Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Analisis Ekspresi CD133 dan CXCR4 dengan Kejadian Metastasis pada Osteosarkoma Nunik Hapsari Susilowati; Sjahjenny Mustokoweni
Majalah Patologi Indonesia Vol 25 No 1 (2016): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.453 KB)

Abstract

Latar belakang Osteosarkoma memiliki prognosis buruk oleh karena kejadian metastasis yang tinggi dan kemoresisten. Cancer stem cell dapat diidentifikasi menggunakan penanda tumor CD133. Cancer stem cell osteosarkoma mem-punyai potensi pertumbuhan yang tinggi dan berperan terhadap kejadian metastasis pada paru. Pada beberapa penelitian menunjukkan bahwa CXCR4, reseptor kemokin dari keluarga gen GPCR, telah terbukti berperan penting dalam metastasis cancer stem cell. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan antara ekspresi CD133 dan CXCR4 pada osteosarkoma dengan kejadian metastasis, serta hubungan ekspresi CD133 dan CXCR4 pada osteosarkoma. Metode Pada penelitian ini dilakukan observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah blok parafin dari penderita osteosarkoma yang diagnosa secara histopatologi di Laboratorium Patologi Anatomik RSUD Dr. Soetomo selama tahun2007-2013 terdiri atas 24 blok parafin, 9 diantaranya dengan kejadian metastasis. Data metastasis diperoleh dari rekam medik. Pemeriksaan imunohistokimia dengan menggunakan rabbit polyclonal antibody CD133 dan CXCR4 rabbit polyclonal antibody. Derajat ekspresi CD133 dan CXCR4 dinilai berdasarkan jumlah sel tumor yang menunjukkan imunoreaktivitas secara semikuantitatif. Ekspresi CD133 dan CXCR4 pada kejadian metastasis pada osteosarkoma dianalisis dengan uji chi-square dan uji korelasi Spearman dengan tingkat kemaknaan p
Perbedaan Ekspresi E-cadherin dan MMP-9 pada Adeno-karsinoma Prostat Bermetastasis dan Non Metastasis ke Tulang Aniek Meidy Utami; Sjahjenny Mustokoweni; Anny Setijo Rahaju
Majalah Patologi Indonesia Vol 25 No 1 (2016): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.592 KB)

Abstract

Latar belakang Kanker prostat merupakan keganasan yang paling banyak dijumpai pada laki-laki di Amerika Serikat, dengan jumlah sekitar 29% dari semua kanker dan menjadi penyebab 10% kematian di populasi 15% di antaranya sudah memiliki metastasis saat diagnosis. E-cadherin berperan penting dalam adhesi antar sel epitel dan mekanisme arsitekstur jaringan sedangkan MMP-9 berperan dalam menciptakan lintasan untuk migrasi sel tumor. E-cadherin dan MMP-9 diduga sebagai molekul utama yang berperan dalam proses invasi dan metastasis. Tujuan penelitian ini untuk membuktikan adanya peran E-cadherin dan MMP-9 dalam proses metastasis tulang pada adenokarsinoma prostat. Metode Penelitian ini menggunakan desain potong lintang terhadap sediaan adenokarsinoma prostat berasal dari prostatektomi radikal dan prostatektomi transurethral di RSUD Dr. Soetomo Surabaya periode Januari 2009-Mei 2012. Kemudian dicari data bone scan untuk melihat metastasis ke tulang. Dari data tersebut dilakukan review pemeriksaan histopatologik dan imunohistokimia dengan antibodi E-cadherin dan MMP-9. Perbedaan ekspresi E-cadherin dan MMP-9 kejadian metastasis tulang dianalisis dengan uji Mann-Whittney, sedangkan hubungan antara keduanya diuji dengan Spearman. Hasil Hasil penelitian tidak menunjukkan adanya perbedaan ekspresi E-cadherin (p>0,05), menunjukkan perbedaan yang bermakna ekspresi MMP-9 pada adenokarsinoma prostat non metastasis dengan yang mengalami metastasis(p
Analisis Ekspresi CD117 dan Ki-67 pada Tumor Phyllodes Benign, Borderline dan Malignant Fetty Fatimah; Sjahjenny mustokoweni; Alphania Rahniayu
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No 1 (2018): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.897 KB)

