Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

EKSTRAKSI SENYAWA ANTIOKSIDAN BERUPA LIKOPEN DARI LIMBAH BUAH SEMANGKA DI PULAU LOMBOK: Reproducing Antioxidant Compounds Wit Lycopene Forms From Watermelon Waste In Lombok Island Taufikul Hadi; Wardatul Jannah
Pro Food Vol. 6 No. 2 (2020): Pro Food (Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan)
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/profood.v6i2.165

Abstract

ABSTRACT Watermelon is one of the fruits that are in abundance in the dry season, especially on the island of Lombok. This abundant availability sometimes makes watermelons become waste. One way to take advantage of unsold watermelons so that they do not have to become waste is to extract the antioxidant compounds found in watermelons. The antioxidant compound found in watermelon is lycopene. Lycopene is an antioxidant compound that has many benefits, especially in controlling free radicals in the body. Also, lycopene is useful for preventing cardiovascular disease, diabetes, and, cancer. Lycopene extraction in watermelon fruit waste was carried out by the liquid-liquid method, using Hexane and Ethanol as a solvent with a ratio of 2:1. The purpose of this study was to determine the lycopene content in watermelon waste based on the ratio of feed and solvents (F/S), as well as time and temperature. The ratio of F/S used is 1:1, 1:2, 1:3, 1:4, 1:5 extraction temperature (30, 40, 50, 60, 70, 80, and 90) o C while the time used (30, 40, 50, 60, 70, 80, 90, 100, 110, 120) minutes. Based on the analysis using UV-Vis Spectrophotometry, it is known that the optimum conditions for lycopene content are in the F/S ratio of 1:4 at 70oC and 90 minutes. The lycopene content obtained was 3, 1595 mg/100gram. Keywords: antioxidant, extraction, lycopene, UV-Vis spectrophotometry, watermelon ABSTRAK Semangka merupakan salah satu buah-buahan yang stoknya melimpah di musim kemarau terutama di pulau Lombok. Ketersediaan yang melimpah tersebut terkadang membuat buah semangka menjadi limbah. Salah satu cara memanfaatkan buah semangka yang tidak laku terjual agar tidak harus menjadi limbah adalah dengan mengekstrak senyawa antioksidan yang terdapat pada buah semangka. Senyawa antioksidan yang terdapat pada buah semangka berupa Likopen. Likopen merupakan senyawa antioksidan yang memiliki banyak sekali manfaat terutama dalam mengendalikan radikal bebas dalam tubuh. Selain itu Likopen juga bermanfaat mencegah penyakit cardiovascular, kencing manis, hingga kanker. Ekstraksi Likopen pada limbah buah semnagka ini dilakukan dengan metode cair-cair, dengan menggunakan Heksana dan Ethanol sebagai pelarut (solvent) dengan jumlah perbandingan 2:1. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk bertujuan untuk mengetahui kandungan likopen yang terdapat pada limbah buah semangka berdasarkan perbandingan bahan dan pelarut (F/S), serta waktu dan suhu. Adapun perbandingan F/S yang digunakan yaitu 1:1, 1;2, 1;3, 1:4, 1:5 suhu ekstraksi (30, 40, 50, 60, 70, 80 dan 90)oC sedangkan waktu yang digunakan (30, 40, 50, 60, 70, 80, 90, 100, 110, 120). Berdasarkan hasil analisa dengan menggunakan Spektrofotometri UV-Vis diketahui bahwa kondisi optimum kandungan Likopen berada pada perbandingan F/S 1:4 pada suhu 700C dan waktu 90 menit. Kandungan Likopen yang didapatkan sebesar 3,1595 mg/100gram. Kata kunci: antioksidan, ekstraksi, likopen, semangka, spectrofotometri UV-Vis
UJI TOKSISITAS AKUT (LC50) HERBISIDA DENGAN BAHAN AKTIF PARAKUAT DIKLORIDA TERHADAP IKAN NILA (Oreochromis niloticus Trewavas) PADA BAK–BAK PERCOBAAN Wardatul Jannah; Yusnita .
Jurnal Pendidik Indonesia (JPIn) Vol 1, No 2: Oktober 2018
Publisher : Yayasan Pendidikan Intan Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47165/jpin.v1i2.25

