Claim Missing Document
Check
Articles

RELATIVITAS AJARAN AGAMA: MENUJU PLURALISME KEBERAGAMAAN YANG HARMONIS Atabik, Ahmad
FIKRAH Vol 1, No 1 (2013): Fikrah
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v1i1.305

Abstract

Deskripsi fenomena keberagamaan manusia, sebenarnya tidaklah semudah dan sesederhana seperti yang biasa dibayangkan oleh banyak orang. Ada manfaatnya memang untuk sesekali melihat agama dalam bentuknya yang tidak sederhana, lantaran berbagai persoalan pelik yang terkait dengan fenomena itu sendiri. Menunjuk agama dengan sebutan proper noun seperti Islam, Katolik, Proterstan, Hindu, Budha adalah sangat mudah, tetapi pertanyaan yang lebih mendasar apakah tidak ada bentuk abstrat noun dari segala macam bentuk kepercayaan dan penghayatan agama yang beraneka ragam tersebut? Jika tidak ada bentuk abstract noun sebagai landasan ontologi seuatu kepercayaan, mustahil agaknya manusia dapat menyebut dengan sebutan proper noun terhadap apapun, lantaran abstract noun sebenarnya adalah dasar logika penyebutan proper noun. Menurut M. Amin Abdullah, adanya “truth claim” yang sering kali melekat pada sebutan agama- agama dengan proper noun, sangat boleh jadi lantaran tidak atau kurang dikenalinya wilayah abstract noun yang menjadi landasan logis-ontologis bagi keberadaan masing-masing proprer noun. Dari sini pula sebenarnya bermula segala macam kesulitan yang mengitari persoalan. Pluratitas agama-agama yang dipeluk oleh berbagai macam gologan, kelompok dan sekte keagamaan pada level historis-empiris. Kata Kunci: Relativitas, agama, pluralisme dan harmonis
Interaksionisme Simbolik Ritual Meron di Indonesia dan Relevansinya dalam al Quran Atabik, Ahmad
FIKRAH Vol 8, No 1 (2020): June 2020
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.618 KB) | DOI: 10.21043/fikrah.v8i1.7216

Abstract

This paper examines the cultural traditions of meron in Pati Indonesia. A tradition that is interpreted with respect to the prophet by bringing a cone made from large rengginang. The method used is qualitative research with an ethnographic approach that aims to find out the meaning of each meron symbol. The theory used is Herbert Blumer's symbolic interactionism that narrates three assumptions of symbols, namely meaning as the basis of human action, meaning created from social interaction and meaning modified through reader interpretation. The results of this paper are that the meron tradition has relevance to the teachings of Islam as a form of da'wah. Rengginang as a symbol of gratitude and togetherness, a mosque as a religious symbol and the arrangement of rengginang is a symbol of the levels of Iman, Islam and Ihsan. The relevance of meron to the verses of the Quran, as in the study of QS. al-Baqarah: 260. Rengginang made from rice is hinted at in QS. al-Baqarah: 261 and QS. Al-Fath: 29. While the mosque symbol is strengthened in the QS. At-Taubah: 18-19.
TELAH PEMIKIRAN AL-GHAZALI TENTANG FILSAFAT Atabik, Ahmad
FIKRAH Vol 2, No 1 (2014): Fikrah
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.369 KB) | DOI: 10.21043/fikrah.v2i1.551

Abstract

TEORI KEBENARAN PERSPEKTIF FILSAFAT ILMU: Sebuah Kerangka Untuk Memahami Konstruksi Pengetahuan Agama Atabik, Ahmad
FIKRAH Vol 2, No 2 (2014): Fikrah
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.948 KB) | DOI: 10.21043/fikrah.v2i2.565

Abstract

Metode Tarjih dalam Kajian Hadis Atabik, Ahmad
RIWAYAH Vol 2, No 1 (2016): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v2i1.2218