Abstract

Latar belakangTumor phyllodes adalah neoplasma stromal-epitelial yang jarang ditemui, secara histologis dibedakan menjadi benign, borderline, malignant. Patogenesis tumor phyllodes belum jelas. CD117 merupakan reseptor tirosin kinase yang terletak di membrane sel dan berperan dalam proses patogenesis suatu keganasan, sedangkan Ki-67 terlibat dalam jalur proliferasi sel. Tujuan penelitian ini menganalisis adanya perbedaan ekspresi CD117 dan Ki-67 pada tumor phyllodes yang benign, borderline, malignant.MetodePenelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Masing-masing sepuluh sampel tumor phyllodes benign,borderline dan malignant diambil acak dari arsip histopatologi RSUD Dr. Soetomo Surabaya periode Januari 2009-Juli 2014, lalu dilakukan pulasan immunohistokimia dengan antibodi poliklonal CD117 dan monoklonal Ki-67. Perbedaan ekspresi CD117 dan Ki-67 pada tumor phyllodes benign, borderline dan malignant dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis dan Mann-whitney. Korelasi antara ekspresi CD117 dan Ki-67 pada tumor phyllodes dianalisis menggunakan uji Spearman.HasilUji Kruskal-Wallis ekspresi CD117 antara tumor phyllodes benign dan malignant menunjukkan perbedaan bermakna. Uji Mann-Whitney ekspresi Ki-67 antara tumor phyllodes benign, borderline, dan malignant menunjukkan perbedaan bermakna, sedangkan uji Spearman antara ekspresi CD117 dan Ki-67 menunjukkan perbedaan bermakna.KesimpulanEkspresi CD117 dan Ki-67 dapat digunakan untuk membedakan tumor phyllodes benign, borderline, dan malignant.
Oral Contraception Use in Benign Breast Tumor Patients in Dr. Soetomo General Academic Hospital Ayu Maghfira Nida Putri; Sjahjenny Mustokoweni; Ernawati Ernawati
Health Notions Vol 3, No 12 (2019): December
Publisher : Humanistic Network for Science and Technology (HNST)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/hn31202

Abstract

The growth of breast tumors is influenced by estrogen and progesterone hormones. One source of this hormone is hormonal contraception, including oral contraception which still in demand by Indonesian women. This study wants to identify oral contraception use in patients with benign breast tumors. This used descriptive study with a retrospective cross-sectional design. Samples were taken using the total sampling method in patients with benign breast tumors according to ICD 10 D-24 which was confirmed by FNAB examination at the POSA Dr. Soetomo General Academic Hospital between 2015-2017. Fifty three case of benign breast tumor were found with dominant characteristics at the age of group 40-49 years old (47.2%), had a breastfeeding history (50.9%), multiparous woman(64.2%), mean of menarche age at 13.28 years old and fertile periode women (83.0%). The most common type of benign tumors found were fibrocystic change. Patients who used oral contraceptives were 24.5% with an average length of use for 8 years 2 months, while another 75.5% used non-hormonal contraception or did not use any contraception. So the conclusion is majority of patients with benign breast tumors do not use oral contraception. Keywords: benign breast tumor; oral contraception; estrogen
Clinical Features in Metastatic Bone Disease with and without Pathological Fractures: A Comparative Study Putu Garry; Mouli Edward; Rosy Setiawati; Sjahjenny Mustokoweni; Ferdiansyah Mahyudin
Health Notions Vol 3, No 10 (2019): October
Publisher : Humanistic Network for Science and Technology (HNST)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.203 KB) | DOI: 10.33846/hn31001

Abstract

Background: Pathological fracture complications such as impaired clinical features is suspected to increase the mortality in MBD. In Indonesia, the habit of delayed seeking of medical treatment was common and potentially led to pathological fracture. Aim: This study compared the clinical features between MBD with and without pathological fracture. Methods: This was a retrospective study of MBD at Dr. Soetomo General Hospital in 2011-2015. We compared the clinical features by pain in Visual Analog Scale (VAS); general health presentation represented by laboratory findings; and the history of non-medical treatments. Results: 64 patients had MBD were included in this study. 37 (57.8%) of them presented with pathological fractures, and 27 (42.2%) without. Pain was the most common chief complaint (76.5%). No significant difference found between the MBD with and without pathological fracture in all variables (p=0.122; p=0.64; p=0.823; p=0.417, p=1.000 for VAS, hemoglobin, albumin, calcium, and history of non-medical treatment respectively). This probably associated with the therapy and a variety of primary tumors underlying the MBD. However, 6 out of 10 patients with history non-medical treatment presented with fractures. Conclusion: There's no significant difference in clinical features of MBD from both groups, while those with fractures had worse conditions. Keywords: Metastatic bone disease, Pathological fracture, Clinical features
Correlation Between IFNγ+ and CTLA-4+ Tumor Infiltrating Lymphocytes In Luminal And Non-Luminal Breast Carcinoma Irene Lingkan Parengkuan; Sjahjenny Mustokoweni; Nila Kurniasari
Qanun Medika - Jurnal Kedokteran FK UMSurabaya Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1539.508 KB) | DOI: 10.30651/jqm.v3i2.2778

