Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Pengabdian Kepada Masyarakat Patient Safety (PKMPS) :Peningkatan Pengetahuan Bagi Perawat Tentang Keselamatan Pasien Anggreini, Yunita Dwi; Kirana, Wahyu; Safitri, Dewin
Jurnal Pengabdian Sosial Vol. 2 No. 4 (2025): Februari
Publisher : PT. Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/twxbge90

Abstract

Implementasi keselamatan pasien di fasilitas pelayanan kesehatan merupakan hal yang sangat penting karena hal tersebut merupakan salah satu indikator mutu rumah sakit. Implementasi dari setiap sasaran keselamatan pasien yang kurang optimal dapat berdampak pada kejadian yang tidak diharapkan dan berdampak pada kualitas perawatan dan lama hari rawat pasien disebuah rumah sakit. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan perawat tentang sasaran keselamatan pasien dan implementasinya di rumah sakit. Desain yang digunakan adalah PRA (Participatory Rural Appraisal) yaitu pelaksanaan kegiatan dimulai menyusun desain, instrumen, pengumpulan data, pengolahan, dan analisis data. Sebanyak 20 peserta terlibat dalam kegiatan ini yang teridiri dari 50% perawat vokasi dan 50% perawat profesional (ners). Peserta dibagi kedalam empat kelompok dan diberikan modul keselamatan pasien yang disertai kasus pemicu, yang dilanjutkan dengan kegiatan pelatihan serta diskusi selama 90 menit. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa 65% pengetahuan tentang implementasi keselamatan pasien di rumah sakit meningkat.
Optimalisasi Terapi Bermain (Puzzle) untuk Mengurangi Kecemasan Pada Anak Usia Prasekolah di Rumah Sakit Umum Yarsi Pontianak Sari, Lintang; Kirana, Wahyu; Florensa, Florensa; Yousriatin, Fajar; Safitri, Dewin
Jurnal Pengabdian Sosial Vol. 2 No. 4 (2025): Februari
Publisher : PT. Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/9kbj8p49

Abstract

Masa kanak-kanak merupakan tahapan penting dalam kehidupan manusia yang mempengaruhi tumbuh kembangnya. Dalam beberapa kasus, fase ini dapat terganggu oleh kejadian buruk seperti penyakit, nyeri, prosedur invasif, trauma dan rawat inap. Hospitalisasi adalah kondisi krisis yang terjadi pada anak saat mendapatkan perawatan di rumah sakit. Apabila anak tidak bisa beradaptasi dengan baik, maka akan menyebabkan munculnya rasa takut dan cemas yang berdampak pada perkembangan psikologis anak. Oleh karena itu, penting untuk melakukan intervensi sederhana yang dapat mengurangi kecemasan dan stress sebagai bentuk reaksi hospitalisasi pada anak. Intervensi yang dapat dilakukan adalah terapi bermain (puzzle) yang telah terbukti efektif mengurangi dampak hospitalisasi. Kegiatan bermain puzzle merupakan kegiatan yang tidak memerlukan energi besar sehingga cocok dilakukan oleh anak yang menjalani hospitalisasi. Pengabdian kepada masyarakan ini bertujuan untuk mengurangi kecemasan pada anak usia prasekolah di Rumah Sakit Umum Yarsi Pontianak. Metode yang digunakan adalah terapi bermain menggunakan puzzle. Hasil yang didapatkan diantaranya anak-anak menjadi lebih ceria dan tenang setelah diberikan terapi bermain puzzle. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terapi bermain puzzle efektif mengurangi kecemasan pada anak usia prasekolah yang di rawat di ruang anak Rumah Sakit Umum Yarsi Pontianak.
Optimalisasi Dukungan Psikososial untuk Mengatasi Stres Pada Keluarga yang Merawat Orang dengan Gangguan Jiwa di Wilayah Kerja Puskesmas Banjar Serasan Kirana, Wahyu; Anggreini, Yunita Dwi; Safitri, Dewin; Florensa, Florensa; Yousriatin, Fajar; Sari, Lintang
Jurnal Pengabdian Sosial Vol. 2 No. 5 (2025): Maret
Publisher : PT. Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/kq1e1010

