Claim Missing Document
Check
Articles

THE LIVING QUR'AN: POTRET BUDAYA TAHFIZ AL-QUR'AN DI NUSANTARA Atabik, Ahmad
Jurnal Penelitian Vol 8, No 1 (2014): JURNAL PENELITIAN
Publisher : LP2M IAIN kUDUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/jupe.v8i1.1346

Abstract

The Living Qur’an:  nusanTara Qur’an Tahfiz cuLTure porTraiT. The study of the living Qur’an is the study of a variety of social events related to the presence of the Qur’an or the existence of the Qur’an in certain a Moslem community. Based on it, it will seem the social response (reality) of the Moslem community to make a living and turn on the Qur’an through a continuous interaction. The living Qur’an actually originated from the Qur’an phenomena in everyday life, that is, the meaning and function of the Qur’an that real are understood and experienced by the Moslem community. among the living Qur’an found on the archipelago’s Moslem community is culturally or memorize (tahfiz) of the Qur’an. This tradition is one of the many phenomenon of Moslem in turn or present the Qur’an in everyday life by means of read through it entirely. This tradition is widespread in some indonesian islamic community, especially among the students of boarding school (santri), as a result it form an entity of local culture.
CLASH OF WEST AND EAST CIVILIZATIONS IN QUR’AN INTERPRETATION Atabik, Ahmad
ADDIN Vol 11, No 1 (2017): ADDIN
Publisher : LPPM IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/addin.v11i1.2222

Abstract

This article describes the clash of west and east civilizations from the perspective of the Qur’an interpretation. As is well known that the Qur’an reveals a clash of civilizations between the West which is represented by the Roman and the east are Persian. The clash occurred for many years. This war began with the triumph of Persians, the Qur’an clearly interpreted that nine years later the Roman defeat the Persian. Roman Empire which is meant by ar-Rum is the Kingdom of Eastern Roman centered in Konstantinopel, not the Western Roman kingdom centered in Rome. The West Roman kingdom, before the events, recounted in this verse occurs has collapsed in 476 CE. The Romans are Christians (people of the scripture), and the Persians religion Majusi (idolaters).
New Paradigm of Contemporary Hermeneutics: Analysis of Religious Text Discourse Understanding of Paul Ricoeur’s Perspective Atabik, Ahmad
ADDIN Vol 13, No 2 (2019): ADDIN
Publisher : LPPM IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/addin.v13i2.5906

Abstract

The hermeneutic study about discourse before the existence of Paul Ricoeur was around three points: romantic hermeneutics, onology hermeneutics, and dialectical hermeneutics. They have characteristics that other mainsteams do not have. Ricoeur’s thought style cannot be included in any of those three hermeneutic thoughts. In fact, his thought covers almost all contemporary philosophical topics. One of the points of Ricoeur’s contemporary hermeneutics is how to combine the phenomenology of Husserl’s metaphysical tendencies with Heidegger’s existential phenomenology. The text is essentially autonomous to carry out “de-contextualization” (the process of liberating oneself from context) and “re-contextualization” (the process of returning to context). Ricoeur’s thought patterns cannot be included in one of the three hermeneutic thought. In fact, his thought allegedly covers almost all contemporary philosophical topics. One of Ricoeur’s contemporary hermeneutics is how to combine the phenomenology of Husserl’s metaphysical tendencies with Heidegger’s existential phenomenology.
ANALISIS HISTORIS PERKEMBANGAN BANK SYARIAH Atabik, Ahmad
IQTISHADIA Vol 6, No 2 (2013): IQTISHADIA
Publisher : Ekonomi Syariah IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/iqtishadia.v6i2.1109

Abstract

 Artikel ini mengeksplorasi tentang ; a) sisi historitas munculnya bank syariah,  terkait  dengan  konsep ekonomi syariah,  yang awalnya  telah  ada pada zaman Rasulullah; b) penulis  juga menyuguhkan   latar belakang  yang menyebabkan   berdirinya bank syariah, yang tiada lain karena mencari solusi atas sistem perbankan yang disinyalir menggunakan sistem bunga (riba); c) tulisan ini juga mendiskripsikan kebutuhan mendesak umat Islam terhadap adanya bank syariah, tujuan didirikannya bank syariah (menyediakan fasilitas keuangan dengan cara mengupayakan instrumen-instrumen   keuangan  yang sesuai dengan  ketentuan- ketentuan dan norma-norma syariah. Selain itu, diambil juga dari nilai-nilai Islam  dan dapat diwujudkan dalam masing-masing kegiatan operasionalnya), d) serta hal-hal yang terkait  dengan sistem-sistem yang telah ada dalam fiqih mu’amalat yang dapat diaplikasikan dalam sistem ekonomi dan perbankan syariah. Kata kunci: historitas, bank, musyarakah, mudarabahHISTRICAL ANALYSIS OF ISLAMIC BANKING This article explore about; a) historitas side of the emergence of Islamic banking , related  to the concept of sharia economy, originally was at the time of the Messenger of Allah; b) The author also presents the background cause the establishment of sharia banks, which no other because of the search for the solution of the banking system which is possibly using the system of interest (usury); c) this article also define ecological urgent need of Islam against the sharia banks, purpose built sharia banks (provide financial facility with how to seek financial instruments  in accordance with the terms of the terms and norms of the shari’a. In addition, taken also from the values of Islam and can be realized in each operational activities), d) and the things that are associated with the systems that have been there in fiqh mu’amalat that can be applied in the economic system and Islamic banking. Keywords: historical, banking , musyarakah, mudarabah
PERKEMBANGAN TAFSIR MODERN DI INDONESIA Atabik, Ahmad
HERMENEUTIK Vol 8, No 2 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v8i2.895

