekerjaan yang lepasan (self-employment) dan pekerjaan terikat (ASN). Pendekatan kualitatif dilakukan dalam penelitian ini dengan menggunakan teori ERG sebagai acuan wawancara. Hasil penelitian ditemukan bahwa kedua jenis pekerjaan dapat membuat subjek memenuhi aspek existence dan growth, namun terdapat perbedaan dinamika motivasi pada aspek relatedness antara subjek self-employment dengan subjek ASN yang mana subjek ASN mengalami interaksi sosial yang positif dan negatif dengan rekan kerja dan atasan yang tidak tampak pada subjek self-employment.
The Difference Of Work Motivation In Self-Employment And Civil Servant Arezah, Ersaliya
Journal of Islamic and Contemporary Psychology Vol. 3 No. 1 (2023): Journal of Islamic and Contemporary Psychology (JICOP)
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/jicop.v3i1.12452

Abstract

One of the reasons people work is to meet their daily needs. Individuals require encouragement or motivation to continue working, regardless of the type of work they are doing. The purpose of this research was to determine work motivation among individuals from two different work backgrounds: freelance work (self-employment) and bonded work as Civil Servants (PNS). This study took a qualitative method, with ERG theory serving as a guide for interviewees. The findings of this study revealed that both types of work can help subjects fulfil the aspects of existence and growth, but there are differences in the dynamics of motivation in the relatedness aspect between self-employment subjects and PNS subjects, with PNS subjects experiencing positive and negative social interactions with coworkers and superiors that self-employment subjects do not.
Gadget, Teman atau Lawan? Optimalisasi Penggunaan Gadget dalam Pengasuhan Arezah, Ersaliya; Safitri, Rachmayati Eka; Sari, Puti Mayang
Jurnal Pengabdian Harapan Ibu (JPHI) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Pengabdian Harapan Ibu (JPHI)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Harapan Ibu Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30644/jphi.v7i1.983

Abstract

Perkembangan teknologi serta pemanfaatannya tidak dapat dihindari dan merambah pada semua kalangan, termasuk anak-anak. Mereka yang merupakan generasi Alfa adalah generasi yang lahir ketika teknologi berada pada puncak perkembangannya sehingga penggunaan gawai cukup sulit untuk dihindarkan. Psikoedukasi ini dilaksanakan agar penggunaan gawai dapat terawasi dan cenderung aman. Target dari psikoedukasi adalah orangtua dari murid-murid di TK Islam Nuria, Pekanbaru. Pelaksanaan psikoedukasi terbilang lancar dan harapannya dapat memberikan penambahan pengetahuan kepada orangtua ketika menggunakan gawai di dalam pengasuhan.
Psikoedukasi Filosofi Stoic pada Generasi Z Ersaliya Arezah; Rachmayati Eka Safitri
Jurnal Abdimas Indonesia Vol. 2 No. 4 (2022): Oktober-Desember 2022
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/jai.v2i4.348

Abstract

Sebagai generasi yang lahir dan berkembang dalam kemajuan teknologi, generasi Z dibanjiri oleh informasi tentang beragam hal, seperti gaya hidup seseorang yang mewah, prestasi seseorang yang cemerlang yang membuat generasi Z rentan akan perasaan inferior dan gangguan kecemasan, Psikoedukasi filosofi Stoic untuk generasi Z bertujuan untuk menurunkan prevalensi gangguan mental pada generasi Z yang rentan mengalami hal tersebut. Psikoedukasi yang diberikan dalam bentuk ceramah (pemberian materi) kepada 59 partisipan generasi Z yang dilaksanakan secara daring. Melalui psikoedukasi, para peserta menjadi paham filosofi Stoic sehingga dapat mengimplementasikannya dalam kehidupan nyata. Hal ini bermanfaat bagi generasi Z sebagai “bonus demografi” untuk terhindar dari gangguan mental yang dapat menganggu aktivitas harian.