Abstract

Keluarga sebagai caregiver yang merawat orang dengan gangguan jiwa menanggung beban berat yang berdampak pada berbagai aspek. Kondisi yang tidak stabil dan tingginya angka kejadian kekambuhan pada orang dengan gangguan jiwa merupakan situasi yang sulit bagi keluarga. Apabila terjadi secara terus menerus maka akan berdampak pada kondisi psikologis keluarga sebagai caregiver. Dampak psikologis yang seringkali terjadi pada keluarga adalah stres yang menyebabkan berbagai masalah diantaranya gangguan tidur dan depresi. Hasil tinjauan literatur menunjukkan bahwa keluarga membutuhkan dukungan psikososial untuk membantu mengatasi stres dan dampak yang ditimbulkannya. Program dukungan psikososial dapat meningkatkan keterampilan keluarga sebagai caregiver untuk mengelola situasi pengasuhan yang mencakup pengendalian emosi, menghadiri aktivitas kelompok, perawatan kognitif, pendidikan dan konsultasi. Hasil wawancara dengan penanggung jawab program Kesehatan jiwa di UPT Puskesmas Banjar Serasan didapatkan bahwa keluarga yang merawat orang dengan gangguan jiwa belum pernah mendapatkan edukasi terkait dukungan psikososial. Hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan adanya pengaruh dukungan psikososial terhadap stress keluarga yang merawat orang dengan gangguan jiwa. Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan keluarga sebagai caregiver tentang dukungan psikososial di wilayah kerja UPT Puskesmas Banjar Serasan.
Deteksi Dini Diabetic Foot Ulcer (DFU) dengan Mengenali Sensasi Sensorik Pada Kaki di Desa Temajuk Kab. Sambas Arisandi, Defa; Amaludin, Mimi; Safitri, Dewin; Hidayat, Uti Rusdian; Akbar, Ali; Alfikrie, Fauzan; Nurpratiwi, Nurpratiwi; Hatmalyakin, Debby
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 3 (2025): Volume 8 No 3 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i3.19112

Abstract

ABSTRAK Setiap tahunnya, prevalensi penderita DFU semakin meningkat, dari 0,5 % menjadi 3 % setiap tahunnya. Ulkus diabetes dan amputasi ekstremitas bawah merupakan komplikasi diabetes yang akan meningkatkan mortalitas dan morbiditas setelah lima tahun amputasi pertama. Sebanyak 28 – 51 % pasien akan menjalani amputasi kedua. Tren terbaru panduan tambahan tentang pencegahan DFU mencakup salah satunya pemantauan sensasi sensorik. Mendeteksi secara dini sensasi sensorik pada kaki sebagai upaya pencegahan Diabetic Foot Ulcer (DFU) penyandang DM dengan pemeriksaan kaki yang mudah dipahami dan diaplikasikan secara mandiri. Kegiatan edukasi dilakukan di Desa Temajuk, Kab. Sambas yang diikuti oleh kelompok dewasa dan lansia. Pre-test diberikan sebelum edukasi kemudian dilanjutkan dengan pemberian materi tentang pencegahan penyakit gagal ginjal kronik menggunakan media power point. Kegiatan diakhiri dengan pemberian pos-test kepada responden. Sebelum diberikan edukasi, sebagian besar pengetahuan responden rendah (53,3%), dan setelah diberikan edukasi sebagian besar pengetahuan responden tinggi (73,3%). Terdapat peningkatan pengetahuan pada kelompok dewasa dan lansia setelah diberikan Edukasi dan demonstrasi pengenalan sensasi sensorik pada kaki diabetes melitus sebagai upaya pencegahan Diabetic Foot Ulcer (DFU).   Kata Kunci: Deteksi Dini, Diabetic Foot Ulcer, Sensasi Sensorik  ABSTRACT Every year, the prevalence of DFU sufferers increases, from 0.5% to 3% every year. Diabetic ulcers and lower extremity amputations are complications of diabetes that will increase mortality and morbidity after five years of the first amputation. As many as 28 – 51% of patients will undergo a second amputation. The latest trend in additional guidance on preventing DFU includes monitoring sensory sensations. Early detection of sensory sensations in the feet as an effort to prevent Diabetic Foot Ulcer (DFU) for people with DM with foot examinations that are easy to understand and apply independently. Educational activities were carried out in Temajuk Village, Kab. Sambas was attended by adult and elderly groups. The pre-test was given before education, then continued with providing material about preventing chronic kidney failure using power point media. The activity ended with giving a post-test to respondents. Before being given education, most respondents' knowledge was low (53.3%), and after being given education, most respondents' knowledge was high (73.3%). There is an increase in knowledge in the adult and elderly groups after being provided with education and demonstrations regarding the introduction of sensory sensations in diabetes mellitus feet as an effort to prevent Diabetic Foot Ulcer (DFU). Keywords:  Early Detection, Diabetic Foot Ulcer, Sensory Sensation
Pendekatan Edukatif dalam Pencegahan Penyakit Gagal Ginjal Kronis pada Kelompok Remaja di Desa Temajuk Kabupaten Sambas Amaludin, Mimi; Arisandi, Defa; Hidayat, Uti Rusdian; Akbar, Ali; Alfikrie, Fauzan; Nurpratiwi, Nurpratiwi; Hatmalyakin, Debby; Safitri, Dewin
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 3 (2025): Volume 8 No 3 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i3.19029

