Alfonsus Ara
Unknown Affiliation

Published : 32 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

INTRODUKSI TEOLOGI Ara, Alfonsus
LOGOS Vol 11 No 2 (2014): Juli 2014
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v11i2.1535

Abstract

Teologi adalah ilmu tentang Allah. Sebagai sebuah displin ilmu, teologi memiliki sumber yang otentik, daya kritik, metode dan sistem yang padu. perangkat-perangkat ini sangat dibutuhkan agar inti kebenaran iman kepada Wahyu Allah dalam diri Yesus Kristus bisa dijelaskan dan dipertanggungjawabkan dengan akal manusia
PENGETAHUAN RASIONAL MURNI: Antara Teorema Penciptaan dan Teori Evolusi Gunawan, Leo Agung Srie; Vivaldi, Gerardo; Ara, Alfonsus
LOGOS Vol. 20 No. 1 (2023): Januari 2023
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v20i1.2544

Abstract

This article means to explain the epistemology of Immanuel Kant. According to Kant, epistemology has to start from the knowing subject than the known object. Here, it happens the reversal of epistemology as the Copernican revolution. The main reason is that what is known by man contends in the object which appears to the subject (phänomenon) and is not the object itself (noumenon). Based on this, Kant applies the epistemological principle “synthetic a priori,” which elaborated on the thought of transcendental esthetic, transcendental logic, and transcendental dialectic. The transcendental esthetic represents the object precepted by the senses, and then the transcendental logic processes it with the categories in the reason. Particularly, Kant asserts that the soul, the world, and God in the transcendental dialectic are the ideas of intellect, but they do not have natural objects. Finally, he clarifies how the paradigm of transcendental idealism becomes the reconciliation between Rationalism and Empiricism in the way of epistemology
PEMBENTUKAN RUANG SAKRAL BAGI YANG KUDUS PADA GUA MARIA DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI AGAMA Moa, Antonius; Ara, Alfonsus; Firmanto, FX. Hendri
LOGOS Vol. 20 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v20i2.2999

Abstract

Ruang sakral Gua Maria merupakan bentukan dari manusia religius. Ruang sakral Gua Maria terbentuk tidak terlepas dari kisah historis keberadaan masyarakat Katolik yang menginginkan tempat peziarahan bagi Bunda Maria yang menghadirkan Yang Kudus. Kehadiran Yang Kudus pada Gua Maria didukung oleh pengalaman para pengelola Gua Maria dan kesaksian mukjizat dari para peziarah. Peristiwa yang meneguhkan kehadiran Yang Kudus pada Gua Maria ialah adanya berbagai kisah kesembuhan melalui air sendang. Air yang mempunyai daya penyembuhan diyakini menjadi tanda kehadiran Yang Kudus. Berbagai kisah pun bermunculan sehubungan dengan pengalaman akan Yang Kudus. Kisah-kisah itu sangat berperan dalam pembentukan ruang sakral bagi Yang Kudus. Karena itu, Gua Maria telah mengalami proses panjang untuk tetap menjadi ruang sakral bagi Yang Kudus. Hal penting yang membentuk ruang sakral pada Gua Maria adalah adanya ritual religius, baik positif maupun negatif. Ritual religius menjadi salah satu upaya sakralisasi ruang Gua Maria untuk menghindari terjadinya profanisasi. Selain itu, sikap para peziarah juga sangat menentukan terbentuknya ruang sakral bagi Yang Kudus pada Gua Maria.
GEREJA SEBAGAI PERSAUDARAAN YANG MENERIMA DAN MENGHADIRKAN KERAJAAN SURGA Sudirman, Marselinus; Ara, Alfonsus; Septiandry, Robertus
LOGOS Vol. 21 No. 1 (2024): Januari 2024
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v21i1.3417

