Isalmi Aziz
Program Studi Kimia Fakultas Sains Dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Published : 33 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search
Journal : VALENSI

Kinetika Reaksi Transesterifikasi Minyak Goreng Bekas Isalmi Aziz
Jurnal Kimia Valensi Jurnal Valensi VOLUME 1, NO.1, NOVEMBER 2007
Publisher : Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1716.881 KB) | DOI: 10.15408/jkv.v1i1.209

Abstract

Biodiesel (metil ester) yang dihasilkan dari reaksi transesterifikasi minyak jelantahmerupakan bahan yang sangat potensial untuk menggantikan bahan bakar diesel. Biodieselini diproduksi secara sinambung dalam reaktor alir tangki berpengaduk (RATB). Pereaksiyang digunakan adalah metanol dan katalis KOH. Proses dilakukan dengan kecepatanpengadukan konstan sebesar 800 rpm, perbandingan ekivalen metanol dan minyak tetap1,54 kali stokiometri, dan waktu tinggal 60 menit. Sedangkan suhu dan konsentrasi katalisdivariasikan. Nilai konstanta kecepatan reaksi di tinjau pada kondisi unsteady state RATB.Korelasi konstanta kecepatan reaksi dengan suhu adalah k = 2(107) e-6312,2/Tml/mgrek/menit dan konstanta kecepatan reaksi dengan konsentrasi katalis k =3(10-4) e5,8742.Ckat ml/mgrek/menit. Kondisi proses yang optimal adalah 333 K dankonsentrasi katalis 1 %.
Uji Performance Mesin Diesel Menggunakan Biodiesel Dari Minyak Goreng Bekas Isalmi Aziz
Jurnal Kimia Valensi Jurnal Valensi Volume 1, No.6, Mei 2010
Publisher : Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.393 KB) | DOI: 10.15408/jkv.v1i6.241

Abstract

Biodiesel dari minyak goreng bekas merupakan bahan yang sangat potensial untuk menggantikan bahanbakar solar. Selain harganya murah juga dapat mereduksi limbah. Biodiesel dicampur dengan solardalam perbandingan 0 sampai 100 % dan selanjutnya di uji sifat fisiknya menggunakan metode ASTM.Dari hasil pengujian didapatkan biodiesel 20 % (B20) dan 40 % (B40) memenuhi standar bahan bakarsolar dan selanjutnya diujikan pada mesin diesel dengan menggunakan solar sebagai pembanding.Biodiesel B20 dan B40 mampu memberikan kinerja yang baik untuk digunakan sebagai bahan bakarmesin diesel. Emisi gas yang dihasilkan lebih kecil dibandingkan emisi solar. Hal ini membuktikanbahwa biodiesel adalah bahan bakar ramah lingkungan.
Pembuatan produk biodiesel dari Minyak Goreng Bekas dengan Cara Esterifikasi dan Transesterifikasi Isalmi Aziz; Siti Nurbayti; Badrul Ulum
Jurnal Kimia Valensi JURNAL Valensi Volume 2, No. 3, November 2011
Publisher : Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.482 KB) | DOI: 10.15408/jkv.v2i3.115

Abstract

Biodiesel merupakan bahan yang sangat potensial untuk menggantikan bahan bakar solar. Bahan bakunya dapat diperbaharui dan bersifat ramah lingkungan. Minyak goreng bekas dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan biodiesel. Kadar asam lemak bebas yang tinggi dalam minyak goreng bekas memerlukan pretreatment (esterifikasi) dalam proses pembuatan biodiesel. Sehingga dalam penelitian ini dilakukan dua tahap reaksi yaitu esterifikasi dan dilanjutkan dengan tahap transesterifikasi. Pada tahap esterifikasi asam lemak bebas dapat diturunkan kadarnya dari 2,5 % menjadi 1,1%. Tahap transesterifikasi didapatkan yield biodiesel sebesar 88%. Karakteristik biodiesel yang dihasilkan yaitu: viskositas dan densitas pada suhu 40oC sebesar 3,2 cSt dan 0,85 g/mL, kadar air 0,002%, indeks setana 51, titik nyala 176oC, dan titik tuang 9oC. Kata kunci: Biodiesel, minyak goreng bekas, esterifikasi, transesterifikasi
Uji Karakteristik Biodiesel yang dihasilkan dari Minyak Goreng Bekas Menggunakan Katalis Zeolit Alam (H-Zeolit) dan KOH Isalmi Aziz; Siti Nurbayti; Arif Rahman Hakim
Jurnal Kimia Valensi Jurnal Valensi Volume 2, No.5, November 2012
Publisher : Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.687 KB) | DOI: 10.15408/jkv.v2i5.296

