Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

PREVALENSI PENDERITA DERMATOFITOSIS DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN RSU PROVINSI NTB Nyoman Cahyadi Tri Setiawan
JURNAL KEDOKTERAN Vol 2 No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kondisi geografis Indonesia yang merupakan daerah tropis dengan suhu dan kelembapan yang tinggi akan memudahkan tumbuhnya jamur sehingga infeksi oleh karena jamur di Indonesia masih tinggi. Penyakit jamur golongan dermatofita dapat menginfeksi semua ras dan dapat menyerang semua golangan umur serta sangat bervariasi terahadap organisme penyebab di setiap negara. Di Nusa Tenggara Barat (NTB) khususnya di RSUP NTB tahun 2008 jumlah penderita dermatofitosis belum diketahui secara pasti, sehingga diperlukan penelitian mengenai penyakit dermatofitosis di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP NTB.Untuk mengetahui jumlah penderita setiap bulan selama 1 tahun, berdasarkan jenis, umur, jenis kelamin, dan tempat tinggal dan prevalensi penderita dermatofitosis yang berobat ke Poliklinik Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Umum Provinsi NTB tahun 2008. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif berdasarkan data rekam medik dari RSUP NTB. Bahan penelitian berupa data sekunder dari buku registrasi pasien mengenai kejadian penyakit dermatofitosis periode bulan Januari sampai Desember tahun 2008. Data diolah dan ditampilkan dalam bentuk tabel frekuensi dan diagram yang meliputi jenis dermatofitosis, umur, jenis kelamin, dan tempat tinggal pasien. Sampel penelitian diambil adalah laki-laki dan perempuan dalam semua golongan umur dengan infeksi penyakit dermatofitosis pada bulan Januari sampai Desember yang telah terdaftar pada buku registrasi pasien. Prevalensi penderita dermatofitosis selama periode Januari sampai dengan Desember tahun 2008 sebesar 7,12% yaitu sebanyak 398 kasus dari 5588 total keseluruhan penyakit kulit. Ditemukan jumlah kasus berdasarkan jenis dermatofitosis kasus yang paling tinggi ialah Tinea kruris sebesar 210 kasus (52,76%), Tinea Kapitis 16 kasus (4,02%), Tinea Korporis 132 kasus (33,16%), Tinea Unguium 19 kasus (4,77%), Tinea Manum 4 kasus (1%), Tinea Pedis 17 kasus (4,27%) sedangkan kasus yang tidak ditemukan ialah Tinea Barbae. Menurut jenis kelamin pasien, prevalensi tertinggi didapatkan pada jenis kelamin laki-laki sebanyak 227 kasus (57,03%) dibandingkan pada perempuan yaitu sebanyak 171 kasus (42,96%). Prevalensi dermatofitosis berdasarkan kelompok usia didapatkan prevalensi tertinggi terdapat pada kelompok usia 46-50 tahun (11,05%) sedangkan yang terendah pada kelompok usia 0-5 tahun (3,26%). Berdasarkan tempat tinggal di wilayah Kota Mataram prevalensi dermatofitosis terbanyak terdapat pada Kecamatan Mataram yakni 94 kasus dengan persentase 30,19%. Periode tahun 2008 didapatkan jumlah penderita dermatofitosis terbanyak pada bulan Januari sebanyak 57 kasus dengan persentase 15,32% dan yang terendah pada bulan Juni yaitu 24 kasus dengan persentase 6,03%
HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH DAN JENIS KELAMIN DENGAN DERAJAT KEPARAHAN CARPAL TUNNEL SYNDROME DI RSUD KOTA MATARAM Pande Kadek Deva Widya Iswara Oka; Sukandriani Utami; Nyoman Cahyadi Tri Setiawan; I Wayan Tunjung
Nusantara Hasana Journal Vol. 2 No. 10 (2023): Nusantara Hasana Journal, March 2023
Publisher : Yayasan Nusantara Hasana Berdikari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59003/nhj.v2i10.795

