Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Gambaran Kepuasan Pasien Terhadap Pelayanan Kefarmasian pada Layanan Telemedisin Internal Apotek X di Kota Denpasar Sanjaya, I Putu Maheswara Dharma; Apsari, Dewi Puspita; Tunas, I Ketut
Bali International Scientific Forum Vol. 6 No. 2 (2025): Bali International Scientific Forum
Publisher : Bali International University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34063/bisf.v6i2.323

Abstract

Background: Telemedicine services are consultation services with doctors where patients and doctors do not have to meet face to face to communicate with each other to discuss the health problems they are experiencing. In some telemedicine services such as internal telemedicine service, pharmacists only play a role in preparing drugs that have been prescribed by doctors as a result of discussions with previous patients. So that the pharmaceutical services received by patients are considered less than optimal. So it is necessary to know how patient satisfaction with pharmaceutical services has been received and how patients expect this service in the future Research Objectives: To determine patient satisfaction and expectations of pharmaceutical services in internal telemedicine services of pharmacy X. Method: This study uses a quantitative method, namely an observational with a cross-sectional . The measurement of the patient's expectations was carried out using a reality and expectation questionnaire that was given in pharmacy X Results: In the analysis of the gap between reality and expectations of 2 dimensions, namely: "Communication of Pharmacists and Patients" and "Medicine Management" the results obtained Gap on the dimension of "Communication of Pharmacists and Patients" of -0.84 and on the dimension of "Medication Management" of -1.38. Conclusion: The value of the gap on the communication dimension of Pharmacists with Patients is -0.84 categorized as negative gap (less satisfied) and on the Medical Management dimension of -1.38 categorized negative gap (less satisfied). Analysis of patient satisfaction with pharmaceutical services at pharmacy internal telemedicine services in the City of Denpasar with the CSI (Customer Satisfaction Index) method overall is 55.65% (not satisfied).
Internet use Patterns in the Utilization of Herbal Medicine for Chronic Diseases in Denpasar City Suryaningsih, Ni Putu Aryati; Valencia, Valencia; Dewi, Dewa Ayu Putu Satrya; Apsari, Dewi Puspita
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 6 No 4 (2024): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v6i4.3719

Abstract

The increasing use of the internet and the correctness of information causes different community knowledge about using herbal medicine for chronic diseases. This study aimed to compare knowledge levels of herbal medicine for chronic illnesses sourced on the internet. This study used a cross-sectional survey design. The number of samples used was 318. The inclusion criteria are people aged 18-60 years, know what chronic disease means (through questions in the questionnaire), and live in Denpasar City. The exclusion criteria were people who worked as health workers. Data were collected using a questionnaire and analyzed using the Kruskal-Wallis test. The results showed that most people searched using web/search sites (100%) and social media groups specifically for herbal medicine (86.5%). Knowledge of herbal medicines through web/sites and social media/chat information sources has a good understanding of 82.4% and 70.6%. Poor Knowledge of herbal medicine while using both sources of information (32.2%) and value statistics p=0.04 (p<0.05). There is a difference in the knowledge level about herbal treatments for chronic diseases between those sourced on social media and the internet. The use of the internet and social media helps people understand the content of herbal medications to treat chronic diseases.
PESO (Paham Efek Samping Obat) Sebagai Upaya Peningkatan Penerapan Farmakovigilan Di Masyarakat Banjar Abasan Denpasar Timur wintariani, Ni Putu; Putri, Dhiancinantyan Windydaca Barata; Apsari, Dewi Puspita; Suryaningsih, Ni Putu Aryati
UNBI Mengabdi Vol. 2 No. 2 (2021): UNBI Mengabdi
Publisher : Universitas Bali Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34063/um.v2i2.341

Abstract

Tingginya penggunaan analgesik di kalangan masyarakat, diakibatkan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang penggunaan obat yang benar, salah satunya adalah efek samping obat.  Meminimalkan risiko efek samping penggunaan analgesik adalah dengan pemberdayaan masyarakat PESO (paham efek samping obat) analgesik dalam bentuk media video edukasi. Kegiatan ini merupakan salah satu penerapan farmakovigilans di masyarakat dan bertujuan agar masyarakat dapat melaporkan kejadian efek samping obat yang dialaminya secara mandiri. Metode pelaksanaan kegiatan ini dengan memberikan intervensi berupa video edukasi eletronik PESO kepada masyarakat. Evaluasi hasil intervensi kegiatan ini menggunakan pretest dan posttest. Hasil yang diperoleh dari kegiatan ini adalah media video edukasi elektronik PESO dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang efek samping obat analgesik. Kegiatan pengabdian masyarakat diharapkan dapat terus berlangsung dengan tema obat yang berbeda, sehingga masyarakat menjadi lebih paham efek samping obat dan dapat mencegahnya
Karakteristik dan Hubungan Kekerabatan Ragam Tanaman Kamboja (Plumeria spp.) Di Pulau Bali Berdasarkan Morfologi I Komang Alit Adi Sanjaya; Dewi Puspita Apsari; I Wayan Wahyudi
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 11 No. 01 (2024)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2024.v11.i01.p3

