Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Ulayat, Costum and Conflict: A Delicate Balance in Tiku Limo Jorong Community Indrizal, Edi; Ermayanti, Ermayanti; Nurti, Yevita; Irwandi, Ade; Ramdesta, Andry
Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 11 No. 1 (2025): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jiis.v11i1.95480

Abstract

This paper explains the agreement to hand over customary land as HGU for PT AMP Plantation which has conflict vulnerability. In 1994, the process of handing over customary land by Ninik Mamak Nagari Tiku Limo Jorong to the local government and made HGU by PT AMP Plantation for oil palm plantations. In the process there is an agreement agreed upon, namely the issue of the division of core land (70%) and plasma (30%) and compensation money (siliah jariah). So, the community demanded that this be realised. But over time, conflicts occurred both internally in the community and with the company. The approach uses descriptive methods with data collection in-depth interviews and observations. Infrorman was drawn using mixed techniques, namely purpose sampling and snowball. The results show that the conflict that occurred has been completed with a long process from 2000 until now. However, it is highly susceptible to future conflicts. The long conflict was influenced by two factors, which were the dualism factor of Ninik Mamak and the delay of the company to find a new agreement. Therefore, the balance made from the agreement letter is very vulnerable, because customary land is still bound to the community and the company even though it has become HGU.
Sago and Rice are Ambiguous: Food Security Under the Food Hood of Development Discourse in Mentawai Islands Erwin, Erwin; Irwandi, Ade
Sosial Budaya Vol 20, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v20i2.23677

Abstract

This article discusses the food polemic that occurs in Mentawai due to development programs. Since the New Order era until now, development programs have enveloped the lives of Mentawai people, disrupting the balance, especially food security issues. Analysis from FSVA (Food Security and Vulnerability Map) shows that Mentawai Islands regency is the only area that experiences food insecurity in West Sumatra province. Through a descriptive approach and elaborating on the results of previous research, it shows the factors of development programs carried out by the government that are fatal to the food security of the Mentawai people, especially the transition from sago to rice. The result shows that the food security of Mentawai people is disrupted through the development process with the mission of 'modernizing' Mentawai people.  Thus, making them far away and even switch from local food, namely sago, taro and banana sourced from the forest to rice. This is due to the government intervention through the 'resettlement program', social assistance, limited forest access and weak economic capabilities that put them under the pressure of development discourse and as if they need help. Whereas it is not what Mentawai people want and need.  As a result, their access to food, which has been sourced from the forest, has been replaced by the rice paddy printing program. However, as an ethnic group that has a culture of gathering and hunting and farming, they do not have the ability to grow crops (agriculture). Therefore, the Mentawai people are still in the poverty line and the dilemma between eating sago or rice, both of which are not easy to obtain.
Siasat Kebudayaan: “Sainak” dalam Relasi Manusia-Alam di Sarereiket Kepulauan Mentawai Irwandi, Ade; Delfi, Maskota
Sosial Budaya Vol 19, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v19i2.19349

Abstract

Hubungan antara orang Mentawai dan hewan sudah berlangsung sejak lama. Salah satuya hewan babi. Babi bukan hanya sebagai pemenuhan kebutuhan makanan, tetapi berkaitan dengan kebutuhan sosial budaya orang Mentawai. Melalui hubungan itu, tercipta suatu siasat yang dijalankan oleh orang Mentawai di Sarerreiket untuk mempertahankan kehidupan mereka. Sehingga babi menjadi penting dalam siklus budaya itu. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi terfokus dengan memusatkan perhatian pada ruang lingkup basis budaya orang Sarereiket di Siberut Selatan, Mentawai. Pengumpulan data melalui teknik wawancara mendalam, observasi serta menganalisisnya secara emik dan etik. Hasilnya menunjukkan bahwa babi memang merupakan hewan paling penting dan menjadi wadah dalam setiap upacara adat yang dilakukan oleh orang Sarereiket. Upacara adat yang dilakukan berupa ritus leingkaran kehidupan (punen), ritus penyeimbang (puliaijat) dan ritus biasa (lia) yang tujuannya menciptakan keseimbangan dan mengembalikan keseimbangan jika terganggu akibat ulah manusia. relasi manusia (orang Mentawai) dengan alam harus dilakukan melalui ritual adat tersebut, dengan memakai perantara babi sebagai hewan yang memiliki kedudukan tinggi bagi roh Penguasa. Semua hubungan manusia dan alam melalui ritual tersebut, diatur berdasarkan kepercayaan Arat Sabulungan.
Food Security Transitions and Constraints in Sipora Island, Mentawai Islands Regency Erwin, Erwin; Irwandi, Ade; Ramdesta, Andry
Menara Ilmu : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmiah Vol 19, No 1 (2025): Vol 19 No. 01 APRIL 2025
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/mi.v19i1.6529

