Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

KARAKTER POPULASI DAN KEBIASAAN MAKANAN IKAN BREK (Systomus orphoides) DI SUNGAI MANGGANG KECAMATAN MANDOR KABUPATEN LANDAK Paskando, Aori; Padmarsari, Widadi; Hadinata, Fitra Wira
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 14, No 4
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v14i4.95881

Abstract

Sungai Manggang memiliki sumber daya ikan yang melimpah dan dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk mencari ikan, termasuk ikan brek (Systomus orphoides). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter populasi dan kebiasaan makanan ikan brek (systomus orphoides) seperti kepadatan populasi, hubungan panjang-berat, panjang usus relatif dan Indeks Of Preponderance. Penelitian telah dilaksanakan selama 2 bulan yaitu pada bulan Januari-Februari 2025 di Sungai Manggang Kecamatan Mandor Kabupaten Landak. Pengambilan sampel dilakukan 2 kali pengulangan yaitu pada pagi dan siang hari. Alat tangkap yang digunakan yaitu jaring insang dengan ukuran mesh size 1-1,5 inch. Hasil tangkapan ikan brek yang diperoleh selama penelitian di Sungai Manggang secara keseluruhan berjumlah 80 ekor. Hasil dari stasiun 1 terdapat 39 ekor dan pada stasiun 2 terdapat 26 ekor, sedangkan pada stasiun 3 terdapat 15 ekor ikan. Hasil kepadatan populasi ikan di Sungai Manggang menunjukan bahwa kepadatan populasi ikan brek di Sungai Manggang, berbeda-beda disetiap stasiun, dengan stasiun 1 memiliki kepadatan tertinggi (16 ind/100 m2), diikuti stasiun 2 (11 ind/ 100 m2), dan stasiun 3 terendah (6 ind/100 m2). hubungan panjang dan berat ikan brek menunjukan pola pertumbuhan bersifat allometrik negatif. Sedangkan Kebiasaan makanan ikan brek di Sungai Manggang menunjukkan ikan brek bersifat omnivora dengan nilai panjang usus relatif berkisar 1,33 "“ 1,75 atau berada diantara nilai 1-3, dengan makanan utama berupa tengkuyung dengan nilai (IP 51,54 %), makanan pelengkap berupa tanaman air (IP 23,30%), dan serangga air (IP 22,01%), serta makanan tambahan berupa detritus (IP 3,16 %)
PRODUKTIVITAS DAN LAJU DEKOMPOSISI SERASAH MANGROVE DI DESA BAKAU BESAR LAUT KABUPATEN MEMPAWAH Laia, Lili Karlina; Soetignya, Widadi Padmarsari; Hadinata, Fitra Wira
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 15, No 1
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v15i1.98343

Abstract

Ekosistem mangrove memiliki produktivitas yang tinggi, yakni sumbangan serasah yang berperan penting bagi keseimbangan ekosistem melalui proses dekomposisi. Mangrove di Desa Bakau Besar Laut telah mengalami penurunan luasan dan peralihan fungsi sebagai tambak udang, ekowisata dan hilangnya tegakan pohon mangrove akibat abrasi. Penelitian dilakukan untuk menentukan produktivitas dan laju dekomposisi serasah mangrove, di Desa Bakau Besar Laut Kabupaten Mempawah yang di laksanakan pada bulan Januari sampai Februari 2025. Produktivitas mangrove di peroleh dengan menggunakan metode jaring penangkap serasah, dan pengukuran laju dekomposisi serasah daun mangrove menggunakan kantong serasah, yang dilakukan bersamaan pada saat pengambilan produktivitas mangrove. Produktivitas mangrove yang diperoleh sebesar 3,1 - 4,1 g/m2/hari, terdiri dari komponen daun mencapai 85 - 89%, kemudian ranting 10 - 13% dan buah 1 - 2%. Daun menjadi komponen tertinggi dalam produktivitas mangrove dikarenakan, bentuk daun lebih tipis dan lebar sehingga mudah digugurkan oleh angin ataupun terpaan air hujan, dari pada komponen ranting dan buah mangrove. Laju dekomposisi serasah daun mangrove sebesar 0,36-0,77 g/hari dengan nilai persentase 44,2 - 62,8%, tidak terdekomposisi secara sempurna.
Pola Pertumbuhan Ikan Pari Kemejan (Rhynchobatus springeri) yang Didaratkan di Kubu Raya, Kalimantan Barat Hadinata, Fitra Wira; Rahayu, Sri; Nurleha, Fitri; Gloria A.R., Kezia; Benaya M.S.
Jurnal Ilmu Kelautan Lesser Sunda Vol. 1 No. 1 (2021): Jurnal Ilmu Kelautan - Lesser Sunda
Publisher : Program Studi Ilmu Kelautan, Jurusan Perikanan dan Ilmu Kelautan, Fakultas Pertanian, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jikls.v1i1.29