Abstract

Peningkatan penggunaan herbisida pada sektor pertanian tanpa disadari memiliki dampak negatif bagi sektor perikanan, yakni menimbulkan pencemaran di perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat toksisitas Lethal Concentration 50 (LC50) herbisida dengan bahan aktif parakuat diklorida dengan ikan Nila sebagai bioindikator (hewan uji). Metode penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan ikan Nila sebagai hewan uji, dan menggunakan 5 perlakuan konsentrasi termasuk kontrol dengan 3 kali ulangan (n), parameter yang diuji adalah mortalitas hewan uji, dan penentuan LC50 dengan menggunakan perhitungan  Log–Logistic Model. Penelitian ini dilakukan pada bulan April-Mei 2014, di Laboratorium Reproduksi, Pembenihan dan Pemuliaan Ikan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya, Malang. Hasil penelian menunjukkan bahwa kematian hewan uji tertinggi sebesar 80% yakni pada konsentrasi 24,2 ppm ulangan 1, dan kematian terendah sebesar 0% yakni pada konsentrasi 7,8 ppm ulangan 2 dan 3, dengan hasil hasil LC50 pada konsentrasi 16,95 ppm paparan herbisida dengan bahan aktif parakuat diklorida (toksisitas sedang). Parameter kualitas air seperti suhu, pH dan oksigen terlarut (DO) masih tergolong normal untuk kehidupan ikan. Untuk meminimalisir dampak dari penggunaan herbisida terhadap kehidupan akuatik bisa dengan cara pembuatan bak-bak (kolam) penampungan limbah yang bertujuan untuk pengelolaan air limbah pertanian sebelum masuk ke perairan umum.
KAJIAN PENGOLAHAN DAN DISTRIBUSI AIR MINUM PDAM GIRI MENANG Wardatul Jannah; Itratip Itratip
Jurnal Ilmiah Mandala Education (JIME) Vol 2, No 2 (2016): Jurnal Ilmiah Mandala Education (JIME)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (776.074 KB) | DOI: 10.36312/jime.v2i2.699

Abstract

Pada penelitian ini telah dilakukan kajian terhadap pengolahan dan distribusi air minum di Perusahaan Daerah Air Minum Giri Menang (PDAM Giri Menang). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tahapan pengolahan dan distribusi air minum pada PDAM Giri Menang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa tahapan dalam pengolahan air minum yang telah sesuai dengan Standar Nasional Indonesia yaitu tahap koagulasi, tahap flokulasi, tahap pengendapan (sedimentasi), dan tahap penyerapan air (filtrasi). Proses distribusi air dilakukan setelah melalui tahap pengolahan. Distribusi air disesuaikan dengan daftar penerima distribusi air yang sudah terdaftar pada PDAM Giri Menang
ANALISA PENYEBAB BANJIR DAN NORMALISASI SUNGAI UNUS KOTA MATARAM Wardatul Jannah; ITRATIP ITRATIP
Jurnal Ilmiah Mandala Education (JIME) Vol 3, No 1 (2017): Jurnal Ilmiah Mandala Education (JIME)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1264.062 KB) | DOI: 10.36312/jime.v3i1.60

Abstract

Banjir merupakan masalah tahunan yang dihadapi Pemerintah Kota Mataram. Wilayah kelurahan yang dilewati sungai seringkali terjadi banjir akibat luapan air sungai. Sampah-sampah yang berada di badan sungai ini dapat menghambat aliran air dan memperkecil daya tampung sungai. Penelitian ini dilakukan di Sungai Unus Kota Mataram. Sungai unus melewati beberapa kelurahan padat penduduk di Kota Mataram. Data yang diperoleh dari hasil observasi lapangan akan dijakaji dengan metode deskriftif kualitatif. Berdasarkan kajian yang dilakukan, faktor utama penyebab meluapnya sungai unus adalah penyempitan kapasitas sungai akibat sedimentasi dan pemanfaatan bantaran sungai yang kurang tepat. Pengurangan kapasitas sungai unus terlihat dari hulu sampai hilir.
Program Hutan Kemasyarakatan Berbasis Kearifan Lokal ; Studi Kasus Di Kawasan Hutan Lindung Sesaot Lombok Barat Mukhtar Mukhtar; Wardatul Jannah
JISIP: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol 2, No 1 (2018): Volume 2 Nomor 1 JISIP: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan
Publisher : Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.133 KB) | DOI: 10.36312/jisip.v2i1.612

