Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

KEPEMIMPINAN PENDETA PEREMPUAN DI LINGKUP SINODAL GEREJA PROTESTAN DI INDONESIA BAGIAN BARAT (GPIB): SUATU TINJAUAN TEOLOGIS-PEDAGOGIS Nova Linda Romeantenan; Desi Sianipar
Jurnal Shanan Vol. 2 No. 2 (2018): Oktober
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.466 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v2i2.1539

Abstract

Kepemimpinan sangat penting bagi kelangsungan pelayanan gereja. Kepemimpinan yang baik akan sangat bergantung pada tingkat komitmen, konsistensidan kesediaan menerima konsekuensi pelayanan dalam kerendahan hati, sehingga menyebabkan mereka yang dipimpin melakukan serangkaian tindakan dengan penuh kesadaran guna mencapai tujuan yang telah disepakati. Kepemimpinan pendeta perempuan secara teoritis diartikan sebagai kemampuan seorang pendeta perempuan dalam menggerakkan atau mempengaruhi jemaat dan dirinya menuju suatu tujuan dengan visi tertentu, dan mentransformasi komunitasnya sehingga kondisinya semakin baik.Penelitian dilaksanakan di kantor Majelis Sinode GPIB dengan teknik pengumpulan data deskriptif kualitatif melalui studi kepustakaan, wawancara,observasi, dan dokumentasi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat keadaan yang sebenarnya dari kepemimpinan pendeta perempuan di lingkup sinodal GPIB. Sampel yang digunakan adalah model sampel bertujuan (purposive sampling). Informan dalam penelitian ini berjumlah 13 orang yang terdiri dari 7 orang fungsionaris Majelis Sinode dan 6 orang perangkat-perangkat Majelis Sinode GPIB, yang terdiri dari 4 pendeta perempuan, 1 penatua perempuan dan 1 pendeta laki-laki. Kemudian dilakukan analisis untuk melihat kendala dan cara pendekatan agar dengan tinjauan teologis-pedagogis ini dapat mencapai tujuan yang diharapkan.Dari hasil penelitian ini, ditemukan bahwa kepemimpinan pendeta perempuan di GPIB dibangun berdasarkan Alkitab di mana perempuan dan laki-laki diciptakan segambar dengan Allah (Kej. 1:27). Artinya, laki-laki dan perempuan adalah gambar Allah yang diciptakan setara dan sederajat. Pendeta perempuan dan pendeta laki-laki tidak ada perbedaan dalam hal kepemimpinan di lingkup sinodal GPIB. GPIB sebagai lembaga sangat terbuka dan memberikan peluang yang sangat luas kepada pendeta perempuan untuk membangun dan mengembangkan dirinya melalui pendidikan, pelatihan dan pembinaan. GPIB sebagai lembaga sudah sangat maju dan terbuka memberikan peluang untuk perempuan memimpin di lingkup struktural sinodal GPIB.Pendeta perempuan sebagai pelaku sejarah telah berperan di ruang publik dan domestik. Peran domestik dan peran publik sudah ikut mempengaruhi perubahan pada kepemimpinan di GPIB. Meskipun dalam kepemimpinan pendeta perempuan banyak tantangan, tetapi pendeta perempuan GPIB telah mempengaruhi gerak menggereja menurut konteksnya.Kata kunci: kepemimpinan, pendeta perempuan, tinjauan teologis-pedagogis.
KONSEP “JANGAN MEMBUNUH” DALAM KONTEKS PENDAMPINGAN PRAJURIT TNI GRUP I KOPASSUS DI GPIB ABRAHAM SERANG:: KAJIAN PEDAGOGIS, TEOLOGIS, ETIS, DAN PSIKOLOGIS George Ronald Noya; Desi Sianipar
Jurnal Shanan Vol. 3 No. 1 (2019): Maret
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.548 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v3i1.1572