Abstract

The whitespotted guitarfish (Rhyncobatus Springeri) resource is an important commodity and has high economic value. This study aims to determine the growth pattern of whitespotted guitarfish landed in the PPI Sungai Kakap. This research was conducted at the PPI Sungai Kakap, Sungai Kakap District, Kubu Raya Regency, West Kalimantan Province in July and August 2019. Data was collected by observation, surveys, and interviews. Data analysis of sex ratios, length, and weight was carried out on samples of whitespotted guitarfish. The results of the analysis of the sex ratio of male and female whitespotted guitarfish were 1.00:1.44, this shows that the number of male fish caught is relatively equal to the number of female fish caught. The results of the analysis of the length and weight relationship of whitespotted guitarfish, the a value is 20.643 and the b value is 0.6770. That value represents a negative allometric growth pattern for male and female fish. The negative allometrics explain that the length growth is faster than the weight growth. Generally, the increase of the length and weight is equal, but the whitespotted guitarfish has length growth faster than weight growth
KELIMPAHAN, MORFOMETRIK, DAN RASIO KELAMIN KEPITING AIR TAWAR (Isolapotamon doriae) DI SUNGAI KATU, DESA SAHAN, KECAMATAN SELUAS, KABUPATEN BENGKAYANG Utana, Beby Marc; Munir, Achmad Mulyadi Sirodjul; Hadinata, Fitra Wira
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 15, No 1
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kepiting air tawar berperan penting di dalam ekosistem perairan sebagai omnivor dan detritivor, namun populasinya rentan terhadap pencemaran. Kecamatan Seluas memiliki perairan yang mendukung keberadaan Isolapotamon doriae, tetapi informasi mengenai kelimpahan, morfometrik, dan rasio kelamin di Sungai Katu belum tersedia. Penelitian ini dilakukan pada Desember 2024"“Januari 2025 menggunakan 18 bubu dan 12 pancing di tiga stasiun. Sebanyak 60 individu berhasil dikumpulkan. Kelimpahan tertinggi tercatat di Stasiun 1 (12 ind/3 m ²), disusul Stasiun 2 (5 ind/3 m ²) dan Stasiun 3 (3 ind/3 m ²). Analisis morfometrik menunjukkan betina memiliki ukuran tubuh lebih besar daripada jantan. Rasio kelamin masing-masing stasiun yaitu 5:4, 4:3, dan 7:3, dengan hasil uji chi-square menunjukkan X ²hitung < X ²tabel (3,841), sehingga tidak terdapat perbedaan signifikan dari rasio teoritis 1:1. Meskipun jantan lebih dominan, rasio kelamin I. doriae di Sungai Katu relatif seimbang.
INOVASI TEKNOLOGI BUDIDAYA PERAIRAN DENGAN METODE KERAMBA JARING APUNG Hadinata, Fitra Wira; Farhana, Hanifah; Nasrullah, Nasrullah; Lekoa, Duferdurisa Ari; Stefani, Karyn Irene Teresa; Hutasoit, Kelvin Andika; Hesti, Hesti
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 4 No. 4 (2023): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara (JPkMN)
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Produksi dari bidang perikanan Desa Sungai Kupah khususnya hasil budidaya sangat besar, namun masyarakat sejauh ini mengalami kendala pada musim tertentu, pada musim penghujan kolam pemeliharaan ikan menglami banjir, sehingga gagal panen. Masyarakat belum melakukan upaya pengembangan Teknik budidaya untuk mengatasi permasalahan ini. Perlu upaya peningkatan teknologi budidaya ikan, salah satu yang bisa dilakukan ialah dengan menerapkan teknologi keramba jaring apung. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberikan penyuluhan dan pelatihan agar masyarakat Desa Sungai Kupah dapat memiliki inovasi metode budidaya ikan yang dapat meningkatkan produksi ikan. Adanya program kemitraan bertujuan mentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya di bidang perikanan. Metode pelaksanaan dibagi menjadi tahap persiapan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Sebanyak 15 peserta yang hadir dapat memiliki pemahaman konsep penerapan keramba jaring apung meningkat 90%, keterampilan metode pembuatan keramba jaring apung 75%.
STRUKTUR KOMUNITAS IKAN DI DANAU JEMUT KABUPATEN SINTANG Stepanus, Oka; Soetignya, Widadi Padmarsari; Hadinata, Fitra Wira
Akuatik Tropis: Journal of Tropical Aquatic Resource Management Vol 2, No 2 (2024): Vol 2, No 2 (2024): Jurnal Akuatik Tropis
Publisher : Department of Aquatic Resource Management, Faculty of Agriculture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/akuatik tropis.v2i2.83399