Abstract

ABSTRACT The role of tumor infiltrating lymphocytes (TIL) in breast carcinoma depends on the molecular subtype, especially the expression of the estrogen receptor. A greater mutation load in the non-luminal subtype leads to continuous activation of the immune system resulting in exhausted T lymphocytes. Observational research with a cross-sectional approach was conducted on 40 formalin fixed paraffin-embedded tissue from breast carcinoma at the Anatomical Pathology Laboratory of Dr. Soetomo General Hospital Surabaya during January 2017 -  December 2018. Samples were divided into two groups based on their status of ER expression. The parameter was a positive percentage of TIL immunoreactivity against IFNγ and CTLA-4 antibodies. Percentage of IFNγ+ TIL is higher in the luminal subtype (p =0.001), whereas the percentage of CTLA-4+ TIL is higher in the non-luminal (p =0.001). These expressions were significantly correlated with the molecular subtype of breast carcinoma (p=0.001). A significant correlation between IFNγ+ and CTLA-4+ TIL were found (rs=-0.350, p=0.027). Exhausted T lymphocytes express some inhibitor molecules such as CTLA-4. CTLA-4 (Cytotoxic T-Cell Lymphocyte Associated Protein-4) suppresses immune system function including the activity of IFN-γ as an important molecule in anti-tumor immunity and forms an immunosuppressive and pro-tumor microenvironment. Different level of expressions of IFNγ+ (p=0.001) and CTLA-4 + (p=0.001) TIL were proven to be related to the molecular subtype of breast carcinoma (rs=-0.683, p=0.001; rs=0,501, p=0.001, respectively). The negative correlation between IFNγ+ and CTLA-4+ TIL shows the role of CTLA-4 as an inhibitory molecule to the immune system (rs=-0.350, p=0.027).Keywords : tumour infiltrating lymphocytes, IFNγ, CTLA-4, breast carcinoma,  luminal molecular subtypeCorrespondence to: lingkan.parengkuan@gmail.com ABSTRAK Peran tumour infiltrating lymphocytes (TIL) pada karsinoma payudara berhubungan erat dengan subtipe molekuler, terutama ada atau tidaknya ekspresi reseptor estrogen. Beban mutasi yang besar pada subtipe non-luminal menyebabkan pengaktifan sistem imun terjadi terus menerus dengan hasil akhir terbentuknya subset limfosit T yang kelelahan. Penelitian observasional analitik dengan pendekatan potong lintang ini menggunakan sampel 40 blok parafin dari penderita karsinoma payudara di Laboratorium Patologi Anatomi RSUD Dr. Soetomo Surabaya periode 1 Januari 2017 – 31 Desember 2018 yang dibagi menjadi 2 kelompok berdasarkan ada atau tidaknya ekspresi reseptor estrogen. Parameter penilaian adalah jumlah persentase TIL area tumor invasif yang terpulas positif dengan antibodi IFNγ dan CTLA-4. Ekspresi IFNγ+ TIL didapatkan lebih tinggi pada subtipe luminal (p=0,001), sedangkan ekspresi CTLA-4+ TIL didapatkan lebih tinggi pada subtipe non-luminal (p=0,001). Analisis statistik menunjukkan adanya korelasi signifikan antara ekspresi IFNγ+ TIL dengan CTLA-4+ TIL (rs=-0,350, p=0,027). Salah satu sifat dari sel limfosit T kelelahan adalah mengekspresikan molekul inhibitor sistem imun antara lain CTLA-4 (Cytotoxic T-Cell Lymphocyte Associated Protein-4). CTLA-4 akan menekan fungsi sistem imun dan berdampak pada penurunan aktivitas IFN-γ yang merupakan salah satu molekul penting dalam imunitas anti-tumor sehingga terbentuklah lingkungan mikro yang imunosupresif dan pro-tumor. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan ekspresi IFNγ+ TIL (p=0,001) dan CTLA-4+ TIL (p=0,001) pada kedua kelompok yang secara bermakna berhubungan dengan subtipe molekuler karsinoma payudara (secara berurutan mendapatkan nilai (rs=-0,683, p=0,001 dan rs=0,501, p=0,001). Korelasi negatif antara IFNγ+ TIL dengan CTLA-4+ TIL menunjukkan adanya peran CTLA-4 sebagai molekul inhibisi terhadap sistem imun (rs=-0,350, p=0,027).Kata kunci                  : tumour infiltrating lymphocytes, IFNγ, CTLA-4, karsinoma payudara, subtipe molekuler luminalKorespondensi            :lingkan.parengkuan@gmail.com
Skrining Kanker Serviks dengan Pemeriksaan Pap Smear di Puskesmas Tanah Kali Kedinding Surabaya dan Rumah Sakit Mawadah Mojokerto Gondo Mastutik; Rahmi Alia; Alphania Rahniayu; Nila Kurniasari; Anny Setijo Rahaju; Sjahjenny Mustokoweni
Majalah Obstetri dan Ginekologi Vol. 23 No. 2 (2015): Mei - Agustus 2015
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.563 KB) | DOI: 10.20473/mog.V23I22015.54-60

