Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Hubungan Tingkat Pendidikan Petani terhadap Serangan Hama dan Penyakit pada Budidaya Tanaman di Sumatera Selatan Arsi, Arsi; Pratama, Rahmat; Adriansyah, Fikri; Hamidson, Harman; Tricahyati, Titi; Suparman, Suparman; Doni, Rama; Dona, Rama; Cahya, Muhardianto; Izzati, Rinaldi Fahril; Saputra, Rian; Trianda, Gita; Wahyudi, Lidya Dwi; Barokah, Putri
Seminar Nasional Lahan Suboptimal Vol 12, No 1 (2024): Vol 12, No 1 (2024): Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal ke-12 “Revital
Publisher : Pusat Unggulan Riset Pengembangan Lahan Suboptimal (PUR-PLSO) Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Arsi, A., Pratama, R., Adriansyah, F., Hamidson, H., Tricahyati, T., Suparman, S., Doni, R., Dona, R., Rinaldi Fahril Izzati, Rian Saputra, Gita Trianda, Lidya Dwi Wahyudi, Putri Barokah. (2024). The relationship of farmers' education level to pest and disease attacks in plant cultivation in South Sumatra. In: Herlinda S et al. (Eds.), Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal ke-12 Tahun 2024, Palembang  21 Oktober 2024. (pp. 787–798).  Palembang: Penerbit & Percetakan Universitas Sriwijaya (UNSRI).The aimed of this research was to determine the behavior and understanding of farmers in using pesticides based on educational background. Pesticide is a poisonous chemical which is able to ruin human and animal health and also pollute the environment. The use of pesticide has to consider five properness i. e. proper target, proper active ingredient, proper time, proper dosage/concentration and proper equipment. Knowledge is one of factors affecting people behavior, including behavior in pesticide application. The less knowledge of farmers in pesticide application made them use too much pesticide which might cause degradation of environment and pesticide residue in agricultural products which is dangerous to consumers. Method applied in the study was an interview method using questionnaire to 180 farmers, followed by field observation in their field. 57% of respondents had Elementary School background, 20% had Junior High Scholl background, 23% had Senior High School background and one of them had university education background. The average score of pesticide use was 1,92 from farmers who graduated from bachelor, then the pesticide score of farmers who graduated from elementry school, junior high school, and high school had the same pesticide score of 2,39 and all education is categorized as good in using pesticides. The pesticide application score did not correlate with the presence of pest in the field but significanly correlate with the prsence of plant diseases. The highest plant disease intensity (26.55) was found in the farms belonged to farmers with elementary school backfround, while the lowest (6.61) was found in the field of farmer with university educational background.  
Optimalisasi Pertanian di Lahan Terbatas Melalui Integrasi Hidroponik dan Pertanian Organik sebagai Strategi Ketahanan Pangan Berkelanjutan di Desa Permata Baru Lumbantoruan, Santa Maria; Susilawati, Susilawati; Gustiar, Fitra; Ramadhani, Fitri; Sefrila, Marlin; Ningsih, Astuti Kurnia; Ria, Rofiqoh Purnama; Fadilah, Lya Nailatul; Irmawati, Irmawati; Cahya, Muhardianto
Jurnal Pengabdian Sosial Vol. 2 No. 7 (2025): Mei
Publisher : PT. Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/vqjg0f24