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman konsep “Jangan Membunuh” bagi prajurit TNI Grup 1 Kopassus warga jemaat GPIB “Abraham” Serang, sebagai bentuk pendampingan PAK bagi mereka saat akan menjalankan tugas di wilayah konflik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, dengan peneliti sebagai instrumen. Adapun teknik pengumpulan data melalui wawancara kepada informan yang berprofesi sebagai prajurit TNI grup 1 Kopassus dan pernah bertugas di wilayah konflik. Peneliti pun melakukan recheck terhadap hasil temuannya. Penelitian ini dapat memberi gambaran tentang pemahaman konsep “Jangan Membunuh” bagi prajurit TNI grup 1 Kopassus dari sudut pandang Teologis, Etika, dan Psikologi, gunamewujudkan pendampingan PAK yang relevan dan kontekstual di tengah penugasan yang dijalani oleh prajurit TNI Grup 1 Kopassus di wilayah konflik.Kata Kunci: Jangan membunuh, pendampingan, Prajurit TNI, Pedagogis, Teologis, Etis, Psikologis
PLURALISME AGAMA MENURUT ABRAHAM KUYPER DAN KONTRIBUSINYA BAGI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN Desi Sianipar
Jurnal Shanan Vol. 3 No. 1 (2019): Maret
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.686 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v3i1.1576

Abstract

Tulisan ini merupakan kajian terhadap konsep pluralisme agama menurut Abraham Kuyper (1837-1920), seorang Belanda yang memiliki keahlian dalam bidang agama, politik, dan pendidikan. Studinya yang mendalam mengenai ilmu-ilmu ini telah menghasilkan pemikirannya yang khas mengenai pluralisme agama. Keunikan pemikirannya terletak pada konsep kebebasan dan teologi Calvinis di Amerika. Tulisan ini merupakan tinjauan pustaka yang diharapkan dapat memberikan wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat bagi pengembangan pendidikan agama Kristen. Beberapa kontribusi pemikiran Kuyper yang dapat dikembangkan dalam pendidikan agama Kristen adalah Tuhan adalah pencipta keberagaman; keberagaman agama harus menghasilkan kebaikan; mengakui keberagaman sama dengan mengakui manusia sebagai gambar Allah. Karena itu, keberagaman agama harus bisa didialogkan secara terbuka.Kata Kunci: pluralisme, Abraham Kuyper, pengembangan, pendidikan agama Kristen.
PENGGUNAAN PENDEKATAN SHARED CHRISTIAN PRAXIS (SCP) DALAM PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI GEREJA Desi Sianipar
Jurnal Shanan Vol. 3 No. 2 (2019): Oktober
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.396 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v3i2.1582

Abstract

Tulisan ini memuat pembahasan tentang penggunaan pendekatan Shared Christian Praxis (SCP) dalam pendidikan agama Kristen. Pendekatan ini dikembangkan oleh Thomas H. Groome pada tahun 1980-an dan sudah banyak digunakan dalam berbagai kegiatan pengajaran baik di gereja maupun sekolah di Eropa dan Amerika. Akan tetapi di lingkungan Protestan Indonesia, penggunaan pendekatan ini masih sangat jarang. Tulisan mengenai pendekatan ini pun masih sedikit, khususnya terkait dengan pendidikan agama Kristen di gereja-gereja Protestan. Pendekatan ini sangat baikdigunakan dalam pembelajaran di program katekisasi, penelaahan Alkitab, sermon, retreat, pertemuan pastoral, dan program pengajaran lainnya karena pendekatan ini bersifat aktif, inisiatif, reflektif, intuitif, kreatif, dialogis, kritis, emansipatif, dan partisipatif. Dengan menerapkan pendekatan ini dengan benar, maka upaya indoktrinasi, dominasi pengajar terhadap murid, dan pengajaran yang monolog dapat dihapuskan. Tulisan ini dihasilkan melalui riset kepustakaan (library research) dengan metode kualitatif deskriptif. Kesimpulan dari tulisan ini adalah pendekatan SCP bermanfaat dalam pendidikan agama Kristen di gereja, khususnya menyangkut: waktu belajar yang fleksibel, kesiapan emosional dan fisik dalam menerima pembelajaran, danmensinergikan teologi dan PAK dalam pembelajaran.
PERAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI GEREJA DALAM MENINGKATKAN KETAHANAN KELUARGA Desi Sianipar
Jurnal Shanan Vol. 4 No. 1 (2020): Maret
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.617 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v4i1.1769

