Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Reversibility Time in Testicular Damage on Male Wistar Rat after Treatment of Averrhoa blimbi L. Fruits Extract as Antifertility Alipin, Kartiawati; Rochman, Indra A.; Malini, Desak M.; Madihah, Madihah
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Suppl 1, No. 1 (2018)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.875 KB) | DOI: 10.15416/ijpst.v1i1.16123

Abstract

Belimbing wuluh (Averrhoa blimbi) fruit is commonly used traditionally as antifertility. The bioactive compounds of A. blimbi have been known could inhibit spermatogenesis and development of testes, as well as decrease the quality and quantity of spermatozoa, thus, caused seminiferous tubular atro- phy. This study aimed to determine the reversibility time in testicular damage after the treatment of A. blimbi fruit extract on male Wistar rat. The method employed a completely randomized design (CRD) consists of nine treatments with three replications each. The treatment of the extract at a dose 1140 mg/ kg BW and control group was given the solvent. After 14 days of treatment, the reversibility time was examined in testis histological section by interval of seven days each until 49 days. The results showed that the treatment of A. blimbi fruit extract caused disruptions in seminiferous tubules, i.e. decreased the number of spermatogonium and spermatid, as well as the diameter of lumen and seminiferous tu- bules. The reversibility time was observing at 21 days after the end extract treatments, by increasing the number of of spermatogonium and spermatid, as well as the diameter of lumen and seminiferous tubules that signi cantly different with infertile rat (p<0.05). In conclusion, the reversibility time was 21 days after the treatment of A. blimbi fruit extract as antifertility. Key words: Averrhoa blimbi, rats, reversible time, tubulus seminiferous
KARAKTERISTIK HISTOLOGIS TESTIS TIKUS (Rattus norvegicus Berkenhout, 1769) MODEL DIABETES YANG DIINDUKSI STREPTOZOTOCIN Kartiawati Alipin; Elsha Prastiwi
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 19, No 1 (2021): BIOTIKA JUNI 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v19i1.32348

Abstract

Diabetes mellitus (DM) adalah penyakit kronis yang ditandai dengan kadar glukosa darah yang tinggi akibat pengaturanhomeostasis glukosa terganggu. Kondisi DM pada hewan uji dapat dilakukan dengan menginduksi diabetogenstreptozotocin. Diabetes mellitus dapat menyebabkan impotensi, gangguan ejakulasi, merusak spermatogenesis, fungsikelenjar seks aksesori dan berbagai penyakit sistemik pada fertilitas pria. Penurunan proses spermatogenesis dapat dilihatdari histologis testis terutama pada bagian kompartemen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristikhistologis testis tikus model diabetes yang diinduksi streptozotocin (STZ). Penelitian ini menggunakan metode analisisdeksriptif komparatif dengan membuat preparat organ testis pada perlakuan (KN). Kontrol Negatif diberikan pelarutCarboxyl Methyl Cellulose (CMC) 0,5% dan tikus model diabetes hasil induksi Streptozotocin 60mg/kgbb (D). Setiapsayatan histologis testis dari masing-masing perlakuan diamati secara kualitatif struktur mikroskopis penampangmelintang tubulus seminiferous. Hasil pengamatan pada tikus diabetes menunjukkan terjadi pelebaran pada bagiankompartemen basal dan adluminal, hal ini disebabkan pengaruh diabetogen Streptozotocin menimbulkan stress oksidatifyang memicu terjadinya apoptosis sehingga terjadi kerusakan pada bagian kompartemen basal dan adluminal.
GAMBARAN MORFOLOGIS SPERMATOZOA TIKUS GALUR WISTAR (Rattus norvegicus Berkenhout, 1769) PASCA PEMBERIAN EKSTRAK Averrhoa bilimbi L. Kartiawati Alipin; Anggi Ferdinand Apriliandri
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 17, No 1 (2019): BIOTIKA JUNI 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bjib.v17i1.21973

Abstract

Potensi Temulawak dan Yoghurt dalam Mencegah Hemolisis Serta Perubahan Kadar Hdl-Ldl pada Darah Mencit (Mus Musculus L) Korespondensi: yang diberi Minyak Jelantah Walida Tanzania; Kartiawati Alipin Alipin; Yasmi P. Kuntana
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 11, No 2 (2013): BIOTIKA DESEMBER 2013
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bjib.v11i2.10059

Abstract

EFEKTIVITAS EKSTRAK TEMULAWAK TERHADAP PERBAIKAN STRUKTUR HATI MENCIT (Mus musculus L.) YANG TERPAPAR Pb ASETAT Kartiawati Alipin; Muhammad Y. Ramdhan; Yetty Y. Gani
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 14, No 1 (2016): BIOTIKA JUNI 2016
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bjib.v14i1.14408