Abstract

  Lahan pertanian yang semakin terbatas mendorong kegiatan budidaya tanaman dapat dilakukan tidak hanya di lahan luas. Salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan pemanfaatan lahan terbatas untuk kegitan budidaya. Budidaya tanaman di pekarangan memiliki potensi untuk meningkatkan ketahanan pangan khususnya di desa. Pemanfaatan lahan terbatas dapat dioptimalkan melalui penerapan tenkologi inovasi seperti hidroponik, vertikultur, ataupun aquaponik. Umumnya, banyak masyarakat di desa belum memanfaatkan lahan pekarangan secara optimal untuk kegiatan budidya tanaman. Hal ini disebabkan oleh minimnya informasi atau pengetahuan dalam mengoptimalkan lahan untuk budidaya tanaman sebagai upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga. Tujuan dari pengabdian ini adalah untuk memberikan informasi dan pemahaman terkait potensi pertanian pekarangan yang diintergarsikan dengan penerapan pertanian organik. Kegiatan pegabdian ini dilakukan dengan metode sosialisasi dan pelatihan langsung di desa permata baru. Kegiatan sosialisasi dan pelatihan terkait penerapan sistem pertanian hidroponik dan cara perakitannya serta pembuatan pupuk organik cair dari limbah kulit pisang dan biopestisida dari daun pepaya. Berdasarkan survey terdapat beberapa kendala mengapa masyarakat tidak memanfaatkan lahan pekarangan diantaranya karena keterbatasan biaya produksi, minimnya pengetahuan dan kendala teknis. Hasil dari pengabdian ini tercermin dalam peningkatan minat masyarakat untuk mengimplementasikan sistem pertanian hidroponik.  Dengan terlaksananya kegiatan pengabdian ini melalui sosialisasi dan pelatihan masyarakat desa mulai menyadari potensi lahan pekarangan untuk kegitan budidaya. Sebanyak 92% masyarakat desa ingin mengimplementasikan sistem pertanian hidroponik di lahan pekarangan. Selain itu, masyarakat juga mendapat pengetahuan dalam pemanfaatan limbah pertanian sebagai pupuk organic cair dan biopestisida guna mendukung ketahanan pangan rumah tangga. https://drive.google.com/file/d/1woPpP6aJ5NCoFBtfzIMbmv0tda9HLTpD/view?usp=sharing
Pemberdayaan Petani dengan Teknologi Reaktor Pirolisis Biohayati Sekam Padi di Lahan Gambut Desa Ganesha Mukti, Banyuasin: pemberdayaan sekam padi di lahan gambut Lumbantoruan, Santa; Harsana, Primayoga; Ramadhani, Fitri; Cahya, Muhardianto; Habibulloh
Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA Vol 8 No 3 (2025): Juli-September 2025
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jpmpi.v8i3.12968

Abstract

Ganesha Mukti Village, located in Banyuasin Regency, is a peatland-based agricultural area facing challenges such as low soil fertility and high acidity. This community service initiative aims to empower farmers through the application of a bio-pyrolysis reactor using rice husks as feedstock, offering a solution for agricultural waste management and soil quality improvement. Activities included focus group discussions (FGDs), technical training, equipment demonstrations, and participatory evaluations. Results showed a significant increase in farmers’ understanding—from 30–60% (pre-test) to 80–85% (post-test)—and 77.5% of participants expressed readiness to operate the technology independently.The bio-pyrolysis reactor produces two main outputs: biochar and liquid smoke, both of which serve as soil ameliorants and environmentally friendly inputs for peatland farming. Laboratory analysis revealed that biochar contains substantial macronutrients—nitrogen (0.74–0.91%), phosphorus (0.129–0.174%), and potassium (0.76–0.87%)—comparable to conventional organic fertilizers and chemically more stable, thus enhancing peat soil fertility. Meanwhile, the liquid smoke contains nitrogen (0.16%), phosphorus (0.057%), and potassium (0.001%), which, although low, still contributes as a supplementary nutrient source and functions as a botanical pesticide and eco-friendly pest control agent.The synergy between rice husk-derived biochar and liquid smoke is considered effective in boosting agricultural productivity, reducing dependence on inorganic inputs, and supporting sustainable farming systems on peatlands.
PENERAPAN TEKNOLOGI FERMENTOR BIOPOC DAN SISTEM PERTANIAN TERPADU UNTUK MENINGKATKAN KEMANDIRIAN DAN INOVASI PETANI CABAI DI DESA TANJUNG BARU Maria Lumbantoruan, Santa; Ramadhani, Fitri; Sefrila, Marlin; Antony Jefry Pratama, Muhammad; Juniar Andika, Eva; Cahya, Muhardianto; Mulyadi, Mulyadi; Putri Nur, Tri; Amartiya Sari, Shabilla
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 9, No 1 (2026): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v9i1.%p