Abstract

ABSTRAK Ginjal berfungsi sebagai penyaring darah serta menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. Apabila fungsi tersebut tidak berjalan maka munculah penyakit gagal ginjal. Pencegahan awal penyakit gagal ginjal penting dilakukan sejak dini pada anak maupun remaja, untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang pentingnya menjaga kesehatan ginjal. Memberikan pengetahuan pada remaja tentang pencegahan gagal ginjal kronik. Kegiatan edukasi dilakukan di Desa Temajuk, Kab. Sambas yang diikuti oleh kelompok remaja. Pre-test diberikan sebelum edukasi kemudian dilanjutkan dengan pemberian materi tentang pencegahan penyakit gagal ginjal kronik menggunakan media power point. Kegiatan diakhiri dengan pemberian pos-test kepada responden. Sebelum diberikan edukasi, sebagian besar pengetahuan responden rendah (43,3%), dan setelah diberikan edukasi sebagian besar pengetahuan responden tinggi (83,3%). Terdapat peningkatan pengetahuan pada kelompok remaja setelah diberikan edukasi tentang pencegahan gagal ginjal kronik. Kata Kunci: Edukasi, Gagal Ginjal Kronik, Remaja  ABSTRACT The kidneys function as blood filters and regulate the normal balance of fluids and electrolytes in the body. If that function fails, renal failure will occur. Comprehensive prevention of kidney failure should begin in childhood and adolescence providing knowledge and comprehension regarding the significance of protecting renal health. To educate adolescents about the prevention of chronic kidney failure. The educational activity took place in Temajuk Village, Sambas Regency, with the participation of a group of adolescents. A pre-test was administered before to the educational session, which was succeeded by a presentation on the prevention of chronic kidney disease utilising Powerpoint media. The session ended with the distribution of a post-test to the participants. Prior to the educational intervention, a majority of respondents exhibited low knowledge (43.3%), however subsequent to the intervention, a majority demonstrated good knowledge (83.3%). The adolescent group exhibited an enhancement in knowledge following education on the prevention of chronic renal failure. Keywords: Chronic Kidney Failure, Non-Communicable Diseases
Internalized Stigma pada Penderita Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Kalimantan Barat Kirana, Wahyu; Anggreini, Yunita Dwi; Safitri, Dewin
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 6 (2025): Volume 5 Nomor 6 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i6.19974