Abstract

Carpal Tunnel Syndrome (CTS) is a common disorder with symptoms involving the median nerve. The risk factors for the occurrence of CTS are grouped into individual and physical factors related to work. Individual factors consisted of a history of diabetes mellitus, hypothyroidism, obesity, rheumatoid arthritis, age and gender. In addition, there are work-related physical factors, namely work with repetitive hand movements, gripping or clamping work with force, abnormal postures on the wrist for a long time. Purpose to determine the relationship between BMI and gender with the degree of severity of CTS in Mataram City Hospital. Observational analytic quantitative research with a cross-sectional study design. The sampling technique used a random sampling technique of 34 samples. The research was conducted at the Mataram City Hospital, from November to December 2022. The data obtained was analyzed using the spermaman rank test. Results of the 34 study samples, there were 8 people (23.5%) with BMI < 24.9 kg/m2 and, 26 people (76.5%) with BMI ≥ 25 kg/m2. A total of 13 men (38.2%) and 21 women (61.8%) suffered from CTS. The value of p = 0.001 (p <0.05) with a correlation value of 0.528 for the relationship between BMI and the severity of CTS, and p = 0.001 (p <0.05) with a correlation value of 0.531 for the relationship between gender and the severity of CTS . There is a significant relationship between BMI and gender with the degree of severity of CTS in Mataram City Hospital.
Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Brucellosis pada Manusia: A Systematic Review Setiawan, Nyoman Cahyadi Tri
Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Vol 14 No 3 (2024): Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal: Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32583/pskm.v14i3.1371

Abstract

Kasus brucellosis pada manusia di Indonesia sangat jarang dilaporkan serta kurangnya publikasi brucellosis mengakibatkan sebagian besar masyarakat tidak mengetahui jika brucellosis dapat menular ke manusia (Susan). Brucelosis dapat menginfeksi manusia walaupun host utama (sapi, kambing, babi dan kucing) sudah dilakukan program vaksinasi, serta ketidak akuratan dalam diagnosis brucelosis pada manusia secara klinis dan tanda gejala infeksi yang tidak khas menyebabkan jarang adanya laporan kasus. Penelitian ini dilakukan menggunakan método systematic review dengan menggunakan 3 database (Google scholar, ProQuest, dan PubMed). Kata kunci yang digunakan dalam pencarian artikel adalah sebagai berikut: “brucellosis” atau “human brucellosis” dan ”risk factor” atau “faktor brucellosis”. Kriteria inklusi dalam pencarian artikel antara lain: artikel full text, membahas faktor yang mempengaruhi kejadian brucellosis pada manusia, menggunakan Bahasa Indonesia dan Inggris, desain cross sectional. Dari total 22.000 artikel yang tersaring didapatkan 26 artikel yang dianalisis dalam penelitian ini. Kesimpulan penelitin ini adalah bahwa brucellosis pada manusia dapat disebabkan oleh tiga faktor antara lain lingkungan, personal dan agent. Faktor lingkungan diantaranya adalah lingkungan tinggal, konsumsi hasil ternak mentah, pekerjaan. Faktor personal antara lain status gizi, jenis kelamin, usia, penggunaan APD dan higienitas, serta pengetahuan. Sedangkan dari faktor agent yaitu B. abortus, B. suis, B. melitensis, B. canis.
HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR, STATUS GIZI, DAN USIA TERHADAP KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA DI RSUD PRAYA Dwik Putra Nickontara; Sahrun; Nyoman Cahyadi Tri Setiawan; I Gusti Putu Winangun
Cakrawala Medika: Journal of Health Sciences Vol. 2 No. 2 (2024): Cakrawala Medika: Journal of Health Sciences
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Medika Suherman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59981/sxhwra79

Abstract

Pneumonia adalah infeksi parenkim paru (alveoli) yang bersifat akut, secara klinis pneumonia didefinisikan sebagai suatu peradangan parenkim paru distal dari bronkiolus terminalis mencakup bronkiolus respiratorius dan alveoli serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat. Tujuan penlitian ini untuk menganalisis Berat badan lahir, status gizi, dan usia terhadap kejadian pneumonia pada balita di RSUD Praya.  Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Penelitian dilakukan di RSUD Praya pada bulan oktober 2023 sampai 30 November 2023. Sampel berjumlah 253 yang diambil dari data rekam medis. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji kolerasi Chi-Square dengan batas nilai signifikasi adalah (p-value < 0,05). Karakteristik sampel didominasi berjenis kelamin laki-laki (51%) dan sampel jenis kelamin perempuan (49%). Sampel pneumonia (67%) dan sampel non-pneumonia (33%). Sampel Berat badan lahir rendah (53%) dan sampel berat badan lahir normal(47%). Sampel Status gizi kurang (55%) dan sampel status gizi baik (45%). Sampel Usia <12 bulan (60%)dan sampel usia 13-48 bulan (40%). Pada analisis bivariat didapatkan hasil berat badan lahir rendah (p=0,001; PR=2,342), Status gizi (p=0,001; PR=2,480), dan Usia (p=0,743 ; PR = 0,971). Terdapat hubungan yang signifikan antara Berat badan lahir rendah dan status gizi kurang terhadap kejadian pneumonia pada balita, sedangkan Usia balita tidak terdapat hubungan yang signifikan dengan kejadian pneumonia pada balita.
Hubungan Penggunaan Alat Pelindung Diri dengan Gambaran Pemeriksaan Rose Bengal Test (RBT) Terhadap Kejadian Brucellosis pada Peternak Sapi Setiawan, Nyoman Cahyadi Tri; Imam, Muhammad Afrial
Journal of Mandalika Literature Vol. 5 No. 3 (2024)
Publisher : Institut Penelitian dan Pengembangan Mandalika (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jml.v5i4.3836