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dan mendapatkan dosis optimal ekstrak temulawak dalam memperbaiki kerusakan struktur morfologis dan histologis hati mencit (Mus musculus L.) setelah pemberian Pb asetat. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental di laboratorium menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari lima perlakuan dan lima kali ulangan. Dosis Pb asetat yang diberikan adalah 0,4 mg/g bb/hari secara oral selama 14 hari. Dosis ekstrak temulawak yang diberikan adalah 0,7, 0,8, dan 1 mg/g bb/hari secara oral selama tujuh hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak temulawak tidak berpengaruh terhadap perbaikan kerusakan struktur morfologis maupun histologis hati mencit akibat pemberian Pb asetat (p > 0,05).
MIKRONUKLEUS SPONTAN PADA ERITROSIT IKAN SAPU-SAPU (Liposarcus pardalis) DARI EMPAT STASIUN SUNGAI CITARUM HULU Ade Pandi; Piah Alvia; Kartiawati Alipin
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 2, No 1 (2003): Biotika Juni 2003
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bjib.v2i1.231

Abstract

RESPON PEMBERIAN PHYTOESTROGEN BERASAL DARI TEPUNG KEDELAI PADA KELINCI (Oryctolagus cuniculus) LUAS JARINGAN INTERSTITIAL, SPERMATOGENESIS DAN KUALITAS SPERMA Yasmi Purnamasari Kuntana, -; Yetty Yusri Gani -; Kartiawati Alipin -
Bionatura Vol 11, No 1 (2009): Bionatura Maret 2009
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.31 KB)

Abstract

Kedelai, sebagai salah satu bahan penyusun ransum ternak diketahui mengandung senyawa phytoestrogen. Akumulasi senyawa phytoestrogen ini dalam ternak jantan telah mempengaruhi sistem reproduksi mencakup perubahan anatomi makro, mikro, dan fungsi organ reproduksi, menghambat pertumbuhan sel gamet, kemampuan fertilisasi dan tingkah laku seksual. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh pemberian tepung kedelai dan mencari dosis tepung kedelai yang tidak mengganggu terhadap luas jaringan interstitial, spermatogenesis dan kualitas sperma pada kelinci. Penelitian dilaksanakan secara eksperimental di laboratorium dengan menggunakan pola rancangan acak lengkap (RAL). Perlakuan terdiri dari 4 macam dosis tepung kedelai yaitu kontrol (K1), tepung kedelai dosis 123 mg/kg berat badan (bb) kelinci (K2), tepung kedelai dosis 246 mg/kg bb kelinci (K3) dan tepung kedelai dosis 490 mg/kg bb kelinci (K4). Setiap perlakuan diulang 4 kali. Kelinci jantan umur dua bulan digunakan sebagai hewan model berjumlah 16 ekor. Pengujian variabel meliputi pengukuran persentase sperma hidup, abnormalitas sperma, pengamatan spermatogenesis serta luas jaringan interstitial. Data hasil pengujian variabel dianalisis menggunakan Analisis Varians (ANAVA) dan Uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tepung kedelai sebagai sumber phytoestrogen pada kelinci menurunkan luas jaringan interstitial, spermatogenesis dan kualitas sperma akan tetapi dari ketiga dosis tepung kedelai yang diberikan, dosis 123 mg/kg bb kelinci memberikan hasil yang sama dengan kontrol bagi terbentuknya sperma hidup, terbentuknya abnormalitas sperma dan luas jaringan interstitial sehingga dapat dikatakan dosis 123 mg/kg bb kelinci adalah dosis yang relatif aman diberikan pada kelinci.Kata Kunci : phytoestrogen, tepung kedelai, kualitas sperma, spermatogenesis, luas jaringan interstitial, kelinci.
Pengaruh Pemberian Air Minum Mengandung Probiotik dan Temulawak pada Performansi Ayam Broiler Kartiawati Alipin
Indonesian Journal of Applied Sciences Vol 1, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ijas.v1i2.1871