Abstract

ABSTRACT Schizophrenia is a long-lasting condition and most patients experience relapse during their illness. One of the most significant predictors of relapse in people with schizophrenia is internalized stigma. This study aims to identify internalized stigma in schizophrenia patients at the West Kalimantan Provincial Mental Hospital. This type of research is quantitative with a descriptive analytic design used to provide an overview of internalized stigma in schizophrenia patients. This research was conducted at the Outpatient Clinic of the West Kalimantan Provincial Mental Hospital in January-February 2025. The population in this study were families and schizophrenia patients who performed outpatient care in the polyclinic room of the West Kalimantan Provincial Mental Hospital. Data collection used the standardized internalized stigma of mental illness inventory scale (ISMI-9) instrument. This instrument includes five aspects namely alienation, stereotype endorsement, perceived discrimination, social withdrawal and stigma resistance consisting of 4 Likert scales. The results showed that most respondents experienced internalized stigma in the mild category. Patients with mental disorders, especially schizophrenia, are at high risk of experiencing internalized stigma which can have adverse effects. Keywords: Internalized Stigma, Schizophrenia  ABSTRAK Skizofrenia adalah kondisi yang berlangsung lama dan sebagian besar pasien mengalami kekambuhan selama menderita penyakit tersebut. Salah satu prediktor yang paling signifikan terhadap kekambuhan pada penderita skizofrenia adalah internalized stigma atau stigma terinternalisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi internalized stigma pada penderita skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Kalimantan Barat. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain descriptive analytic yang digunakan untuk memberikan gambaran internalized stigma pada penderita skizofrenia. Penelitian ini dilakukakan di Poli Rawat Jalan Rumah Sakit Jiwa Provinsi Kalimantan Barat pada bulan Januari-Februari 2025. Populasi dalam penelitian ini adalah keluarga dan pasien skizofrenia yang melakukan rawat jalan di ruang poliklinik Rumah Sakit Jiwa Provinsi Kalimantan Barat. Pengumpulan data menggunakan instrumen internalized stigma of mental illness inventory scale (ISMI-9) yang sudah baku. Instrumen ini mencakup lima aspek yaitu alienation, stereotype endorsement, perceived discrimination, social withdrawal dan stigma resistance yang terdiri dari 4 skala likert. Hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar responden mengalami internalized stigma kategori ringan. Penderita gangguan jiwa terutama skizofrenia berisiko tinggi mengalami internalized stigma yang dapat menimbulkan dampak buruk. Kata Kunci: Internalized Stigma, Skizofrenia
Hubungan Self-Care Behavior dan Kecemasan dengan Kejadian Stroke Pada Kelompok Risiko Tinggi di UPT Puskesmas Banjar Serasan Pontianak Safitri, Dewin; Arisandi, Defa; Nurpratiwi
JURNAL KEPERAWATAN SUAKA INSAN (JKSI) Vol. 9 No. 2 (2024): Jurnal Keperawatan Suaka Insan (JKSI)
Publisher : STIKES Suaka Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51143/jksi.v9i2.713

Abstract

Stroke dilaporkan sebagai penyebab kematian tertinggi kedua dan sumber kecacatan utama di seluruh dunia. Salah satu faktor risiko stroke adalah hipertensi dimana hipertensi yang tidak terkontrol dapat mengakibatkan terjadinya stroke. Self-care behavior pada penderita hipertensi diantaranya rutin mengonsumsi obat, memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan, melakukan diit rendah garam, aktivitas fisik, tidak mengonsumsi alkohol dan merokok merupakan hal penting untuk dilakukan. Kecemasan juga dilaporkan meningkatkan risiko terjadinya stroke. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan self-care behavior dan kecemasan dengan kejadian stroke pada kelompok risiko tinggi di UPT Puskesmas Banjar Serasan. Metode penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 88 penderita hipertensi yang termasuk ke dalam kelompok risiko tinggi stroke dipilih secara purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner perilaku perawatan diri dan kuesioner Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Uji Spearman Rank untuk menganalisis hubungan self-care behavior dan kecemasan dengan kejadian stroke didapatkan p value 0,000 < 0,05 dengan koefisien korelasi -0,497 (kekuatan sedang) dan 0,365 (kekuatan lemah). Dapat disimpulkan bahwa perilaku self-care dan kecemasan dapat meningkatkan kejadian stroke
Educational Video SADAR as an Effort to Improve Knowledge about the Risk of Chronic Kidney Failure Akbar, Ali; Amaludin, Mimi; Alfikrie, Fauzan; Hidayat, Uti Rusdian; Hatmalyakin, Debby; Arisandi, Defa; Nurpratiwi, Nurpratiwi; Safitri, Dewin
Jurnal Keperawatan Profesional (KEPO) Vol. 6 No. 1 (2025): Volume 6 Nomor 1 Mei 2025
Publisher : Sarana Ilmu Indonesia (salnesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36590/kepo.v6i1.1455