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara penggunaan alat pelindung diri (APD) dengan kejadian brucellosis pada peternak sapi di Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Brucellosis merupakan penyakit zoonosis yang umum ditemukan pada peternak yang melakukan kontak langsung dengan hewan ternak, khususnya sapi. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional dan melibatkan 40 peternak sebagai sampel. Pengumpulan data dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium menggunakan Rose Bengal Test (RBT) dan Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk mendeteksi keberadaan bakteri Brucella. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar peternak tidak menggunakan APD, dengan hanya 10% yang mematuhi penggunaan APD. Meskipun terdapat beberapa peternak yang menunjukkan hasil RBT positif, uji PCR tidak mengonfirmasi adanya infeksi brucellosis aktif. Analisis statistik menggunakan uji Chi-Square mengindikasikan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara penggunaan APD dengan hasil RBT pada peternak. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perilaku penggunaan APD masih rendah di kalangan peternak sapi dan menyarankan perlunya peningkatan kesadaran serta intervensi untuk pencegahan brucellosis di kalangan peternak di wilayah penelitian.
Hubungan Pengetahuan, Sikap, dan Peran Orang Tua Terhadap Keberhasilan Toilet Training pada Anak Usia 4-6 Tahun di Taman Kanak- Kanak (TK) Desa Wisata Kuta Mandalika, Lombok Tengah, NTB Warni, Sri; Jauhari, Pebrian; Cahyadi Tri Setiawan, Nyoman; Qurratu Ainin, Dina
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 10 No 21 (2024): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.14505012

Abstract

One aspect of a child's growth and development is independence. Independence is a child's ability to think and do things on their own to meet their needs and no longer rely on others. One example of this is toilet training independence. Factors that can impact the progress of carrying out latrine preparing incorporate parental information, disposition, mental state, schooling, work and the development of the youngster's age. This study aims to determine how parents' knowledge, attitudes, and involvement influence the success of toilet training in children aged 4-6 in the kindergarten of the Kuta Mandalika tourist village in West Nusa Tenggara, Central Lombok. The strategy utilized is a cross sectional review with an example size of 195 respondents with an examining method specifically basic irregular testing. The measurable test utilized is the chi square test. That's what the outcomes showed (55.4%) latrine preparing was ineffective. It was observed that the degree of parental information was bad (51.8%), the mentality of guardians was bad (55.9%), and the job of guardians was bad (61.5%). In Kindergarten Kuta Mandalika Tourist Village, Central Lombok, West Nusa Tenggara, a bivariate analysis reveals that there is a relationship between knowledge and the success of toilet training (p=0.000), parental attitudes toward the success of toilet training (p=0.003), and the role of parents and the success of toilet training (p=0.000). There is a huge connection between information, mentalities, and the job of guardians on the outcome of latrine preparing in kids matured 4-6 years at the Kuta Mandalika The Tourism Village Kindergarten, Central Lombok, West Nusa Tenggara.
FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN INFEKSI MENULAR SEKSUAL (IMS) PADA PELAKU WIISATA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MENINTING TAHUN 2020-2021 Lalu Afrial Imam Anugrah; Icha Aisyah; Nyoman Cahyadi Tri Setiawan; I Gede Angga Adnyana
Cakrawala Medika: Journal of Health Sciences Vol. 1 No. 2 (2023): Cakrawala Medika: Journal of Health Sciences
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Medika Suherman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59981/y6k33131

