Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Tindak Tutur Direktif dalam Komunikasi Antarbudaya Masyarakat Kota Palu Husnul Khatima; Asrianti; Arum Pujining Tyas
KREDO : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra Vol. 9 No. 2 (2026): JURNAL KREDO VOL 9 NO 2 TAHUN 2026
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/kredo.v9i2.16684

Abstract

Palu City is a multilingual and multiethnic urban space where everyday interactions frequently occur between speakers of Kaili, Bugis, and Javanese backgrounds. In such settings, directive speech acts are particularly prone to intercultural misunderstanding because they inherently demand a response and may threaten the interlocutor’s “face” when delivered without culturally appropriate mitigation. Despite abundant Indonesian pragmatics studies on directive speech acts, most focus on relatively homogeneous communities or classroom contexts, leaving limited evidence from naturally occurring intercultural encounters in public urban spaces. This study investigates the forms and functions of directive speech acts in intercultural communication in Palu City and explains how their use relates to Intercultural Communicative Competence (ICC). Employing a qualitative pragmatic approach, data were collected from naturally occurring spoken interactions in two intercultural arenas markets and a university campus through observation, non-participant listening, audio recording, and field notes. Thirty directive utterances were analyzed using Miles and Huberman’s interactive model. The findings identify six directive forms (requests, commands, questions, prohibitions, permissions, advice) and eleven functions (expressing expectations, pleading, ordering, instructing, inviting, questioning, preventing, prohibiting, permitting, suggesting, encouraging). The results highlight the role of ethnic particles and address terms as mitigation strategies and show that ICC particularly sociolinguistic, strategic, grammatical, and discourse competences shapes how directives are produced and repaired when misunderstandings arise. Practically, these insights can inform intercultural communication training and Indonesian language learning to reduce pragmatic failure in multicultural classrooms and public service encounters.
Speech Acts In Classroom Discourse at SMP N 12 Palu Alya; Asrianti; Arum Pujining Tyas
KREDO : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra Vol. 9 No. 2 (2026): JURNAL KREDO VOL 9 NO 2 TAHUN 2026
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/kredo.v9i2.16704

Abstract

This study aims to describe the form and function of speech acts in classroom discourse at State Junior High School 12 Palu. This study uses a qualitative approach. The data consists of oral utterances collected through recording techniques, free conversation listening techniques, and note-taking techniques in classes IX A and IX B. Data analysis was conducted using the Miles and Huberman model, namely data reduction, data presentation, and conclusion drawing/verification. The results of the study show that there are three forms of assertive speech acts, namely stating, informing, and explaining; one form of commissive speech act, namely promising; six forms of directive speech acts, namely requesting, advising, prohibiting, commanding, asking, and giving permission; and five forms of expressive speech acts, namely apologizing, thanking, praising, complaining, and sarcasm, and declarative speech acts were found in three forms, namely deciding, canceling, and punishing. Twenty-two functions were then found, such as stating, informing, explaining, promising, requesting, advising, prohibiting, preventing, commanding, ordering, requiring, asking, agreeing, allowing, apologizing, thanking, praising, complaining, Insinuating, deciding, canceling, and punishing. This research has significant implications for improving communication methods in learning. By understanding and applying a variety of speech acts in a balanced manner, classroom interactions are no longer one-way but rather become dialogic and participatory.
ANALISIS TINDAK TUTUR KOMISIF PADA DEBAT PUBLIK CALON BUPATI DAN WAKIL BUPATI KABUPATEN POSO TAHUN 2024 Stevionika Boso; Ida Nuraeni; Asrianti; Juniati; Arum Pujining Tyas
KREDO : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra Vol. 10 No. 1 (2026): JURNAL KREDO VOL 10 NO 1 TAHUN 2026
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/kredo.v10i1.17347

Abstract

This study employs a descriptive qualitative approach to describe the forms of commissive speech acts in the public debate of the 2024 regent and deputy regent candidates of Poso Regency. Data were collected through non-participant observation, listening, and note-taking techniques on the candidates’ utterances across three debate sessions broadcast through official media channels. The data were analyzed using the interactive model proposed by Miles and Huberman. The findings reveal 59 commissive utterances, consisting of 56 promises (marked by expressions such as will, we will maintain, menjamin guarantee, we will actualiz, we will expand, we will establish, we will implement, we aspire, dedicated, and resolute, the remaining utterances consist of 2 instances of commissive offering, marked by offering, and 1 instance of commissive refusing, marked by dissent. The study shows that commissive speech acts are not only used to deliver political programs but also to build public trust through issues of unity, religious moderation, welfare, and regional development. The novelty of this research lies in its examination of commissive speech acts in local political debates within a post-conflict society context, which has been rarely discussed in previous studies. The results contribute to the development of pragmatics in political communication and demonstrate that commissive speech acts function as a linguistic strategy used by candidates to express political commitments and build public trust in public debates.
Penguatan Literasi Argumentatif Melalui Pelatihan Debat Bagi Siswa SMA Islam Terpadu Bina Insan Palu Asrianti; Ibmasiah Wardatun Islamiyah; Pratama Bayu Santosa; Mawardin
Dedikasi Mandiri Nusantara Vol. 2 No. 2 (2026): Dedikasi Mandiri Nusantara - April 2026
Publisher : Dedikasi Mandiri Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.21194013