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendiskripkan khazanah tafsir diIndonesia di lihat dari segi historisnya. Kajian tafsir Indonesiadi sini adalah karya-karya tafsir yang ditulis oleh para ahli tafsirdengan menggunakan salah satu bahasa daerah atau bahasaIndonesia. Kajian al-Qur’an dan penafsirannya di Indonesiadirintis oleh Abdur Rauf Singkel yang menerjemahkan Al-Qur’an(Tarjuman al-Qur’an) ke dalam bahasa Melayu pada pertengahanabad XVII. Apa yang sudah dikaryakan oleh Singkel ini kemudiandilanjutkan oleh Munawar Chalil (Tafsir al-Qur`an Hidâyah alRahman), A. Hassan Bandung (al-Furqan, 1928), Mahmud Yunus(Tafsir Quran Indonesia, 1935), Hamka (Tafsir al-Azhar, 1973),Bisyri Musthafa Rembang (al-Ibriz, 1960). Tafsir al-Qur’an eraterakhir adalah karya Quraish Shihab. Model dan sistemasikatafsir karya Quraish Shihab: Pertama, menafsirkan dengan metodetematik, karya model ini tertuang dalam Membumikan al-Qur’an:Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (1992),Lentera Hati: Kisah dan Hikmah Kehidupan (1994) dan Wawasanal-Qur’an (1996) dan lainnya. Kedua, model menafsirkan seluruhal-Qur’an. Karya model ini kemudian tertuang dalam karyanyaTafsir al-Mishbah: Pesan dan Keserasian Ayat-Ayat al-Qur’an.
PERSPEKTIF AL-SYAWKANI TENTANG PENTARJIHAN PERBEDAAN PENAFSIRAN Atabik, Ahmad
HERMENEUTIK Vol 11, No 2 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v11i2.5525

Abstract

Tarjîh  dalam penafsiran dihasilkan dari adanya berbagai perbedaan pendapat para mufassir dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Tujuannya adalah mengetahui pendapat yang paling sahih dan paling layak diterima dalam penafsiran al-Qur’an untuk dapat diamalkan sesuai bidangnya. Tujuan lain, peniadakan kitab-kitab tafsir dari pendapat-pendapat yang janggal dan lemah atau pendapat yang rancu yang disusupkan oleh keyakian mazhab tertentu. Di antara mufassir yang memberi perhatian pada aspek tarjîh  dalam penafsirannya adalah Imam al-Shawkânî. Dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an, ia tidak cukup hanya menyuguhkan pendapat-pendapat mufassir sebelumnya, melainkan juga melakukan tarjîh terhadap penafsiran-penafsiran itu. Dalam hal ini ia menetapkan seperangkat kriteria dan metode tertentu dalam proses pentarjîh}an terhadap berbagai pendapat yang dikemukakan para ulama. Hasil penelitian ini menemukan bahwa al-Shawkânî dalam mentarjîh perbedaan penafsiran menggunakan metode yang meliputi 1) sîghat (redaksi yang tertentu yang digunakan dalam mentarjîh), 2) teknik tarjîh yang dilakukan al-Shawkânî sendiri dan tarjîh yang diambil dari pendapat ulama’ lain), dan 3) bentuk (tarjîh) dengan naz}âiral-Qur’ân, dengan sunnah, dengan qirâ’ât dan lainnya). Di akhir, makalah ini juga mengeksplorasikan aplikasi dan contoh tarjîh dari metode al-Shawkânî tersebut, dengan tujuan dapat memudahkan bagi pembaca agar lebih jelas memahami metode tarjîhnya.
TARJIH DALAM PENAFSIRAN AL-QUR’AN PERSPEKTIF IMAM ASY-SYAUKANI DALAM TAFSIR ASY-SYAUKANI Atabik, Ahmad
HERMENEUTIK Vol 9, No 2 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v9i2.873

