Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

The formation processes and functions of slang words among American youth in Casey McQuiston’s Red, White & Royal Blue (2019) Friska Amelia Novrianti; Dyah Kristyowati; Resty Widya Kurniasari
Journal Albion : Journal of English Literature, Language, and Culture Vol. 7 No. 2 (2025): Issue 2
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/albion.v7i2.13

Abstract

This study explores the word formation processes and social functions of slang used by American youth in Red, White & Royal Blue by Casey McQuiston. Using a descriptive qualitative approach and Yule’s (2006) theory of morphology, 35 slang expressions were identified and 10 were analyzed in depth. The findings show that slang in the novel emerges from processes like clipping, acronyms, compounding, and derivation. These expressions not only demonstrate linguistic creativity but also convey social identity, emotional intimacy, and solidarity. This study contributes to the understanding of slang as a reflection of youth culture in contemporary literature.
The stylistics of dream-pop songs: Cigarette After Sex’s lyrics analysis Nency Asgita; Nur Utami Sari’at Kurniati; Dyah Kristyowati
Journal Albion : Journal of English Literature, Language, and Culture Vol. 8 No. 1 (2026): Issue 1
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/albion.v8i1.20

Abstract

This study aims to analyze the forms and functions of hyperbole found in the lyrics of Cigarettes After Sex songs. The study uses a qualitative method. The data were collected using observation and note-taking techniques, and analyzed using Claridge’s (2011) theory of hyperbole forms and Cano Mora’s (2006) theory of hyperbole functions. The primary data were taken from seven Cigarettes After Sex’s songs: apocalypse, Nothing’s Gonna Hurt You Baby, Sweet, affection, K., Opera House, and Bubblegum. The analysis found 25 hyperbolic expression, with clausal hyperbole as the most dominant form (12 data). Emphasis was the most common function 911 data). Hyperboles are used to express deep emotions such as love, longing, and sadness in the lyrics. This research contributes to the understanding of stylistic in music, particularly in the use of hyperbole to convey emotional messages.
DIASPORA, MEMORY, AND MOURNING IN THE FAREWELL AND HOW TO MAKE MILLIONS BEFORE GRANDMA DIES Jordy Satria Widodo; Dyah Kristyowati; Muslim; Hilda Septriani; Shofiya Hafidza El Haq
Jurnal Ilmiah Bina Bahasa Vol 19 No 1 (2026): Jurnal Ilmiah Bina Bahasa
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Bina Darma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33557/5snfq054

Abstract

In an increasingly connected global world, film plays a crucial role in representing the complexities of Chinese diasporic identity and its accompanying emotional legacies. This study compares Lulu Wang's The Farewell (2019), representing the Chinese American community, with Pat Boonnitipat's How to Make Millions Before Grandma Dies (2024), focusing on the Sino-Thai community. Both films highlight the tension between tradition and modernity, as well as between family values ​​and economic pressures within contemporary capitalism. Drawing on Benedict Anderson's concept of the Imagined Community, this study analyzes how narrative structure, language use, and representations of death function as symbolic devices in constructing an imagined diasporic togetherness. The results show that The Farewell (2019) emphasizes identity fragmentation marked by linguistic alienation and emotional distance, while How to Make Millions Before Grandma Dies (2024) depicts a more connected form of family relations, albeit still influenced by the consumption and economic aspirations. Ultimately, both films represent the Chinese diaspora not only as an ethnic or geographical entity but as a construct of affective experiences born from collective practices of grief, care, and memory. Viewing cinema as an emotional and cultural archive, this study asserts that film demonstrates how diasporic communities continue to shape, negotiate, and reimagine their identities, losses, and legacies in an increasingly transnational world.
Woman’s resistance against discrimination in Stacey Lee’s The Downstairs Girl Indri Satya Handayani; Ni Made Widisanti Swetasurya; Dyah Kristyowati
Journal Albion : Journal of English Literature, Language, and Culture Vol 7, No 1 (2025): Issue 1
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/albion.v7i1.11065