Abstract

Kemampuan literasi argumentatif merupakan salah satu kompetensi penting yang harus dimiliki peserta didik pada abad ke-21. Literasi argumentatif tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menyampaikan pendapat, tetapi juga mencakup kemampuan menganalisis informasi, mengevaluasi bukti, menyusun alasan yang logis, serta mempertahankan gagasan secara santun berdasarkan data yang valid. Kenyataannya, masih banyak siswa sekolah menengah atas yang mengalami kesulitan dalam menyampaikan argumentasi secara sistematis karena minimnya pengalaman berlatih berpikir kritis dan berbicara di depan umum. Kondisi tersebut juga ditemukan pada siswa SMA Islam Terpadu Bina Insan Palu. Sebagian besar siswa menunjukkan keberanian berbicara yang cukup baik, namun kualitas argumentasi yang dibangun masih bersifat deskriptif, belum didukung fakta, serta kurang memperhatikan struktur penalaran yang logis. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan meningkatkan literasi argumentatif siswa melalui pelatihan debat yang dirancang secara partisipatif. Metode pelaksanaan terdiri atas tahap identifikasi kebutuhan, koordinasi dengan sekolah, penyusunan materi, pelaksanaan pelatihan, simulasi debat, pendampingan, evaluasi, dan refleksi. Pelatihan diikuti oleh 40 siswa yang berasal dari kelas X dan XI dengan pendekatan pembelajaran aktif melalui ceramah interaktif, diskusi kelompok, studi kasus, simulasi debat, praktik argumentasi, serta pemberian umpan balik secara langsung. Evaluasi dilakukan menggunakan pretest dan posttest, lembar observasi keterampilan argumentatif, serta angket respons peserta. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kemampuan siswa dalam menyusun klaim, memberikan alasan yang logis, menggunakan data sebagai bukti pendukung, menyampaikan sanggahan secara santun, dan menarik kesimpulan yang relevan. Nilai rata-rata peserta mengalami peningkatan dari kategori sedang menjadi kategori tinggi. Selain itu, siswa menunjukkan peningkatan rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, keterampilan komunikasi, serta kemampuan berpikir kritis selama proses debat berlangsung. Kegiatan ini membuktikan bahwa pelatihan debat merupakan strategi yang efektif dalam memperkuat literasi argumentatif siswa sekolah menengah atas. Program serupa direkomendasikan untuk dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai bagian dari penguatan budaya literasi di lingkungan sekolah.
Penguatan Literasi Argumentatif Melalui Pelatihan Debat Bagi Siswa SMA Islam Terpadu Bina Insan Palu Asrianti; Ibmasiah Wardatun Islamiyah; Pratama Bayu Santosa; Mawardin
Dedikasi Mandiri Nusantara Vol. 2 No. 2 (2026): Dedikasi Mandiri Nusantara - April 2026
Publisher : Dedikasi Mandiri Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.21194013

Abstract

Kemampuan literasi argumentatif merupakan salah satu kompetensi penting yang harus dimiliki peserta didik pada abad ke-21. Literasi argumentatif tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menyampaikan pendapat, tetapi juga mencakup kemampuan menganalisis informasi, mengevaluasi bukti, menyusun alasan yang logis, serta mempertahankan gagasan secara santun berdasarkan data yang valid. Kenyataannya, masih banyak siswa sekolah menengah atas yang mengalami kesulitan dalam menyampaikan argumentasi secara sistematis karena minimnya pengalaman berlatih berpikir kritis dan berbicara di depan umum. Kondisi tersebut juga ditemukan pada siswa SMA Islam Terpadu Bina Insan Palu. Sebagian besar siswa menunjukkan keberanian berbicara yang cukup baik, namun kualitas argumentasi yang dibangun masih bersifat deskriptif, belum didukung fakta, serta kurang memperhatikan struktur penalaran yang logis. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan meningkatkan literasi argumentatif siswa melalui pelatihan debat yang dirancang secara partisipatif. Metode pelaksanaan terdiri atas tahap identifikasi kebutuhan, koordinasi dengan sekolah, penyusunan materi, pelaksanaan pelatihan, simulasi debat, pendampingan, evaluasi, dan refleksi. Pelatihan diikuti oleh 40 siswa yang berasal dari kelas X dan XI dengan pendekatan pembelajaran aktif melalui ceramah interaktif, diskusi kelompok, studi kasus, simulasi debat, praktik argumentasi, serta pemberian umpan balik secara langsung. Evaluasi dilakukan menggunakan pretest dan posttest, lembar observasi keterampilan argumentatif, serta angket respons peserta. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kemampuan siswa dalam menyusun klaim, memberikan alasan yang logis, menggunakan data sebagai bukti pendukung, menyampaikan sanggahan secara santun, dan menarik kesimpulan yang relevan. Nilai rata-rata peserta mengalami peningkatan dari kategori sedang menjadi kategori tinggi. Selain itu, siswa menunjukkan peningkatan rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, keterampilan komunikasi, serta kemampuan berpikir kritis selama proses debat berlangsung. Kegiatan ini membuktikan bahwa pelatihan debat merupakan strategi yang efektif dalam memperkuat literasi argumentatif siswa sekolah menengah atas. Program serupa direkomendasikan untuk dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai bagian dari penguatan budaya literasi di lingkungan sekolah.
Analisis Bentuk dan Frekuensi Kesalahan Sintaktis dalam Menulis Teks Deskripsi Siswa Kelas VIII SMP Negeri 6 Bolano Lambunu Fitri Khodiyah; Syamsuddin; Asrianti; Idris Pattekai; Julia Marfuah
KREDO : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra Vol. 10 No. 1 (2026): JURNAL KREDO VOL 10 NO 1 TAHUN 2026
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/kredo.v10i1.17253