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karaketristik biodiesel yang dihasilkan dari minyak goreng bekas menggunakan katalis H-Zeolit dan KOH. Biodiesel dibuat dengan mereaksikan minyak goreng bekas dan metanol dalam perbandingan 4:1 (volum) dan suhu 60 oC. Biodiesel yang dihasilkan dengan menggunakan katalis KOH mempunyai densitas 0,85 g/mL dan viskositas 3,09 cSt. Senyawa kimia yang dominan dalam biodiesel adalah metil heksadekanoat (29.90% area), 9-octadecenoic acid (Z)-metil ester (55.80% area). Sedangkan biodiesel yang menggunakan katalis H-zeolit mempunyai densitas 0,78 g/mL dan viskositas 0,35 cSt. Senyawa kimianya adalah metil heksadekanoat (10,85% area) dan 9-octanoic acid (Z)-metil ester (11,97% area). Biodiesel menggunakan katalis KOH memenuhi syarat kualitas biodiesel menurut SNI.
PEMBUATAN BIODIESEL DARI MINYAK GORENG BEKAS DALAM REAKTOR TANGKI ALIR BERPENGADUK Isalmi Aziz
Jurnal Kimia Valensi Jurnal valensi Volume 1, No.2, Mei 2008
Publisher : Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (43.034 KB) | DOI: 10.15408/jkv.v1i2.257