Abstract

This research focuses on the main character's resistance to discrimination in the novel The Downstairs Girl by Stacey Lee. The study aims to highlight the gender and racial discrimination experienced by the main character and her resistance to this discrimination. This study utilized a descriptive analysis method, incorporating intrinsic elements such as character, characterization, conflict, setting, and symbols, and extrinsic elements including discrimination and resistance theory. This study utilized library research techniques, specifically examining, and researching literature in novels. The findings revealed that resistance to discrimination can be manifested through both overt and subtle actions, whether openly or discreetly. In summary, the protagonist, Jo Kuan, faced gender discrimination in the form of violations of women's rights, as well as racial discrimination through restrictions and exclusion. These challenges prompted the main character to demonstrate bravery and resilience in resisting oppression.Keywords: Discrimination; Resistance; Gender; Racial
Dampak Sosial dan Inovasi Teknologi Mahasiswa Sastra Inggris Universitas Pakuan dalam Membangun Desa Sadar Iklim Bojong Kulur Melalui Program RESIK Qotrunnadya Khusnul Wardati; Fikri Hidayatullah; Langgeng Prima Anggradinata; Dyah Kristyowati; Rachel Amtul Noor
Loka Bhakti : Jurnal Pengabdian Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya Vol 1 No 2 (2025): Loka Bhakti (Jurnal Pengabdian Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya)
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Program Rumah Edukasi Kelola Sampah dan Sadar Iklim (Resik) merupakan bentuk inovasi mahasiswa Sastra Inggris Universitas Pakuan dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat terhadap lingkungan. Melalui kegiatan edukatif, teknologi digital, dan pemberdayaan sosial, mahasiswa mengembangkan pendekatan baru dalam membangun kesadaran iklim di Desa Bojong Kulur, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Fokus utama kegiatan ini adalah menciptakan solusi pengelolaan sampah berbasis teknologi seperti bank sampah digital dan dropbox IoT, serta menggerakkan masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan urban farming dan produksi pupuk kompos. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan partisipasi warga hingga 85% dengan kenaikan indeks kapasitas sosial dari 2,43 menjadi 3,05 dan kenaikan indeks kapasitas ekonomi dari 1,96 menjadi 2,46; terbentuknya kelembagaan Pokja Resik yang mandiri, dan munculnya kesadaran baru masyarakat terhadap pentingnya ekonomi hijau dan mitigasi bencana. Program ini menjadi bukti konkret bahwa inovasi sosial berbasis literasi dan teknologi dapat memperkuat ketahanan desa terhadap perubahan iklim.
FILM SCREENING UNTUK MENINGKATKAN CRITICAL CULTURAL AWARENESS (CCA) PADA SISWA SMA KOSGORO BOGOR Dyah Kristyowati; Jordy Satria Widodo; Resty Widya Kurniasari; Annory Langga’o
Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat Universitas Ma Chung Vol. 6 No. 01 (2026): Prosiding SENAM 2026: Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat Universitas Ma Ch
Publisher : Ma Chung Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) berjudul Film Screening untuk Meningkatkan Critical Cultural Awareness (CCA) pada Siswa SMK KOSGORO Bogor dilatarbelakangi oleh pentingnya pemahaman budaya dan kemampuan berpikir kritis bagi generasi muda dalam menghadapi era globalisasi dan digital. Siswa Sekolah Menengah Kejuruan Kosgoro sebagai bagian dari masyarakat multikultural perlu dibekali dengan Critical Cultural Awareness agar mampu memahami, menghargai, serta menganalisis keberagaman sosial dan budaya secara kritis. Kegiatan ini menggunakan media film sebagai sarana pembelajaran yang menarik, komunikatif, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui pemutaran film yang memuat isu-isu sosial budaya, dilanjutkan dengan diskusi terarah untuk mendorong siswa mengidentifikasi nilai, pesan, serta persoalan budaya yang muncul dalam film. Tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan kesadaran budaya kritis siswa sehingga mereka lebih terbuka terhadap perbedaan, memiliki kemampuan analitis terhadap fenomena sosial budaya, serta mampu berperan aktif dalam membangun masyarakat yang inklusif dan toleran. Selain memberikan dampak edukatif bagi siswa, kegiatan ini juga dirancang untuk menghasilkan luaran berupa artikel ilmiah PKM, modul pembelajaran, pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI), serta diseminasi melalui media lokal dan nasional. Kegiatan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan nomor 4 tentang pendidikan berkualitas dan tujuan nomor 10 tentang pengurangan ketimpangan sosial melalui penguatan kohesi sosial dan apresiasi terhadap keberagaman budaya.
MENUNGSA DAN BAHASA SOLIDARITAS: NARASI KOLEKTIF DAN REPOSISI MASKULINITAS DI ERA DIGITAL Agi Reza Reza; Jordy Satria Widodo; Dyah Kristyowati
Prosiding Seminar Nasional Universitas Ma Chung (Informatika & Sistem Informasi Bahasa dan Seni