Abstract

Kesalahan sintaksis dalam tulisan siswa, khususnya dalam teks deskriptif, menunjukkan pemahaman yang belum lengkap tentang aturan linguistik yang mengatur konstruksi frasa, klausa, dan kalimat. Oleh karena itu, menganalisis kesalahan-kesalahan ini sangat penting untuk mengidentifikasi bentuk dan frekuensinya sebagai dasar untuk meningkatkan pengajaran menulis. Studi ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan frekuensi kesalahan sintaksis yang ditemukan dalam teks deskriptif yang ditulis oleh siswa SMP Negeri 6 Bolano Lambunu. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran, dengan metode kualitatif untuk mendeskripsikan bentuk kesalahan dan metode kuantitatif untuk menghitung frekuensinya. Data terdiri dari 20 teks deskriptif siswa yang dikumpulkan melalui pengujian, pencatatan, dan dokumentasi. Data tersebut dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman, yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan total 37 kesalahan sintaksis: kesalahan frasa mencapai 62%, dengan interferensi bahasa daerah sebagai jenis kesalahan yang dominan; kesalahan klausa mencapai 5%, terutama melibatkan klausa yang tidak memiliki subjek; dan kesalahan kalimat mencapai 32%, dengan penggunaan konjungsi yang berlebihan sebagai masalah yang paling umum. Hasil ini menunjukkan bahwa kemampuan menulis siswa perlu dikembangkan lebih lanjut, khususnya dalam menguasai aturan sintaksis untuk menghasilkan komunikasi tertulis yang lebih efektif. Kata kunci: kesalahan bahasa, sintaksis, teks deskriptif, Lambunu
The Local Wisdom of ‘Malabot Tumbe’: A Community Ritual in Banggai District Fadly A. Karim; Julia Marfuah; Asrianti
Jurnal Kewarganegaraan Vol 6 No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v6i2.2599

Abstract

Abstrak Kearifan lokal adalah bagian dari budaya suatu masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Molabot Tumpe merupakan tradisi penjemputan telur pertama burung maleo dari masyarakat adat Batui ke keraton Banggai. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan nilai-nilai kearifan lokal dalam ritual “Molabot Tumbe” Masyarakat Kabupaten Banggai. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa nilai kearifan lokal yang terkandung dalam ritual tersebut, diantaranya: kearifan lokal kesejahteraan yang terdiri atas disiplin, gotong royong, pelestarian dan kreativitas budaya dan peduli lingkungan. Kemudian, terdapat pula nilai kearifan lokal kedamaian yang terdiri atas kesetiakawanan sosial, kerukunan dan penyelesaian konflik, komitmen dan pikiran positif. Kata Kunci: Kearifan lokal, Molabot tumbe, Masyarakat Banggai Abstract Local wisdom is part of the culture of a society that is passed down from generation to generation. Molabot Tumpe is a tradition of picking up the first maleo eggs from the Batui people to the Banggai palace. This study aims to reveal the values ​​of local wisdom in the "Molabot Tumbe" ritual of the Banggai Regency community. The method used is a qualitative method with an ethnographic approach. Based on the results of the study, there are several values ​​of local wisdom contained in the ritual, including: local wisdom of welfare which consists of discipline, mutual cooperation, preservation and cultural creativity and care for the environment. Then, there is also the value of local wisdom of peace which consists of social solidarity, harmony and conflict resolution, commitment and positive thoughts. Keywords: Local wisdom, Banggai Society, Molabot Tumpe.