Abstract

Pada hakekatnya Gereja bertugas mewartakan Kerajaan Surga di dunia ini. Untuk dapat menghadirkan Kerajaan Surga itu, Gereja seyogyanya membuka hati dan seluruh diri untuk menerima kehadiran Kerajaan Surga. Menjadi seperti anak kecil, yaitu sikap bergantung total pada kekuatan Allah, adalah tindakan yang cocok untuk menyambut Kerajaan Surga. Kekuatan Allah yang ada memotivasi Gereja untuk menghadirkan dengan pasti Kerajaan Surga ke dunia ini. Kehadiran Kerajaan Surga diwujudkan secara konkrit oleh Gereja membentuk hidup persaudaraan sejati. Ide persaudaraan ini muncul karena dalam Gereja itu sendiri belum terwujud hidup persaudaraan yang harmonis. Gereja seyogyanya menjalin relasi yang akrab dengan sesama saudara dan melihat saudara lain sebagai bagian dari dirinya. Dengan demikian terciptalah hubungan kasih antar-subyek. Perikop Matius 18:15-20 melukiskan bahwa bentuk persaudaraan tampak tatkala seorang saudara berbuat dosa, Gereja berusaha menegur saudara itu dalam kasih persaudaraan. Selain itu, bentuk persaudaraan diwujudkan juga dalam doa bersama, yang didalamnya Gereja dapat menggali akar permasalahan dan mencari solusi yang terbaik sehingga dapat tercipa hidup damai, adil dan penuh persaudaraan sebagai wujud kehadiran Kerajaan Surga.
ALLAH ADALAH CINTA, CINTA YANG RELA MENGABDI DAN MEMBERIKAN DIRI DEMI KESELAMATAN DAN KEHIDUPAN MANUSIA: Uraian Teologis atas Pandangan Paus Benediktus XVI dalam Ensiklik Deus Caritas Est Ara, Alfonsus; Nadeak, Largus; Simanullang, Gonti
LOGOS Vol. 21 No. 2 (2024): Juli 2024
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v21i2.3947

Abstract

Cinta selalu didambakan, dipuja dan diperbincangkan, baik dalam ruang keluarga maupun dalam ruang publik. Kekuatan cinta dilukiskan dalam aneka rupa dan nuansa, baik dalam buku, lagu, puisi, film, sastra maupun Kitab Suci. Inti yang diperbincangkan berpusat pada tiga hal utama, yaitu: “Apa, Mengapa dan Dari Manakah Datangnya Cinta?. Dalam filsafat Yunani, cinta dimengerti sebagai hasrat asali yang melekat pada manusia, yaitu hasrat untuk memuaskan keinginan sendiri (eros). Namun cinta manusiawi tersebut bersumber dari cinta Ilahi (agape). Dalam Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru diwahyukan bahwa cinta adalah hakekat/kodrat Allah: Allah adalah Cinta. Allah menciptakan alam semesta dan manusia (ciptaan-Nya yang termulia) dari isi cinta-Nya sendiri. Allah menanamkan isi cinta-Nya dalam diri manusia; Allah menghendaki agar manusia menjadi insan pencinta dan penyalur cinta-Nya kepada dunia supaya kehidupan semua ciptaan-Nya di dunia, terutama kehidupan manusia dilandaskan dan dijiwai oleh cinta. Cinta Allah adalah cinta yang rela mengabdi dan memberikan diri demi keselamatan dan kehidupan semua ciptaan-Nya, terutama manusia. Jika Allah adalah Cinta dan manusia diciptakan dari isi cinta Allah, maka cinta seharusnya menjadi tindakan khas yang melekat pada kodrat Allah dan manusia sendiri. Jika kodrat Allah dan manusia adalah cinta, maka patut dipertanyakan: “Bukankah aneka bentuk kebencian, kekerasan dan balas dendam adalah tindakan yang bertentangan dengan kodrat Allah dan manusia sendiri?
LATAR BELAKANG, ASAL-USUL, PELOPOR DAN SPRITUALITAS MONAKISME KRISTEN Situmorang, Sihol; Ara, Alfonsus; Simanullang, Gonti
LOGOS Vol. 22 No. 1 (2025): Januari 2025
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v22i1.4472

