Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Agrokompleks

Analisis trend produksi, konsumsi, dan harga komoditas pangan strategis di Sulawesi Selatan Jam'an Jam'an; Sri Mardiyati; Ruliaty Ruliaty
Agrokompleks Vol 19 No 1 (2019): Agrokompleks Edisi Januari
Publisher : PPPM Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51978/japp.v19i1.123

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis trend pola produksi, konsumsi, dan harga komoditas pangan strategis. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan. Jenis data adalah data sekunder dalam bentuk data deret waktu (time series). Analisis data adalah analisis regresi linier sederhana (analisis trend). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam kurun waktu tahun 2008-2017 perkembangan produksi padi baik di Provinsi Sulawesi Selatan maupun Kabupaten Gowa memiliki trend yang sama, yakni meningkat masing-masing sebesar 215.430 ton dan 22.726 ton per tahun,sedangkan produksi jagung meningkat masing-masing sebesar 66.738 ton dan 17.384 ton per tahun. Pada periode tahun yang sama, trend konsumsi/kebutuhan padi di Sulawesi Selatan maupun Gowa memiliki trend meningkat sebesar 1.005,8 ton dan 2,81 ton per tahun. Sedangkan kebutuhan jagung meningkat masing-masing sebesar 574,29 ton dan 1,2 kuintal per tahun. Pada tahun 2016-2018, trend harga beras secara umum di wilayah Sulawesi Selatan mengalami trend kenaikan Rp 19,42per kilogram per bulan. Dalam kurun waktu yang sama, trend harga jagung dan kedelai di Gowa naik Rp 0,26(Rp 3.016,31/kg) dan Rp 0,2 (Rp 9.733,14/kg) per kilogram per bulan. Trend harga bawang merah di Sulawesi Selatan dan Gowa menurun Rp 518,92 (Rp 28.878,00/kg) dan Rp 9,89 (Rp 17.322,96/kg)per kilogram per bulan. Trend harga cabai merah mengalami kenaikan, baik di Sulawesi Selatan maupun di Gowa, yaituRp 78,73 (Rp 24.808,00/kg) dan 2,92 (Rp 26.661,50/kg) per kilogram per bulan. Harga pangan strategis secara umum di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan cenderung lebih stabil.
Analisis risiko usahatani sawah tadah hujan berbasis perubahan iklim di Kabupaten Takalar Sri Mardiyati; Mohammad Natsir; Nailah Nailah
Agrokompleks Vol 19 No 1 (2019): Agrokompleks Edisi Januari
Publisher : PPPM Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51978/japp.v19i1.126

Abstract

Perubahan iklim memiliki risiko dan dampak paling rentan terhadap sektor pertanian khususnya pertanian lahan sawah tadah hujan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat profitabilitas, risiko produksi, biaya, dan pendapatan pada usahatani padi sawah tadah hujan berbasis perubahan iklim. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Polombakeng Utara dan Polombakeng Selatan, Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan. Pengambilan sampel secara purposif, yang berjumlah 147 petani responden. Data bersumber dari data primer dan sekunder. Analisis data adalah analisis deskriptif kuantitatif dan analisis koefisien variasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kelayakan usahatani pola tanam I (padi – jagung) memiliki nilai RC ratio sebesar 3,83 dengan total pendapatan Rp 20.068.732,75 per hektar per tahun. Pada pola tanam II (padi – kacang hijau) memiliki nilai RC ratio sebesar 3,57 dengan total pendapatan Rp 17.635.048,16 per hektar per tahun. Pada pola tanam I, tingkat risiko biaya 15,47% dan risiko pendapatan 20,74%. Usahatani padi pola tanam I memiliki tingkat risiko produksi 9,76%, risiko biaya 19,24%, dan risiko pendapatan 21,87%. Untuk usahatani jagung memiliki tingkat risiko produksi 17,82%, risiko biaya 13,42%, dan risiko pendapatan 37,77%. Pada pola tanam II, tingkat risiko biaya 11,84% dan risiko pendapatan 16,4%. Usahatani padi pola tanam II memiliki tingkat risikoproduksi 10,68%, risiko biaya 15%, dan risiko pendapatan 20,69%. Untuk usahatani kacang hijau memiliki tingkat risiko produksi 11,55%, risiko biaya 9,81%, dan risiko pendapatan 25,93%. Profitabilitas dan tingkat risiko pola tanam I (padi – jagung) lebih tinggi dibandingkan dengan profitabilitas dan tingkat risiko pola tanam II (padi – kacang hijau).