Abstract

The purpose of this research is to know the fish community structure in West Kalimantan Province's Jemut Lake, Sintang District. Three sampling locations were used during the research's September to October 2022 execution. Once each week, sampling was done using trawls, nets, and fishing rods. When collecting fish samples at the research site, measurements of the water quality were made on the spot. The findings revealed that there were 17 fish species from 9 families. The species Kriptopterus limpok had the highest relative abundance value (18.66%), whereas Luciosoma trinema and Osphronemus goramy had the lowest species composition (0.20%). At every station, the value of diversity and uniformity is moderate, and the distribution pattern is balanced. The assessment outcomes of numerous water quality parameters indicate water conditions that are suitable for fish life.
Population dynamics of grey mackerel fish (Thunnus tonggol) caught in fishery management areas (WPP 711) Hadinata, Fitra Wira; Ahmad, Mulyadi; Utami, Pratita Budi
Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal Acta Aquatica, Vol. 11: No. 3 (December, 2024)
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aa.v11i3.13637

Abstract

Grey mackerel is a fish that originates from tropical and subtropical waters worldwide. This pelagic fish has very important economic value in the Indonesian fishing industry. Grey mackerel production in WPP 711 using gillnet fishing gear has shown a fluctuating trend in recent years. This research is to estimate the stock of grey mackerel fish caught by fishermen who landed at PPN Pemangkat and Sungai Rengas Fishing Port. This research uses two data collection methods, namely primary and secondary data collection. The results of data analysis of the relationship between length and weight in the catch of grey tuna fish of 1,015 total fish samples produced the equation W = 0.0929x2.5504 (r2 = 0.8764) with a value of 0.0929 and the b value of 2,5504. Based on the results of the t-test, it shows that the value of b < 3 in the growth pattern is negative allometric, meaning that the relationship between length and weight has a slow and rapid increase in weight compared to the increase in length. The landed grey mackerel had a growth rate coefficient (K) = 0.40. Tuna fish obtained a total mortality value (Z) of 1.81/ year. The exploitation rate (E) of grey tuna caught is 0.28/ year, which means the exploitation rate is still relatively low.Keywords: Gray mackerel; Pelagic Fish; Population dynamics; WPP 711Grey mackerel is a fish that originates from tropical and subtropical waters worldwide. This pelagic fish has very important economic value in the Indonesian fishing industry. Grey mackerel production in WPP 711 using gillnet fishing gear has shown a fluctuating trend in recent years. This research is to estimate the stock of grey mackerel fish caught by fishermen who landed at PPN Pemangkat and Sungai Rengas Fishing Port. This research uses two data collection methods, namely primary and secondary data collection. The results of data analysis of the relationship