Abstract

Program Hutan Kemasarakatan (HKm) di Nusa Tenggara Barat (NTB), diujicobakan sejak tahun 1995/1996, di areal kawasan hutan lindung Sesaot seluas 25 ha, dengan penggarap sebanyak 58 orang, dengan pola agroforestry. Pada tahun 1998 kemudian dilakukan evaluasi oleh Departemen Kehutanan. Hasilnya, tingkat keberhasilan mencapai 93 %. Terhadap keberhasilan tersebut, dilakukan perluasan mencapai 211 Ha, sehingga  total luasan areal mencapai 236 ha,  dengan jumlah penggarap mencapai 1.224 kepala keluarga. Dalam perkembangan pelaksanaan program HKm, terjadi sejumlah konflik, baik konflik vertikal antara masyarakat dengan aparat Dinas Kehutanan maupun konflik horizontal antar kelompok-kelompok tani penggarap. Menindaklanjuti konflik tersebut, pemerintah daerah melakukan pengembangan kelembagaan masyarakat berbasis nilai-nilai kearifan lokal yang dikenal dengan istilah awig-awig (aturan lokal pada Suku Sasak) pada tingkat kelompok dan tingkat kawasan. Kenyataan di lapangan, kondisi ekologis kawasan hutan lindung Sesaot mengalami penurunan. Debit Sungai Aik Nyet yang berada di kawasan hutan lindung Sesaot dalam kurun waktu enam tahun (1998-2002) telah terjadi penyusutan debit air sebesar 18,32 m3/detik. Artinya, pelibatan masyarakat melalui program HKm, bertolak belakang dengan kondisi ekologis kawasan hutan. Penelitian ini bertujuan untuk (1) memahami makna program HKm oleh masyarakat; (2) Memahami penerapan Awig-awig mengenai program HKm dan (3) memahami penerapan program HKm. Beberapa teori yang digunakan dalam menganalisa temuan penelitian antara lain teori ekologi manusia dan teori interaksional simbolik. Metode penelitian menggunakan rancangan kualitatif dengan pendekatan studi kasus.  Sumber data atau informan adalah masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan yang termasuk penggarap program HKm dan penggarap HKm non program, juga orang dari luar kawasan hutan yang dianggap relevan. Penentuan informan dilakukan dengan metode snowball sampling dan purposive. Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan, wawancara mendalam, studi dokumentasi dan triangulasi. Sedangkan analisa data dilakukan melalui analisa deskriptif menggunakan model Miles dan Huberman. Pengujian keabsahan data dan informasi, dilakukan dengan metode triangulasi dan pemeriksaan sejawat melalui diskusi. Hasil penelitian; Pertama, makna program HKm oleh masyarakat dipahami sebagai kesempatan untuk memperoleh hak kelola lahan di dalam kawasan hutan untuk kegiatan usaha tani. Akibatnya masyarakat cenderung berprilaku eksploitatif untuk memaksimalkan manfaat ekonomi lahan. Dalam kaitannya dengan fungsi konservasi, terjadi perbedaan pemahaman antara masyarakat dengan Dinas Kehutanan. Masyarakat memaknai konservasi dari keseluruhan vegetasi sebagai kesatuan fungsi ekonomi dan konservasi, sehingga pemanfaatan lahan lebih didominasi oleh tanaman MPTS. Dinas Kehutanan memaknai tanaman pohon untuk pengintegrasian fungsi konservasi guna mendukung manfaat ekonomi. Ke dua, Revitalisasi nilai Awig-awig sebagai aturan pelaksanaan program HKm masih dipandang sebagai simbolisasi nilai lokal. Dalam implementasinya belum efektif untuk mendukung pengintegrasian fungsi konservasi  dan fungsi ekonomi sesuai dengan tujuan program HKm. Dari 12 muatan aturan dalam Awig-awig kawasan, hanya tiga muatan aturan yang dijalankan dan sembilan muatan aturan belum efektif berjalan. Pelanggaran Awig-awig yang sulit ditangani terdiri dari sindikat pencurian kayu, perilaku perambahan hutan, praktek ganti rugi lahan dan penegakan komposisi tanam.Ke tiga, Penerapan program HKm oleh masyarakat belum efektif mendukung pelestarian sumberdaya hutan secara berkelanjutan. Penerapan yang dilakukan masih sebatas pada pelestarian jangka pendek. Hal itu disebabkan karena masyarakat lebih berorientasi pada pemenuhan keinginan, bukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.Berdasarkan hasil penelitian, dirumuskan saran akademis yakni pentingnya kajian lebih lanjut dari beberapa sudut pandang antara lain (i) kesesuaian luas lahan terhadap kecukupan ekonomi rumah tangga; (ii) Kesesuaian pola tanam untuk mendukung integrasi fungsi konservasi dengan fungsi ekonomi, (iii) perumusan model penguatan kelembagaan masyarakat berbasis nilai-nilai kearifan lokal dan pengetahuan ekologi lokal.Saran praktis, yakni (1) aspek tata kelola kawasan; diperlukan inventarisasi ulang tata batas kawasan, mendorong percepatan pemberian izin resmi kepada masyarakat dan melakukan rekonstruksi ulang kawasan yang ditetapkan sebagai lahan kelola HKm; (2) aspek tata kelola usaha; diperlukan intervensi program pengembangan usaha produktif melalui penguatan peran perempuan serta menggeser intensifikasi produksi di dalam kawasan hutan ke intensifikasi produksi di luar kawasan hutan dan (3) aspek tata kelola kelembagaan; untuk kelembagaan masyarakat diperlukan program penguatan kapasitas dan dukungan program untuk penguatan Awig-awig. Bagi kelembagaan pemerintah diperlukan komitmen terutama aparat-aparat yang di lapangan untuk melakukan penegakan hukum secara adil dan tidak bermain ganda  serta dukungan pengakuan formal terhadap Forum Kawasan.
Pengaruh Tingkat Pengetahuan Ibu-Ibu Rumah Tangga Terhadap Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Di Desa Beber Kecamatan Batukliang Kabupaten Lombok Tengah Wardatul Jannah
JISIP: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol 3, No 3 (2019): JISIP: JURNAL ILMU SOSIAL DAN PENDIDIKAN
Publisher : Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.013 KB) | DOI: 10.36312/jisip.v3i3.977

