Alfonsus Ara
Unknown Affiliation

Published : 32 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

PERIODISASI DAN KARAKTER TEOLOGI ZAMAN MODERN Ara, Alfonsus
LOGOS Vol 14 No 1 (2017): Januari 2017
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v14i1.409

Abstract

Keunikan teologi modern terletak pada perjuangan para teolog untuk mempertahankan lingkaran kesatuan antara agama, budaya dan spiritual serta menguatnya aksentualisasi pada dimensi rasional untuk menjelaskan dan mempertanggungjawabkan isi iman Kristiani. Isi permenungan teologis zaman ini terpusat pada misteri manusia dengan menggunakan filsafat Plato dan Neo- Platonis untuk merumuskan buah permenungan mereka.
KASIH YESUS KRISTUS DI SALIB: Jawaban Tuntas atas Misteri Penderitaan Manusia Ara, Alfonsus
LOGOS Vol 16 No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v16i1.561

Abstract

Penderitaan berasal dari kodrat manusia sebagai makhluk ciptaan yang terbatas dan dosa-dosa yang dilakukan manusia sendiri. Namun, penderitaan itu dikalahkan oleh kasih Yesus di salib. Dalam “kasih” Yesus, manusia akan menemukan dan memahami cakupan makna fundamental dan definitif dari penderitaan itu sendiri. Karena kasih, Dia memberikan rela tinggal bersama manusia yang menderita, memikul penderitaan manusia serta wafat di salib demi keselamatan manusia. Gereja dipanggil untuk masuk ke dalam kehidupan Yesus yang menderita dan wafat di salib karena kasih-Nya demi keselamatan umat manusia. Hanya dengan cara demikian, Gereja mampu menjelaskan dan bisa menjadi jalan keselamatan bagi orang-orang yang belum mengenal dan mengimani Yesus Kristus sebagai Allah dan Penebus
PERJANJIAN BARU DAN TEOLOGI Ara, Alfonsus
LOGOS Vol 12 No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v12i2.865

Abstract

Perjanjian Baru bukanlah cabang dari teologi, tetapi sebagai akar, sumber, landasan dan otoritas tertinggi dalam berteologi. Berangkat dari penegasan ini, maka disimpulkan bahwa: pertama, sesungguhnya penulis Kitab Suci Perjanjian Baru tidak berteologi (teologi ilmiah). Mereka hanya menulis dan meneruskan (laporan, rencana) Wahyu Allah yang terpenuhi dalam diri Yesus Kristus (teologi dasar); kedua, Perjanjian Baru adalah inti dari Wahyu Allah sendiri, bukan bagian dari teologi.
TEOLOGI PATRISTIK (Para Bapak Gereja) Ara, Alfonsus
LOGOS Vol 13 No 1 (2016): Januari 2016
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v13i1.870

Abstract

Para bapak Gereja adalah orang-orang yang berperi hidup saleh, memiliki wawasan yang asali dan berkekuatan doktrinal mengenai ajaran Gereja serta kukuh membela dan mempertahankan iman Gereja. Keutamaan yang terpancar dari peri hidup dan kandungan doktrinal dalam ajaran mereka ini lahir dari keakraban mereka dengan Sabda Allah yang tertuang dalam Kitab Suci: Mereka merenungkan Sabda Allah dan menjelaskannya ke dalam bahasa yang dimengerti untuk memperkaya dan mematangkan iman umat kepada Allah yang mewahyukan diri-Nya dalam Putera-Nya, Yesus Kristus.
TEOLOGI ABAD PERTENGAHAN : (Teologi Skolastik) Dasar, Karakter dan Titik Berangkat Ara, Alfonsus
LOGOS Vol 13 No 2 (2016): Juni 2016
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v13i2.873