Abstract

The research was held to find out the effect of probiotic and temulawak in drinking water  on the performance of broiler. This research used 144 day old chick (DOC) final stock “Arbor Acres CP 707”. Factorial Completely Randomized Design (CRD) was used in this research. There were six treatments and four replications. The treatments were P0T0= control, P1T1= probiotic 109 cell/ml + 0,25 g/l temulawak, P1T2 = probiotic 109 cell/ml + 0,50 g/l temulawak, P1T0 = probiotic 109 cel/ml, P0T1= 0,25 g/l temulawak, P0T2 = 0,50 g/l temulawak. Probiotic was gave every day and extract temulawak was feed once time a week in drinking water during five weeks. The observed variables were feed consumption, body weight gain, feed conversion, Salmonella sp population and blood cholesterol. The result of research indicates that probiotic 109 cell/ml and temulawak 0,50 g/l in drinking water have not significant effect of broiler performance, but have decreasing effect of Salmonella population and blood cholesterol.****Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek penambahan probiotik dan ekstrak temulawak dalam air minum terhadap performansi ayam broiler. Dalam penelitian ini digunakan  DOC final stock “Arbor acres CP 707” sebanyak 144 ekor dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial yang terdiri dari enam macam perlakuan dan empat kali ulangan. Ke-enam perlakuan tersebut yaitu: P0T0= kontrol, P1T0 = probiotik109sel/ml,P0T1=0,25g/ltemulawak,P1T1=0,25g/ltemulawak+probiotik109sel/ml,P0T2=0,50g/ltemulawak,P1T2=0,50g/ltemulawak+probiotik109sel/ml. Penambahan probiotik diberikan dengan frekuensi setiap hari sedangkan ekstrak temulawak satu kali perminggu melalui air minum selama lima minggu. Peubah yang diamati adalah konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, konversi ransum, populasi mikroba patogen Salmonella sp dan kadar kolesterol darah. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa pemberian probiotik 109 sel/ml dan temulawak dosis 0,50 g/l air minum belum dapat meningkatkan performan ayam broiler. Namun demikian dari hasil penelitian dapat diketahui pemberian probiotik dan temulawak secara kombinasi pada dosis 0,50 g/l sebagai perlakuan yang memberikan pengaruh penurunan populasi Salmonella dan kadar kolesterol darah.
Identifikasi Ikan Hasil Tangkapan Nelayan di Pantai Timur Pananjung Pangandaran Kartiawati Alipin; Nining Ratningsih; Retnaningtyas Siska Dianty
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2021.009.02.05

Abstract

Kawasan Pantai Pangandaran merupakan kawasan wisata dan penangkapan ikan bagi nelayan. Hasil tangkapan nelayan terdiri dari berbagai spesies ikan. Untuk mengetahui hasil tangkapan nelayan tersebut perlu dilakukan identifikasi spesies ikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi spesies ikan berdasarkan struktur morfologis dan morfometrik. Metode penelitian yang dilakukan yaitu pengamatan secara morfologis dan morfometrik menggunakan sampel ikan masing-masing tiga ekor jenis ikan yang mewakili ikan terbanyak pada hasil tangkapan nelayan. Berdasarkan hasil identifikasi jenis ikan yang paling banyak dari hasil tangkapan nelayan didapat spesies ikan laut Kembung (Rastrelliger brachysoma) yang memiliki ekor berwarna kuning; ikan Talang (Scomberoides tol) yang memiliki corak keperakkan di sepanjang tubuh; dan ikan Kakapasan (Geres punctatus) yang memiliki bentuk mulut superior yang khas. Berdasarkan pengukuran morfometrik terdapat spesies ikan yang memiliki ukuran paling besar yaitu ikan laut Kembung (R. brachysoma) dengan panjang total 25,1 cm dan berat rata-rata 215 g. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa hasil tangkapan nelayan di Pantai Timur Pananjung Pangandaran berdasarkan hasil identifikasi terdapat tiga jenis ikan yang paling dominan untuk itu perlu dilakukan pemeliharaan kawasan agar memungkinkan berbagai jenis ikan dapat berkembang biak.
Reversibility Time in Testicular Damage on Male Wistar Rat after Treatment of Averrhoa blimbi L. Fruits Extract as Antifertility Kartiawati Alipin; Indra A. Rochman; Desak M. Malini; Madihah Madihah
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Suppl 1, No. 1 (2018)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.875 KB) | DOI: 10.24198/ijpst.v1i1.16123

Abstract

Belimbing wuluh (Averrhoa blimbi) fruit is commonly used traditionally as antifertility. The bioactive compounds of A. blimbi have been known could inhibit spermatogenesis and development of testes, as well as decrease the quality and quantity of spermatozoa, thus, caused seminiferous tubular atro- phy. This study aimed to determine the reversibility time in testicular damage after the treatment of A. blimbi fruit extract on male Wistar rat. The method employed a completely randomized design (CRD) consists of nine treatments with three replications each. The treatment of the extract at a dose 1140 mg/ kg BW and control group was given the solvent. After 14 days of treatment, the reversibility time was examined in testis histological section by interval of seven days each until 49 days. The results showed that the treatment of A. blimbi fruit extract caused disruptions in seminiferous tubules, i.e. decreased the number of spermatogonium and spermatid, as well as the diameter of lumen and seminiferous tu- bules. The reversibility time was observing at 21 days after the end extract treatments, by increasing the number of of spermatogonium and spermatid, as well as the diameter of lumen and seminiferous tubules that signi cantly different with infertile rat (p<0.05). In conclusion, the reversibility time was 21 days after the treatment of A. blimbi fruit extract as antifertility. Key words: Averrhoa blimbi, rats, reversible time, tubulus seminiferous