Abstract

Pada penelitian ini dilakukan kajian pengaruh tingakat pengetahuan ibu-ibu rumah tangga terhadap pengelolaan sampah rumah tangga di Desa Beber Kecamatan Batukliang Kabupaten Lombok Tengah. Sampah adalah sisa aktivitas manusia dan alam yang sudah tidak bisa dipakai kembali yang berasal dari, pasar, industri, perhotelan yang menyebabkan pencemaran terahadap lingkungan dan kesehatan. Semakin meningkatnya jumlah penduduk merupakan faktor utama meningkatnya sampah sehingga perlu penanganan sampah yang baik jika tidak ada penanganan khusus maka akan menyebabkan pencemaran lingkungan. Timbulnya masalah sampah di Desa Beber Kecamatan Batukliang Kabupaten Lombok Tengah di duga dipengaruhi oleh beberapa faktor terutama yang akan difokuskan dalam penelitian ini adalah tingkat pengetahuan ibu-ibu rumah tangga terhadap pengelolaan sampah rumah tangga
PROSES PENGOLAHAN SAMPAH PLASTIK DI LEMBAGA GENERASI BINTANG SEJAHTERA Wardatul Jannah
JISIP: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol 3, No 1 (2019): JISIP: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan
Publisher : Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (719.831 KB) | DOI: 10.36312/jisip.v3i1.929

Abstract

Pada penelitian ini telah dilakukan kajian terhadap porses pengolahan sampah Anorganik di Lembaga Generasi Bintang Sejahtera. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pengolahan dan jenis-jenis pengolahan sampah plastik di Lembaga Generasi Bintang Sejahtera. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Proses pengolahan Sampah  Plastik di Lembaga Generasi Bintang Sejahtera ada dua proses yaitu penggilingan dan Pengepresan. Proses pengolahan sampah plastik secara penggilingan melakukan pemilahan (sortir), penggilingan sampah plastik yang sudah dipilah sesuai dengan jenisnya kemudian dilakukan tahap penggiling sampah plastik. sedangkan proses pengolahan dengan penggepres menggunakan mesin pres hidrolik dengan kapasitas 5 ton sampah plastik. Proses pengepresan tujuanya supaya mendapatkan hasil pemadatan sampah plastik sehingga volumenya berkurang dan beratnya tetap.
ANALISA RASIO DEBIT MAKSIMUM DAN MINIMUM (Qmax/Qmin) SUNGAI UNUS KOTA MATARAM Itratip Itratip; Wardatul Jannah
JUPE : Jurnal Pendidikan Mandala Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.335 KB) | DOI: 10.36312/jupe.v1i1.81