Abstract

Desa Tanjung Baru merupakan salah satu desa di Kecamatan Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir yang dikenal sebagai wilayah agraris dengan potensi pertanian yang besar. Desa Tanjung Baru memiliki potensi pertanian dan peternakan yang besar, namun menghadapi tantangan  seperti ketergantungan pupuk kimia, rendahnya pemanfaatan limbah organik, dan minimnya literasi teknologi. Desa tanjung baru juga memiliki potensi peternakan yang menghasilkan limbah kotoran ternak yang belum dimanfaatkan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kemandirian dan inovasi petani cabai melalui penerapan teknologi fermentor BioPOC (Bio Pupuk Organik Cair) dan sistem pertanian terpadu. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, dan evaluasi. Hasil pengabdian menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman dan keterampilan petani terhadap teknologi fermentor BioPOC, manfaatnya dan cara menghasilkan kompos yang lebih cepat dan lebih higienis. Dari usia peserta yang diperoleh dominan peserta memiliki pendidikan yang sudah mumpuni sehingga mampu untuk menerapkan fermentor BioPOC. Hasil pengabdian juga menunjukkan terbentuknya model pertanian terpadu berbasis kearifan lokal. Program pelaksaan kegiatan pengabdian ini mendukung capaian SDGs dalam mewujudkan pertanian terpadu.
PENINGKATAN PEMAHAMAN PETANI DESA PERIGI DALAM INOVASI PENGELOLAAN GAMBUT BERKELANJUTAN Adriani, Dessy; Suwignyo, Rujito A.; Sodikin, Erizal; Amin, Mohamad; Cahya, Muhardianto; Zuliansyah, Muhammad Andri
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 5 (2025): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i5.34764

Abstract

Abstrak: Desa Perigi memiliki wilayah dengan ekosistem gambut. Dalam praktiknya, pengelolaannya menghadapi banyak tantangan. Pelatihan dan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman petani tentang inovasi pengelolaan gambut berkelanjutan melalui pendekatan pelatihan berbasis Participatory Rural Appraisal (PRA). Metode ini meliputi pemberian materi, diskusi kelompok, dan identifikasi potensi lokal untuk mengembangkan praktik cerdas iklim. Kegiatan dilaksanakan di Desa Perigi, Kecamatan Pangkalan Lampam, Kabupaten Ogan Komering Ilir, pada 10 September 2024. Mitra kegiatan ini bersama kelompok tani Desa Pergi dengan jumlah peserta 30 orang petani dan didukung oleh perangkat desa setempat. Hasil kajian menunjukkan bahwa petani telah mempelajari dan mengalami peningkatan pemahaman tentang praktik agroforestri, paludikultur, dan pengelolaan lahan tanpa bakar. Sebanyak 63,33% petani bersedia mengimplementasikan ide inovasi yang diberikan, meskipun masih terdapat kendala berupa keterbatasan modal, tenaga kerja, dan dukungan pemerintah. Kegiatan ini berhasil mengidentifikasi potensi lokal, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat komitmen terhadap pengelolaan gambut yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa kolaborasi antar pemangku kepentingan, edukasi masyarakat, dan strategi pengelolaan berbasis inovasi cerdas iklim dapat menjadi solusi untuk mengatasi degradasi lahan gambut. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan ekosistem gambut akan tetap lestari dan dapat memberikan manfaat ekonomi dan ekologi berkelanjutan untuk masa depan.Abstract: Perigi Village has an area with a peat ecosystem. In practice, its management faces many challenges. This training and community service aims to improve farmers' understanding of sustainable peat management innovations through Participatory Rural Appraisal (PRA)-based training approach. This method includes providing materials, group discussions, and identifying local potential to develop climate-smart practices. The activity was carried out in Perigi Village, Pangkalan Lampam District, Ogan Komering Ilir Regency, on September 10, 2024. The partners for this activity are the farmer groups in Perigi Village, with 30 participating farmers, and supported by the local village officials. The results of the study showed that farmers had learned and experienced an increase in understanding of agroforestry practices, paludiculture, and land management without burning. As many as 63.33% of farmers were willing to implement the innovation ideas provided, although there were still obstacles in the form of limited capital, labor, and government support. This activity succeeded in identifying local potential, increasing productivity, and strengthening the commitment to environmentally friendly and sustainable peat management. This approach shows that collaboration between stakeholders, community education, and climate-smart innovation-based management strategies can be solutions to overcome peatland degradation. With these steps, it is hoped that the peat ecosystem will remain sustainable and can provide sustainable economic and ecological benefits for the future.