Abstract

AbstrakKeluarga-keluarga pada saat ini menghadapi banyak tantangan dan ancaman dari berbagai hal yang membuat ketahanan keluarga juga terancam. Banyak keluarga mengalami perpisahan, kekacauan, penyimpangan, dan kerusakan sehingga tidak lagi mampu berkontribusi positif bagi masyarakat. Keluarga-keluarga membutuhkan penguatan, khususnya melalui pendidikan agama Kristen. Karena itu, tujuan dari tulisan ini adalah menganalisis peran pendidikan agama Kristen dalam meningkatkan ketahanan keluarga. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Tulisan ini merupakan kajian terhadap berbagai teori ketahanan keluarga dan pendidikan agama Kristen. Hasil penelitian adalah pendidikan agama Kristen berperan dalam meningkatkan ketahanan keluarga dengan melakukan penguatan spiritualitas keluarga melalui pesan dan narasi dalam Alkitab; melakukan pengembangan hubungan antara keluarga dengan unit-unit sosial yang lebih luas; mendampingi para orang tua supaya bertanggung jawab dalam pendidikan anak mereka sejak usia dini; menyusun kurikulum dengan memasukkan materi-materi terkait ketahanan keluarga; menyediakan buku-buku pengajaran Kristen yang memuat materi ketahanan keluarga; dan menyediakan para pengajar keluarga yang mampu menjadi teladan dalam ketahanan keluarganya.Kata Kunci: Peran, Pendidikan Agama Kristen, Meningkatkan, Ketahanan Keluarga
ANALISIS SWOT TERHADAP PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN (PAK) DAN IMPLIKASINYA BAGI STRATEGI PERTUMBUHAN GEREJA SANTAPAN ROHANI INDONESIA JEMAAT TOMANG Benalia Hulu; Desi Sianipar
Jurnal Shanan Vol. 4 No. 2 (2020): Oktober
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.305 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v4i2.2238

Abstract

Analisis SWOT merupakan metode yang digunakan untuk mengevaluasi lingkungan internal dan eksternal dari suatu organisasi yang mencakup: kekuatan dan kelemahan; kesempatan dan ancaman. Analisis ini juga dapat digunakan untuk membantu sebuah gereja menemukan kekuatan dan kelemahannya, serta kesempatan dan ancaman yang berasal dari luar gereja. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hasil analisis SWOT terhadap terhadap pendidikan agama Kristen (PAK) dan implikasinya bagi pertumbuhan Gereja Santapan Rohani Indonesia Jemaat Tomang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Data penelitian diperoleh melalui hasil wawancara terhadap pimpinan, aktivis, dan anggota jemaat Santapan Rohani Indonesia Jemaat Tomang. Penelitian dibatasi pada program pendidikan agama Kristen di Gereja Santapan Rohani Indonesia Jemaat Tomang, yaitu: Sekolah Minggu, Katekisasi, dan Pendalaman Alkitab. Hasil penelitian adalah 1) Kekuatan program PAK diperlihatkan melalui ketersediaan kurikulum dalam pengajaran di Sekolah Minggu; penggunaan metode yang bervariasi dalam pengajaran katekisasi; antusiasme jemaat dalam mengikuti Pendalaman Alkitab.; 2) Kelemahan program PAK adalah fasilitas Sekolah Minggu yang masih kurang baik; ketidaksiapan anggota untuk mengikuti jadwal katekisasi yang ditentukan oleh gereja; kurangnya minat membaca Alkitab dalam bentuk cetak bisa membuka ruang untuk men-download Alkitab versi online yang telah dikacaukan terjemahannya.; 3) Peluang atau kesempatan yang dimiliki program PAK adalah relasi dengan lingkungan sekitar yang sangat baik; tersedianya kesempatan untuk mengikuti kelas katekisasi; tersedianya kesempatan untuk mengikuti pendalaman Alkitab.; 4) Ancaman atau tantangan yang dihadapi dalam program PAK adalah adanya dampak negatif dari penggunaan gadget pada anak-anak sehingga mengganggu fokus anak-anak dalam kegiatan Sekolah Minggu; tersedianya akses untuk mendapatkan berbagai jawaban atas berbagai pertanyaan yang bisa saja merusak iman dan pemahaman jemaat yang mengikuti katekisasi dan pendalaman Alkitab. Semua hasil analisis SWOT tersebut berguna bagi penetapan strategi pertumbuhan gereja.
Patriotisme Kristen: Pembelajaran PAK Keluarga Pada Anak Usia Dini Sozanolo Telaumbanua; Desi Sianipar
Jurnal Shanan Vol. 5 No. 1 (2021): Maret
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.942 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v5i1.2734