between length and weight in the catch of grey tuna fish of 1,015 total fish samples produced the equation W = 0.0929x2.5504 (r2 = 0.8764) with a value of 0.0929 and the b value of 2,5504. Based on the results of the t-test, it shows that the value of b < 3 in the growth pattern is negative allometric, meaning that the relationship between length and weight has a slow and rapid increase in weight compared to the increase in length. The landed grey mackerel had a growth rate coefficient (K) = 0.40. Tuna fish obtained a total mortality value (Z) of 1.81/ year. The exploitation rate (E) of grey tuna caught is 0.28/ year, which means the exploitation rate is still relatively low. Keywords: Gray mackerel; Pelagic Fish; Population dynamics; WPP 711
ANALISIS KESESUAIAN DAN DAYA DUKUNG EKOWISATA KAWASAN AIR TERJUN RIAM MERASAP KABUPATEN BENGKAYANG Pa'o, Pak Homius; Padmarsari, Widadi; Hadinata, Fitra Wira
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 13, No 2
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v13i2.71077

Abstract

Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki   banyak wilayah perairan dengan potensi alamnya yang masih terjaga. Salah satunya Air Terjun Riam Merasap. Air terjun Riam Merasap, berlokasi di Desa Pisak Kecamatan Tujuh Belas Kabupaten Bengkayang dengan ketinggian sekitar 20 meter dan lebar sekitar 8 meter. Air terjun tersebut sumber airnya yang berasal dari anak Gunung Niut. Dengan terdapatnya potensi yang menarik di Air Terjun Riam Merasap, maka dari itu perlu adanya penelitian untuk pengembangan wisata alam tersebut. Bagaimana tingkat kesesuaian dan tingkat daya dukung kawasan di air terjun riam merasap,kabupaten bengkayang. Tujuannya merupakan mengetahui tingkat kesesuaian dan daya dukung kawasan ekowisata air terjun riam merasap,kabupaten bengkayang.   Penelitian ini dilaksanakan selama ± 2 bulan dari bulan Maret "“ April yang berada di kawasan Air Tejun Riam Merasap yang terdapat di Dusun Segonde, Desa Pisak Kecamatan Tujuh Belas, Kabupaten Bengkayang. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah GPS, roll meter, klinometer, kamera, pelampung, alat tulis. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner untuk dibagikan kepada pengunjung dan masyarakat sekitar di sekitar Riam Merasap. Tingkat pendidikan juga dapat menunjang kualitas sumberdaya manusia, sehingga kemampuannya dapat bermanfaat dalam pengembangan kawasan wisata Riam Merasap, dimana yang paling banyak untuk melakukan wawancara dengan pendidikan SLTA sebanyak 43% sehingga dengan adanya kawasan wisata Riam Merasap ini menjadi pencaharian sampingan bagi warga sekitar yang sangat berpengaruh terhadap pendapatan. Hal ini disebabkan karena umumnya pada usia ini kebanyakan belum menikah dan sering melakukan rekreasi wisata alam yang bersifat sedikit menantang.  
ANALISIS KESESUAIAN WISATA KAWASAN AIR TERJUN PANCUR AJI DI KECAMATAN KAPUAS, KABUPATEN SANGGAU, KALIMANTAN BARAT Damara, Valentino Dwika; Adijaya, Mardan; Hadinata, Fitra Wira
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 13, No 1
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v13i1.71120