Publisher : Ma Chung Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana akun Instagram @menungsa.id menggunakan bahasa solidaritas dalam membangun narasi kolektif dan mereposisi makna maskulinitas di era digital. Data penelitian diperoleh dari caption Instagram @menungsa.id yang dikumpulkan selama satu tahun, tepatnya Juni 2024 hingga Juni 2025. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif dengan dukungan humaniora digital yang memanfaatkan perangkat lunak AntConc untuk mengidentifikasi pola leksikal, frekuensi kata, serta strategi naratif yang muncul dalam teks. Landasan teoretis yang digunakan adalah konsep intersectionality, yang memungkinkan pemahaman terhadap maskulinitas sebagai konstruksi sosial yang sifatnya berlapis dan terus dinegosiasikan melalui berbagai faktor sosial, termasuk gender, budaya, dan pengalaman kolektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kata-kata seperti “laki”, “ruang”, “aman”, “mental”, “mengobrol”, serta pronomina kolektif “kita” dan “kami” membentuk praktik bahasa yang inklusif, empatik, dan suportif. Penggunaan bahasa ini secara aktif membangun solidaritas emosional dengan menghadirkan pengalaman laki-laki sebagai pengalaman bersama, bukan sebagai pengalaman individual semata. Selain itu, narasi reflektif dalam caption Instagram @menungsa.id juga secara konsisten menantang konstruksi maskulinitas tradisional yang menuntut laki-laki untuk selalu kuat, dominan, dan menekan emosinya. Dengan demikian, akun Instagram @menungsa.id berperan sebagai ruang digital yang aktif mereposisi maskulinitas menjadi lebih terbuka, reflektif, dan inklusif melalui praktik bahasa yang menekankan kebersamaan dan dukungan kolektif. kunci: @menungsa.id, bahasa solidaritas, narasi kolektif, maskulinitas, humaniora digital.
SOCIAL CLASS AND POLITENESS STRATEGIES IN CUSTOMER AND GOLF SERVICE WORKER INTERACTIONS AT BOGOR RAYA GOLF CLUB rahmalia putri; Jordy Satria Widodo; Dyah Kristyowati
Prosiding Seminar Nasional Universitas Ma Chung (Informatika & Sistem Informasi Bahasa dan Seni
Publisher : Ma Chung Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji strategi kesantunan yang digunakan oleh caddy dan caddy master dalam interaksi pelayanan dengan pelanggan kategori member, VIP, dan guest di Bogor Raya Golf Club, serta menganalisis hubungannya dengan kategori sosial pelanggan yang ditetapkan secara resmi oleh pihak klub. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan kerangka teori kesantunan Robin Lakoff (1973) sebagai kerangka analisis utama, yang mencakup tiga aturan utama, yaitu don’t impose, give options, dan make the receiver feel good, serta perspektif kekuasaan dan pengetahuan Michel Foucault (1980) sebagai kerangka interpretatif pelengkap untuk membaca dimensi relasi kuasa di balik pola kesantunan yang ditemukan. Data berupa 15 tuturan dikumpulkan melalui observasi langsung, catatan lapangan, dan rekaman percakapan, kemudian dikoding berdasarkan ketiga aturan tersebut dan dibandingkan antarkategori pelanggan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi don’t impose lebih dominan pada interaksi dengan pelanggan guest, strategi give options paling menonjol pada interaksi dengan pelanggan VIP, sementara strategi make the receiver feel good paling dominan pada interaksi dengan pelanggan member. Temuan ini menegaskan bahwa kategori sosial pelanggan berkaitan secara sistematis dengan variasi strategi kesantunan yang digunakan oleh pekerja layanan, dan dapat dibaca sebagai bentuk operasi dan normalisasi relasi kuasa dalam praktik tutur layanan, sehingga bahasa dalam interaksi pelayanan disesuaikan secara dinamis berdasarkan persepsi terhadap status sosial pelanggan yang dihadapi.
Rewriting Widowhood: Disrupting Patriarchal Family Ideas Through Digital Feminist Narratives Shakira Yunas; Jordy Satria Widodo; Dyah Kristyowati
Prosiding Seminar Nasional Universitas Ma Chung (Informatika & Sistem Informasi Bahasa dan Seni
Publisher : Ma Chung Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Widows in Indonesian society often face social stigma shaped by patriarchal norms and traditional expectations of women’s roles within the family. They are frequently associated with negative stereotypes that portray them as immoral, socially disruptive, dependent, or incompatible with dominant family ideals. While previous studies have explored widowhood stigma through interviews, field observations, and media analysis, limited research has examined how stigma and resistance are constructed through organizational digital discourse. This study analyzes how narratives of widowhood are represented and challenged through Instagram captions published by @yayasanpekka between 2018 and 2025. The captions were compiled into a textual corpus and analyzed using AntConc to identify dominant keywords and recurring narrative patterns. Corpus-assisted analysis was combined with qualitative interpretation and Sandra Harding’s Standpoint Theory to examine how widows’ lived experiences are articulated as feminist knowledge. The findings show that keywords such as perempuan (women), desa (village), mereka (they), keluarga (family), and kelompok (group) reflect women’s agency, rural community, family responsibility, and collective solidarity. The analysis further reveals that @yayasanpekka reconstructs widowhood from a stigmatized marital status into an active social identity by representing widows as dignified women, family leaders, knowledge producers, and members of a collective social movement. The study concludes that Yayasan PEKKA’s Instagram account functions not only as an informational platform, but also as a digital feminist space that resists misogynistic representations and reshapes public perceptions of widowhood in Indonesian society. Keywords: widowhood, social stigma, digital feminist discourse, digital humanities, @yayasanpekka