Abstract

Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah penyakit yang dapat menular dari satu orang ke orang yang lain, dapat disebabkan oleh bakteri, virus, parasit, dan jamur. IMS dapat ditularkan melalui hubungan seksual secara vaginal, anal, dan oral. Penelitian ini bertujuan untuk menganalis faktor risiko yang berhubungan dengan IMS pada pelaku wisata di wilayah kerja Puskesmas Meninting tahun 2020-2021. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Sampel penelitian sebanyak 184 data rekam medis. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji kolerasi Chi-Square. Hasil dari penelitian pada karakteristik sampel didominasi usia ≥ 18 tahun (88,6%), berjenis kelamin perempuan (77,7%), berpendidikan rendah (66,3%), dan berstatus tidak kawin (79,3%). Sampel terjangkit IMS (68,5%) dengan jenis IMS terbanyak adalah Servisitis (40,5%). Pada analisis bivariat didapatkan hasil usia (p=0,029; PR=2,71), jenis kelamin (p=0,000; PR=4,52), tingkat pendidikan (p=0,028; PR=6,44), dan status perkawinan (p=0,438). Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan dengan IMS sedangkan status perkawinan tidak terdapat hubungan yang signifikan dengan IMS.
Hubungan Penggunaan Gadget Sebelum Tidur, Kebiasaan Olahraga, dan Tingkat Kecemasan Dengan Insomnia pada Siswa SMA “X” di Wilayah Mataram Wiguna, Kadek Putra; Handayani, Wendy; Setiawan, Nyoman Cahyadi Tri; Anjani, Ida Ayu Trina
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 7 (2025): Volume 5 Nomor 7 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i7.18872

Abstract

ABSTRACT Insomnia is a difficult condition in starting and maintaining sleep so that it cannot meet the needs of sleep, both quantity and quality. Insomnia have negative impact such as decreased concentration, performance, productivity, and general health conditions. One of the age groups that often experience insomnia is adolescents. Factors such as bedtime gadget use, exercise habits, and anxiety levels are known to contribute in the incidence of insomnia in adolescents. Excessive use of gadgets, infrequent exercise habits, and high levels of anxiety can increase the risk of insomnia. Objectives to analyze the relationship between the use of gadget before bedtime and insomnia, exercise habits and insomnia, and anxiety levels with insomnia in students at “X” Senior High School, Mataram Area. Quantitative research with a cross sectional approach. The sampling technique used cluster random sampling with a total sample were 98 respondents. Data collection was carried out using a questionnaire. The data was analyzed by the Spearman Rank correlation test with a p-value significance ≤ 0.05. Bivariate analysis indicated significant relationships between the use of gadgets before bedtime and insomnia (p-value=0.002), exercise habits with insomnia (p-value=0.001), and anxiety levels with insomnia (p-value=0.001) in students at “X” Senior High School, Mataram Area. Conclusion: There is a significant relationship between the use of gadget before bedtime, exercise habits, and anxiety levels with insomnia in students at “X” Senior High School, Mataram Area. Keywords: Insomnia, Gadget Use Before Bedtime, Exercise Habits, Anxiety Levels  ABSTRAK Insomnia adalah kondisi sulit dalam memulai dan mempertahankan tidur sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan tidur, baik kuantitas maupun kualitas. Insomnia dapat memberikan dampak buruk pada penderitanya seperti penurunan konsentrasi, kinerja, produktivitas, dan kondisi kesehatan secara umum. Salah satu kelompok usia yang sering mengalami insomnia adalah remaja. Faktor-faktor seperti penggunaan gadget sebelum tidur, kebiasaan olahraga, dan tingkat kecemasan diketahui berperan dalam kejadian insomnia pada remaja. Penggunaan gadget yang berlebihan, kebiasaan olahraga yang jarang, dan tingkat kecemasan yang tinggi dapat meningkatkan risiko terjadinya insomnia. Tujuan menganalisis hubungan penggunaan gadget sebelum tidur dengan insomnia, kebiasaan olahraga dengan insomnia, dan tingkat kecemasan dengan insomnia pada siswa SMA “X” di wilayah Mataram. Penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cluster random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 98 responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner. Data dianalisis dengan uji korelasi Rank Spearman dengan batas nilai signifikansi p-value ≤ 0,05. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara penggunaan gadget sebelum tidur dengan insomnia (p-value=0,002), kebiasaan olahraga dengan insomnia (p-value=0,001), dan tingkat kecemasan dengan insomnia (p-value=0,001) pada siswa SMA “X” di wilayah Mataram. Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara penggunaan gadget sebelum tidur, kebiasaan olahraga, dan tingkat kecemasan dengan insomnia pada siswa SMA “X” di wilayah Mataram. Kata Kunci: Insomnia, Penggunaan Gadget Sebelum Tidur, Kebiasaan Olahraga, Tingkat Kecemasan
Hubungan Usia, Jenis Kelamin, dan Asi Eksklusif dengan Kejadian Pneumonia pada Balita di Puskesmas Gunung Sari Putra, I Made Yogi Dwi Adnyana; Sahrun, Sahrun; Setiawan, I Nyoman Cahyadi Tri; Budiana, Kadek Pasek
Action Research Literate Vol. 9 No. 1 (2025): Action Research Literate
Publisher : Ridwan Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/arl.v9i1.2548

