Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Morfologis dan Berat Relatif Organ Hati Tikus yang Diinduksi Karagenan Setelah Pemberian Ekstrak Kombinasi Rimpang Temulawak dan Buah Belimbing Wuluh Alipin, Kartiawati; Azizah, Neng Rina Nur
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2021: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.557 KB)

Abstract

Penggunaan tumbuhan obat Temulawak dan Belimbing Wuluh telah diketahui mempunyai potensi sebagai antidiabetes alami, selain itu kombinasi ini mempunyai aktivitas sebagai antioksidan. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak kombinasi rimpang temulawak dan buah belimbing wuluh terhadap hati tikus yang diinduksi karagenan. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan lima perlakuan terdiri dari KN (larutan tween 80 PA), KP (karagenan 2%), PB (imboost force dosis 32,76 mg/kg bb), P1 (ekstrak kombinasi dosis 767,5 mg/kg bb), dan P2 (ekstrak kombinasi dosis 383,75 mg/kg bb). Hasil penelitian menunjukkan pada pengamatan makroskopis telihat warna hati lebih terang pada P1 dan P2 serta terdapat peningkatan berat relatif hati dibandingkan dengan KN, KP dan PB. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak kombinasi rimpang temulawak dan buah belimbing wuluh dapat melindungi hati akibat induksi karagenan.
Gambaran Morfologis Ginjal Ayam yang Diberi Ransum Mengandung Temulawak Serta Pengaruhnya terhadap Bobot Badan Alipin, Kartiawati; Fadilah, Ardi Mufarriz; Kuntana, Yasmi Purnamasari
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2016: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (722.537 KB)

Abstract

Temulawak merupakan tanaman obat asli Indonesia yang mempunyai khasiat sebagai antibakteri yang dapat digunakan sebagi antibiotik alami dalam mencegah maupun mengobati penyakit. Pemanfaatan temulawak tidak hanya untuk manusia namun dapat digunakan sebagai pencegah penyakit pada ayam broiler, hal ini dilakukan dengan tujuan sebagai alternatif pengganti penggunaan antibiotik selama pemeliharaan ayam. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh kurkuminoid temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) terhadap organ ginjal ayam broiler dilihat dari struktur morfologis serta pengaruhnya terhadap bobot badan. Metode penelitian secara eksperimental dengan rancangan acak lengkap yang terdiri dari empat perlakuan dan enam ulangan yaitu R0 (kontrol), R1 (37 mg kurkuminoid /kg ransum), R2 (74mg kurkuminoid/kg ransum) dan R3 (111 mg kurkuminoid/kg ransum). Perlakuan diberikan terhadap ayam broiler umur empat hari hingga lima minggu secara adlibitum. Hasil penelitian menunjukkan pemberian kurkuminoid temulawak pada semua dosis perlakuan berpengaruh terhadap struktur morfologis ditandai dengan adanya perubahan warna pada ginjal. Kesimpulan penelitian adalah walaupun pemberian kurkuminoid temulawak berpengaruh terhadap morfologis ginjal ayam namun masih dalam batas normal karena bobot badan ayam broiler mengalami peningkatan dibandingkan dengan kontrol.
Development of Mice Embryo (Mus musculus L.) after Closed Pulled Straw Vitrification in CZB Medium Gunawan, Muhammad; Kaiin, Ekayanti Mulyawati; Rusherdiannita, Raden Cindy; Alipin, Kartiawati
Annales Bogorienses Vol. 23 No. 2 (2019): Annales Bogorienses
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The objective of our present experiment was to investigate the effects of closed pulled straw (CPS) vitrification on the viability and development of mouse embryo. The experiment was arranged according to completely randomized design (CRD) consisting of 4 treatments, namely not vitrification (NV) is control, CPS 1 (mCZB Hepes + 20% Bovine Serum Albumin (BSA) +0.5 M sucrose + 10% EG + 10% DMSO), CPS 2 (mCZB Hepes + 20% BSA + 0.5 M sucrose + 15% EG + 15% DMSO), and CPS 3 (mCZB Hepes + 20% BSA +0.5 M sucrose + 20% EG + 20% DMSO) with 6 replications. The viability of embryos (%) was determined after 24 - 72 h of the culture period, while we also observed the percentage of embryos reaching the blastocyst stage (early blastocyst, expanded, hatching, and hatched). As a result, the treatments did not give a significant difference in the viability of embryos (P<0,05) but showed significant effects on embryo development (P<0,05). Furthermore, this present work conclusively found that CPS vitrification in CZB medium with cryoprotectants ethylene glycol (EG) and dimethyl sulfoxide (DMSO) noticeably influenced the development of mice embryo to reach the blastocyst stage, but showed no remarkable difference in the viability of embryo after culture for 24 – 72 h.