Abstract

The formation of patriotism in early childhood is very important because this will seriously impact on the welfare, prosperity and progress of family, society, and the nation in the future. In particular, this is a concern for Christian parents in responding to social situations at present, which are marked by the development of unpatriotic attitudes and actions, such as corruption, acts of violence, bullying, hate speech, intolerance, terrorism, efforts to disrupt the unity of the state, abuse of technology, laziness, individualism, lack of respect for the culture and production of his/her own country, and so on. The Indonesian government is also preparing the strong generation to welcome the demographic bonus between 2010-2035. In supporting the government, Christian parents must realize their role in educating their children to have patriotism from an early age. Therefore, this study aims to describe how Christian patriotism is taught to early childhood through Christian religious education in family. The method used is a qualitative research method with the literature review approach. The result of this research is that parents build early childhood patriotism based on Christian values, namely by having an understanding of the theological foundation of patriotism; early childhood development, and the formation of patriotism by setting learning objectives, learning materials and learning methods adapted to early childhood development and Christian values.
Penerapan Teologi Cinta Kristus Dan Pedagogi Cinta Johann Heinrich Pestalozzi Dalam Pendidikan Agama Kristen Anak Desi Sianipar; Sozanolo Telaumbanua
Montessori Jurnal Pendidikan Kristen Anak Usia Dini Vol. 3 No. 1 (2022): Montessori: Jurnal Pendidikan Kristen Anak Usia Dini
Publisher : Program Studi Pendidikan Kristen Anak Usia Dini

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/mjpkaud.v3i1.877

Abstract

Abstrak Pendidikan yang berpusat pada cinta sangat dibutuhkan anak karena banyak anak yang mengalami krisis cinta akibat mengalami kekerasan dari orang-orang di sekitarnya. Kurangnya cinta dalam pendidikan anak telah mengakibatkan kurangnya rasa percaya diri, mudah putus asa, tidak memiliki daya juang, menjadi antisosial, dan sebagainya. Karena itu, pendidikan agama Kristen berperan besar dalam menanamkan pemahaman tentang cinta kristiani, membentuk karakter anak yang penuh cinta, serta mempraktikkan cinta dalam kehidupan. Karena itu, tujuan penelitian ini adalah menghasilkan pemikiran tentang penerapan teologi cinta Kristus dan pedagogi cinta Pestalozzi dalam pendidikan agama Kristen anak. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur. Hasil penelitian ini adalah pendidikan agama Kristen anak berpusat pada cinta yang diterapkan berdasarkan teologi cinta Kristus dan pedagogi cinta Pestalozzi. Pendidik merupakan pribadi yang penuh cinta, tujuan dan materi pembelajaran memuat capaian dan bahasan tentang cinta kepada Allah, sesama, dan diri sendiri, metode pembelajaran bertujuan untuk mempromosikan cinta; dan evaluasi pembelajaran berfokus pada perkembangan sikap empati pada anak. Kata kunci : Teologi Cinta, Pedagogi Cinta, Pendidikan Agama Kristen, Anak Abstract Love centered education is needed by children because many children experience crisis of love due to violence from the people around them. Lack of love in children education will result in lack of self-confidence, easily discouraged, not having power to fight, being antisocial, and so on. Therefore, Christian religious education plays major role in instilling understanding of Christian love, forming the character of children who are full of love, and practicing love in their life. Therefore, the purpose of this research is to give ideas about the application of the theology of Christ's love and the pedagogy of love from Pestalozzi in the Christian religious education of children. The research method uses qualitative methods with literature study approach. The result of this research is that Christian religious education for children is centered on love which is applied based on the theology of Christ's love and the pedagogy of love from Pestalozzi. The educator is a person who is full of love, the goals and learning materials contain the topics about love to God, others, and oneself, the learning method aims to promote love; and evaluation of learning focuses on the development of love character in children. Keywords: Theology of Love, Pedagogy of Love, Christian Religious Education, Child
KETERLIBATAN KAUM INJILI DALAM DIALOG ANTAR UMAT BERAGAMA: SUATU REFLEKSI TEOLOGIS-PEDAGOGIS ATAS METODE DIALOG “PASSING OVER” Desi Sianipar
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 1, No 1 (2017): J.VoW Vol. 1 No. 1 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36972/jvow.v1i1.4