Abstract

Studi ini mengidentifikasi intervensi sistem pertanian pangan dengan potensi transformasi yang tinggi untuk Kabupaten Kepulauan Mentawai yang berlangsung sejak tahun 1970-an oleh pemerintahan Indonenesia. Hal ini menindaklanjuti intervensi terhadap pangan lokal yang selama ini dimanfaatkan oleh masyarakat Mentawai khususnya di Kepulauan Sipora beralih ke sistem pertanian yaitu sawah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Peralihan sistem pemenuhan pangan ini juga diimbangi dengan peralihan mata pencaharian melalui sistem berkebun. Awalnya berkebun pisang, keladi dan perladangan campur yang juga digunakan sebagai sumber makanan beralih ke komoditi dagang seperti cengkeh, pinang dan nilam. Peralihan ini menyebabkan penanaman makanan lokal terganggu dan kurang maksimalnya pengelolaan pertanian. Analisis dari penelitian ini menggarisbawahi perlunya pendekatan kebijakan yang holistik dalam upaya mencapai berbagai tujuan keberlanjutan. Menerapkan perpaduan kebijakan yang dirancang untuk mendorong keberlanjutan sistem pangan dan ekonomi secara bersamaan dapat mendorong Kepulauan Mentawai menuju sistem pangan yang berkelanjutan dan tangguh, dengan mengatasi interaksi yang kompleks antara pembangunan ekonomi, mata pencaharian dan peningkatan tanaman pangan.Kata Kunci: Ketahahan Pangan, Peralihan, Sipora, Kendala.
Kawasan Pantai Carocok: Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat dan Dampak Ekonomi Berkelanjutan Erwin; Irwandi, Ade
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 2: Agustus (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i2.1508

Abstract

Tujuan dari tulisan ini adalah untuk menjelaskan pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di kawasan wisata Carocok dan dampaknya terhadap peningkatan ekonomi masyarakat setempat. Pengembangan pariwisata di kawasan pantai Carocok dilakukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Pesisir Selatan, pihak swasta serta melibatkan masyarakat lokal sebagai pelaku usaha wisata. Kerjasama antara pemerintah dengan swasta membuka peluang untuk memperluas infrastruktur dan pendukung pariwisata seperti hotel, restoran dan sarana rekreasi. Pendekatan penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif untuk menggambarkan fenomena sosial secara rinci. Pengumpulan data dilakukan melalui penelitian lapangan, observasi, dan wawancara mendalam dengan pelaku usaha pariwisata dan pengelola pariwisata. Selain itu, data sekunder seperti artikel, tesis, dan dokumen resmi pemerintah digunakan untuk mendukung data wawancara dan mengelaborasi hasil observasi. Analisis data, peneliti mempertimbangkan aspek kontekstual (sosial ekonomi dan Community Based-Tourism), posisi peneliti (peran dan kedudukan), dan pertimbangan etika (kerahasiaan data dan anonimitas). Hasilnya menunjukkan objek wisata pantai Carocok dapat meningkatkan ketahanan ekonomi masyarakat pesisir dan memberikan kontribusi terhadap pengembangan pariwisata pantai Carocok. Pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di kawasan Pantai Carocok memberikan peluang yang besar bagi masyarakat lokal dan manfaat bagi pemerintah daerah. Studi ini memberikan wawasan yang relevan bagi akademisi dan pembuat kebijakan yang bekerja di industri pariwisata, pembuat kebijakan dan pengelola pariwisata serta memberikan data empiris tentang karakteristik dan hubungan antara pariwisata berbasis masyarakat dan pembangunan ekonomi lokal.
Quasi-adat: An Ethnographic Study of Palm Oil Plantation in Bawan Village Indrizal, Edi; Ermayanti, Ermayanti; Irwandi, Ade
MUKADIMAH: Jurnal Pendidikan, Sejarah, dan Ilmu-ilmu Sosial Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Prodi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Sumatera