Abstract

Telah dilakukan penelitian pembuatan biodiesel dari minyak goreng bekas dan metanol denganKOH sebagai katalis. Biodiesel diproduksi dalam reaktor tangki alir berpengaduk (RATB) padasuhu 60 0C, kecepatan pengadukan 800 rpm dan waktu tinggal 60 menit. Biodiesel yang dihasilkanmemiliki sifat fisik sebagai berikut : spesik grafiti 0,8898 ; viskositas 5,6263 CSt ; titik tuang 33,4oF ; titik nyala 253 oF ; Sisa karbon residu 2,0827 %; warna 1,5 ; kandungan air 0,16 % dan nilaikalor 9427 kal/g. Secara umum sifat fisik biodiesel memenuhi standar bahan bakar solar.Disimpulkan bahwa RATB dapat digunakan sebagai reaktor untuk memproduksi biodiesel. Sumber energi utama yang digunakan di berbagai negara saat ini adalah minyak bumi. Dengan banyaknya eksploitasi yang dilakukan, maka keberadaannya semakin terancam dan harganya akan meningkat secara tajam. Hal ini disebabkan minyak bumi merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Dari berbagai jenis produk olahan minyak bumi yang digunakan sebagai bahan bakar, yang paling banyak digunakan adalah bahan bakar diesel. Hal ini disebabkan karena kebanyakan alat transportasi, alat pertanian, peralatan berat dan penggerak generator pembangkit listrik menggunakan bahan bakar ini. Berbagai usaha telah dilakukan untuk mencari energi aternatif pengganti bahan bakar diesel. Biodiesel merupakan bahan yang sangat potensial digunakan sebagai penggantinya. Hal ini disebabkan karena bahan bakunya yang berasal dari minyak nabati dapat diperbaharui, dapat dihasilkan secara periodik dan mudah diperoleh. Selain itu harganya relatif stabil dan produksinya mudah disesuaikan dengan kebutuhan. Dari segi lingkungan biodiesel juga merupakan bahan yang biodegradability dan emisi polutannya relatif kecil, karena kadar hidrokarbon yang tidak terbakar dan CO-nya lebih rendah, serta bebas emisi SO2 bila dibakar (Noureddini, H, and Zhu, D., 1997) Viskositas yang tinggi dari minyak nabati disebabkan karena adanya percabangan pada rantai karbonnya yang cenderung panjang. Untuk mengurangi viskositasnya, minyak nabati dapat direaksikan dengan alkohol rantai pendek menghasilkan ester (biodiesel) dan gliserol. Untuk mempercepat reaksi dapat ditambahkan katalis asam, basa atau penukar ion. Katalis basa memiliki banyak keunggulan dibandingkan katalis asam dan penukar ion, diantaranya konversi yang dihasilkan lebih besar dan suhu operasi lebih rendah (Swern, 1982). Alkohol rantai pendek yang dapat digunakan adalah metanol dan etanol. Metanol memiliki reaktifitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan etanol. Untuk mendapatkan hasil yang sama, jumlah etanol yang dibutuhkan lebih besar dari jumlah metanol yaitu sekitar 1,4 kali jumlah metanol. Dari segi biaya, harga metanol lebih murah dibandingkan etanol. Kelemahan metanol terletak pada keamanan penggunaannya. Metanol bersifat beracun dan dapat menyebabkan perih pada mata. Untuk mengidentifikasi kualitas biodiesel yang dihasilkan, perlu dilakukan pengujian sifat-sifat fisisnya. Uji sifat fisis ini perlu dilakukan untuk menghindari kerusakan alat dan kerugian lain yang mungkin timbul akibat penggunaan bahan bakar ini. Biodiesel yang dihasilkan nanti diarahkan untuk menggantikan bahan bakar solar, karena bahan bakar ini digunakan langsung oleh masyarakat sehingga nantinya diharapkan masyarakat dapat memproduksi sendiri. Untuk itu sifat- sifat biodiesel yang dihasilkan disesuaikan dengan standar bahan bakar solar. Salah satu kendala yang dihadapi dalam penggunaan biodiesel sekarang ini adalah harganya yang lebih mahal dari bahan bakar solar. Untuk itu diperlukan cara untuk menekan biaya produksi biodiesel. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menggunakan bahan baku yang berasal dari minyak goreng bekas. Minyak ini secara ekonomis sudah tidak diperhitungkan lagi dan cenderung dibuang sebagai limbah karena selain merusak citra makanan yang diolah juga dapat merusak kesehatan manusia. Lestari (1997) melakukan analisa terhadap minyak goreng bekas yang akan di proses menjadi biodiesel. Dari analisa yang dilakukan didapatkan asam lemak penyusun minyak goreng bekas adalah asam palmitat 0,9194 %, asam oleat 0,0437 %, asam margarat 40,3816 %, asam stearat 0,0943 % dan asam linoleat 58,5611 %. Berbagai penelitian sudah dilakukan untuk mendapatkan biodiesel dari minyak goreng bekas. Penelitian selama ini hanya menggunakan proses secara batch. Dari segi ekonomi proses ini kurang menguntungkan karena biaya investasi lebih mahal dan membutuhkan volume reaktor yang besar. Selain itu juga membutuhkan waktu untuk start-up dan shut-down proses (Darnoko dan Cheryan, 2000). Untuk itu perlu dilakukan proses secara sinambung sehingga dapat mereduksi biaya, volume reaktor dan waktu proses (Westertern, et all, 1984).
Optimasi Pembuatan Komposit dari Nanoclay Polistiren Eka Puspa Sari; Saeful Rohman; Isalmi Aziz
Jurnal Kimia Valensi Jurnal Valensi Volume 3, No.2, November 2013
Publisher : Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (714.612 KB) | DOI: 10.15408/jkv.v3i2.510