Abstract

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi lesi prekanker serviks dengan cara melakukan skrining kanker serviks menggunakan pemeriksaan Pap smear.Bahan dan Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan metode pendekatan cross sectional yang dilakukan pada 140 wanita, terdiri dari 90 orang dari Puskes-mas Tanah Kali Kedinding Surabaya, dan 50 orang dari Rumah Sakit Mawadah Mojokerto, dengan usia 20-70 tahun. Pemeriksaan spesimen sitologi serviks dengan pengecatan Papaniculaou dan klasifikasi hasil pemeriksaaan sitologi berdasar-kan klasifikasi Papaniculaou dan sistim Bethesda. Pemeriksaan inspeksi visual asam asetat (IVA) adalah metode lain untuk skrining kanker serviks dilakukan dengan mengoleskan asam asetat 5% pada area serviks dan melakukan pengamatan satu menit kemudian.Hasil: Hasil pemeriksaaan Pap smear menunjukkan Papaniculaou kelas I (sama dengan normal pada klasifikasi sistim Bethesda) yaitu 12.1%, kelas II (sama dengan NILM pada klasifikasi sistim Bethesda) yaitu 86, 4%, dan kelas III (sama dengan LSIL pada klasifikasi sistim Bethesda) yaitu 1,4%. Hasil pemeriksaan IVA menunjukkan 6,43% positif dan 93,57% negatif. Hasil pemeriksa-an IVA positif terdapat pada 9/140 orang yang merupakan proses keradangan dan infeksi, bukan merupakan lesi prekanker.Simpulan: Prevalensi lesi prekanker yaitu 1,4%. Pemeriksaan IVA menunjukkan hasil positif semu yang disebabkan oleh proses radang atau infeksi pada serviks. 
Cleaved caspase-3 sebagai Uji Apoptosis pada Kanker Serviks IIB Tipe Sel Skuamosa yang Mendapat Kemoterapi Neoadjuvan Cisplatin Andra Kusuma Putra; Brahmana Askandar; Sjahjenny Mustokoweni
Majalah Obstetri dan Ginekologi Vol. 23 No. 1 (2015): Januari - April 2015
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.878 KB) | DOI: 10.20473/mog.V23I12015.22-27