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/mkd.v9i2.11859

Abstract

This paper highlights cultural issues arising from oil palm plantations and efforts to preserve customs amid global change. The purpose of this study is to examine complex issues and efforts to preserve customs in the context of oil palm plantations in Agam Regency. The method used is critical ethnography to uncover cultural practices that can shape and perpetuate injustice, as well as how dominant groups maintain their power (quasi-customary). The land ownership system is based on Babingkah Tanah (Entity Ownership). Therefore, only Basa Nan Barampek and Penghulu Nan Batujah have authority over customary land. However, not all Ninik Mamak were involved in the transfer of customary land to PT AMP Plantation. Thus, the land transfer was carried out with customary and political elements to control the land by PT AMP Plantation and to approach only the dominant Ninik Mamak.
Dilema Penyerahan Tanah Ulayat Indrizal, Edi; Ermayanti, Ermayanti; Irwandi, Ade
Kaganga:Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial Humaniora Vol. 8 No. 5 (2025): Kaganga: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial Humaniora
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/2hk1gx15

Abstract

This paper aims to explain the dilemma of handing over customary land for oil palm plantations in Nagari Kinali. This study uses a descriptive qualitative approach with data collection through in-depth interviews and literature studies. The results of the study show that there is dualism between the holders of the Tuanku Kinali title as leaders of the customary area in Nagari Kinali. As a result, internal conflicts between them occur. Additionally, conflicts with companies arise due to the lack of transparency in the distribution of plasma and plasma management. This has become a dilemma for the community. On the one hand, they conflict with Ninik Mamak, and on the other hand, they must resist companies taking away their rights. Therefore, this is inseparable from the influence of capitalism, which is marked by an increasing trend of commercialization and monetization that has penetrated the very fabric of traditional rural communities. Keyword: Customary Land, Dilemma, Handover, Kinali.  
Transformasi Gender dan Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan di Kampung Sarugo Ermayanti, Ermayanti; Indrizal, Edi; Irwandi, Ade
Menara Ilmu : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmiah Vol 19, No 2 (2025): Vol 19 No. 02 OKTOBER 2025
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/mi.v19i2.7058

Abstract

Makalah ini bertujuan untuk menjelaskan kondisi perempuan di sektor pariwisata pedesaan sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB Nomor 5 – untuk mencapai kesetaraan gender. Menggunakan studi kasus Kampung Sarugo, analisis ini meneliti tingkat partisipasi masyarakat, batasan keterlibatan masyarakat dalam pengembangan pariwisata, dan komitmen masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengembangan pariwisata pedesaan. Untuk mencapai tujuan utama penelitian ini, pendekatan kualitatif dipilih sebagai metode penelitian. Data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan diskusi kelompok terfokus dengan 5 pengelola homestay perempuan, 2 pengelola pariwisata, 2 pejabat pemerintah desa, dan 5 pemimpin tradisional. Data dianalisis menggunakan analisis kualitatif dengan prioritas dan strategi alternative. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat setempat sangat antusias dalam mengembangkan pariwisata di Kampung Sarugo. Partisipasi perempuan telah memberikan dampak ekonomi terhadap pendapatan rumah tangga melalui pengembangan Rumah Gonjong sebagai homestay. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata dengan partisipasi perempuan telah membawa perubahan dalam akses, di mana perempuan yang sebelumnya terbatasi di ruang privat kini beralih ke sektor publik. Keterlibatan perempuan dalam sektor pariwisata juga menunjukkan bahwa pariwisata pedesaan berbasis gender memberikan peluang untuk peningkatan ekonomi rumah tangga. Namun, tantangan saat ini meliputi batasan budaya, struktural, dan operasional, yang harus diantisipasi untuk meningkatkan keterlibatan komunitas dan menggerakkan upaya dalam pengembangan pariwisata.Kata Kunci: Partisipasi Masyarakat, Pariwisata Berbasis Masyarakat, Gender, Kampung Sarugo  
MUKOP SAGAI: MENAKAR KADAULATAN PANGAN ORANG SAREREIKET DI SIBERUT SELATAN, KEPULAUAN MENTAWAI Erwin, Erwin; Irwandi, Ade; Mitra, Robi
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 11 No. 2 (2022): Empati Edisi Desember 2022
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v11i2.29282