Abstract

Artikel ini menjelaskan tentang metode tarjih dalam hadis Nabi. Tarjih dilakukan apabila terdapat beberapa nash yang saling bertentangan (ta’arudl). Ta’arudl dapat terjadi diantara nash-nash (ayat ataupun hadis), atau antara qiyas dengan qiyas. Melakukan tarjih pada hadis berarti melakukan pengunggulan kepada sesuatu yang disandarkan kepada Rasulillah Saw. pentarjihan bisa dilakukan dengan berbagai cara (metode). Cara-cara tersebut tergantung pada kajian dan ijtihad para mujtahid. Pada dasarnya, banyak cara untuk mentarjih suatu hadis yang nampak bertentangan. Namun, artikel ini hanya membatasi pada empat hal yang berkaitan dengan unsur-unsur hadis, yaitu: Pertama, tarjih dari segi sanad dan rawi; kedua, tarjih dari segi matan; ketiga, tarjih dari segi hukum atau kandungan hukum (madlul); keempat, tarjih dengan menggunakan faktor (dalil) lain di luar nash
Tarjih asy-Syaukani dengan Hadis Nabi dalam Tafsir Fath al-Qadir Atabik, Ahmad
RIWAYAH Vol 3, No 2 (2017): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v3i2.3708

Abstract

Artikel ini mengeksplorasikan tentang tarji>h} yang dilakukan oleh asy-Syaukani dalam tafsir Fath al-Qadir dengan penelusuran terhadap hadis-hadis Nabi. Tarji>h} dengan hadis Nabi sudah biasa dilakukan oleh para ulama untuk mendapatkan kebenaran yang dipedomani oleh seorang mufassir maupun muhaddis terhadap berbagai pendapat dalam memahami ayat al-Qur’an maupun hadis Nabi. Dalam makalah ini, al-Syaukani mencoba melakukan tarji>h} pada ayat-ayat al-Qur’an tertentu kemudian dicarikan dalil dari hadis sebagai alat pembantu dalam memperoleh pendapat yang kuat dari adanya perbedaan pendapat dari ulama-ulama sebelumnya. Sehingga, dengan memahami ayat al-Qur’an dengan pendekatan hadis ini, asy-Syauka>ni> yakin betul bahwa tarji>h} dengan hadis Nabi ini dapat dipedomani untuk diyakini kebenarannya dan diamalkan dalam kehidupan beragama.
Pemikiran Al-Qardhawi Tentang Metode Memahami Hadis dengan Membedakan Antara Sarana yang Berubah dan Tujuan yang Tetap dalam Hadis Atabik, Ahmad
RIWAYAH Vol 1, No 1 (2015): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v1i1.1225

Abstract

This article describes the thinking of al-Qaradhawi on methods to understand the hadith to distinguish between means and goals remain unchanged in the hadith. This article begins the biography setting of al-Qaradhawi. Al-Qaradhawi has the full name of Abdullah Yusuf al-Qaradhawi. Saft} Tura>b is the birthplace of al-Qaradhawi, a small village which is one of the beautiful villages of Egypt contained in Gharbiyah province, its capital is Tanta. The work of al-Qaradhawi’s “Kaifa Nata’a> mal ma’a al-Sunnah al-Nabawiyya” is a magnum opus in the study of hadith. In this work, al-Qaradhawi sparked about the various methods and principles to understand the traditions of the Prophet with a proper understanding. Hadith as an interpretation of the Qur’an in the practice or application of Islamic teachings in a factual and ideal, has a way of a comprehensive, balanced and facilitating (taisi>r). In the end, this article specifically describes methods of al-Qaradhawi, and their application in examples of hadith of the Prophet. The purpose of writing this article is to understand the tradition, should be able to distinguish between means and goals or objectives. Most errors are usually considered. That is what should be the purpose of our guidance is not a means, which can be changed at any time.
WAJAH MASKULIN TAFSIR AL-QUR’AN : STUDI INTERTEKSTUALITAS AYAT-AYAT KESETARAAN GENDER Atabik, Ahmad
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 6, No 2 (2013): PALASTREN
Publisher : UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v6i2.988