Abstract

Kekhasan teologi abad pertengahan terletak pada sisi intrinsik budaya asali yang menjadi landasan berteologi, yaitu budaya iman kristiani sendiri (respublica christiana). Inti teologi abad ini bersumber pada misterisitas Allah sendiri. Allah mewahyukan diri-Nya dalam Putera-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Maestro Utama dan Otoritas Tertinggi. Sabda-Nya diterima sebagai otoritas tertinggi dalam merumuskan iman Gereja. Misteri Allah yang mewahyukan diri ini didekati, dipelajari, diklasifikasi dan didalami  dalam terang iman dan kebenaran (ratio). Sisi internal yang memperlihatkan pembaharuan teologi abad ini ditemukan dalam konsep mengenai “teologi” itu sendiri, metode dan status epistemologinya. Teologi menjadi sebuah ilmu, namun bukan ilmu umum, melainkan ilmu dalam konsep teknis, yaitu cognito rei per causas (akal menjadi media untuk mencari sebab atau alasan). Sebagai sebuah ilmu yang otonom, “teologi tidak lagi menjadi perluasan sederhana dari karya eksegetis, melainkan karya yang sama sekali baru dan berbeda dari ilmu-ilmu yang lain sebab berakar pada misteri (hal-hal supranatural), obyek dari dunia iman (materinya) dan dipadukan dengan kriteria.
INTRODUKSI TEOLOGI Ara, Alfonsus
LOGOS Vol 11 No 2 (2014): Juli 2014
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v11i2.1535

Abstract

Teologi adalah ilmu tentang Allah. Sebagai sebuah displin ilmu, teologi memiliki sumber yang otentik, daya kritik, metode dan sistem yang padu. perangkat-perangkat ini sangat dibutuhkan agar inti kebenaran iman kepada Wahyu Allah dalam diri Yesus Kristus bisa dijelaskan dan dipertanggungjawabkan dengan akal manusia
PENGETAHUAN RASIONAL MURNI: Antara Teorema Penciptaan dan Teori Evolusi Gunawan, Leo Agung Srie; Vivaldi, Gerardo; Ara, Alfonsus
LOGOS Vol. 20 No. 1 (2023): Januari 2023
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v20i1.2544

Abstract

This article means to explain the epistemology of Immanuel Kant. According to Kant, epistemology has to start from the knowing subject than the known object. Here, it happens the reversal of epistemology as the Copernican revolution. The main reason is that what is known by man contends in the object which appears to the subject (phänomenon) and is not the object itself (noumenon). Based on this, Kant applies the epistemological principle “synthetic a priori,” which elaborated on the thought of transcendental esthetic, transcendental logic, and transcendental dialectic. The transcendental esthetic represents the object precepted by the senses, and then the transcendental logic processes it with the categories in the reason. Particularly, Kant asserts that the soul, the world, and God in the transcendental dialectic are the ideas of intellect, but they do not have natural objects. Finally, he clarifies how the paradigm of transcendental idealism becomes the reconciliation between Rationalism and Empiricism in the way of epistemology
PEMBENTUKAN RUANG SAKRAL BAGI YANG KUDUS PADA GUA MARIA DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI AGAMA Moa, Antonius; Ara, Alfonsus; Firmanto, FX. Hendri
LOGOS Vol. 20 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v20i2.2999

Abstract

Ruang sakral Gua Maria merupakan bentukan dari manusia religius. Ruang sakral Gua Maria terbentuk tidak terlepas dari kisah historis keberadaan masyarakat Katolik yang menginginkan tempat peziarahan bagi Bunda Maria yang menghadirkan Yang Kudus. Kehadiran Yang Kudus pada Gua Maria didukung oleh pengalaman para pengelola Gua Maria dan kesaksian mukjizat dari para peziarah. Peristiwa yang meneguhkan kehadiran Yang Kudus pada Gua Maria ialah adanya berbagai kisah kesembuhan melalui air sendang. Air yang mempunyai daya penyembuhan diyakini menjadi tanda kehadiran Yang Kudus. Berbagai kisah pun bermunculan sehubungan dengan pengalaman akan Yang Kudus. Kisah-kisah itu sangat berperan dalam pembentukan ruang sakral bagi Yang Kudus. Karena itu, Gua Maria telah mengalami proses panjang untuk tetap menjadi ruang sakral bagi Yang Kudus. Hal penting yang membentuk ruang sakral pada Gua Maria adalah adanya ritual religius, baik positif maupun negatif. Ritual religius menjadi salah satu upaya sakralisasi ruang Gua Maria untuk menghindari terjadinya profanisasi. Selain itu, sikap para peziarah juga sangat menentukan terbentuknya ruang sakral bagi Yang Kudus pada Gua Maria.
GEREJA SEBAGAI PERSAUDARAAN YANG MENERIMA DAN MENGHADIRKAN KERAJAAN SURGA Sudirman, Marselinus; Ara, Alfonsus; Septiandry, Robertus
LOGOS Vol. 21 No. 1 (2024): Januari 2024
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v21i1.3417