Abstract

Artikel ini mengeksplorasikan tentang konsep tarji>h} dalamperbedaan penafsiran al-Qur’an. Secara spesifi kajiannyafokus kepada tafsir Fath} al-Qadi>r. Tarji>h} secara bahasa adalahkecondongan atau pengunggulan. Sedangkan secara istilahmenguatkan salah satu pendapat dari berbagai pendapat dalampenafsiran ayat karena ada dalil atau kaidah yang menguatkannyaatau karena pelemahan atau penolakan terhadap selainnya.Perbedaan penafsiran telah adalah masa salaf, namun perbedaanitu lebih banyak variatif daripada kontradiktif. Dalam menyikapiperbedaan penafsiran, para ulama dan mufassir melakukan langkahtarji>h} . Dengan tujuan mendapatkan pendapat yang paling kuatberdasarkan dalil (indikator) yang diterapkan oleh para ulama.Aspek-aspek yang menjadi fokus pentarji>h} an asy-Syaukani adalahtarji>h} dengan naz} a>ir al-Qur’a>n, dengan sunnah, dengan asba>b annuzu>l, dengan qira>’at, dengan z} a>hir al-Qur’a>n, siya>q a>ya>t, denganna>sikh dan mansu>kh, serta tarji>h} dengan tata bahasa dan syi’ir, danlainnya).
Penafsiran Al-Syaukani Terhadap Ayat-Ayat Aqidah Atabik, Ahmad
HERMENEUTIK Vol 10, No 1 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v10i1.3907

Abstract

Pengaruh Mazhab Mufassir Terhadap Perbedaan Penafsiran Atabik, Ahmad
Journal of Islamic Studies and Humanities Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : UIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (628.852 KB) | DOI: 10.21580/jish.21.2516

Abstract

This article explores the influence of aqidah and fiqh mazhab or sect in different interpretations. The interpreters prefer using the word ikhtilaf to be juxtaposed with interpretation. Ibnu Taimiyah mentions an article ikhtilaf al-salaf fi al-tafsir in the book Muqaddimah fi Usul al-Tafsir and the other scholars' works. The interpretation difference is divided into two parts, variative difference (tanawwu') and contradictory disputes (tadad). Both of those interpretation difference forms occured among the scholars, but in terms of difference (contradictory) quantity is relative small. In this article, it is found that mazhab mufassir often influence their interpretation result. Affiliation of mazhab fiqh is very influencial on an interpreter's interpretation. The affiliation of kalam also influences a mufassir in interpreting the verses of the Qur'an. The influence of this difference leads to various interpretation and enriches the scientific treasures in Islamic religion.* * *Artikel ini mengeksplorasi tentang pengaruh mazhab aqidah dan fiqih dalam perbedaan penafsiran. Para ahli tafsir lebih memilih penggunaan kata ikhtilaf untuk disandingkan dengan penafsiran. Semisal, Ibnu Taimiyah menyebut sebuah pasal ikhtilaf al-salaf fi al-tafsir dalam kitab Muqaddimah fi Usul al-Tafsir, serta karya ulama-ulama lainnya. Perbedaan penafsiran dibagi menjadi dua bagian, yakni perbedaan variatif (tanawwu’), dan perselisihan kontradiktif (tad}a d). Kedua bentuk perbedaan penafsiran itu, terjadi dikalangan para ulama, namun dari segi kuantitasnya perbedaan (kontradiktif) relatif kecil. Dalam artikel ini, ditemukan bahwa mazhab mufassir seringkali mempengaruhi hasil penafsirannya. Afiliasi terhadap mazhab fiqih sangat berpengaruh pada penafsiran seorang penafsir. Begitu juga, afiliasi terhadap mazhab kalam juga sangat mempengaruhi seorang mufassir dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Sehingga, pengaruh perbedaan ini menyebabkan banyaknya penafsiran yang beragam dan memperkaya khazanah keilmuan dalam agama Islam.
Story Repetition in Qur’an as an Islamic Education Learning Strategy Atabik, Ahmad
EDUKASIA Vol 15, No 2 (2020): EDUKASIA
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/edukasia.v15i2.8240

Abstract

Qur’an is the main source of Islamic Education or Pendidikan Agama Islam (PAI) teaching materials. In the Qur'an, there are various stories repetitions that are presented well. Repeating the story allegedly has a close relationship with Islamic education learning strategy. The purpose of this study is to provide an understanding that the repetition of stories in the Qur'an can be used as a learning strategy for Islamic religious material. This library research used qualitative data. The data is in the form of primary sources, such as ‘Psikologi Kisah dalam Al-Qur’an’ book The data that had been tested were then analyzed using the content analysis approach of repetition story as PAI learning strategy. The results showed that the concept of stories repetition in the Qur’an is very relevant to be used as PAI learning strategy. The results of the study showed that the story repetition concept in the Qur'an is very relevant to the Islamic education learning strategy. These stories become part of an effective and efficient learning strategy in equipping students with various Islamic studies. The repetition taught by Allah in the Qur'an and prophet in Hadith is one of learning principles. The principle of repetition in learning should be implemented in the Islamic education. So, all methods applied in learning must use repetition.