Abstract

End-stage renal disease is a global health problem that impacts quality of life and high treatment costs, second only to cardiovascular disease. This study aimed to analyze the effect of the SADAR (Semangat mengAtas dan Sinyal Ancaman Risiko) educational video on efforts to reduce the risk of CKD in the Banjar Sarasan Health Center area, East Pontianak. A quasi-experimental design with a control group was used 44 subjects with hypertension or type II diabetes mellitus who were at risk of developing CKD. The subjects were divided into two groups selected accidentally. The results of the Wilcoxon test showed that the SADAR video (p-value=0,000) and lectures (p=0,000) were both effective in increasing public knowledge about CKD risk detection. The Mann-Whitney test showed that the SADAR video was more effective (p-value=0,015; mean rank=26,77:18,23) than lectures. Further research is needed to evaluate the long-term effectiveness and accessibility of knowledge about CKD risk detection.
Music Intervention to Reduce Anxiety in High-Risk Group of Stroke in Puskesmas Banjar Serasan Safitri, Dewin; Arisandi, Defa; Nurpratiwi, Nurpratiwi; Rusdian Hidayat, Uti; Akbar, Ali; Alfikrie, Fauzan; Amaludin, Mimi; Hatmalyakin, Debby
Jurnal Keperawatan Profesional (KEPO) Vol. 6 No. 1 (2025): Volume 6 Nomor 1 Mei 2025
Publisher : Sarana Ilmu Indonesia (salnesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36590/kepo.v6i1.1480

Abstract

Stroke is the second leading cause of death and a major source of disability worldwide. Hypertension and diabetes mellitus are major risk factors for stroke. Anxiety can worsen the condition of patients with hypertension and diabetes mellitus, which can increase the risk of stroke. Music intervention is one of the non-pharmacological measures that can reduce anxiety. This study aimed to analyze the effect of music intervention on anxiety in high risk stroke groups in the Banjar Serasan Health Center working area. The research design used was pretest posttest without control group. The population in this study consisted of patients with hypertension and diabetes mellitus at Banjar Serasan Health Center. The sample size was 30 subjects Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) instrument consisting of 14 statements was used to measure anxiety. Bivariate analysis was concted using a paired t-test. The results showed a p-value of 0,000 which indicated that there was an effect of music intervention on anxiety in the high risk stroke group. Music intervention affected anxiety in high risk stroke group. Patients with hypertension and diabetes mellitus as a high risk group for stroke are advised to keep doing music intervention independently to control anxiety.
Education on Hospitalization Reactions to Increase Parental Involvement in Yarsi General Hospital, Pontianak Sari, Lintang; Kirana, Wahyu; Safitri, Dewin; Florensa, Florensa; Yousriatin, Fajar
Jurnal Keperawatan Profesional (KEPO) Vol. 6 No. 1 (2025): Volume 6 Nomor 1 Mei 2025
Publisher : Sarana Ilmu Indonesia (salnesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36590/kepo.v6i1.1503

Abstract

Hospitalization not only causes anxiety and stress for children but also their parents. One of the factors behind this is the lack of parental knowledge about the disease and reactions to hospitalization, thus increasing anxiety which has an impact on the lack of parental participation in care. Parents with high anxiety levels tend to be less than optimal in caring for children while in the hospital, which can be shown by parental participation. This study aimed to analyze the effect of education on hospitalization reactions on parental participation in the children's room of Yarsi Pontianak General Hospital. The research design used was a quasi experiment with a pretest-posttest without control group approach. The sample size was 30 children who were treated in the pediatric room of Yarsi Pontianak General Hospital. The instrument used was a parent participation questionnaire that had been tested for validity and reliability. The bivariate test used Wilcoxon Signed Rank to identify the effect of education on hospitalization reactions on parental participation. The results of bivariate analysis using the Wilcoxon test obtained a p-value of 0,042 which indicated the effect of education on hospitalization reactions on parental participation. There is an effect of education about hospitalization reactions on parental participation in the children's room of Yarsi General Hospital Pontianak. Nurses are expected to be more active in involving parents in child care.