Abstract

Penulisan makalah ini dilatarbelakangi oleh pengamatan penulis mengenai kurangnya keterlibatan kaum Injili dalam dialog antar umat beragama, yang justru banyak dilakukan oleh kalangan Kristen lainnya. Hal ini disebabkan kaum Injili memiliki pemahaman teologis yang berbeda mengenai perjumpaan dengan agama-agama lain, dan kekuatiran mengenai akibat dari perjumpaan tersebut.Berdasarkan pembahasan teoritis, tampak bahwa ada beberapa penyebab kaum Injili kurang terlibat dalam dialog antar umat beragama, yaitu: kekuatiran terjadinya sinkretisme melalui dialog; kekuatiran akan disalahmengerti mengenai keterlibatan dalam dialog; dialog tidak dibutuhkan dalam penginjilan, yang dibutuhkan adalah pendampingan pastoral Kristen; kekuatiran akan terjadinya kemunduran dalam penginjilan; dan sikap eksklusivisme dalammemandang agama-agama lain. Meski dalam posisi demikian, menurut penulis, sebenarnya keterlibatan kaum Injili dalam dialog antar umat beragama masih bisa dimungkinkan kalau mereka memahami dan menghayati keteladan Kristus dalam hal mengosongkan diri (kenosis) untuk mampu membuka diri terhadap orang lain. Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode kepustakaan di mana penulis menggunakan sejumlah literatur berbahasa Indonesia dan Inggris, yang membahas tentang dialog antar umat beragama dan keterlibatan kaum Injili dalam dialog antar umat beragama. Selanjutnya, pembahasan dilakukan menurut tinjauan secara teologis pedagogis.Orang Kristen semestinya mampu terlibat dalam dialog antar umat beragama. Penulis mengusulkan suatu metode dialog “melintas batas” atau “passing over”, yang kalau menerapkan prinsip kenosis, kaum Injili dapat melakukannya. Metode ini akan memampukan setiap orang mengalami pengenalan yang mendalam mengenai para penganut agama lain dimana orang tidak pindah agama atau keyakinan, dan bukan sedang dalam pencarian jati diri,juga bukan sedang mencoba-coba mencicipi rasa keagamaan yang lain. Dia melakukan dialog ini untuk memiliki pemahaman yang lebih dalam lagi tentang keyakinan orang-orang dalam agama lain, dan dengan itu justru akan memperkuat keyakinannya sendiri.
Desain Kurikulum Sekolah Minggu Menurut Model Grassroots Rationale Udin Firman Hidayat; Budiman Nainggolan; Jimson Sitorus; Desi Sianipar
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 5, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v5i2.354

Abstract

Kurikulum memiliki peran yang sangat penting dalam mencapai tujuan pendidikan. Di dalam konteks pendidikan nonformal di gereja, kurikulum sangat dibutuhkan untuk menjadi arah dan pedoman pelaksanaan pendidikan. Salah satu program pendidikan di gereja adalah Sekolah Minggu, yang merupakan program pendidikan yang bertujuan membentuk anak-anak yang memiliki karakter dan spiritualitas Kristen yang kuat. Akan tetapi masih banyak Sekolah Minggu yang dikelola dengan tujuan yang tidak terukur karena tidak adanya kurikulum secara tertulis. Ada beberapa model desain kurikulum yang dapat digunakan, salah satunya model Grassroot Rationale. Karena itu, tujuan penelitian ini adalah menghasilkan konsep desain kurikulum Sekolah Minggu menurut model Grassroot Rationale. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa desain kurikulum sekolah minggu menggunakan model Grassroots Rationale secara komprehensif sangat berpihak kepada peserta didik. Selain melibatkan anak-anak secara aktif dalam proses pembelajaran, kebutuhan anak-anak sekolah minggu terwadahi melalui isi materi pembelajarannya.