Abstract

Air Terjun Pancur Aji adalah wisata alam yang terletak di Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2022 - Januari 2023. Tujuan penelitian ini untuk menentukan status Kesesuaian Wisata berdasarkan analisis Indeks Kesesuaian Wisata, Daya Dukung Kawasan (Yulianda, 2019) dan Location Qoutien di Kabupaten Sanggau yang turut berpengaruh dalam keberlangsungan Wisata Alam Air Terjun Pancur Aji. Metode penentuan stasiun penelitian menggunakan purposive sampling. Hasil penelitian menunjukan IKW di Kawasan Air Terjun Pancur Aji, kategori Bermain Air sangat sesuai dan kategori Melihat Pemandangan dan Duduk Santai sesuai dan kategori Berkemah/Outbound tidak sesuai. DDK di Kawasan Air Terjun Pancur Aji menunjukan dalam 1 hari Kawasan Pancur Aji dapat menampung 2.818 orang dengan luas area yang dapat dimanfaatkan adalah 2,01%. Nilai LQ 1 di Kabupaten Sanggau yang termasuk sektor basis adalah sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, sektor pertambangan dan penggalian dan sektor industri pengolahan.
Pengaruh Kedalaman Sarang Penetasan Telur Penyu Hijau (Chelonia mydas) Terhadap Masa Inkubasi dan Persentase Keberhasilan Penetasan Di Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau Pulau Kecil (KKP3K) Paloh Rizki, Rizki; Adijaya, Mardan; Hadinata, Fitra Wira
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 13, No 1
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v13i1.70236

Abstract

Penyu hijau ( Chelonia mydas ) secara Internasional, masuk ke dalam daftar merah (red list ) IUCN ( International Union for Conservation of Natre ) Redlist dan Appendix I CITES ( Conservation on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora ). Masuknya Penyu hijau ( Chelonia mydas ) ke dalam daftar merah disebabkan oleh adanya pencurian telur, adanya predator yang memangsa telur, dan perubahan lingkungan sehingga tingkat kelangsungan hidup penyu untuk bertahan menurun. Dalam hal ini upaya untuk menjaga populasi penyu terutama penyu hijau (Chelonia mydas ) di Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau - Pulau Kecil (KKP3K) Paloh agar tingkat kelangsungan hidup tidak terus mengalami penurunan perlu dilakukan, salah satunya dengan memperhatikan sarang inkubasi telur penyu. Oleh karena itu perlunya penelitian untuk mengkaji kedalaman yang optimal untuk menghasilkan tingkat penetasan yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kedalaman yang cocok untuk penetasan telur penyu hijau ( Chelonia mydas ) dan mengetahui persentase tetas telur penyu hijau ( Chelonia mydas ) berdasarkan kedalaman di Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau "“ Pulau Kecil (KKP3K) Paloh. Penelitian ini di laksanakan dari bulan Maret - Mei 2023 yang berlokasi di Pos Pemantauan Sungai Belacan, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas. Metode yang digunakan yaitu penganalisisan secara deskriptif dengan memberikan 3 kedalaman perlakuan yang berbeda, perlakuan I 30 cm, perlakuan II 60 cm, dan perlakuan III 90 cm dengan 3 ulangan pada tiap perlakuan. Hasil Penelitian ini menunjukkan kedalaman yang cocok untuk penetasan telur Penyu Hijau (Chelonia mydas) adalah 60 cm dengan rata - rata 90% dengan lama masa inkubasi 1272 jam atau 53 Hari. Pada grafik kecenderungan hubungan kedalaman terhadap suhu dan kelembaban menunjukkan bahwa memberikan pengaruh kedalaman terhadap suhu dan kelembaban di mana semangkin suhu tinggi maka semakin rendah pula kelembaban, perubahan suhu paling tinggi dapat mencapai 4,2 °C sedangkan iklim paling rendah mencapai 0,3 ° C. Pada kelembaban ketinggian paling tinggi mencapai 16 % dengan rentang 77% "“ 88% sedangkan ketinggian paling rendah mencapai 4% dengan rentang 84% - 88%.