Abstract

Munculnya sebuah gerakan baru pasti melalui sejarah dan proses yang panjang dan terkait erat dengan konteks saat itu. Para pertapa pertama ingin menanggapi panggilan Tuhan untuk hidup seturut Injil. Monakisme Kristen turut dipengaruhi oleh dualisme Timur Tengah. Penarikan diri dari dunia yang ditandai dengan pakaian yang tampak aneh bahkan telanjang, tidak mandi, rambut acak-acakan dan memakai rantai besi di leher seperti terdapat di kalangan pertapa Syria merupakan pengaruh manikeisme. Spiritualitas monastik mencerminkan konsep atau teologi hidup kristiani. Satu-satunya tujuan hidup seorang pertapa adalah Allah yang kesatuan dengan-Nya dicari di padang gurun dengan doa dan praktik-praktik asketik. Hidup kristiani dipahami sebagai suatu pertumbuhan untuk sampai pada kesempurnaan. Seperti orang-orang pada masa itu, para pertapa yakin bahwa setan ada di mana-mana yang mengakibatkan malapetaka moral dan fisik. Menurut para pertapa itu, hidup kristiani bertumbuh dalam perang melawan sijahat.
HARAPAN YANG TIDAK MENGECEWAKAN: Uraian Teologis Ajaran Paus Fransiskus dalam Spes Non Confundit Bulla yang Menandai Yubileum Biasa Tahun 2025 Ara, Alfonsus; Stanislaus, Surip
LOGOS Vol. 22 No. 2 (2025): Juli 2025
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam perayaan Tahun Yobel 2025 ini, Paus Fransiskus menyatakan kepada kaum beriman, insan peziarah, mengenai pentingnya “harapan.” Memiliki harapan berarti memiliki masa depan. Dasar harapan adalah iman. Iman dan harapan merupakan dua keutamaan yang harus dimiliki oleh setiap pribadi beriman agar bisa menggapai keselamatan dan kebahagiaan dalam dan bersama Yesus Kristus. Dalam diri Yesus yang disalibkan dan bangkit “tergenapi harapan” atas janji-janji Allah bagi semua manusia untuk memperoleh keselamatan dan kemuliaan. Dia adalah Jawaban Tuntas atas semua penderitaan dan persoalan hidup manusia. Dialah jaminan keselamatan bagi semua manusia yang percaya kepada-Nya. Dalam Dia, harapan kristiani tidak akan pernah mengecewakan karena didasarkan pada kepastian bahwa tidak ada sesuatu pun atau seorang pun yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya. Harapan sangat penting dalam beriman. Harapan serentak menjadi keutamaan dan kekuatan yang memampukan kita untuk bertahan dalam pencobaan karena harapan dibangun atas dasar iman dan dipupuk oleh perbutan amal kasih. Harapan juga menjadi keutamaan dan kekuatan yang memampukan kita untuk senantiasa berkembang dalam kehidupan.
UPAYA MENCARI GAMBARAN YESUS YANG BERCORAK KE-ASIA-AN Ara, Alfonsus
LOGOS Vol 8 No 1 (2011): Januari 2011
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v8i1.269

Abstract

Keyakinan iman orang-orang Kristen Asia akan Yesus tidak berakar kuat karena tidak lahir dari perjumpaan mereka dengan Yesus sendiri serta cenderung memisahkan mereka (komunitas Kristen Asia) dari konteks historis dan sosial-kulturalnya. Untuk menjawab pokok persoalan ini, para kristolog Asia berjuang untuk meng-Asia-kan atau mengubah kembali gambaran Yesus dengan mempergunakan ungkapan, basis budaya dan kekayaan yang terkandung di bumi Asia sendiri. Mereka menegaskan bahwa gambaran Yesus yang otentik dan relevan bagi dunia Asia hanya dapat ditemukan apabila Gereja Asia kembali kepada Yesus dan menemukan-Nya dalam realitas ganda Asia, yaitu kemiskinan yang mematahkan harapan dan religiositas yang beraneka rupa
CINTA DAN KEBENARAN ALLAH: CAHAYA UNTUK MENERANGI KEHIDUPAN MANUSIA Uraian Teologis atas Pandangan Paus Fransiskus dalam Ensiklik Lumen Fidei, Bab II, “Jika Engkau Tidak Percaya, Maka Engkau Tidak Akan Mengerti” Ara, Alfonsus
LOGOS Vol 15 No 1 (2018): Januari 2018
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v15i1.332

Abstract

Dunia membutuhkan kebenaran agar bisa membangun kehidupan yang harmonis dan damai. Namun, kebenaran yang dipegang teguh oleh dunia adalah kebenaran yang subyektif, bukan kebenaran yang obyektif sebab kebenaran-kebenaran itu lahir dari pemikiran manusia. Dunia membutuhkan kebenaran yang obyektif, yaitu kebenaran yang bersumber dari Allah. Kebenaran Allah tidak sesat (tidak salah) sebab bersumber dari cinta-Nya. Cinta Allah adalah kebenaran dan kebenaran Allah adalah kebenaran cinta. Cinta Allah adalah kebenaran sebab dinyatakan dalam tindakan-Nya, yaitu setia memberikan isi cinta-Nya demi keselamatan manusia.
INTRODUKSI TEOLOGI (Bagian Pertama) Ara, Alfonsus
LOGOS Vol 11 No 1 (2014): Januari 2014
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v11i1.344

Abstract

Teologi adalah ilmu tentang Allah. Sebagai sebuah displin ilmu, teologimemiliki sumber yang otentik, daya kritik, metode dan sistem yang padu. perangkatperangkat ini sangat dibutuhkan agar inti kebenaran iman kepada Wahyu Allah dalam diri Yesus Kristus bisa dijelaskan dan dipertanggungjawabkan dengan akal manusia.