Abstract

Tujuan: mencari peningkatan ekspresi cleaved caspase-3 pada pasien kanker serviks IIB tipe sel skuamosa sesudah pemberian kemoterapi neoadjuvan cisplatin dan mencari kapan waktu yang tepat untuk mendeteksi apoptosis menggunakan cleaved caspase-3. Bahan dan Metode: Jenis penelitian analitik observasional berpasangan. Dilakukan pada penderita kanker serviks IIB tipe sel skuamosa berdasarkan kriteria FIGO yang berobat di POSA RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Penelitian dilakukan mulai bulan Mei 2014. Sebelum dilakukan terapi semua penderita diambil biopsi serviks. Kemudian penderita diberikan cisplatin 50mg/m2/minggu Diambil biopsi serviks setelah diberikan kemoterapi ke 1 dan ke 4 (maksimal 8 jam setelah kemoterapi, sampel kedua). Sampel diperiksakan imunohistokimia cleaved caspase 3. Dilakukan penghitungan ekspresi cleaved caspase 3 di bawah mikroskop dengan perbesaran 400x pada 10 lapang pandang. Pengujian statistik dilakukan dengan nilai kemaknaan p<0,05.Hasil: Rata-rata ekspresi cleaved caspase 3 sebelum kemoterapi adalah 1,46± 1,854. Setelah kemoterapi ke 1 didapatkan rata- rata 10,77± 3,655.Setelah kemoterapi ke 4 didapatkan rata- rata 12,77± 5,703. Pada pemeriksaan didapatkan ekspresi cleaved caspase 3 setelah pemberian kemoterapi lebih meningkat dibandingkan sebelum pemberian kemoterapi (p<0,01), sedangkan ekspresi cleaved caspase 3 setelah kemoterapi ke 1 dan ke 4 tidak didapat-kan perbedaan bermakna (p=0,882).Simpulan: Pemberian kemoterapi terbukti memberikan efek peningkatan ekspresi cleaved caspase-3. Sehingga cleaved caaspase-3 dapat dijadikan sebagai salah satu uji apoptosis pada efek kemoterapi terhadap sel kanker.
Genotype of human papilloma virus in invasive cervical carcinoma at Dr. Soetomo Hospital Surabaya Markus Kore; Gondo Mastutik; Sjahjenny Mustokoweni
Majalah Obstetri dan Ginekologi Vol. 25 No. 2 (2017): August
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.674 KB) | DOI: 10.20473/mog.V25I22017.33-40

Abstract

Objectives: To identify the variants of genotype HPV that most often found in ICC at Dr Soetomo Hospital Surabaya.Materials and Methods: This was an explorative study with cross sectional approach. Specimens used were 30 formalin fix parrafin embedded from squamous cell carcinoma (SCC), adenocarcinoma (AD) dan adenosquamous carcinoma (AS) cervival cancer parients at Dr Soetomo Hospital Surabaya around Januari-Desember 2013, then used for DNA virus extraction and continued for PCR and HPV genotyping.Result : The result of HPV genotyping showed 10 positives from SCC, 6 positives and 4 negatives from AD, and 9 positives and 1 negative from AS. HPV infections in SCC were single infection by HPV 16, 18, 45, 56, and multiple infection by HPV 16+45, in AD were single infection by HPV 16,18, anad multiple infection by HPVhr+hr 68b+72 and HPVlr+hr  6+18+45, and in AS were single infection by HPVhr 16, 18, 45 and mutiple infection by HPV lr+hr 6+59.Conclusion : Infections HPV in ICC were single infection by HPV16, 18, 45, 56 and mutiple infection by HPV16+45, 68b+72, 6+18+45, 6+59. HPV 18 has highest prevalence in ICC patient from Dr Soetomo Hospital, followed by HPV16, 6, 45, 56, 59.
Peningkatan Ketebalan Serat Elastin Dinding Vagina pada Prolapsus Organ Pelvis Anterior Achmad Zaki; Eighty Mardian; Sjahjenny Mustokoweni
Majalah Obstetri dan Ginekologi Vol. 24 No. 1 (2016): Januari - April
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.658 KB) | DOI: 10.20473/mog.V24I12016.31-36

Abstract

Objectives: To measure the thickness of elastin fibres on vaginal wall of patients with POP anterior and then analyse the correlation of this measurement with the degree of POP anterior.Materials and Methods: This research is an observational analytic study. Data collection was conducted with a cross sectional approach on 28 blocks paraffin of vaginal wall taken from POP anterior patients of whom went through an operation in Dr. Soetomo Hospital of Surabaya. Data was divided into four groups: degree 0/I , II, III and IV respectively (n = 7). Immunohistochemical staining was performed with antibodies elastin. Afterward, the thickness of the elastin fibres was measured by utilizing a microscope with a Leica Application Suite (LAS) software.Results: We found significant differences in the mean of thickness of elastin fibres in each group of patients with degrees of anterior POP 0/I , II , III and IV respectively 0,81 + 0,14 µm; 1,63 + 0,19 µm; 2,47 + 0,26µm and 3,19 + 0,36 µm (p < 0,0001 ). Based on Pearson correlation test, the results shows a correlation coefficient r = 0.965 (p < 0,0001).Conclusion: The thickness of elastin fibre on vaginal wall increased as the degree of POP anterior arise. Increased in the thickness of elastin fibers on the vaginal walls was the result from extracellular matriks remodelling on vaginal wall of anterior POP patient.