Abstract

Abstrak   Pengembangan teknologi dapat dilakukan dengan rekayasa material, salah satunya pada pembuatan komposit. Pada pengembangan komposit berbasis polistiren nanoclay, faktor utama yang menentukan keberhasilan dalam peningkatan sifat material adalah pendispersian nanoclay dalam matrik polimer yaitu masuknya molekul polimer diantara lapisan silika sehingga nanoclay akan terdistribusi secara acak kedalam matrik polimer. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan komposisi yang terbaik dari komposit nanoclay polistiren dan menentukan karakteristiknya. Parameter yang divariasikan adalah komposisi nanoclay (1%, 3% dan 5%) dan lamanya putaran pada mesin ekstruder (50, 80 dan 120 rpm). Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi nanoclay 3% pada kecepatan screw 50 rpm memiliki nilai terbaik pada uji kuat tarik, yaitu sebesar 55,15 MPa dengan nilai d-spacing (berdasarkan uji XRD) sebesar 4,6nm. Hasil pengamatan dengan menggunakan SEM menunjukan telah terbentuk interkalasi pada komposit nanoclay- polistirena.   Kata kunci : Nanoclay, komposit, polistiren, XRD, SEM   Abstract   Technology development can be done with materials engineering , one of them in the manufacture of composites . On the development of polymer -based nanoclay composites, the main factor that determines the success in improving the material properties are dispersing of nanoclay in the polymer matrix , namely the inclusion of the silica layer between the polymer molecules, so nanoclay will be randomly distributed into the polymer matrix . This study aims to get the best composition of nanoclay composite polystyrene and determine its characteristics . The parameters varied are the nanoclay composition ( 1 % , 3 % and 5 % ) and the length of the extruder machine in the range of (50 , 80 and 120 rpm). The results showed that 3 % nanoclay concentration at 50 rpm screw speed has the best value on the tensile strength test, which amounted to 55.15 MPa with ad - spacing values ( based on XRD test ) of 4.6 nm . Using SEM observations showed intercalation was formed on polystyrene - nanoclay composites   Keywords : Nanoclay , composites , polystyrene, XRD, SEM
Esterifikasi Asam Lemak Bebas Dari Minyak Goreng Bekas Isalmi Aziz; Siti Nurbayti; Badrul Ulum
Jurnal Kimia Valensi Jurnal Valensi Volume 2, No.2, Mei 2011
Publisher : Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.061 KB) | DOI: 10.15408/jkv.v2i2.201

Abstract

Minyak goreng bekas dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan biodiesel. Kadar asam lemakbebas yang tinggi dalam minyak goreng bekas menyebabkan perlunya dilakukan pretreatmentterhadap bahan baku. Asam lemak bebas dapat diturunkan kadarnya dengan mereaksikan minyakgoreng bekas dengan metanol (reaksi esterifikasi). Pada reaksi esterifikasi didapatkan kondisi optimal: waktu reaksi 2,5 jam, suhu 60 oC dan konsentrasi katalis asam sulfat 0,25 %. Pada kondisi ini asamlemak bebas dapat diturunkan kadarnya dari 2,5 % menjadi 1,1%.
Pembuatan Katalis Asam (Ni/γ-Al2O3) dan Katalis Basa (Mg/γ-Al2O3) untuk Aplikasi Pembuatan Biodiesel dari Bahan Baku Minyak Jelantah Savitri Savitri; Agung Setia Nugraha; Isalmi Aziz
Jurnal Kimia Valensi Jurnal Kimia VALENSI Volume 2, No. 1, Mei 2016
Publisher : Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (713.582 KB) | DOI: 10.15408/jkv.v2i1.3104

Abstract

Biodiesel is an alternative energy fuel a substitute for diesel oil produced from vegetable oil or animal fat which have the advantage easily used, they are biodegradable, not toxic and sulfur free. This research aims to do process of prosucing biodiesel using acid catalysts (Ni/γ-Al2O3) for a esterification process and base catalyst (Mg/γ-Al2O3) for transesterification  process with the variation of catalyst concentration Ni/γ-Al2O3 (0.5%; 0.75%; 1% and 2%) and the time (60 minutes, 120 minutes, and 180 minutes). Research of methodology starting to the process impregnation Ni and Mg metal into a buffer γ-Al2O3, characterization a catalyst with XRD, FTIR, and the SAA, and the esterification process to lower levels of FFA and transesterification process for making it biodiesel. The characterization with X-RD does not appear a new peak, only just occurred a shift peak, and declines intensity of Ni/γ-Al2O3 and Mg/γ-Al2O3. The analysis result of the SAA, a decline in the surface area (the decline in active side of catalyst) suspected the process impregnation not run perfect because Ni and Mg metal only distributed on the surface of buffer pore. The results of the FTIR analysis does not occur the addition of acidity and alkalinity. The steady of catalyst concentration from esterification process is 1% within 120 minutes produce levels of FFA 6.85%.  Keywords: Biodiesel, esterification, impregnation, used cooking oil, transesterificationDOI : http://dx.doi.org/10.15408/jkv.v2i1.3104
Penggunaan Zeolit Alam sebagai Katalis dalam Pembuatan Biodiesel Isalmi Aziz; Siti Nurbayti; Arif Rahman
Jurnal Kimia Valensi Jurnal Valensi Volume 2, No.4, Mei 2012
Publisher : Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.493 KB) | DOI: 10.15408/jkv.v2i4.268