Abstract

Abstract. The problem of food is indeed a very complicated problem to discuss and is a fundamental matter for humans. Because it involves survival and survival and is related to other problems. As a result of the Covid-19 pandemic, the government is again planning to re-utilize sago as a staple food that needs to be developed through the Nusantara Sago Week 2020. Sago contributes to the fulfillment of food in Indonesia, not only rice and can provide economic opportunities. In the Mentawai Islands, is an area that has a lot of land and sago plants. However, this has not been ignored for a long time because many programs from the government are contradictory and have resulted in sago land and the Sarereiket community being pressured. So that their access to food, which is mainly sago, has begun to be disrupted. This study uses an ethnographic approach with interpretation analysis. So that they can question and answer doubts about the phenomenon of food problems in South Siberut, especially for the Sarereiket people. Government intervention through policies and programs that lead to food causes harm and duality to the Sarereiket people. So they are in a dilemma and trapped in the simalakama trap of "eating or not eating sago" which is still being felt. Therefore, food sovereignty in South Siberut needs to be reviewed and measured according to the current situation in South Siberut.Keywords: Food Sovereignty, Food security, Mentawai, Sarereiket. Abstrak. Masalah pangan memang menjadi masalah yang sangat pelik untuk dibahas dan merupakan perkara yang fundamental bagi manusia. Karena menyangkut hanyat hidup dan keberlangsungan hidup serta terkait dengan masalah lainnya. Akibat pandemi Covid-19, pemerintah kembali menggadangkan untuk kembali mendayagunakan sagu sebagai pangan pokok yang perlu dikembangkan melalui Pekan Sagu Nusantara tahun 2020. Sagu turut andil dalam pemenuhan pangan di Indonesia bukan hanya beras dan dapat memberikan peluang ekonomi. Di Kepualauan Mentawai, merupakan wilayah yang banyak memiliki lahan dan tanaman sagu. Namun hal ini sudah lama tidak diabaikan karena banyak program-program dari pemeirntah yang bertentangan dan mengakibatkan lahan sagu dan masyarakat Sarereiket terdesak. Sehingga akses pangan mereka yang utama sagu mulai terganggu. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi dengan analisis interpretasi. Sehingga dapat mempertanyakan dan menjawab keraguan terhadap fenomena masalah pangan di Siberut Selatan khususnya bagi orang Sarereiket. Intervensi pemerintah melalaui kebijakan dan program yang bermuara pada pangan menyebabkan kerugian dan dualitas bagi orang Sarereiket. Sehingga mereka berada dalam sebuah dilema dan terjebak dalam perangkap simalakama “memakan atau tidak memakan sagu” yang hingga saat ini masih dirasakan. Oleh sebab itu, kedaulatan pangan di Siberut Selatan perlu ditinjau ulang dan ditakar sesuai keadaan yang terjadi di Siberut Selatan saat ini.Kata kunci: Kedaulatan Pangan, Ketahanan Pangan, Mentawai, Sarereiket.
Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM) Pada Hutan Lindung Gambut (HLG) di Desa Pematang Rahim Provinsi Jambi Rahman, Fajri; Apriwan, Apriwan; Irwandi, Ade
Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol 24, No 2 (2024): Juli
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/jiubj.v24i2.4984

Abstract

Sungai Buluh Peat Protection Forest is a peat area with protected forest status in Jambi Province. Protected forests are not only aimed at preservation, and protection but also open up utilization opportunities for local communities. The utilization is through Social Forestry (SF) which turns part of the forest area into a Village Forest. This aims to open up opportunities and access for local communities. A critical ethnographic approach explains the meaning behind the reality, where the forest is not only protected but has an economic impact on the surrounding community. Through interviews, observation and documentation techniques, data was collected. Informants consisted of KPHD, KUPS, community leaders, stakeholders, KKI Warsi and local communities to provide their views on the village forest scheme and how it impacts their lives. The results show that forestry provides opportunities for community-based forest management with the aim of protection, preservation and utilization. Through KPHD the village forest is managed and provides economic opportunities through KUPS which consists of the community in Pematang Rahim Village. Thus, through social forestry the forest can be maintained and local communities experience economic improvement. However, the challenge is that efforts to sustain forest protection and utilization must be supported by all sectors so that forest management by the community provides welfare and maximum protection efforts are achieved.