Abstract

al-Qur’an yang diwahyukan dalam bahasa Arab tidak dapat dilepaskan dari visi gender dalam bahasa Arab. Artikel ini membahas pada aspek-aspek isu-isu gender yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Quran, yang memberikan bias gender,baik secara tekstual maupun kontekstual. Melalui metode kualitatif, penelitian ini menemukan bias gender bahasaArab dalam Al-Qur’an. Bias gender ini juga mempengaruhi penafsiran. Ini membutuhkan pemahaman yang mendalam dan sangat sistematis, dengan menggunakan metodologi penafsiran yang tepat sebagai penafsiran Al-Qur’ankata kunci: Maskulin, Kajian Gender, Tafsir Al-Qur’an. In this simple article, the researcher will be more orientedon those aspects of gender issues contained in the verses of the Koran, which provides gender bias, both in textual and contextual. Through qualitative method, thisresearch will find the gender bias in the Arabic languagein the Qur’an. It is because the Qur’an, religious texts(text) has chosen the Arabic language in which aspects of gender bias in the Arabic language (as language choice inthe Lord Mediation), also affect the interpretation. Thisrequires an understanding of a very systematic and indepth by using the proper interpretation methodology as the interpretation of the Qur’anKeywords: Masculine, Gender Studies, interpretation ofal-Qur’an.
THE ROLE OF INDONESIAN WOMEN FOR CONFLICT RESOLUTION ON QUR'ANIC INTERPRETATION Atabik, Ahmad
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 12, No 2 (2019): PALASTREN
Publisher : UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v12i2.5946

Abstract

This article examines the Qur’an conflict perspective and the role of Indonesian women in conflict resolution efforts on a rural, regional and international scale. The results of this study indicate that conflicts in the Qur'an are presented in the form of stories with conflicts. Conflict stories in Qur’an are such as the conflict between Abel and Qabil, conflict between the Prophet Joseph and his brothers and conflict between the Prophet Moses and a Qibthi. The Qur’an is also about conflict resolution in various scattered verses. In the current conflicts, women have a significant role and efforts to resolve them. Indonesian women activists play a big role in conflict resolution that leads to the peace process. On a rural scale, the example is like conflict resolution by women activists in Gadingan village, Sliyeg Subdistrict, Indramayu Regency. On a regional scale such as the conflict resolution of women activists in Maluku and the international scale of conflict resolution conducted by Yenny Wahid on conflicts in Rohingya Myanmar.
Menelisik Otentitas Kesejarahan Sunnah Nabi (Studi atas Teori Common link dan Sanggahan Terhadapnya) Atabik, Ahmad
RIWAYAH Vol 1, No 2 (2015): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v1i2.1795

Abstract

Artikel ini akan mengeksplorasikan tentang otentitas kesejarahan Sunnah Nabi Saw. Di awal, penulis mencoba melacak otentitas kesejarahan hadis Nabi dengan menggali akar sejarah perekaman dan penulisan hadis Nabi dari generasi pertama Islam hingga dibukukannya hadis dalam bentuknya yang sistematis. Penulis juga akan menjelaskan konsep isnad hadis sebagai penghubung masa silam, dan mengungkap teori common link yang meragukan otentitas hadis-hadis yang mempunyai periwayatan yang menyendiri (infirad), serta kritik para sarjana muslim dan teori kebenaran filsafat terhadapnya. Secara khusus, penulis juga akan menjelaskan teori common link yang diprakarsai oleh Joseph Schacht dan dikembangkan oleh G.H.A. Juynboll, serta perdebatan mereka dengan M. Musthafa Azami tentang teori tersebut yang berimplikasi pada otentitas hadis-hadis Nabi dalam kitab-kitab hadis kanonik (al-kutub al-sittah dan al-kutub al-tis’ah). Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengeksplorasi dan mendapatkan pengetahuan yang meyakinkan bahwa hadis sebagai bagian dari sejarah bisa diketahui secara otentik dengan menggunakan jembatan yang bisa mengantarkan kepada masa silam secara benar.