Abstract

Peradangan akut pada parenkim paru yang dikarenakan infeksi mikroba dikenal sebagai pneumonia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut pneumonia sebagai “Pembunuh Anak yang Terlupakan” karena merupakan penyebab utama kematian anak di bawah usia lima tahun. Berbagai faktor risiko pneumonia, seperti usia, jenis kelamin, serta pemberian ASI eksklusif, dikaitkan dengan meningkatnya prevalensi pneumonia pada balita. Aspek-aspek risiko tersebut memengaruhi sistem kekebalan tubuh anak. Untuk memastikan hubungan antara kejadian pneumonia pada balita di Puskesmas Gunung Sari dengan umur, jenis kelamin, dan pemberian ASI eksklusif, digunakan desain studi cross-sectional dengan pendekatan penelitian kuantitatif analitik observasional. Pengambilan sampel dalam riset ini dilakukan menggunakan metode purposive sampling. Riset dilaksanakan di Puskesmas Gunung Sari pada bulan September 2024. Total 72 pasien yang datanya diperoleh dari rekam medis digunakan sebagai sampel penelitian. Metode uji chi-square diterapkan guna menganalisis data secara statistik dalam penelitian ini. Dari 72 responden, total 60 orang (83,3%) menderita pneumonia, 50 orang (69,4%) berusia antara 7 hingga 24 bulan, 42 orang (58,3%) berjenis kelamin laki-laki, serta 46 orang (76,7%) tidak mendapatkan ASI eksklusif. Temuan analisis membuktikan bahwa usia (bulan) (p = 0,000; PR = 1,760; CI 95% = 1,197 sampai 2,588), jenis kelamin (p = 0,001; PR = 1,429; CI 95% = 1,099 sampai 1,856), serta pemberian ASI eksklusif (p = 0,000; PR = 0,572; CI 95% = 0,403 sampai 0,812) merupakan aspek-aspek yang berkaitan dengan kejadian pneumonia di Puskesmas Gunung Sari.
Prevalensi Penyakit Infeksi Menular Seksual pada Pelaku Hiburan di Wilayah Kerja Puskesmas Meninting Kabupaten Lombok Barat Tahun 2020 Moch Maswan; Sabariah Sabariah; Nyoman Cahyadi Tri Setiawan; Muhammad Ashhabul Kahfi Mathar
Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 6, No 1: March 2021
Publisher : Universitas Aisyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (837.267 KB) | DOI: 10.30604/jika.v6i1.978

Abstract

Kejadian infeksi menular seksual setiap tahunnya meningkat khusunya pada Provinsi Nusa Tenggara Barat di kabupaten Lombok Barat yang merupakan daerah destinasi wisata dengan kunjungan yang cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi infeksi menular seksual pada pelaku hiburan di wilayah kerja Puskesmas Meninting. Desain penelitian ini menggunakan metode penelitian cross sectional dan dilakukan selama bulan November-Desember 2020 di tempat hiburan wilayah kerja Puskesmas Meninting. Sampel yang digunakan sejumlah 101 sampel dengan menggunakan sampel darah dan duh tubuh. Analisis data diolah menggunakan software IBM SPSS Statistics 25.0. Didapatkan 56 orang menderita IMS yang tersebar di 6 lokasi pengambilan sampel. Distribusi usia pada penelitian ini didapatkan yakni usia 19 – 35 tahun sedangkan distribusi agen penyebab IMS pada penelitian ini didapatkan penderita Sifilis merupakan kasus terbanyak. Pada penelititan ini didapatkan agen penyebab infeksi menular seksual yang merupakan kasus terbanyak yaitu Sifilis dan sebaliknya didapatkan infeksi HIV merupakan kasus yang terkecil. Distribusi usia pada kejadian infeksi menular seksual dalam penelitian ini didapatkan pada usia 19-35 tahun.