Abstract

Pada hakekatnya Gereja bertugas mewartakan Kerajaan Surga di dunia ini. Untuk dapat menghadirkan Kerajaan Surga itu, Gereja seyogyanya membuka hati dan seluruh diri untuk menerima kehadiran Kerajaan Surga. Menjadi seperti anak kecil, yaitu sikap bergantung total pada kekuatan Allah, adalah tindakan yang cocok untuk menyambut Kerajaan Surga. Kekuatan Allah yang ada memotivasi Gereja untuk menghadirkan dengan pasti Kerajaan Surga ke dunia ini. Kehadiran Kerajaan Surga diwujudkan secara konkrit oleh Gereja membentuk hidup persaudaraan sejati. Ide persaudaraan ini muncul karena dalam Gereja itu sendiri belum terwujud hidup persaudaraan yang harmonis. Gereja seyogyanya menjalin relasi yang akrab dengan sesama saudara dan melihat saudara lain sebagai bagian dari dirinya. Dengan demikian terciptalah hubungan kasih antar-subyek. Perikop Matius 18:15-20 melukiskan bahwa bentuk persaudaraan tampak tatkala seorang saudara berbuat dosa, Gereja berusaha menegur saudara itu dalam kasih persaudaraan. Selain itu, bentuk persaudaraan diwujudkan juga dalam doa bersama, yang didalamnya Gereja dapat menggali akar permasalahan dan mencari solusi yang terbaik sehingga dapat tercipa hidup damai, adil dan penuh persaudaraan sebagai wujud kehadiran Kerajaan Surga.
ALLAH ADALAH CINTA, CINTA YANG RELA MENGABDI DAN MEMBERIKAN DIRI DEMI KESELAMATAN DAN KEHIDUPAN MANUSIA: Uraian Teologis atas Pandangan Paus Benediktus XVI dalam Ensiklik Deus Caritas Est Ara, Alfonsus; Nadeak, Largus; Simanullang, Gonti
LOGOS Vol. 21 No. 2 (2024): Juli 2024
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v21i2.3947

Abstract

Cinta selalu didambakan, dipuja dan diperbincangkan, baik dalam ruang keluarga maupun dalam ruang publik. Kekuatan cinta dilukiskan dalam aneka rupa dan nuansa, baik dalam buku, lagu, puisi, film, sastra maupun Kitab Suci. Inti yang diperbincangkan berpusat pada tiga hal utama, yaitu: “Apa, Mengapa dan Dari Manakah Datangnya Cinta?. Dalam filsafat Yunani, cinta dimengerti sebagai hasrat asali yang melekat pada manusia, yaitu hasrat untuk memuaskan keinginan sendiri (eros). Namun cinta manusiawi tersebut bersumber dari cinta Ilahi (agape). Dalam Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru diwahyukan bahwa cinta adalah hakekat/kodrat Allah: Allah adalah Cinta. Allah menciptakan alam semesta dan manusia (ciptaan-Nya yang termulia) dari isi cinta-Nya sendiri. Allah menanamkan isi cinta-Nya dalam diri manusia; Allah menghendaki agar manusia menjadi insan pencinta dan penyalur cinta-Nya kepada dunia supaya kehidupan semua ciptaan-Nya di dunia, terutama kehidupan manusia dilandaskan dan dijiwai oleh cinta. Cinta Allah adalah cinta yang rela mengabdi dan memberikan diri demi keselamatan dan kehidupan semua ciptaan-Nya, terutama manusia. Jika Allah adalah Cinta dan manusia diciptakan dari isi cinta Allah, maka cinta seharusnya menjadi tindakan khas yang melekat pada kodrat Allah dan manusia sendiri. Jika kodrat Allah dan manusia adalah cinta, maka patut dipertanyakan: “Bukankah aneka bentuk kebencian, kekerasan dan balas dendam adalah tindakan yang bertentangan dengan kodrat Allah dan manusia sendiri?