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan karakteristik morfologi serta menganalisis hubungan kekerabatan tanaman kamboja (Plumeria sp.) di Pulau Bali. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksploratif dengan teknik pengambilan sampel menggunakan pendekatan snowball sampling. Sampel tanaman kamboja diambil dari 7 kabupaten dan kota di Bali seperti Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan, Klungkung, Bangli dan Karangasem. Karakter morfologi yang diamati meliputi morfologi batang, daun dan bunga. Hasil karakterisasi diskoring dan dianalisis menggunakan software Minitab Vis.17 untuk menentukan hubungan kekerabatan. Berdasarkan hasil eksplorasi dan karaktersasi diperoleh 38 ragam tanaman kamboja yang termasuk kedalam 3 spesies yakni sebanyak 24 ragam termasuk kedalam spesies Plumeria rubra L., 9 ragam termasuk kedalam spesies Plumeria alba L. dan sisanya sebanyak 5 ragam termasuk ke dalam spesies Plumeria obstusa L. Dari 55 karakter morfologi memisahkan 38 ragam tanaman kamboja di Bali pada indeks kesamaan 60,28% menjadi 6 kelompok. Karakter spesifik yang membedakan ke-38 ragam tanaman kamboja adalah bentuk daun, bentuk petal, bentuk ujung petal dan warna mahkota bunga.
Karakteristik dan Hubungan Kekerabatan Ragam Tanaman Kamboja (Plumeria spp.) Di Pulau Bali Berdasarkan Morfologi I Komang Alit Adi Sanjaya; Dewi Puspita Apsari; I Wayan Wahyudi
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 11 No. 01 (2024)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2024.v11.i01.p3

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan karakteristik morfologi serta menganalisis hubungan kekerabatan tanaman kamboja (Plumeria sp.) di Pulau Bali. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksploratif dengan teknik pengambilan sampel menggunakan pendekatan snowball sampling. Sampel tanaman kamboja diambil dari 7 kabupaten dan kota di Bali seperti Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan, Klungkung, Bangli dan Karangasem. Karakter morfologi yang diamati meliputi morfologi batang, daun dan bunga. Hasil karakterisasi diskoring dan dianalisis menggunakan software Minitab Vis.17 untuk menentukan hubungan kekerabatan. Berdasarkan hasil eksplorasi dan karaktersasi diperoleh 38 ragam tanaman kamboja yang termasuk kedalam 3 spesies yakni sebanyak 24 ragam termasuk kedalam spesies Plumeria rubra L., 9 ragam termasuk kedalam spesies Plumeria alba L. dan sisanya sebanyak 5 ragam termasuk ke dalam spesies Plumeria obstusa L. Dari 55 karakter morfologi memisahkan 38 ragam tanaman kamboja di Bali pada indeks kesamaan 60,28% menjadi 6 kelompok. Karakter spesifik yang membedakan ke-38 ragam tanaman kamboja adalah bentuk daun, bentuk petal, bentuk ujung petal dan warna mahkota bunga.
Budidaya Bawang Putih Organik sebagai Upaya Penyediaan Bahan Baku Obat Tradisional Kartika, I Gusti Agung Ayu; Sugata, I Made; Apsari, Dewi Puspita; Sudaryati, Ni Luh Gede
Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2025): Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat
Publisher : Progran Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpm.v6i2.840

Abstract

Desa Siakin, Kabupaten Bangli, Bali, memiliki potensi pengembangan tanaman bawang putih sebagai bahan baku obat tradisional, namun keterampilan masyarakat dalam budidaya organik masih terbatas. Program Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan meningkatkan minat, pengetahuan, sikap dan keterampilan petani dalam budidaya bawang putih organik. Metode yang digunakan adalah Participatory Action Research melalui sosialisasi pada 30 orang warga dan pembuatan lahan percontohan budi daya bawang putih organik. Hasil menunjukkan peningkatan rata-rata skor pengetahuan peserta sebesar 3,9% (dari 76% menjadi 79%). Selain itu, pada aspek motivasi mengalami pergeseran. Alasan motivasi sebelum pelatihan yaitu dominan terkait potensi pasar (37%), namun setelah pelatihan berubah menjadi motivasi akibat kesadaran akan kesehatan dan keamanan pangan (36%) serta menilai bahwa bawang putih organik memiliki nilai ekonomi lebih tinggi (32%). Peserta juga mampu mempraktikkan budidaya bawang putih organik. Program ini terbukti meningkatkan literasi pertanian organik sekaligus membuka peluang pengembangan sentra pertanian bawang putih yang berkelanjutan.