Abstract

Banjir merupakan salah satu masalah tahunan yang dihadapi Pemerintah Kota Mataram.Penyempitan kapasitas sungai dapat disebabkan oleh sedimentasi (pengendapan) dan sampah..Penelitian ini dilakukan di Sungai Unus Kota Mataram. Sungai unus melewati beberapa kelurahan padat penduduk di Kota Mataram. Data yang diperoleh akan dianalisis dengan metode statistik.Berdasarkan obeservasi dan analisis data dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan rasio maksimum dan minimum sungai Unus dari 4,04 tahun 2007 menjadi 5,75 pada 2010. Peningkatan rasio debit maksimum dan minimum menyebabkan potensi banjir meningkat
Penghijauan Untuk Menjaga Kualitas Air Dan Meningkatkan Kadar Oksigen Di Desa Peneda Gandor Kecamatan Labuhan Haji Kabupaten Lombok Timur Ahmad Jupri; Muhammad Fayyadh; Gallan Eka Ramadhani; Eka Sunarwidi P; Tapaul Rozi; Wardatul Jannah; Pahmi Husain
Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA Vol 5 No 4 (2022): Oktober-Desember 2022
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.925 KB) | DOI: 10.29303/jpmpi.v5i4.2307

Abstract

Reforestation is the activity of planting on vacant land with the aim that the land can be restored, maintained, and improved the land fertility. The problem related to greening the environment in Penedagandor Village, Labuhan Haji District, East Lombok Regency is how to make people aware of the benefits of greening for the environment and the importance of greening the environment. The purpose of this service is to increase public awareness regarding reforestation to maintain water quality and increase oxygen levels. This service method is doing reforestation by planting trees. The stages of reforestation is carried out through three stages including; Determination of planting coordinates; planting and maintenance activities. Planting is done on the side of the road, in vacant places, or in the form of a field. The closing activity of this community service activity participants was given an understanding of the benefits of reforestation. The trees planted will overcome the pollution that is generated on the highway, and provide an oxygen supply for humans. Reforestation of trees will also maintain the quality of groundwater. The trees will maintain the quality of groundwater with their roots. Groundwater that is guarded by tree roots will look clearer and feel fresher than groundwater that is not around the trees. Service participants are very participative and participate in service activities to completion so that people can understand the benefits and functions of reforestation in the long term, especially in maintaining water quality and increasing oxygen levels.
Program TBS Cerdas Untuk Meningkatkan Kesadaran Anak-anak Akan Pentingnya Menjaga Mata Air dan Lingkungan Sekitar di Desa Tetebatu Selatan Kecamatan Sikur, Lombok Timur Ahmad Jupri; Ersa Maulidiatus Soleha; Lalu Iqbal Aryadifta; Nurul Alany Asyiqin; Eka Sunarwidi P; Tapaul Rozi; Wardatul Jannah; Pahmi Husain
Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA Vol 5 No 4 (2022): Oktober-Desember 2022
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.163 KB) | DOI: 10.29303/jpmpi.v5i4.2315

Abstract

Desa Tetebatu Selatan merupakan salah satu desa yang berada di kawasan Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur. Desa ini merupakan desa yang memiliki banyak mata air karena berada di bawah kaki gunung rinjani, mulai dari yang berskala kecil hingga besar. Pengabdian ini bertujuan untuk mengedukasi anak-anak tentang cara menjaga dan melestarikan mata air dan lingkungan di Desa Tetebatu Selatan, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur. Metode kegiatan pengabdian ini adalah sosialisasi dan edukasi tentang upaya menjaga dan melestarikan mata air serta lingkungan sekitar. Tim pengabdian memberikan materi sosialisasi dan edukasi program TBS Cerdas kemudian diakhiri dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Materi edukasi dan sosialisasi antara lain: (1) Menjaga kebersihan lingkungan dan sekitar kawasan sumber mata air. (2) Meningkatkan pengawasan terhadap air limbah yang dapat mencemari air permukaan dan air tanah. (3) Meningkatkan sosialisasi pencegahan pencemaran air bagi masyarakat. (4) Pembersihan dan penanaman di sumber mata air dilakukan bersama masyarakat. (5) Kegiatan konservasi yang melibatkan siswa-siswa sekolah. Hasil kegiatan pengabdian yaitu adanya peningkatan pemahaman peserta program TBS. Peserta pengabdian sangat antusias dan memberikan pertanyaan kepada tim penyaji sosialisasi program TBS yang berkaitan dengan langkah-langkah konkrit yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari tentang upaya menjaga mata air dan lingkungan sekitar agar tetap lestari dan bersih. Oleh karena itu, peran semua pihak dalam menjaga dan melestarikan mata air sangat diperlukan.