Abstract

Biodiesel merupakan energi alternatif yang dapat menggantikan bahan bakar diesel. Biodiesel telahdibuat melalui reaksi transestrifikasi minyak goreng bekas dengan bantuan katalis. Penggunaan zeolitalam sebagai katalis dapat memudahkan separasi biodiesel dari produk samping (gliserol). Pembuatanbiodiesel dilakukan pada suhu 60oC, perbandingan minyak dan metanol 4:1 (volum) denganmemvariasikan waktu reaksi dan konsentrasi katalis zeolit. Hasil penelitian menunjukan bahwa waktureaksi 5 jam dan konsentrasi katalis zeolit 1% memberikan yield biodiesel terbesar yaitu 12%.
Upgrading Crude Biodiesel dari Minyak Goreng Bekas menggunakan Katalis H-Zeolit Isalmi Aziz; Muhammad Akbar Tafdila; Siti Nurbayti; Lisa Adhani; Wahyu Permata
Jurnal Kimia Valensi Jurnal Kimia VALENSI Volume 5, No. 1, May 2019
Publisher : Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (743.983 KB) | DOI: 10.15408/jkv.v5i1.10493

Abstract

Crude biodiesel hasil transesterifikasi minyak goreng bekas dapat ditingkatkan kualitasnya melalui proses catalytic cracking menggunakan zeolit alam. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi optimum proses catalytic cracking dan sifat fisika dan kimia biofuel yang dihasilkan. Reaksi dijalankan dalam reaktor dengan memvariasikan waktu (1, 2 dan 3 jam), konsentrasi katalis (3, 5 dan 7 %), ukuran partikel katalis (180, 250 dan 630μm) dan suhu reaksi (325, 350 dan 375°C). Kondisi optimum proses catalytic cracking crude biodiesel didapatkan pada : waktu  3 jam, konsentrasi katalis 7%, ukuran partikel katalis 180 μm dan suhu reaksi 375°C. Biofuel yang dihasilkan mengandung 6,26% fraksi bensin(C5-C11); 17,6% kerosin (C12-C15), 47,73% biodiesel (C16-C20) dan asam lemak 28,4%. Analisis sifat fisik menunjukan densitas 0,9631g/mL, titik tuang 12°C, titik nyala  49°C dan angka oktan 72,6. Kata kunci: catalytic cracking, crude biodiesel, angka oktan, biofuel. Crude biodiesel from transesterification of used cooking oil can be improved in quality through catalytic cracking using natural zeolite. This study aims to determine the optimum conditions for catalytic cracking and the physical and chemical properties of biofuels produced. The reaction was carried out in the reactor by varying the time (1, 2 and 3 hours), catalyst concentration (3, 5 and 7%), catalyst particle size (180, 250 and 630 μm) and reaction temperature (325, 350 and 375°C) . The optimum conditions for the catalytic cracking crude biodiesel process were obtained at: 3 hours, 7% catalyst concentration, catalyst particle size 180 μm and reaction temperature 375 ° C. The resulting biofuel contains 6.26% gasoline fraction (C5-C11); 17.6% kerosene (C12-C15), 47.73% biodiesel (C16-C20) and fatty acids 28.4%. Physical properties analysis showed density of 0.9631g/mL, pour point 12°C, flash point 49°C and octane number 72.6. Keywords: Catalytic cracking, crude biodiesel, octane number, biofuel.