Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Penataan Lansekap Pada Program Kampung Agropreneur Di Tembalangan Malang Titisari, Ema Yunita; Asikin, Damayanti
RUAS Vol. 13 No. 2 (2015)
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ruas.2015.013.02.2

Abstract

Salah satu cara memecahkan permasalahan ruang terbuka hijau di kampung-kampung kota adalah melalui program pertanian kota. Selain dapat memperbaiki kualitas ekologi dan aspek visual lingkungan, urban farming berpotensi menjadi kegiatan ekonomi. Pada Kampung Tembalangan yang cukup padat, diperlukan perencanaan pola penataan lansekap dari kegiatan pertanian kota yang dilakukan. Penataan lansekap pada Kampung Tembalangan ini meliputi beberapa tahap yaitu: evaluasi kondisi eksisting, analisis potensi, dan alternatif solusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik-teknik urban farming yang dipraktekkan dapat sekaligus menjadi elemen-elemen estetis arsitektural dan menciptakan ruang untuk beberapa fungsi sesuai dengan yang dibutuhkan.Kata kunci: penataan, lansekap, agropreneur, kampung
Vertical Garden Dan Hidroponik Sebagai Elemen Arsitektural Di Dalam Dan Di Luar Ruangan Asikin, Damayanti; P. Handayani, Rinawati; Mustikawati, Triandriani
RUAS Vol. 14 No. 1 (2016)
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ruas.2016.014.01.4

Abstract

Area hijau tak hanya memberi manfaat visual saja, tetapi juga manfaat ekologis, edukatif, dan ekonomis.Perkembangan teknologi pertanian kota memunculkan berbagai teknik untuk dapat berkebun di lahan sempit, bahkan di dalam ruangan sekalipun. Dampak ekologis yang kini mulai dirasakan adalah perubahan visual lingkungan permukiman padat di perkotaan yang menjadi lebih hijau.Vertical garden dan hidroponik merupakan beberapa bentuk teknologi pertanian yang dapat dimanfaatkan sebagai elemen arsitektural, baik untuk kebutuhan lansekap (di luar ruangan) maupun di dalam ruangan. Makalah ini mengkaji pemanfaatan vertical garden dan hidroponik sebagai elemen arsitektural di dalam maupun di luar ruangan. Kajian yang dilakukan secara deskriptif berdasarkan contoh-contoh kasus yang menerapkan keduanya sebagai elemen arsitektural. Hal yang diamati adalah aspek fungsional berkaitan dengan perannya sebagai elemen arsitektural.  Hasil kajian menunjukkan bahwa keduanya dapat digunakan sebagai pembatas dan pembentuk ruang dengan teknik-teknik sesuai dengan fungsi arsitekturalnya.Kata kunci: vertical garden, hidroponik, elemen arsitektural
THEORETICAL FRAMEWORKS OF SOCIAL INTERACTION IN URBAN SPACES: A SYSTEMATIC REVIEW OF SPACE SYNTAX PERSPECTIVES Audri, Delia Suci; Kusdiwanggo, Susilo; Asikin, Damayanti
Tata Kota dan Daerah Vol. 17 No. 2 (2025): Jurnal Tata Kota dan Daerah
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.takoda.2025.017.02.5

Abstract

This systematic review of 138 peer-reviewed articles published in the past decade, sourced from ScienceDirect, examines the role of spatial connectivity in shaping social life. Employing the PRISMA methodology, 18 high-quality articles were meticulously analyzed using targeted keywords such as “space syntax,” “social interaction,” “connectivity,” and “integration.” The review identifies three key domains that structure social life: spatial accessibility, urban design configuration, and mobility infrastructure. Drawing from urban planning, sociology, and architectural theory, a conceptual model emerges, elucidating how spatial connectivity fosters interaction, well-structured design supports engagement, and integrated mobility enhances social capital. These findings provide actionable insights for planners and policymakers, enabling them to develop post-pandemic resilience and inclusive spatial strategies. However, the limited dataset signals the need for future research that incorporates broader contexts and advanced analytical technologies.
Spatial Utilization Pattern for Sasirangan Craftsmen's House in Sasirangan Village, Banjarmasin Pertiwi, Aula Sekar Arum; Asikin, Damayanti; Wulandari, Lisa Dwi; Khairunnisak, Khairunnisak; Nasution, Rafika Hilmi; Lokantara, I Gede Wyana; Khairuni, Zhilli Izzadati; Yuzni, Siti Zulfa
The Indonesian Journal of Planning and Development Vol 10, No 2 (2025): October 2025
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijpd.10.2.76-84

Abstract

The Seberang Masjid region is one of the last places that still looks like Banjar Village, and it has a unique art called sasirangan cloth. The government and the corporate sector changed the name of the region to Kampung Sasirangan in 2010 to make local knowledge more valuable. This development affects the change in the role of homes, which are now used for more than just living in. They are now used for business and manufacturing. The several steps in making sasirangan cloth affect how craftspeople act, which in turn affects how the company house uses space. This study seeks to identify and analyse the spatial utilization patterns in the residences of sasirangan textile craftspeople in Kampung Sasirangan, Banjarmasin. The research methodology employed is a case study utilizing a qualitative approach, incorporating field observation, in-depth interviews, and documentation. The results show that there are 17 craftsmen's houses on the land, along the riverbanks, and above the river. There are two primary ways that space is used: one building mass and two building masses. Craftsmen do not have a separate place to work; instead, they make the most of the space they already have by changing it to fit the stage of production. Craftsmen who have more complicated production stages use space in a wider range of ways.